Evolusi Princess Disney

Berawal dari diskusi awal mengenai trailer film Mulan yang baru tayang beberapa waktu lalu, Penulis jadi merasa penasaran dengan evolusi princess Disney dari masa ke masa.

Dari pengamatan Penulis, ada tiga masa yang memiliki perbedaan cukup signifikan. Kita akan melihat bagaimana karakter princess Disney yang awalnya tak berdaya tanpa bantuan seorang laki-laki menjadi perempuan mandiri yang tangguh.

Fase Pertama: Tak Berdaya Tanpa Laki-Laki (1937-1959)

Sebelum menjadi raksasa seperti sekarang, Disney merupakan studio animasi yang tak seberapa besar. Didirikan oleh Walt Disney, kita mengenal banyak sekali karakter kartun seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dan kawan-kawan.

Tak hanya membuat karakter binatang kartun yang lucu, Disney juga mulai memproduksi film-film animasi dengan durasi yang lebih panjang. Yang pertama adalah Snow White.

Snow White (Disney+)

Ketika tayang pertama kali pada tahun 1937, banyak penonton yang merasa terharu dengan jalan ceritanya. Hanya saja jika film tersebut tayang sekarang, pasti akan banyak dikritik oleh SJW feminisme.

Bagaimana tidak, ia muncul sebagai stereotipe princess Disney yang cantik, baik hatinya keterlaluan, cenderung naif, dan membutuhkan seorang pangeran untuk menolongnya.

Cinderella (Disney+)

Pola ini terulang lagi pada film Cinderella, seorang wanita yang tersiksa bersama keluarga tirinya. Berkat bantuan ibu peri, ia bisa berubah menjadi seorang putri dan berdansa dengan pangeran.

Setelah kehilangan sebelah sepatu kacanya, pada akhirnya ia bisa keluar dari rumah tersebut setelah sang pangeran menjemput dan melamarnya. Agar bisa bahagia, ia butuh tinggal bersama laki-laki penguasa kerajaan yang kaya raya.

Aurora (Disney Wiki – Fandom)

Bagaimana dengan Aurora dari film Sleeping Beauty? Lebih parah lagi, ia tertidur selama ratusan tahun tanpa berbuat apa-apa sebelum ada seorang pangeran datang untuk menyelamatkannya.

Untungnya, Aurora adalah karakter princess pasif terakhir yang dimunculkan oleh Disney, digantikan oleh princess-princess yang lebih memiliki pendirian dan sikap.

Fase Kedua: Wanita-Wanita Pemberontak (1989-1992)

Setelah sekitar 30 tahun hiatus, Disney kembali mengeluarkan karakter princess melalui kemunculan Ariel pada film The Little Mermaid.

Ariel (MickeyBlog.com)

Ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang sedikit pemberontak dari kekangan ayahnya, penuh rasa ingin tahu, dan tak takut melakukan petualangan.

Tidak hanya itu, ia juga tidak butuh diselamatkan oleh pangeran untuk menemukan kebahagiaannya. Justru ialah yang menyelamatkan seorang pangeran hingga dua kali.

Hanya saja, Ariel memutuskan untuk menjual suaranya agar bisa mendapatkan sepasang kaki dan bertemu dengan pangeran. Hal ini membuat ia terlihat seperti seorang bucin.

Belle (Insider)

Tren ini dilanjutkan oleh Belle dari film The Beauty and the Beast. Sama seperti Ariel, ia juga menyelamatkan seorang pangeran (yang berbentuk seperti monster) lepas dari kutukan yang ia derita.

Selain itu, Belle juga menjadi karakter pertama yang mencintai seseorang tanpa memedulikan penampilan fisiknya, walau ujung-ujungnya sang buruk rupa berubah menjadi seorang pangeran tampan.

Walaupun tidak punya sikap pemberontak, Belle cukup berani untuk membuat keputusan sendiri demi melindungi sang ayah tercinta.

Jasmine (The Mary Sue)

Princess terakhir pada masa ini adalah Jasmine dari film Aladdin. Ia memiliki sifat pemberontak yang sama seperti Ariel karena sama-sama putri tunggal penguasa kerajaan.

Tidak hanya itu, Jasmine juga menjadi princess kulit berwarna pertama yang dimiliki oleh Disney, setelah sebelumnya didominasi oleh perempuan-perempuan berkulit putih.

Fase Ketiga: Wanita-Wanita Tangguh (1995-Sekarang)

Selanjutnya mulai dari film Pocahontas (1995) hingga Frozen 2 (2019), kita akan melihat Disney mengembangkan karakter-karakter Princess-nya. Pocahontas, seperti yang kita ketahui, bahkan bisa menghentikan perang demi melindungi sukunya.

Mulan (Syfy Wire)

Film Mulan yang tayang pada tahun 1998 menunjukkan bagaimana seorang wanita bisa sama kuatnya dengan kaum laki-laki. Ia dengan gagah berani bertempur di medan perang bersama para tentara.

Princess-princess seperti Tiana, Rapunzel, Merida, Vanellope, Anna, Elsa, hingga Moana mengirimkan pesan serupa kepada para penontonnya. Tidak ada lagi karakter wanita tak berdaya yang membutuhkan uluran tangan seorang pangeran.

(Penulis tidak bisa bercerita banyak tentang nama-nama yang disebut terakhir karena belum pernah menonton ataupun membaca ceritanya)

Penutup

Kesetaraan gender menjadi salah satu isu yang paling menyedot masyarakat. Sudah bukan zamannya lagi melakukan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.

Disney, salah satu pemain besar di dunia hiburan, menyadari hal ini sehingga secara bertahap mengubah karakter-karakter princessnya. Tentu mereka tidak ingin mendapatkan kritik karena selalu menggambarkan karakter wanita yang lemah.

Evolusi karakter dari Snow White hingga Anna dan Elsa menjadi topik yang menarik, sehingga Penulis memutuskan untuk mengangkatnya menjadi sebuah tulisan (walau sempat kebingungan akan dimasukkan ke dalam kategori apa).

Patut kita amati bersama, bagaimana princess-princess baru Disney akan ditampilkan di masa depan.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan teman kantor tentang evolusi princess Disney

Foto: Medium

Sumber Artikel: EW