<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Aug 2026 14:38:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 14:38:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[Madara Uchiha]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[villain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8850</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel, Naruto rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini. Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai Naruto, entah itu callback cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/">Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel,<em> Naruto</em> rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat <a href="https://www.upstation.media/article/kenapa-naruto-tetap-populer-tamat">menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja</a> yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai <em>Naruto</em>, entah itu <em>callback </em>cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga membedah <em>chapter </em>yang masih menimbulkan tanda tanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis sendiri, hingga saat ini ada satu hal yang mengganjal dari serial ini, yakni <strong>bagaimana Madara Uchiha tidak menjadi <em>final villain-</em>nya</strong>. Masashi Kishimoto justru memunculkan karakter yang selama ini hampir tidak pernah disebut, yakni Kaguya Ōtsutsuki.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/06/setelah-membaca-contagious-banner.jpg 1280w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Contagious" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-contagious/">[REVIEW] Setelah Membaca Contagious</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Madara Lebih Cocok Jadi Final Villain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8852" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Madara Uchiha Ketika Menjadi Jinchuriki Juubi (<a href="https://www.reddit.com/r/Naruto/comments/17qd0gb/do_you_think_madara_in_juubidara_form_can_pee/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, salah satu yang membuat <em>Naruto </em>bagus adalah para <em>villain-</em>nya. Mulai dari Zabuza, Orochimaru, Gaara, Itachi, Akatsuki, Pain, hingga Obito, semua begitu membekas karena latar belakang maupun motifnya menjadi seorang <em>villain</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Madara Uchiha juga salah satunya. Ia adalah <em>villain </em>yang cukup kompleks. Sebagai rival dari Hashirama Senju, tujuan utamanya sebenarnya adalah <strong>menciptakan perdamaian abadi melalui Mugen Tsuyokomi</strong>, ketika semua manusia berada di alam mimpi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk hal itu, ia berkali-kali selamat dari kematian, terutama dalam pertarungan melawan Hashirama. Ia hidup cukup lama hingga bisa memanipulasi Obito untuk mendirikan Akatsuki demi melancarkan rencana Mugen Tsuyokomi-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kemunculan Madara juga tidak mendadak begitu saja</strong>. Sebelum dibangkitkan kembali melalui Edo Tensei dari Kabuto, ia telah beberapa kali disebutkan dalam ceritanya (<em>foreshadowing</em>) sebelum kemunculan perdananya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat patungnya bersama Hashirama Senju di Lembah Akhir di <em>chapter </em>217. Kyuubi juga pernah menyebutkannya ketika Naruto menyerang markas Orochimaru demi menyelamatkan Sasuke di <em>chapter </em>309. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Obito sewaktu masih bertopeng juga sempat mendeklarasikan diri sebagai Madara. Hal ini menjadi <em>twist </em>yang menarik setelah Madara yang asli muncul pertama kali, tentu dalam wujud Edo Sensei.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, efek <em>plot twist-</em>nya ketika ia menjadi dalang dari semua peristiwa di <em>Naruto </em>terasa masuk akal. Apalagi, ia telah berkali-kali <em>aura farming </em>sejak kemunculannya, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar bahkan sebelum menjadi Jinchuriki Juubi!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Madara justru menjadi &#8220;korban penipuan&#8221; dari Zetsu Hitam. Ternyata, semua rencananya selama ini telah diatur oleh mereka demi bisa membangkitkan kembali Kaguya Ōtsutsuki.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mari Kita Bandingkan dengan Kaguya Ōtsutsuki</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8853" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tiba-Tiba Muncul, eh Kaget (<a href="https://naruto.fandom.com/wiki/Kaguya_Ōtsutsuki">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang mari kita bandingkan Madara dengan <em>final villain </em>yang sesungguhnya, Kaguya Ōtsutsuki. Dari motivasinya, Kaguya <strong>ingin seluruh <em>chakra </em>manusia di dunia kembali ke dirinya karena merasa bumi ini adalah miliknya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi motivasi, jelas ini lebih <em>pure chaos </em>dibandingkan motivasi &#8220;perdamaian&#8221; dari Madara. Kaguya sebenarnya adalah &#8220;alien&#8221; yang datang ke bumi, lalu menamam Pohon Dewa (Shinju) demi bisa memakan Buah Chakra secara ilegal. Dibandingkan dengan Madara, motivasi Kaguya ini jelas lebih egois.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <strong>Kaguya benar-benar baru disebutkan menjelang akhir cerita</strong>. Madara yang menyebutkan pertama kali ketika menjelaskan tentang Shinju di <em>chapter </em>646. Namun, kemunculannya sendiri baru terjadi pada <em>chapter </em>679.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai analogi, bayangkan Thanos yang telah di-<em>tease </em>sejak film pertama <em>Avengers</em>. Namun, di film <em>Avengers: Infinity War</em>, sewaktu Thanos hendak menjentikkan jarinya, tiba-tiba ia ditikam dari belakang oleh Doctor Doom dan mengatakan rencananya selama ini berhasil!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis sering berprasangka buruk kalau<strong> Kaguya dihadirkan hanya agar Naruto bisa dilanjutkan oleh Boruto</strong>. Seperti yang kita tahu, klan Ōtsutsuki menjadi pusat konflik di sekuel tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Penulis saat ini sedang mengoleksi ulang komik-komik <em>Naruto</em> versi Bind Up-nya</a>. Saat artikel ini ditulis, Perang Dunia Ninja ke-4 baru saja dimulai. Penulis tak sabar ingin membaca ulang kisah Madara dan Kaguya ini, siapa tahu dulu ada detail yang terlewat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis merasa kalau Madara tetap lebih layak menjadi <em>final villain</em>. Kalau memang klan Ōtsutsuki mau menjadi musuh utama di <em>Boruto</em>, ya buat <em>build up-</em>nya di sana, jangan di <em>Naruto</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan saja Madara dengan kemampuan dewanya yang berhasil ia dapatkan harus bertarung dengan <a href="https://whathefan.com/animekomik/memaknai-kesepian-ala-naruto-dan-sasuke/">Naruto dan Sasuke</a>. Bahkan, ia memang terlihat kalah dalam pertarungan tersebut, sebelum akhirnya malah dikhianati oleh Zetsu Hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya tidak melawan Kagura, mungkin pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke juga akan berlangsung lebih lama dan seru, bukan dalam kondisi kehabisan stamina dan <em>chakra </em>seperti yang kita dapatkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yah, pada akhirnya kita harus tetap menerima keputusan Masashi Kishimoto. Walau agak <em>ngedumel</em>, Penulis tetap menjadikan <em>Naruto </em>sebagai salah satu komik favoritnya setelah <em>Dragon Ball</em>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 30 Agustus 2026, terinspirasi setelah merenungi kalau Madara Uchiha lebih cocok menjadi<em> final villain </em>daripada Kaguya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/">Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 15:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Spider-Man]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8837</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton. Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), <em><strong>Spider-Man: Brand New Day</strong>. </em>Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Spider-Man merupakan salah satu <em>superhero </em>favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi <em>villain</em> utama di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-300x188.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-300x188.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-768x480.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600-356x223.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/02/social_media-wallpaper-960x600.jpg 960w " alt="Batasan Kebebasan Berekspresi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Spider-Man: Brand New Day</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Spider-Man: Brand New Day</em></li>



<li>Sutradara: Destin Daniel Cretton</li>



<li>Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo</li>



<li>Durasi: 145 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8842" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Easter Egg dari Komik (<a href="https://www.gamesradar.com/news/live/spider-man-brand-new-day-trailer-launch-all-the-clips-posted-throughout-the-day-from-spider-man-4/">GamesRadar</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-no-way-home/">Spider-Man: No Way Home</a> </em>(2021), ketika <strong>Peter Parker</strong> (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ia tak benar-benar <em>move-on</em> dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, <strong>MJ</strong> (Zendaya) dan <strong>Ned</strong> (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah <strong>Jean Gray</strong> (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat <strong>Bruce Banner </strong>(Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh<strong> Frank Castle alias The Punisher </strong>(John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah <em>plot twist </em>terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan <em>abusing </em>kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May<em> </em>berhasil menenangkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru <em>sniper</em> dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan <em>action </em>seperti di film <em>No Way Home</em>. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8843" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beban Emosional Peter Parker (<a href="https://images.dawn.com/news/1195042/the-trailer-for-spider-man-brand-new-day-shows-peter-parker-down-on-his-luck">Dawn Images</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu adegan paling emosional sekaligus &#8220;keterlaluan&#8221; di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar <em>move on </em>dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, &#8220;<em>I don&#8217;t love you</em>&#8221; secara terang-terangan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8844" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">UANGNYA DARI MANA??? (<a href="https://www.reddit.com/r/okbuddycinephile/comments/1vdkh14/in_spiderman_brand_new_day_peter_is_able_to/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film <em>No Way Home</em>, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam <em>shortcut </em>untuk tidak meninggalkan <em>plot holes </em>di dalam film.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8845" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sadie Sink sebagai Jean Gray (<a href="https://screenrant.com/spider-man-brand-new-day-tramell-tillman-bill-metzger-mcu-future/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter <em>telepath </em>yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-<em>No Way Home</em>, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat <em>badass </em>terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om <em>tsundere </em>yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8846" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Semua Beres dengan Kekuatan Tekad! (<a href="https://screenrant.com/spiderman-brand-new-day-trailer-peter-parker-change-organic-webbing/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah <em>villain </em>yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan <em>overuse</em>, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-far-from-home/">Spider-Man: Far from Home</a> </em>(2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan &#8220;tekad&#8221; juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar <em>struggling </em>dengan kemampuan barunya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Cameo Yelena yang Terasa Nanggung</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8847" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cameo Yelena Belova (<a href="https://www.facebook.com/nathanistic/posts/brand-new-day-has-yelena-meet-peter-in-a-bathhousethe-fandom-is-abuzz-over-a-hil/1055667963510639/">Facebook</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi <em>cameo </em>yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa &#8220;asal tempel&#8221; karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan <em>post-credit Thunderbolts* </em>yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film<em> Thunderbolts*</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang &#8220;<em>small potato</em>&#8221; versus &#8220;<em>big potato</em>&#8220;. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi <em>street-villain level</em>, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang <a href="https://whathefan.com/filmserial/langkah-frustasi-marvel-dalam-menyelamatkan-semestanya/">Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film <em>Avengers: Doomsday</em></a>. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan <em>post-credit </em>di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari <em>mulitverse </em>lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film <em>Doomsday.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film <em>Avengers: Doomsday</em>, karena <em>build up</em>-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada <em>action</em>-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang <em>related </em>dengan kita!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 7/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Spider-Man: Brand New Day</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 16:57:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang scrolling Instagram menggunakan akun whatheFAN, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah pos yang pro-pemerintah. Inti dari pos tersebut adalah menyebutkan bahwa upaya untuk menjegal pemerintah sekarang lagi-lagi gagal. Selain itu, pemilik pos juga mengatakan bahwa &#8220;rakyat sudah cerdas tidak bisa dibodohi&#8221;, sehingga gerakan &#8220;Jangan Rayakan Kemerdekaan&#8221; gagal. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/">Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ketika sedang <em>scrolling </em>Instagram menggunakan akun whatheFAN, tiba-tiba Penulis menemukan sebuah pos yang pro-pemerintah. Inti dari pos tersebut adalah menyebutkan bahwa upaya untuk menjegal pemerintah sekarang lagi-lagi gagal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, pemilik pos juga mengatakan bahwa &#8220;rakyat sudah cerdas tidak bisa dibodohi&#8221;, sehingga gerakan &#8220;Jangan Rayakan Kemerdekaan&#8221; gagal. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat untuk melihat upacara bendera di Istana Merdeka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca pos tersebut, Penulis memang sudah merasa ada banyak hal yang ganjil. Namun, agar lebih objektif (karena Penulis selama ini cukup sering mengkritik pemerintah), Penulis mencoba melempar pos tersebut ke AI (Perplexity Pro).</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/setelah-berpisah-dengan-ramadhan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/setelah-berpisah-dengan-ramadhan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/setelah-berpisah-dengan-ramadhan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/setelah-berpisah-dengan-ramadhan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/05/setelah-berpisah-dengan-ramadhan-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Berpisah dengan Ramadhan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/setelah-berpisah-dengan-ramadhan/">Setelah Berpisah dengan Ramadhan</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Logical Fallacies di Pos Tersebut</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis mengunggah semua foto dari pos tersebut ke AI dan memintanya untuk membedah apakah ada <em>logical fallacies </em>atau kesalahan-kesalahan berpikir dalam pos tersebut. Jawabannya cukup mengejutkan karena ternyata lebih banyak dari yang Penulis kira!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembaca bisa membaca pos aslinya terlebih dahulu di <a href="https://www.instagram.com/p/Db9wpguCVo9/?wa_status_inline=true&amp;img_index=1"><strong>tautan berikut ini</strong></a>. Kalau sudah membaca semuanya dan meresapi semua isinya, berikut adalah tabel buatan AI yang mengulas ada kesalahan berpikir apa saja dari pos tersebut:</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th class="has-text-align-left" data-align="left">Logical fallacy</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Arti mudah</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Bentuknya dalam unggahan</th></tr></thead><tbody><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False cause</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menganggap A menyebabkan B tanpa bukti cukup</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ramainya pendaftar upacara dianggap membuktikan kritik terhadap pemerintah atau ajakan boikot kemerdekaan telah gagal</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Non sequitur</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kesimpulan tidak nyambung langsung dari premis</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">“Banyak yang ingin hadir upacara” lalu meloncat ke “rakyat mendukung pemerintah”</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False dichotomy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Membuat seolah hanya ada dua pilihan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Seolah pilihannya cuma: merayakan kemerdekaan = pro-pemerintah; tidak merayakan = anti-Indonesia</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Appeal to popularity</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Sesuatu dianggap benar karena banyak orang melakukannya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Antusiasme pendaftar dipakai sebagai bukti bahwa rakyat “sudah cerdas” atau suatu posisi politik pasti benar</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Hasty generalization</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyimpulkan hal besar dari sampel kecil atau terbatas</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pendaftar upacara dianggap mewakili seluruh rakyat Indonesia; pelaku penjarahan dianggap mencerminkan watak masyarakat secara umum</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Mind reading</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengklaim tahu motivasi orang tanpa bukti</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Semua orang yang mendaftar upacara diasumsikan murni mendukung pemerintah atau menolak kritik</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Contextomy / misleading context</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Angka atau kutipan dipakai di luar konteks asalnya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Angka jumlah kursi dan pendaftar berpotensi dicampur dari konteks atau tahun peringatan berbeda sehingga kesannya lebih dramatis</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>False equivalence</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan dua hal yang berbeda secara penting</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan kehadiran di upacara dengan dukungan total kepada rezim; menyamakan penjarahan telur dengan korupsi terstruktur</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Reductive fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Persoalan rumit dipersempit menjadi satu ukuran sederhana</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kemerdekaan hanya dinilai dari boleh bekerja, berkumpul, nongkrong, atau mengkritik presiden</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Straw man</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyederhanakan posisi lawan agar mudah dipatahkan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kritik “Indonesia belum merdeka sepenuhnya” diperlakukan seolah artinya rakyat tidak bisa bergerak, makan, atau bersosialisasi</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Presentism</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menilai masalah panjang hanya dari momen saat ini</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pemberantasan korupsi seolah baru terjadi pada pemerintahan sekarang, tanpa melihat proses lintas pemerintahan dan lembaga</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Credit-claiming fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengklaim semua keberhasilan sebagai jasa satu pihak</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Berbagai kasus korupsi disebut “semua dibongkar presiden”, padahal investigasi melibatkan KPK, Kejaksaan, Polri, BPK, pengadilan, media, dan pelapor</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Post hoc reasoning</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena terjadi setelah seseorang berkuasa, dianggap pasti disebabkan olehnya</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kasus yang mencuat saat pemerintah sekarang dianggap otomatis hasil pembongkaran langsung oleh presiden</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Overclaiming</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Klaim terlalu besar dan mutlak tanpa pembuktian setara</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Kata seperti “semua dibongkar”, “gagal total”, atau “rakyat sudah cerdas” tidak disertai ukuran dan data yang memadai</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Appeal to novelty</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menganggap sesuatu lebih baik/benar karena baru terjadi sekarang</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena kasus dibongkar pada era baru, era itu langsung dianggap paling efektif tanpa perbandingan yang solid</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Moral equivalence</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menyamakan bobot moral dua kesalahan yang skala dan strukturnya berbeda</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pelanggaran warga saat kejadian kecelakaan diletakkan setara dengan korupsi sistemik yang menyalahgunakan jabatan dan merugikan publik</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Composition fallacy</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Sifat sebagian kecil dianggap sifat keseluruhan kelompok</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ada warga menjarah telur, lalu masyarakat luas dilabeli “sama rusaknya”</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Tu quoque terselubung</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengalihkan kritik dengan menunjuk kesalahan pihak pengkritik/masyarakat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Karena ada warga yang melanggar hukum, kritik terhadap pejabat atau mafia koruptor dibuat seolah tidak sah</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Cherry-picking</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Memilih fakta yang menguntungkan sambil mengabaikan data lain</td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Menonjolkan antrean tiket sebagai bukti nasionalisme/dukungan, sambil mengabaikan persoalan korupsi, ketimpangan, kebebasan sipil, atau biaya hidup</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Agar berimbang, Penulis juga meminta AI tersebut untuk membuat tabel yang berisi apa saja hal benar dari pos tersebut. Hasilnya ternyata jauh lebih pendek dan singkat. Pembaca bisa melihatnya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><thead><tr><th class="has-text-align-left" data-align="left">Klaim inti</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Penilaian</th><th class="has-text-align-left" data-align="left">Catatan penting</th></tr></thead><tbody><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Masyarakat memang antusias menghadiri upacara di Istana</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Untuk HUT ke-80 RI, pemerintah menyediakan 8.000 undangan dan mengalokasikan 80 persennya bagi masyarakat umum. Antusiasme pendaftar juga tinggi. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Merayakan kemerdekaan adalah hal positif</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Perayaan kemerdekaan dapat menjadi ekspresi kebangsaan, penghormatan terhadap perjuangan sejarah, serta ruang kebersamaan warga</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Indonesia bukan negara yang sepenuhnya menutup ruang kumpul dan berpendapat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Secara prinsip benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Indonesia telah jauh lebih bebas dibanding masa penjajahan atau masa otoriter tertentu</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Secara umum benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Warga memiliki ruang legal untuk bekerja, berkumpul, membentuk organisasi, mengkritik, dan mengikuti aktivitas publik. Namun kualitas praktik perlindungan haknya tetap perlu diawasi</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Korupsi memang telah berlangsung lama dan lintas periode pemerintahan</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Korupsi bukan persoalan yang lahir pada satu presiden atau satu era saja; kasus, modus, serta aktornya berkembang selama puluhan tahun</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Ada penindakan korupsi yang nyata pada 2025</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">KPK melaporkan 118 tersangka, 116 penyidikan, 115 penuntutan, 78 eksekusi, serta pemulihan aset Rp1,531 triliun pada 2025. </td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Penjarahan barang korban kecelakaan adalah tindakan yang keliru</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Mengambil barang yang bukan milik sendiri tetap salah secara hukum dan moral, walau konteks serta tingkat kesalahannya dapat berbeda-beda</td></tr><tr><td class="has-text-align-left" data-align="left">Perbaikan negara bukan hanya tugas pejabat</td><td class="has-text-align-left" data-align="left"><strong>Benar</strong></td><td class="has-text-align-left" data-align="left">Masyarakat juga perlu berperan: tidak menyuap, tidak menjarah, tidak memalsukan data, tidak menyebarkan fitnah, serta turut mengawasi kekuasaan</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pos di atas hanyalah contoh bagaimana bentuk keresahan maupun kritikan dari masyarakat justru di<em>-framing </em>menjadi sesuatu yang di luar konteks. Entah itu gerakan Indonesia Gelap, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Gerakan Brave Pink</a>, Kabur Aja Dulu, semua dianggap sebagai propaganda semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bahwa ada semacam usaha untuk melakukan <em>framing </em>dan penggiringan opini menggunakan sebuah tulisan yang terkesan patriotik. Justru, inti dari kritikannya malah diabaikan dan yang dibalas justru hal-hal yang bukan substansinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, respons seperti ini baik dari kubu pemerintah maupun para pendukungnya benar-benar meresahkan Penulis, seolah semua yang mengkritik pemerintah adalah musuh negara yang harus dilawan. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan demokrasi kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Masyarakat Menjadi (Satu-Satunya) Oposisi Pemerintah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8834" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/kritik-pemerintah-dianggap-musuh-negara-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Presiden Prabowo Berpidato (<a href="https://portal.medan.go.id/berita/siaran-pers-bakom-ri-pidato-di-sidang-umum-pbb-presiden-prabowo-mengulang-sejarah-perjuangan-diplomasi-prof-sumitro__read5549.html">Pemerintah Kota Medan</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak era Presiden Joko Widodo, terutama periode keduanya, kita sudah bisa mulai merasakan bagaimana <a href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">seorang presiden seolah hampir tidak punya oposisi sama sekali</a> di pemerintahan. Mayoritas di kursi DPR merupakan partai pendukung presiden terpilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu pula dengan era <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menyorot-kebijakan-prabowo-gibran-dari-makan-siang-gratis-hingga-300-fakultas-kedokteran/">Presiden Prabowo Subianto</a> yang sedang berlangsung saat ini. Bukan hanya partai yang menyokongnya saat Pemilu, lawan-lawannya pun banyak yang merapat karena ingin menjadi bagian pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat negara tidak memiliki oposisi di pemerintahan, lantas siapa yang melakukan kontrol? <strong>Tentu opsinya hanya tersisa masyarakat dan pers</strong>. Oleh karena itu, rasanya sangat wajar jika bermunculan kritik dari berbagai lapisan masyarakat melalui berbagai media.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, respons yang diberikan pemerintah (serta pendukungnya) ketika ada kritik membuat Penulis khawatir. Alih-alih menerima kritikan tersebut,<strong> pemerintah justru lebih sibuk membela diri, bahkan terkadang malah melakukan &#8220;serangan balik&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu, Presiden Prabowo kerap mengeluarkan kata-kata yang dianggap kurang etis untuk keluar dari mulut presiden, seperti <em><strong>ndasmu</strong></em> yang dianggap meremehkan kritikan yang ditujukan kepadanya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika banyak orang-orang yang menyuarakan Kabur Aja Dulu, alih-alih menenangkan masyarakat dengan menyajikan data faktual, Presiden Prabowo justru mengatakan hal semacam ini:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saudara-saudara sekalian. Indonesia kaya, Indonesia akan bangkit, dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini! Yang ragu-ragu, silakan duduk di rumah saja. <strong>Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang</strong>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu yang menurut Penulis fatal adalah ketika beliau menyatakan, &#8220;<strong>Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.</strong>” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan tersebut seolah <em>framing </em>bahwa semua profesi yang ia sebutkan merupakan sisipan &#8220;antek-antek asing&#8221; yang tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang besar. Tentu ini sangat berbahaya untuk iklim demokrasi kita, ketika salah satu alat kontrol pemerintah dilabeli seperti itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya dari Presiden Prabowo, respons bawahannya pun terkadang menimbulkan kontroversi. Penulis akan mengambil contoh dari Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Teddy Indra Wijaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi perjalanan luar negeri Prabowo, Teddy merilis sebuah video yang memberi klarifikasi yang menjelaskan mengapa Presiden harus kerap melakukan perjalanan ke luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada yang salah, sampai ia <strong>mengeluarkan sindiran bahwa Dino hanya menjabat tiga bulan</strong>. Hal tersebut sudah merupakan sebuah <em>ad hominem</em> alias serangan pribadi yang melenceng dari konteks diskusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkadang juga, <strong>yang dibahas justru hal di luar substansi kritiknya</strong>. Ketika film <em>Pesta Babi </em>ramai dibicarakan misalnya, yang banyak dibahas oleh pihak pemerintah maupun pro-pemerintah justru siapa yang membiayai pembuatan film tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seharusnya, jika apa yang disampaikan dalam film tersebut salah atau kurang tepat, ya berikan data yang benar seperti apa. Yang ada, justru pada menyebut kalau George Soros orang yang mendanai film tersebut untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kan, lucu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, di atas hanya beberapa contoh kasus yang Penulis anggap respons yang kurang tepat. Tentu pemerintah pernah memberikan respons yang normatif dan tidak kontroversial. Penulis memang hanya berfokus pada pernyataan-pernyataan yang kurang elok keluar dari pihak pemerintah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin tidak ada pernyataan secara eksplisit kalau pengkritik pemerintah dianggap sebagai musuh negara. Namun, telah beberapa kali terjadi kalau pengkritik diposisikan seperti itu dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara-cara yang sudah Penulis sebutkan di atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak bisa dipungkiri kalau memang ada penyusup &#8220;antek-antek aseng&#8221; yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka sendiri. Hanya saja, menggeneralisasi semua yang mengkritik pemerintah sebagai &#8220;antek aseng&#8221; juga tidak bijaksana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, kritik pemerintah yang kami utarakan ini menjadi bukti bahwa kami cinta dengan negara ini. Kami ingin negara ini menjadi bangsa yang besar dan kuat. Kami ingin masyarakat Indonesia hidup sejahtera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jika kami melihat ada hal yang kami anggap melenceng dari tujuan tersebut, kami bersuara sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jangan anggap hanya karena kami menyampaikan kritik, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pemerintah-selalu-benar-yang-salah-selalu-rakyat/">kami dianggap sebagai musuh negara</a>. </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 26 Agustus 2026, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos Instagram yang penuh dengan <em>logical fallacies</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/">Ketika Mengkritik Pemerintah Dianggap sebagai Musuh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-mengkritik-pemerintah-dianggap-sebagai-musuh-negara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 16:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless. Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Setelah membaca buku <em>Effortless</em></a> yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku <strong>Greg McKeown </strong>lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni<strong> <em>Esensialisme</em></strong>. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku <em>Effortless</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku <em>Effortless.</em> Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">buku <em>Start with Why</em></a>. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/sombong-atau-minder-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/sombong-atau-minder-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/sombong-atau-minder-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/sombong-atau-minder-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/04/sombong-atau-minder-banner.jpg 1280w " alt="Bukan Sombong, Tapi Minder" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-sombong-tapi-minder/">Bukan Sombong, Tapi Minder</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Esensialisme</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Esensialisme</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: Desember 2025</li>



<li>Tebal: 354 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656151</li>



<li>Harga: Rp108.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Esensialisme?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan <em>tagline </em>&#8220;Pentingkan yang Penting Saja&#8221;, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat orang yang suka <em>ruwet </em>dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian <em>cover </em>ini terdapat semacam ilustrasi garis <em>ruwet </em>dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan &#8220;ini&#8221; di tengah-tengahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan buku <em>Effortless</em>, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Intisari</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Esensialis</strong></li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih</li>



<li><strong>MELIHAT DAN MENCERMATI</strong>: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal</li>



<li><strong>TRADE-OFF</strong>: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, ini adalah bagian &#8220;pembukaan&#8221; untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian <em>trade-off</em> atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Eksplorasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>MEMBEBASKAN DIRI</strong>: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia</li>



<li><strong>MENCERMATI</strong>: Melihat Mana yang Sungguh Penting</li>



<li><strong>BERMAIN</strong>: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda</li>



<li><strong>TIDUR</strong>: Melindungi Aset</li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni &#8220;bermain&#8221; dan &#8220;tidur&#8221;. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian III: Eliminasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>KLARIFIKASI</strong>: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan</li>



<li><strong>BERANI</strong>: Kedahsyatan Jawaban &#8220;Tidak&#8221; yang Anggun</li>



<li><strong>MELEPAS KOMITMEN</strong>: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi</li>



<li><strong>MENYUNTING</strong>: Seni yang Tidak Kelihatan</li>



<li><strong>BATAS</strong>: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan </li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian IV: Eksekusi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>PENYANGGA</strong>: Keunggulan yang Tidak Wajar</li>



<li><strong>MENGURANGI</strong>: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan</li>



<li><strong>KEMAJUAN</strong>: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil</li>



<li><strong>ALIRAN (FLOW)</strong>: Hebatnya Sebuah Rutin</li>



<li><strong>FOKUS</strong>: Apa yang Penting Sekarang?</li>



<li><strong>JADILAH</strong>: Hidup Seorang Esensialis</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Esensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena buku <em>Effortless</em>, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup &#8220;umum&#8221; dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa <em>dragging </em>dan cukup repetitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku <em>Start with Why</em>, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ada satu <em>quote </em>dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni<strong> &#8220;No more yes, it&#8217;s either HELL YEAH or no!&#8221;</strong> yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah <em><strong>sink-cost bias</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, <em>sink-cost bias </em>adalah kondisi di mana kita sudah merasa &#8220;berinvestasi&#8221; banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa <em>overwhelmed </em>dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Esensialisme </em>karya Greg McKeown</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 16:51:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Arjuna]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Ekalaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8812</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa. Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/">Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis baru saja menamatkan novel <em>Bharatayudha </em>karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama <strong>Bambang Ekalaya</strong>. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 32 Hasil Ulangan Matematika" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-32-hasil-ulangan-matematika/">Chapter 32 Hasil Ulangan Matematika</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8816" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bambang Ekalaya dan Patung Dorna (<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ekalawya">Wikipedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bambang Ekalaya</strong>, dikenal juga sebagai <strong>Palgunadi</strong>, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan <strong>Resi Dorna</strong>, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun <strong>membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya </strong>seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna pun <em>rewel </em>dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. <strong>Ia meminta jempol kanan Ekalaya!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pemujaan yang Berujung ke Kematian</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8817" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bambang Ekalaya (<a href="https://www.salamyogyakarta.com/bambang-ekalaya/">Salam Yogyakarta</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, <strong>Dewi Anggraeni</strong>, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, <strong>Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas</strong>. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun <strong>meminta Cincin Mustika Ampal </strong>yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa<strong> tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja</strong>. Di mata Ekalaya,<strong> ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">&#8220;Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat&#8221;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8815" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Patrick Sedang Menasehati SpongeBob (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=hDs9Z0S-MB0">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam salah satu episode <em>SpongeBob SquarePants </em>yang berjudul &#8220;I&#8217;m Your Biggest Fanatic&#8221;, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau <strong>&#8220;pemujaan yang berlebihan tidak sehat.&#8221;</strong> <em>Quote</em> tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan <em>mindset </em>bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah <strong>karena kemampuannya sendiri</strong>, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki<em> privilege </em>seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tampaknya <em>mindset </em>Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya<strong> pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik</strong>. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/">tokoh politik</a>, pacar, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/"><em>idol </em>K-Pop</a>, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa <em>photocard </em>idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kısah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/">Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 14:42:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Khrisna]]></category>
		<category><![CDATA[mie ayam]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan &#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;. Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena <em>cover</em>-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan <strong>&#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel tersebut adalah <em><strong>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</strong></em> karya <strong>Brian Khrisna</strong>, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang <em>related </em>bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.</mark></em>&#8220;</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc-300x166.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc-300x166.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc-768x425.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc-1024x567.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc-356x197.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/photo-1537081199194-fcbeb6c392cc.jpg 1861w " alt="Polarisasi Masyarakat" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/polarisasi-masyarakat/">Polarisasi Masyarakat</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:<em> Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)</em></li>



<li>Penulis: Brian Khrisna</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-100</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2026 </li>



<li>Tebal: 216 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020531328</li>



<li>Harga: Rp93.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>berpusat pada karakter bernama <strong>Ale</strong>, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di edisi spesial ini, ada satu &#8220;perjalanan tambahan&#8221; yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karena belakangan ini suka membaca <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">novel-novel dari penulis Jepang</a>, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk &#8220;berkenalan&#8221; dengan karya-karya Brian Khrisna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan <em>related </em>dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini <strong>terkadang membuat kita merasa buntu</strong> dan<strong> tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, &#8220;kematian&#8221; pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika <strong>masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen</strong>. Ini bukan kata Penulis, tapi kata <strong>Dr. Jiemi Ardian</strong> lewat bukunya yang berjudul <em>Merawat Luka Batin</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai <strong>&#8220;pelukan hangat&#8221; </strong>dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, <strong>kita memiliki peran masing-masing</strong>. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa <em>quote </em>kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.</mark></em>&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, <strong>beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural</strong>. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti <em>textbook</em> yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya <em>cringe</em>. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung <em>ngatain</em>, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah <strong>punya pekerja sampingan sebagai motivator</strong>. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Petualangan Ale&#8221; dalam buku ini juga terasa terlalu mulus</strong>. Seperti kritik pada <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">film <em>Project Hail Mary</em></a>, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale &#8220;lolos&#8221; setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu <em>happy ending</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki &#8220;kelemahan&#8221; berupa keluarga yang ia sayangi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya <em>universal </em>dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>karya Brian Khrisna</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 15:37:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Detektif Conan]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8793</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora. Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/">Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik <em><strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball Super</a></strong></em> dan <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/"><em><strong>Naruto Bind Up Edition</strong></em></a>, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain <em>Dragon Ball </em>dan <em>Naruto</em>, Penulis juga besar dengan komik <strong><em>Detektif Conan</em></strong>. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-banner.jpg 1280w " alt="Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8797" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Komik Detektif Conan Premium Vol. 21 (<a href="https://www.gramedia.com/products/detektif-conan-premium-21">Gramedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sama seperti <em>Naruto</em>, Penulis juga &#8220;lompat&#8221; dalam membaca cerita-cerita<em> Detektif Conan</em>. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah <strong>Volume 41</strong>, di mana <em>case </em>pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk <strong>Volume 42</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik <em>Detektif Conan Premium</em>, Penulis pun memutuskan untuk membeli<strong> Volume 21</strong> karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi <em>Detektif Conan Premium </em>telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik <em>Detektif Conan</em> <em>Premium</em>, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik <em>Conan</em> edisi <em>Selection</em>. Kebetulan, waktu itu <strong><a href="https://whathefan.com/animekomik/ai-haibara-adalah-karakter-favorit-saya-di-detective-conan/">Ai Haibara</a></strong> sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul <em>Selection </em>lain yang Penulis miliki.</p>



<ol class="wp-block-list"></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, meskipun sudah membeli seri <em>Selection</em>, dorongan untuk membeli <em>Detektif Conan Premium </em>masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8796" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/koleksi-komik-detektif-conan-premium-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Vermouth (<a href="https://detectiveconan96.fandom.com/wiki/Vermouth">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu <em>memorable </em>bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, <strong>Jodie Starling</strong>, dan <strong>Vermouth</strong>, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat <em>arc </em>ini menjadi favorit Penulis hingga kini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, <em>Detektif Conan </em>telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal</li>



<li>Motif pembunuhan yang &#8220;gitu doang?&#8221;</li>



<li><em>Timeline </em>yang tidak jelas seolah tidak maju-maju</li>



<li>Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai <em>smartphone </em>(dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)</li>



<li>Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai <em>Detektif Conan</em>, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya &#8220;maju dan mundur&#8221; secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai &#8220;perburuan&#8221; harta karun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni <em><strong>Naruto</strong></em>, <em><strong>Detektif Conan</strong></em>, <em><strong>Spy x Family</strong></em>, <em><strong>Dragon Ball Super</strong></em>, dan <em><strong>Dragon Ball Ultimate Edition</strong></em>. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik <em>Detektif Conan</em>-nya</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/">Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2026 14:49:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Christopher Nolan]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Homer]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[the odyssey]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8779</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan Projecy Hail Mary, melainkan The Odyssey karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya. Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/">[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis telah menemukan film terbaik yang telah ditonton pada tahun 2026 ini. Bukan <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">Projecy Hail Mary</a></em>, melainkan <em><strong>The Odyssey</strong> </em>karya Christopher Nolan, salah satu sutradara favorit Penulis. Film ini memang sejak awal telah Penulis antisipasi rilisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, Penulis sengaja mengajak adiknya untuk menonton di Surabaya, karena di Malang tidak ada bioskop yang memiliki layar IMAX. Penulis ingin merasakan sensasi menonton yang maksimal untuk film yang sejak awal telah menuai kontroversi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa Penulis merasa ini adalah film terbaik yang telah Penulis tonton di tahun ini? Apakah <em>cast </em>yang bermasalah tidak memengaruhi penilaian Penulis? Semua akan coba Penulis jelaskan melalui artikel ini!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">NB: Tahun 2026, Penulis baru menonton Project Hail Mary, Supergirl, The Odyssey, Spider-Man Brand New Day</mark></em></p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/OOR-PC.jpg 1240w " alt="Shout It Out Now!: One OK Rock" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/musik/shout-it-out-now-one-ok-rock/">Shout It Out Now!: One OK Rock</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film The Odyssey</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>The Odyssey</em></li>



<li>Sutradara: Christoper Nolan</li>



<li>Cast: Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong&#8217;o, Zendaya, and Charlize Theron</li>



<li>Durasi: 172 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita The Odyssey?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8785" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1126024706/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>The Odyssey </em>diadaptasi dari sebuah puisi epik klasik karya Homer berjudul sama, yang telah berusia sekitar 3000 tahun. Ceritanya sendiri berpusat pada <strong>Odysseus</strong> (Matt Damon), yang terjebak selama 10 tahun sehingga tidak bisa pulang ke negaranya, Ithaca, setelah kemenangan di Perang Troya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus adalah orang di balik strategi kuda troya, di mana ia dan beberapa pasukannya sembunyi ke dalam patung kuda yang dihadiahkan kepada bangsa Troya. Ide tersebut, yang sebenarnya melanggar &#8220;Hukum Zeus&#8221;, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus, bersama Agamemnon dan Menelaus, memang berhasil memenangkan perang. Namun, ternyata harga yang dibayar tidak murah. Odysseus yang mengambil jalur terpisah dari Agamemnon dan Menelaus harus menghadapi berbagai macam ujian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Odysseus dan pasukannya harus bertemu dengan Cyclops bernama <strong>Polyphemus</strong>, raksasa kanibal <strong>Laestrygonians</strong>, <strong>Siren</strong>, hingga <strong>Scylla</strong>. Mereka juga bertemu dengan <em>nymph </em>bernama <strong>Circe</strong> (Samantha Morton) yang sempat mengubah pasukan Odysseus menjadi seekor babi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, perjalanan Odysseus paling lama ditahan oleh <strong>Calypso</strong> (Charlize Theron), yang mencapai tujuh tahun. Ia tinggal di sana setelah semua pasukannya tewas, setelah melanggar aturan untuk tidak memakan ternak milih dewa Apollo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Ithaca telah 20 tahun ditinggal rajanya. <strong>Penelope</strong> (Anne Hathaway), istri dari Odysseus, telah dilamar oleh ratusan laki-laki yang setiap hari datang ke istana dan berhasil menjaga kesetiaannya. Sementara itu, <strong>Telemachus</strong> (Tom Holland) yang beranjak dewasa mulai mencari kejelasan di mana ayahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ini lebih dari sekadar &#8220;tersesat&#8221;, melainkan menjadi semacam perjalanan penebusan dosa untuknya. Ketika ia pada akhirnya kembali, ia pun membuktikan mengapa ia menjadi seorang raja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton The Odyssey</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah film ini usai, banyak penonton yang bertepuk tangan. Menurut Penulis, hal tersebut memang layak karena skala film ini benar-benar luar biasa. Apalagi jika menonton di IMAX, pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa poin yang ingin Penulis bahas mengenai film ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Interpretasi Nolan terhadap The Odyssey</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8788" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-7.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus dan Pasukannya (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1092470274/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, tampaknya Nolan memang ingin <strong>mengadaptasi cerita Homer dengan interpretasinya sendiri</strong>. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang ia ubah dari cerita aslinya, termasuk pemilihan Lupita Nyong&#8217;o sebagai Helen of Troy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh hal yang diubah adalah karakter Odysseus sendiri. Di film, <strong>ia terlihat lebih bijaksana dan manusiawi</strong>, walau tetap terasa sekali egonya. Ia lebih tidak &#8220;brengsek&#8221; jika dibandingkan dengan versi aslinya, walau tetap terasa kalau ia diam-diam menjadi antagonis di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa perubahan lain yang Penulis ketahui adalah beberapa lokasi atau monster yang dihilangkan dari versi aslinya, jumlah pasukan dan kapal yang ikut dengan Odysseus, hingga hilangnya adegan &#8220;Nobody&#8221; ketika bersama Polyphemus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang paling Penulis perhatikan adalah <strong>interpretasi Nolan terhadap sosok dewa-dewa </strong>di film ini. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam film ini, mulai Zeus, Poseidon, Apollo, hingga Athena. Hanya saja, tidak ada yang pernah terlihat wujudnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih menampilkan sosok dewa, kehadiran mereka diwujudkan dalam bentuk &#8220;pertanda alam&#8221;, seperti Zeus diwakili oleh suara petir dan Poseidon diwakili oleh amukan laut. Bahkan, wujud Athena yang kita lihat sepanjang film memiliki alasan mengapa berwujud seperti itu, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Perjalanan &#8220;Tobat&#8221; Odysseus</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8784" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Odysseus dan Athena (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1327351298/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sudah menyinggung mengenai bagaimana Odysseus memenangkan perang dengan curang. Rupanya, hal tersebut menimbulkan semacam <strong>trauma</strong> atau <strong>PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok Athena di kepala Odysseus, yang diperankan oleh Zendaya, ternyata adalah sosok perempuan <em>innocence </em>yang ia lihat kepalanya dipenggal oleh pasukannya sewaktu menghabisi kota tersebut. Artinya, sosok tersebut seolah menjadi perwakilan trauma Odysseus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, perjalanan pulangnya yang sampai 10 tahun itu pun <strong>terasa seperti &#8220;hukuman&#8221; atas semua perbuatannya</strong>, baik ketika perang Troya maupun sepulangnya dari sana. Dari menjarah, membutakan Polyphemus, memakan ternak Apollo, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ditahan oleh Calypso, ia kehilangan memorinya. Namun, ternyata keinginannya untuk bertemu kembali dengan Penelope begitu kuat. Ketika ingatannya kembali, ia pun berlayar dan menaiki rakit apa adanya dengan menyerahkan diri ke &#8220;Tuhan&#8221;.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Akting Top Para Aktor Top</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8783" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">John Leguizamo sebagai Eumaeus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1444791810/?ref_=tt_ph_sm">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tahu kalau Nolan punya beberapa nama top yang seolah menjadi langganan untuk muncul di film-filmnya. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan kalau banyak sekali pemeran di film ini yang aktingnya terasa luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Matt Damon </strong>sebagai karakter utama di film ini tak perlu diragukan lagi, walau sebagian besar kita melihat ekspresi penyesalan dari dirinya di sepanjang film. <strong>Anne Hathaway</strong> juga menunjukkan kelasnya sebagai pemenang Oscar, bahkan Penulis sampai lupa kalau ini film saking realistisnya aktingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Robert Pattinson </strong>yang berperan sebagai Antinous juga bisa memperlihatkan sebagai sosok antagonis yang licik dan pengecut. Ekspresi ketakutannya ketika menyadari Odysseus telah pulang, lalu berteriak berbagai semacam senjata sembari bersembunyi di balik pilar, benar-benar mantap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama lain yang patut diapresiasi adalah <strong>John Leguizamo </strong>sebagai Eumaeus. Berperan sebagai orang buta, ia bisa memainkan karakter yang loyal dan bijaksana dengan baik. <strong>Benny Safdie</strong> yang menjadi Agamemnon juga berhasil <em>aura farming </em>tanpa banyak dialog, dengan kostumnya yang mirip Batman.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Hal Lain yang Patut Diapresiasi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8787" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-6.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penelope dan Busur Milik Odysseus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1260242434/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Alur ceritanya tetap non-liner </strong>khas Nolan, maju mundur maju mundur, sehingga bisa membuat penonton bingung terutama yang tidak mengerti cerita <em>The Odyssey </em>sebelumnya. Namun, Penulis justru menyukai format film seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, sepanjang film Nolan<strong> menebar banyak <em>foreshadow </em></strong>yang akan terjawab di akhir film. Banyak adegan yang diulang-ulang, seolah menunjukkan bahwa adegan ini penting dan nanti pada akhirnya akan ada penjelasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai informasi, film ini direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Oleh karena itu, secara <strong>visual film ini benar-benar memuaskan dan memanjakan mata</strong>. Penulis hampir tidak bisa melepaskan fokusnya ketika menonton film ini. Durasi 3 jam sama sekali tidak terasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di film ini, Nolan kembali menggandeng <strong>Ludwig Göransson</strong> yang sebelumnya juga menggarap <em>soundtrack </em>untuk film <em>Oppenheimer</em>. Sepanjang filmnya, banyak sekali musik yang membuat bulu kuduk Penulis merinding.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika berbicara tentang <em>scene </em>favorit, maka Penulis akan memilih adegan ketika<strong> Odysseus kembali ke Ithaca dan berhasil memasang busurnya</strong>. Diiringi dengan musik gubahan Göransson, adegan ini benar-benar terasa sempurna!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Beberapa Hal yang Kurang</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8786" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-the-odyssey-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Penelope dan Telemachus (<a href="https://www.imdb.com/title/tt33764258/mediaviewer/rm1293796866/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada film yang sempurna, begitu pula <em>The Odyssey</em> ini. Penulis tidak terlalu memusingkan pemilihan beberapa <em>cast</em>-nya, walau memang terasa kurang <em>perfect.</em> Bagi Penulis, <strong>Tom Holland terlihat terlalu tua untuk menjadi Telemachus</strong>. Aktingnya juga sedikit <em>kebanting </em>dengan pemeran lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Akting pemeran lain yang terasa biasa adalah Zendaya</strong>. Entah mengapa Penulis tidak bisa menangkap perannya sebagai Athena, mungkin karena karakternya juga minim ekspresi. Karakter yang diperankan oleh <strong>Travis Scott</strong> juga terasa ganjal ada di film tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <strong>adegan pertarungan terakhir di istana juga terlihat sedikit kaku dan kurang natural.</strong> Bukan karena Odysseus yang terlihat <em>overpowered </em>karena bisa mengalahkan orang sebanyak itu, melainkan koreografinya saja yang membuat Penulis kurang <em>sreg</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di beberapa adegan, <strong><em>speaker </em>di IMAX terasa terlalu kencang</strong> di telinga Penulis yang cukup sensitif. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kemarin menonton film ini di 4DX, apalagi di adegan ketika kapal Odysseus terombang-ambing oleh ganasnya badai!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, <em>The Odyssey </em>adalah film kedua terbaik dari semua film Nolan yang pernah Penulis tonton, di bawah <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/film-favorit-saya-the-dark-knight/">The Dark Knight</a></em> dan di atas <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-oppenheimer/">Oppenheimer</a></em>. Penulis merasa cukup percaya diri kalau film ini akan masuk ke dalam nominasi Oscar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, hingga artikel ini ditulis, masih ada keinginan untuk menonton ulang film ini di bioskop. Apalagi, Penulis sempat ketinggalan beberapa menit filmnya karena adik Penulis sedang ada tes kerja di siang harinya!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">SKOR: 9/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton <em>The Odyssey </em>karya Christopher Nolan</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/">[REVIEW] Setelah Menonton The Odyssey</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-the-odyssey/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2026 14:56:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca. Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu iseng <em>scroll </em>media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya <strong>Keigo Higashino</strong>, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang baru &#8220;berkenalan&#8221; dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/merindukan-sentuhan-sir-alex-banner.jpg 1280w " alt="Merindukan Sentuhan Sir Alex" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/merindukan-sentuhan-sir-alex/">Merindukan Sentuhan Sir Alex</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8773" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koleksi Higashino Penulis</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika melihat novel <em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></strong></em> di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa &#8220;dipeluk&#8221; oleh buku ini karena ceritanya yang <em>heartwarming </em>dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><strong>The Devotion of Suspect X</strong></a></em>. Penulis benar-benar terkejut dengan <em>plot twist </em>yang ada di buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">A Midsummer&#8217;s Equation</a></strong></em>. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">Malice</a></strong></em> menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya <em>reverse psychology</em> di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan <em>review-</em>nya di blog ini, yakni <em><strong>Salvation of a Saint </strong>(Dosa Malaikat) </em>dan <em><strong>The Newcomer </strong>(Pembunuhan di Nihonbashi).</em> Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi <strong>mengapa pelaku melakukannya</strong>. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trik yang digunakan tidak akan se-<em>njelimet </em>cerita-cerita di <em>Detective Conan </em>maupun <em>Sherlock Holmes</em>. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi <strong>alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringnya, yang menjadi <em>plot twist </em>bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan <strong>mengapa hal tersebut dilakukan</strong>. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik Penulis hampir di semua artikel <em>review </em>novelnya sama, yakni <strong>terkadang proses investigasinya berbelit-belit</strong>. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengecualian jelas terdapat pada <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre <em>slice of life </em>seperti novel ini?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya terakhir Keigo yang berjudul <em><strong>Eternal Memory</strong></em> akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.japantimes.co.jp/culture/2026/07/27/books/keigo-higashino-obituary/">Japanese author Keigo Higashino, known for penning intricate mystery novels, dies at 68 &#8211; The Japan Times</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-34-vendespil-memory-game/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-34-vendespil-memory-game/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2026 16:52:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[bendera]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[memori]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8761</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia. Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama Flying Tiger Copenhagen. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-34-vendespil-memory-game/">Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama <strong>Flying Tiger Copenhagen</strong>. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis menyukai benda-benda yang unik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sanalah Penulis menemukan sebuah <em>board game </em>kecil bernama <strong>Vendespil Memory Game</strong>. Ukurannya mini, hanya segenggaman tangan. Harganya pun murah, kalau tidak salah waktu itu Rp60 ribu atau Rp80 ribu. Untuk itu, Penulis pun membelinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game Vendespil Memory Game</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Vendespil Memory Game</li>



<li>Desainer: ?</li>



<li>Publisher: ?</li>



<li>Tahun Rilis: ?</li>



<li>Jumlah Pemain: Berapa aja boleh</li>



<li>Waktu Bermain: Tergantung yang main</li>



<li>Rating BGG: &#8211;</li>



<li>Tingkat Kesulitan: &#8211;</li>



<li>Harga: Rp60.000-Rp80.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Vendespil Memory Game</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8764" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-b.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">(<a href="https://flyingtiger.com/en-at/products/memory-game-flags-3055049?srsltid=AfmBOoraMuME4PbYPJCQD7KhbAHyPUxevl9CVUE49Uk3_t3SVAkf6UNM">Flying Tiger Copenhagen</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai namanya, ini adalah permainan daya ingat di mana kita harus mencocokkan gambar yang sama. Kebetulan, yang satu ini temanya adalah bendera negara. Total ada 68 kartu, yang artinya ada 34 bendera berbeda di mana mayoritasnya adalah negara Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di awal permainan, kocok semua kartu dan letakkan secara tertutup semua kartunya. Secara bergiliran, setiap pemain akan membuka dua kartu pilihannya. Apabila kartu yang dibuka berbeda, kembalikan ke posisi menghadap bawah. Jika sama, ambil dan letakkan di dekat pemain untuk <em>scoring</em> nanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peraturannya bisa berbeda-beda tergantung bermain dengan siapa, karena permainan ini bebas menggunakan <em>house rule</em> seperti apa pun. Kalau Penulis, pemain akan berkesempatan untuk memilih lagi apabila berhasil mendapatkan pasangan kartu yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peletakkan kartu pun bebas, tidak ada aturan baku yang menentukan seperti apa posisi kartunya. Mau dibaris rapi biar gampang ingatnya, boleh. Mau diacak biar lebih menantang, juga boleh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemain dengan jumlah pasangan kartu terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya. Kalau seri, anggap saja menang bersama. Kurang lebih seperti itulah cara bermain Vendespil Memory Game yang sangat sederhana.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Vendespil Memory Game</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8765" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-board-game-34-a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">(<a href="https://jp.mercari.com/item/m38277787093?srsltid=AfmBOoqqXkWUY7OuuWq1G6fnYl-bSOykDJQo_Sja3FkeFGWyg1WxjEvD">Mercari</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Penulis ragu-ragu mau memasukkan <em>board game </em>ini ke dalam daftar koleksi yang ingin dibuat tulisannya. Rasanya sama seperti memasukkan catur ke dalam daftar. Hanya saja, setelah melalui berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap menuliskannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu kecil, Penulis memiliki permainan serupa. Ukuran kartunya pun mirip, kotak dengan sudut yang sedikit melengkung. Kartu ini memiliki warna belakang biru dan di depannya dominan putih dengan berbagai gambar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, gambar-gambarnya inilah yang sangat Penulis ingat. Salah satu alasannya adalah adanya gambar <a href="https://whathefan.com/animekomik/kenapa-suka-lucky-luke/">Lucky Luke</a>. Bisa dibilang, inilah pertemuan Penulis pertama dengan koboi tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar lainnya adalah astronot dan berbagai macam hewan, dengan dominasi warna karakternya adalah kuning, biru, merah, dan hijau. Intinya, permainan ini sangat <em>memorable </em>bagi Penulis, sehingga permainan memori seperti ini tetap Penulis gemari hingga sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena alasan sentimental tersebut, Penulis memutuskan untuk menulis tulisan ini. Memang tidak banyak yang bisa dibahas dari permainan sejuta umat seperti ini, tapi Penulis tetap menginginkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Case </em>dari permainan ini terbuat dari bahan semacam kaleng yang solid, walau minusnya mudah meninggalkan bekas gores terutama di bagian bawah. Kualitas kartunya sendiri bagus, berbahan kertas yang tebal dan licin. Gambar benderanya jelas, yang dilengkapi dengan informasi nama negara dan ibukotanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vendespil Memory Game seru untuk dimainkan ramai-ramai, tapi juga bisa dimainkan sendirian di kala sedang tidak ada kegiatan lain. Ukurannya yang kecil membuat mobilitasnya sangat tinggi dan mudah dibawa ke tongkrongan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: <strong>7/10</strong></mark></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ini, Penulis akan membahas sebuah <em>board</em> <em>game</em> dengan tema perjudian. Tentu, bukan uang sungguhan yang digunakan di sini. Kita akan melihat pacuan unta (bukan kuda) dan bertaruh unta mana yang akan keluar sebagai juara. <em>Board game </em>tersebut adalah <strong>Camel Up The Card Game</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 20 Juli 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri <em>board game </em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-34-vendespil-memory-game/">Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-34-vendespil-memory-game/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
