<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2026 08:58:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 08:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[ular]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8936</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku masih berdiri terpaku di balik pagar ini, entah sudah berapa lama. Rasanya baru kemarin aku berada di dalam rumah yang berada di baliknya. Mataku tertuju pada satu-satunya jendela yang menghadap ke arahku, berharap sosok perempuan itu menampakkan diri untuk sekadar menengok apakah aku masih berada di luar rumahnya atau justru telah memilih pergi. Semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/">Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aku masih berdiri terpaku di balik pagar ini, entah sudah berapa lama. Rasanya baru kemarin aku berada di dalam rumah yang berada di baliknya. Mataku tertuju pada satu-satunya jendela yang menghadap ke arahku, berharap sosok perempuan itu menampakkan diri untuk sekadar menengok apakah aku masih berada di luar rumahnya atau justru telah memilih pergi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua kejadiannya memang terjadi begitu cepat sekaligus aneh. Belum pernah aku merasakan sensasi-sensasi yang terasa nyata sekaligus tidak nyata dalam satu waktu. Jangan-jangan, rumah ini memang memiliki daya magis yang berhasil memikatku? Atau mungkin aku hanya bodoh saja karena memilih untuk berdiri di depan pagarnya selama berhari-hari?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu pagi, beberapa waktu lalu yang tidak aku ingat tanggal pastinya, aku sedang berjalan kaki seperti biasa untuk menggerakkan badan. Pekerjaanku sebagai seorang penulis cerita membuatku harus duduk berjam-jam, sehingga kalau tidak diimbangi aktivitas fisik, badanku akan terasa sakit semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itulah aku melewati rumah mungil yang dikelilingi oleh pagar tinggi ini. Pagarnya serupa dengan jeruji besi di penjara, sehingga aku bisa melihat apa yang ada di baliknya. Sejak awal, aku sudah menaruh perhatian terhadap rumah ini. Bentuk bangunan rumahnya bisa dibilang lucu dan ada kesan feminim yang kuat, tapi pagar yang mengelilinginya berwarna hitam pekat dengan ujung yang tajam seolah bisa digunakan sebagai tombak untuk berperang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara pagar dan bangunan tersebut, ada taman bunga mawar yang begitu indah. Warna merah dari kelopaknya seolah sang bunga sedang merona karena ada seseorang yang sedang memuji kecantikannya. Kuperhatikan tidak ada tanaman lain selain mawar. Aku sendiri sering mengejek mawar, yang terlihat cantik dari luar, tapi menyakitkan ketika kita menyentuh tangkainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tampak depan, rumah itu juga unik karena hanya memiliki satu daun pintu dan satu jendela. Lebar rumahnya hanya sekitar tiga meter kalau dilihat dari balik pagar, tapi entah mengapa aku memiliki <em>feeling </em>kalau isi rumah tersebut jauh lebih luas daripada yang terlihat. Jangan-jangan, bangunan utamanya justru ada di bawah tanah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsentrasi pengamatanku langsung buyar karena terkejut mendengar suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba. Dari balik pintu tersebut, keluarlah seorang perempuan berambut sebahu dengan ekspresi ketakutan. Air mata sudah hendak tumpah dari matanya, seolah hidupnya sedang terancam. Walau begitu, hal tersebut tidak menutupi kecantikan wajahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak butuh waktu lama sampai matanya menangkap keberadaanku yang sedang berada di luar pagarnya. Merasa ketahuan sedang mengamati rumahnya, aku pun segera bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, suaranya yang lirih dan gemetar berhasil menghentikan langkahku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tolong, tolong aku, ada ular besar di dalam kamarku, aku hampir mati diterkamnya!&#8221;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jelas aku tidak memiliki pengalaman untuk menangkap seekor ular, apalagi jenis yang besar pula. Di sisi lain, tak mungkin aku mengabaikan permintaan seorang perempuan muda yang begitu ketakutan ini. Oleh karena itu, kuberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut tanpa modal senjata apa pun, karena aku tidak membawa apa-apa saat sedang berjalan kaki selain ponsel pintarku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kutanyakan kepadanya, apakah ada semacam senjata tajam atau minimal tongkat yang bisa digunakan untuk menghalau ular tersebut. Ia menjawab kalau tidak salah di gudang ada tongkat pramuka, tapi ia tidak berani mengambilnya sendirian. Kami pun berjalan berdua penuh waspada untuk mengambil tongkat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata, benar dugaanku. Bangunan utama rumah ini terletak di bawah tanah. Di permukaan, hanya ada satu ruang tamu kecil dengan furnitur yang cukup minimalis. Hanya ada sofa dan beberapa kursi, serta meja pendek dan satu kabinet mungil. Jika menilai dari penampilannya sekilas, kursi-kursi ini tampak jarang digunakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami turun menyusuri tangga menuju ruang bawah tanah secara perlahan, waspada kalau-kalau ular besar tersebut hendak memberikan <em>surprise </em>kepada kami. Untungnya, tidak terlihat satu makhluk hidup pun maupun terdengar suara desisan. Perempuan tersebut mengatakan ia telah menutup rapat pintu kamarnya, sehingga kemungkinan besar ular tersebut tidak ke mana-mana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tangga, kami berjalan ke arah belakang melewati lorong rumah yang cukup panjang. Jelas, arsitektur dari rumah ini sangat tidak biasa. Aku sudah mulai merasa curiga jangan-jangan ini sebuah jebakan dan perempuan ini hanya umpan. Nanti di balik ruangan yang katanya gudang, ternyata ada banyak laki-laki yang siap memutilasi tubuhku demi mendapatkan organ-organ tubuhku untuk dijual mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untunglah, semua kecemasan tersebut tidak terbukti. Sewaktu mencapai pintu paling belakang di sisi kanan yang ia sebut sebagai gudang, di baliknya memang benar-benar ada berbagai macam peralatan yang sudah selayaknya disimpan di gudang. Aku melihat sebuah tongkat pramuka bersandar di salah satu dinding, lalu mengambilnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan satu tarikan napas panjang, aku mempersiapkan diri untuk menghadapi ular besar di kamar perempuan ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum pernah aku melihat ular sebesar itu seumur hidup. Warna sisiknya kombinasi antara kuning cerah dan putih krem, dengan pola yang menyerupai bercak-bercak besar. Kepalanya berbentuk segitiga datar, dengan moncongnya yang agak melancip mengeluarkan lidah bercabang yang mengintimidasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bukan ahli ular tentu saja, tapi aku merasa kalau ular yang ada di hadapan kami ini merupakan jenis albino, apalagi kalau melihat warna matanya yang merah muda itu. Kami saling bertatapan mata, seperti dua petarung yang sedang mengukur kemampuan lawannya sebelum memulai perkelahian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perempuan itu bersembunyi di belakangku dengan sangat ketakutan. Ia menggenggam lenganku dengan sangat kuat sehingga aku merasa kesakitan. Walau begitu, harga diriku sebagai laki-laki tidak mengizinkanku untuk berteriak, apalagi adrenalinku sedang tinggi karena harus berhadapan dengan reptil yang sejujurnya terlihat indah di depanku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan tongkat pramuka di tanganku, aku mulai memasuki kamar tersebut dengan perlahan-lahan. Ular tersebut sedang berbaring di atas tempat tidur yang terletak di sudut kamar bagian dalam, sehingga ada ruang yang cukup untukku mengambil jarak. Sang perempuan tetap berada di belakangku, kepalanya ia sembunyikan di balik punggungku. Entah hanya perasaanku atau bukan, aku bisa merasakan napasnya menembus pakaianku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap aku melangkah, ular tersebut terus memperhatikanku. Tampaknya kehadiranku terasa sebagai ancaman untuknya. Tongkatku mulai kuarahkan kepadanya. Menurut pengetahuan dangkalku, biasanya ular yang berwujud seperti yang ada di hadapanku ini adalah tipe yang tidak berbisa, jadi aku hanya perlu jaga jarak agar tidak dililitnya. Kalaupun penilaianku salah, setidaknya aku mati dalam kondisi berusaha menolong seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tongkat makin kugenggam erat, lalu kusodokkan ke arah ular tersebut. Aku mengarahkannya ke tubuh ular tersebut, karena merasa kalau menyerang kepalanya hanya akan membuat ular tersebut makin marah. Ular tersebut terlihat mulai terganggu, tapi pandangannya tak pernah lepas memandangku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagiku, rasanya tak mungkin aku bisa membunuh ular tersebut, tapi setidaknya aku bisa mengusirnya dari rumah ini. Misi tersebut harus diawali dengan membuat ular tersebut keluar dari kamar ini. Miris sebenarnya, karena keberanian yang aku kumpulkan dari tadi ternyata hanya mampu membawaku berbuat hanya sejauh ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, hal tersebut pun gagal total. Sang ular justru semakin defensif dan pancaran dari wajahnya menunjukkan bahwa ia akan siap menyerang balik. Menyadari akan bahaya ini, aku pun menarik tongkatku dan berkata pada perempuan tersebut untuk segera keluar dari kamar untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">*** </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untunglah kita hidup di era di mana informasi begitu mudah dicari, termasuk bagaimana cara mengusir ular yang sedang sangat nyaman berada di atas kasur kita. Berdasarkan hasil &#8220;riset&#8221; singkat di ponsel pintarku, kami berdua memutuskan untuk menggunakan strategi baru. Ular tidak menyukai hawa dingin dan untunglah di kamar tersebut ada AC. Kami pun menyetelnya ke suhu 16 derajat Celcius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari balik celah pintu yang kami sisakan terbuka sedikit, kami bisa melihat kalau ular tersebut mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan suhu yang mendadak tersebut. Karena kamar tersebut tidak memiliki ventilasi, pintu ini akan menjadi satu-satunya jalan keluar bagi sang ular.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benar saja, beberapa saat kemudian, kami bisa mendengar suara desisan yang semakin keras datang ke arah kami. Karena sama-sama takut, kami pun mengambil beberapa langkah mundur. Dari jarak sekitar lima meter, kami bisa melihat ular tersebut keluar dari kamar dan merayap menjauh membelakangi kami.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku benar-benar merasa tegang hingga rasanya tak sempat memikirkan hal lain. Seharusnya, aku menyiapkan perangkap lanjutan untuk menangkap ular tersebut dan membawanya keluar dari rumah ini. Sayangnya, aku seakan membeku melihat ular sebesar itu merayap dan menghilang dalam kegelapan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, sang perempuan kini bisa masuk ke dalam kamarnya dengan tenang. Ia segera mengganti sepreinya. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kamar ini tidak memiliki ventilasi, sehingga tidak ada celah-celah yang bisa membuat ular tersebut masuk kembali ke dalam kamar, kecuali sang perempuan lupa menutup pintunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami berdua pun duduk untuk melemaskan saraf-saraf kami yang tegang dari tadi. Ada semacam kursi sofa di kamar itu dan di sanalah kami berdua duduk. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali karena sudah membantu mengusir ular tersebut dari kamarnya. Aku mengingatkannya kalau ular itu belum benar-benar pergi, jadi sebaiknya kami tetap waspada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku juga sempat bertanya, bagaimana ular sebesar itu bisa masuk ke dalam kamarnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Entahlah, aku pun tak tahu, saat sedang <em>scrolling </em>sambil rebahan di atas kasur, tiba-tiba saja ia muncul dari arah pintu yang terbuka dan masuk ke dalam kamar. Karena panik, waktu itu aku langsung melompati ular tersebut, membanting pintu kamar, lalu berlari keluar rumah. Untunglah ada kamu yang sedang ada di depan rumahku. Omong-omong, sedang apa kamu di depan rumahku?&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sempat tersedak sedikit ketika disodori pertanyaan seperti itu. Rasanya seperti seorang pengutil yang ketahuan sedang mencuri barang. Walau begitu, aku berusaha menjawab sejujur mungkin dengan mengatakan bahwa aku tertarik dengan desain rumahnya. Rupanya jawaban jujurku tersebut bisa ia terima, lalu ia pun tersenyum dengan getir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku benar-benar merasa khawatir terhadap keadaan perempuan tersebut. Dengan ular yang masih berkeliaran di rumahnya, jelas ia akan kerap paranoid dan hidup penuh ketakutan. Aku pun menawarkan diri untuk berjaga di rumahnya untuk sementara waktu, sampai ular tersebut benar-benar pergi dari rumahnya. Ia menyetujui hal tersebut dan menawarkan kamar tamu yang terletak di dekat tangga untuk tempatku beristirahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa sejak peristiwa ini dan bertemu dengan perempuan tersebut, aku seolah berhenti memikirkan hal lain, termasuk <em>deadline </em>novelku yang telah ditunggu oleh editor dan pihak penerbit. Panggilan telepon berkali-kali dari mereka sama sekali tak kuhiraukan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama berada di rumah tersebut, aku kerap melakukan patroli untuk mencari di mana ular berwarna kuning-putih tersebut. Senjata andalanku tetap tongkat pramuka yang telah menemaniku sejak hari pertama, karena anehnya perempuan tersebut tidak memilih benda-benda tajam, bahkan sekadar <em>cutter</em>. Jangan berharap akan ada perkakas macam palu di rumah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesekali aku menengok keadaan sang perempuan, yang lebih sering berada di kamarnya. Aku belum tahu apa pekerjaannya atau bagaimana cara ia menyambung hidup, tapi aku tidak melihatnya kesulitan secara finansial. Sesekali ia keluar rumah (di mana aku mendampinginya hingga ia keluar dari pintu rumah) untuk belanja bahan masakan. Harus aku akui kalau masakannya cukup lezat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat sendirian di rumah tersebut, selain fokus mencari ular tersebut, aku kerap mengamati rumah unik miliknya ini. Rumah ini sejujurnya terkesan tidak ramah, apalagi ruang tamunya berukuran mungil dan tidak sebanding dengan besarnya bagian rumah yang ada di bawah tanah. Bahkan, kamar tamu yang kutempati pun terasa sempit dan kurang nyaman. Bisa jadi, perempuan itu memang tidak suka membuat tamunya betah untuk berlama-lama di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ingin sedikit mendeskripsikan bagaimana arsitektur interior rumah ini. Setelah menuruni tangga, kita akan melihat lorong panjang dengan banyak pintu di sisi kanan dan kirinya. Lorong ini hanya diterangi oleh lampu yang redup, sehingga untuk melihat sesuatu yang ada beberapa meter di depan kita pun terasa cukup sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pernah menghitung jumlah pintu yang ada di lorong ini, jumlahnya ada sekitar 14 pintu. Ada beberapa ruangan yang pernah aku masuki karena diberi izin, tapi lebih banyak pintu yang tetap menjadi misteri. Sebagai tamu, aku berusaha menghargai batasan tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama seperti kamar milik sang perempuan, tidak ada ventilasi di kamarku. Bahkan kalau aku perhatikan, semua ruangan di rumah ini tidak memiliki ventilasi. Karena tidak ada ventilasi, artinya sebenarnya tidak banyak tempat bagi sang ular untuk bersembunyi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anehnya, aku gagal menemukannya. Ruang yang benar-benar terbuka hanya ruang tamu, tapi tidak banyak tempat bersembunyi untuknya. Memang ada beberapa ruangan yang tidak aku masuki karena dilarang oleh sang perempuan, tapi ia bersikukuh kalau ruangan-ruangan itu belum pernah ia buka lagi sejak kemunculan ular tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat sedang duduk di ruang tamu sembari menunggu sang perempuan selesai belanja, aku pun jadi bertanya kepada diriku sendiri: Jika ular tersebut ternyata sudah keluar dari rumah ini, lantas apa alasanku untuk tetap tinggal di rumah ini?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sudah lupa berapa lama tinggal di rumah ini. Kegiatan patroliku untuk mencari ular tersebut juga semakin berkurang. Anehnya, aku malah mulai merasa nyaman berada di rumah ini. Sang perempuan pun juga tak pernah sekalipun mengusirku secara terang-terangan maupun melalui kode-kode tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya ketika makan bersama, kami saling membagikan kisah kehidupan kami masing-masing. Ia bahkan berinisiatif untuk menceritakan tentang pekerjaannya sebagai <em>remote worker </em>di<em> sebuah perusahaan kesehatan di Amerika Serikat, bagaimana ia merupakan seorang introve</em>r parah (yang menjelaskan desain rumahnya yang unik), hingga hobinya menonton anime hingga berjam-jam ketika sedang punya waktu luang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami punya beberapa kemiripan, salah satunya adalah hobi membaca buku. Ia sempat mengajakku ke perpustakaan mininya (pintu nomor 4 di sisi kanan, persis sebelah kamarnya) dan menunjukkan beberapa koleksinya. Ia memberiku akses penuh ke perpustakaan tersebut, sehingga aku sering membaca buku di sela-sela patroliku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu waktu, kami sedang mengobrol di perpustakaan mengenai karya-karya Leila S. Chudori, yang kerap mengangkat topik kejahatan-kejahatan selama Orde Baru. Sejarah adalah salah satu topik favoritku, sehingga aku bisa menjawab beberapa pertanyaan kritis yang ia lontarkan dengan wajah serius yang menggemaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat aku menjelaskan berbagai hal yang menurutku sendiri sebenarnya membosankan untuk sebagian besar orang, ia justru tampak tertarik. Matanya terus menjaga kontak dengan mataku, sesekali ia mengangguk-angguk untuk menandakan ia paham apa yang sedang aku jelaskan. Jujur, aku benar-benar merasa baru kali ini ada orang yang mau mendengarkan <em>yapping</em>-ku sampai seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat pembicaraan tersebut, ia tiba-tiba berteriak karena ular besar tersebut muncul di ambang pintu. Aku segera refleks membalikkan badan dan hendak melemparkan buku <em>Laut Bercerita </em>yang sedang kupegang, tapi kuurungkan karena aku tidak tega melempar karya orang lain. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku segera mencari benda lain untuk dilemparkan di perpustakaan tersebut, untunglah ada semacam bantal duduk. Kulemparkan bantal tersebut seperti Captain America melempar perisainya, dan ajaibnya, ular tersebut segera melarikan diri. Apa yang membuat ular tersebut kembali lagi setelah sekian lama menghilang? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ular tersebut tak terlihat lagi, aku segera berbalik badan untuk mengecek kondisi perempuan tersebut. Ia langsung mendekapkan dirinya di tubuhku sembari menangis keras-keras. Di sela-sela tangisnya, ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar takut dengan ular tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yang belum pernah sedekat ini secara fisik dengan perempuan lain pun jadi merasa canggung, tapi naluriku mengatakan untuk menepuk punggungnya dengan lembut untuk membantu menenangkannya. Seumur hidupku, belum pernah aku merasa sebegitu dibutuhkan oleh orang lain sedalam ini, dan hal ini membuatku makin punya alasan untuk tetap tinggal di rumah ini entah sampai kapan. Aku benar-benar semakin merasa nyaman bersamanya.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah perasaanku atau bukan, seiring berjalannya waktu, lampu redup di lorong tersebut terasa lebih terang. Dari ujung lorong pun, kini aku bisa melihat di mana tangga menuju ruang tamu berada. Aku tak pernah melihat sang perempuan mengganti lampunya, jadi aku tidak bisa memahami apa yang membuat intensitas cahaya lampu-lampu ini berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain lampu, sesungguhnya aku kerap membantu sang perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak sanggup ia lakukan. Pipa bocor? Bisa kutangani. Air AC menetes terus? Tak sulit untuk memperbaikinya. Saluran WC mampet? Walau cukup sulit, tapi aku bisa mengatasinya dengan sedikit bantuannya. Intinya, banyak hal yang kulakukan untuk sang perempuan di rumah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami pun menjadi semakin dekat sekaligus lebih terbuka. Ia juga tertarik dengan pekerjaanku sebagai penulis, meskipun rasanya kini aku sudah masuk ke daftar pencarian orang hilang karena aku tak kunjung memberi kabar ke editor dan penerbitku. Aku benar-benar merasa terlalu nyaman di sini sehingga seolah tak memedulikan hal lain, yang penting aku bisa terus bersama perempuan yang telah memberikan rasa nyaman kepadaku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah ia juga merasa nyaman ketika berada di dekatku? Ataukah hubungan kami sebatas karena ia sedang membutuhkan perlindunganku dari ular tersebut? Jujur, aku sering merasa walau kami semakin dekat, tetap ada jarak yang ia pasang di antara kami. Terkadang aku merasa tergoda untuk menembus batasan tersebut, tapi aku selalu berhasil menahannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, kalau dari sisiku, rasa nyaman yang aku terima di rumah ini telah menimbulkan harapan untuk bisa tinggal di sini selamanya. Bukan sebagai pasangan tentu saja, tapi semacam <em>shared house </em>di mana aku akan membayar uang sewa kepadanya setiap bulan. Aku bisa meninggalkan apartemenku dan melanjutkan pekerjaan menulisku di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pun menyinggung hal ini ke perempuan tersebut ketika satu waktu kami berpapasan di lorong. Aku bahkan mengatakan rela untuk mengeluarkan uang sewa yang cukup tinggi di sini, dengan alasan aku merasa bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis di sini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba saja, lampu-lampu lorong kembali meredup seperti sedia kala. Ekspresinya yang tadinya cerah berubah menjadi dingin dalam sekejap. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya, tapi sorot matanya tajam seolah menyiratkan kalau aku sudah melanggar batas privasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ada keheningan selama beberapa detik, aku merasa seolah ada seekor ular tak terlihat yang menarik kakiku ke belakang dengan begitu cepatnya. Kini aku berada di ruang tamunya, sedangkan tangga menuju lorong bawah tanah langsung tertutup. Aku bahkan tidak tahu kalau tangga tersebut memiliki semacam pintu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah bagaimana menggambarkannya dengan tepat, tapi rumah ini seolah bisa merespons apa yang sedang dirasakan oleh pemilik rumahnya. Tidak paham dengan apa yang baru saja terjadi, aku pun hanya duduk termenung di sofa ruang tamu, berusaha menemukan jawaban dari semua peristiwa-peristiwa aneh tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mulai merasa terusir dari rumah tersebut, bahkan secara kasar. Namun, aku masih bersikeras meyakinkan diriku kalau aku pergi, bisa saja ular tersebut kembali dan memangsa perempuan tersebut. Jadi, walau aku tidur di sofa ruang tamu, aku memutuskan untuk tetap tinggal <em> </em>setidaknya beberapa hari lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua hari setelah peristiwa tidak masuk akal tersebut, aku mendengar suara pintu dibuka. Ternyata, suara tersebut berasal dari pintu yang menutup akses ke ruang bawah tanah. Muncullah perempuan tersebut dengan muka yang sangat ditekuk. Ia mengatakan bahwa aku kehilangan &#8220;akses&#8221; ke kamar tamu dan perpustakaan, tapi aku dipersilakan untuk ke dapur dan kamar mandi. Ia seolah tak peduli aku mau tidur di mana untuk seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu aku terpukul dengan keputusan sepihak itu, tapi aku berusaha menerimanya karena mau bagaimanapun ini tetap rumahnya. Aku juga tidak berusaha menanyainya lebih jauh tentang apa yang baru terjadi kemarin, termasuk kenapa seolah-olah ada sesuatu yang menarikku ke ruang tamu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha mengerti dan menerima semua ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak saat itu, kami juga semakin jarang berinteraksi. Ia tak lagi memasakkan untukku, sehingga aku harus memasak sendiri. Belanja bahan pun kini aku lakukan sendiri, bahkan sesekali aku berinisiatif untuk membeli bahan-bahan yang hampir habis untuk sekadar menunjukkan bahwa aku bukan hanya orang yang ingin numpang tinggal di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tidak sengaja berpapasan, kami hanya menyapa singkat tanpa ada percakapan yang berarti. Situasi ini jelas membuatku merasa tidak nyaman. Setelah semua yang aku lakukan untuknya selama ini, setelah semua yang aku korbankan sampai di titik ini, apakah aku layak diperlakukan seperti ini? Bukankah dia yang tiba-tiba muncul dalam hidupku dan memohon-mohon bantuanku?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat aku merasa sudah tidak bisa menahan lagi semuanya, aku pun mengajaknya berbicara ketika kami berpapasan di lorong. Aku memuntahkan semua yang kupikirkan dan kurasakan selama ini, hingga akhirnya muncul satu pertanyaan terakhir: Sebenarnya aku ini apa dalam hidupmu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi-lagi, sensasi ditarik ke belakang oleh ular tak kasat mata kembali kurasakan, kali ini entah mengapa terasa lebih menyakitkan baik secara fisik maupun emosional. Aku sempat melihat ke arahnya untuk terakhir kalinya, dan wajah itu menampakkan kebencian yang luar biasa. Semua senyuman dan kebaikan yang pernah ia berikan kepadaku seolah menghilang begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba saja aku sudah berada di balik pagar rumah tersebut. Pagarnya dalam kondisi digembok, sehingga aku tidak bisa masuk lagi ke dalam. Tempat yang telah terasa nyaman untukku berubah menjadi asing kembali.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah sudah berapa hari aku berdiri di balik pagar ini. Panas maupun hujan tak kuhiraukan. Aku masih menyimpan harapan bahwa akan datang waktunya di mana perempuan tersebut akan terlihat dari jendela dan menyuruhku untuk kembali masuk ke dalam rumahnya. Aku berharap bahwa kami bisa memperbaiki semuanya, sehingga aku bisa mendapatkan semua akses yang sempat ia berikan, terutama perpustakaannya yang benar-benar aku rindukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, semakin lama aku berdiri di sini, semakin aku sadar betapa bodohnya diriku selama ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku selalu senang berperan sebagai <em>superhero </em>bagi orang lain. Alasanku menjadi penulis pun karena berharap kalau tulisanku bisa &#8220;menyelamatkan&#8221; orang lain seperti yang dilakukan oleh penulis-penulis hebat. Ketika berusaha mengusir ular tersebut, aku sengaja tidak memanggil pihak pemadam kebakaran maupun lainnya karena aku ingin diriku seorang yang menjadi satu-satunya sosok penyelamat perempuan tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, bodoh pun ada batasnya. Aku merasa seperti barang yang dibuang setelah tidak dibutuhkan lagi. Atau justru aku yang bodoh karena berharap lebih setelah berbuat sesuatu untuk orang lain? Apakah aku terlalu tinggi menilai peranku dalam hidup orang lain?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat itulah, aku mendengar suara desisan ular dari sisi kananku. Aku menengok ke sumber suara dan melihat ular besar itu telah berada di sampingku. Matanya tidak menunjukkan tanda permusuhan, bahkan anehnya aku sedang merasakan simpati darinya. Ia seolah ingin berkata kalau peranku di sini telah berakhir. Setelah mendesis, ia membalikkan badan dan merayap menjauhi rumah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan satu tarikan napas panjang, aku memutuskan untuk menjauh dari rumah tersebut dan kembali ke apartemenku sendiri yang sudah lama kutinggalkan. Aku harus menemukan alasan kuat untuk editor dan penerbitku, mengapa aku menghilang dalam waktu yang lama tanpa bisa dihubungi sama sekali. Apakah mereka akan percaya kalau aku jawab aku telah diperdaya dan dijebak oleh siluman ular?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 18 Oktober 2026, terinspirasi dari pengalaman hidup</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/">Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-tokyo-zodiac-murders/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-tokyo-zodiac-murders/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2026 13:47:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Soji Shimada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8921</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang. Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-tokyo-zodiac-murders/">[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">Keigo Higashino</a> dan <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-teka-teki-gambar-aneh/">Uketsu</a>. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul <em>The Tokyo Zodiac Murders</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/11/setelah-membaca-stoik-apadan-bagaimana-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/setelah-membaca-stoik-apa-dan-bagaimana/">Setelah Membaca Stoik: Apa dan Bagaimana</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:<em>&nbsp;The Tokyo Zodiac Murders</em></li>



<li>Penulis: Soji Shimada</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-23</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2025</li>



<li>Tebal: 360 halaman</li>



<li>ISBN: 9789792285918</li>



<li>Harga: Rp99.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama <strong>Heikichi Umezawa</strong> yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias &#8220;sang wanita sempurna&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya <em>font </em>mesin ketik jadul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misteri tersebut selama hampir  40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah <strong>Kiyoshi Mitarai</strong>, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Didampingi oleh<strong> Kazumi Ishioka</strong>, yang terkesan sebagai &#8220;Dr. Watson-nya&#8221; cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. <strong>Banyak bagian diceritakan secara eksplisit</strong>, sehingga mampu menghadirkan sensasi <em>disturbing </em>yang lumayan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya <strong>untuk membuat kita fokus ke Azoth</strong>. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah <em>plot twist </em>di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari <em>plot twist</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti <strong>menantang pembacanya untuk membongkar kasus</strong> yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai <em>plot holes </em>yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana <strong>Kiyoshi <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/">mengolok-olok Sherlock Holmes</a></strong>, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang <strong>mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang</strong>. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara alur cerita, <strong>novel ini cukup seru</strong> dan<strong> <em>pace-</em>nya juga lumayan cepat.</strong> Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, <em>love-hate relationship </em>gitu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya <strong>daftar nama beserta perannya</strong> di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis<strong> tidak bisa memahami apa perlunya <em>background </em>Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi</strong>. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita <em>background </em>tersebut tidak terlalu terasa berguna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita <em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-detektif-conan-premium/">Detective Conan</a></em>. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kekurangan lainnya adalah <strong>penggunaan <em>font </em>mesin ketik</strong> yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis <strong>cukup terasa melelahkan</strong>. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan <em>font </em>tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara <em>overall</em>, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul <em>The Crooked House</em>, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 8/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>karya Soji Shimada</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-tokyo-zodiac-murders/">[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-tokyo-zodiac-murders/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>The Hardest Part of Ending is Starting Again</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2026 11:45:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[akhir]]></category>
		<category><![CDATA[awal]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[self improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8913</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul &#8220;Waiting for the End&#8221; dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter. Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/">The Hardest Part of Ending is Starting Again</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul &#8220;Waiting for the End&#8221; dari album <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/"><em>A Thousand Suns </em>(2010</a>), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">film <em>Linkin Park: Unshatter</em></a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul <em><strong>The Hardest Part of Ending is Starting Again</strong></em>. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya &#8220;menari di atas <em>keyboard</em>&#8221; untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 35 Leon dan Sica, Babak Ketiga" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-35-leon-dan-sica-babak-ketiga/">Chapter 35 Leon dan Sica, Babak Ketiga</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu <em>quote </em>menarik dari buku<strong> <em>Slow Steps</em></strong> karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kata &#8220;meninggalkan&#8221; identik dengan suatu akhir atau <em>ending</em>. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tulisan <em><a href="https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/#google_vignette">Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih</a></em>, Penulis telah membahas sedikit tentang <em>sunk cost bias</em>. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya &#8220;investasi&#8221; yang telah dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu juga tentang karier. Saat kita telah <em>stay </em>cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah <strong>bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita terpikir untuk <em>resign</em>, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari <em>apply</em> lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan <em>jobdesk </em>baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena <strong>kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya</strong>. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, <strong><em>just do it</em>. Mulai aja dulu</strong>. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah<strong> jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama</strong>. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau <em>task</em>, Penulis akan melakukan <em>breakdown </em>dan membaginya menjadi <em>task-task </em>kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan <em>draft</em>, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu <em>task </em>yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Breakdown isi portofolio</li>



<li>Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio</li>



<li>Mencari referensi desain portofolio di Canva</li>



<li>Membuat <em>draft</em> kosongan 5 halaman</li>



<li>Dan seterusnya</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis yang perfeksionis ini kerap<strong> menunggu &#8220;waktu ideal&#8221; untuk memulai sesuatu</strong>. Padahal, <strong>hal tersebut tidak ada</strong>, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi <em>task-task </em>yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu &#8220;Waiting for the End&#8221;. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanannya, Penulis menemukan <em>quote </em>buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat <strong>karena kita belum memulainya</strong>. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, <strong>mulai dari yang kecil-kecil </strong>bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. <em><strong>Just keep moving</strong></em>, <em><strong>just keep pushing</strong></em>. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton <em>Linkin Park: Unshatter</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/">The Hardest Part of Ending is Starting Again</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/the-hardest-part-of-ending-is-starting-again/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2026 15:35:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8905</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa. Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul &#8220;Inception/Intro&#8221;, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebagai <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">penggemar Linkin Park</a>, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film <em><strong>Linkin Park: Unshatter</strong> </em>adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan <em>soundtrack </em>yang menggetarkan jiwa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pada akhirnya tahu kalau <em>soundtrack </em>dari trailer tersebut berjudul &#8220;Inception/Intro&#8221;, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan &#8220;Castle of Glass&#8221;, &#8220;In the End&#8221;, hingga &#8220;Numb&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film <em>Coyote vs. ACME </em>yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Cover-Whathefan.jpg 1280w " alt="Chapter 60 Adik Tingkat Kelas Akselerasi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-2/chapter-60-adik-tingkat-kelas-akselerasi/">Chapter 60 Adik Tingkat Kelas Akselerasi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Linkin Park: Unshatter</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Linkin Park: Unshatter</em></li>



<li>Sutradara: Joe Hahn</li>



<li>Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain</li>



<li>Durasi: 110 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Linkin Park: Unshatter<br></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8908" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Joe Hahn (<a href="https://youtu.be/K9Lpxc7bVTM">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Linkin Park: Unshatter </em>bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, <a href="https://whathefan.com/musik/saya-dan-linkin-park-tentang-kematian-chester-dan-perjumpaan-pertama/">Chester Bennington</a>, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni <strong>Emily Armstrong</strong> dan <strong>Colin Brittain</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing personel berusaha menghadapi <em>grief </em>yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. <strong>Mike Shinoda </strong>misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa <em>single </em>dan album.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu titik,<strong> Joe Hahn</strong> yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. <strong>Dave Farrel </strong>selaku <em>bassist </em>pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua <em>member </em>memiliki ide serupa. Gitaris <strong>Brad Delson </strong>awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur <em>band</em>. <strong>Rob Bourdon </strong>sebagai <em>drummer </em>bahkan tidak mau terlibat sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan <em>drummer</em>. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya,<strong> <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">Linkin Park pun kembali pada tahun 2024</a></strong><a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/"> dengan vokalis baru</a>, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil <em>against all odds </em>dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8909" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/linkin-park-unshatter-2.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mike Shinoda (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=3tsnJNiIEJA">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur saja, ini adalah <strong>kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop</strong>. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu &#8220;The Catalyst&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi &#8220;The Catalyst&#8221; bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian <em><strong>lift me up, let me go</strong></em>, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar <em>band </em>favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bagaimana dunia <strong>para anggota Linkin Park terasa <em>shatter</em> alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak</strong>. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa <em>related </em>dengan apa yang pernah mereka hadapi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur <em>band </em>sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha <strong>&#8220;memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat&#8221;</strong>, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, mungkin karena <em>passion </em>mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya <strong>memutuskan untuk kembali alias <em>unshatter</em></strong>. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. <strong>Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari <strong><em>sub-part</em>-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park</strong>. Contohnya adalah &#8220;The Hardest Part of Ending is Starting Again&#8221;, yang diambil dari lagu <a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">&#8220;Waiting for the End&#8221;</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 11/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film <em>Linkin Park: Unshatter</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/">[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-linkin-park-unshatter/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 15:52:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8895</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan. Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/">Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/11/healing-dengan-menjadi-produktif-banner.jpg 1280w " alt="Healing dengan Menjadi Produktif" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/healing-dengan-menjadi-produktif/">Healing dengan Menjadi Produktif</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8898" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-1.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah <em>Merawat Luka Batin </em>yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang Penulis catat adalah <strong>apa yang menurut Penulis penting atau menarik</strong>. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam &#8220;ooooh&#8221;, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada <em>quote </em>yang menarik).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh di buku <em>Merawat Luka Batin</em>, di halaman 186 Penulis mencatat: <strong>Hindari &#8220;seharusnya&#8221; jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita</strong>. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat <em>draft </em>artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis berusaha untuk <strong>membuat catatan buku ini sesederhana mungkin</strong> agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>maupun <em><a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Effortless</a></em>. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk<strong> memudahkan proses pembuatan artikel <em>review</em></strong><em> </em>di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa <strong>me-<em>review </em>secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca</strong> dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan <em>notes</em>. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh &#8220;joki buku&#8221; yang sedang viral saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilihan <em>notes </em>kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memindahkan Catatan Fisik ke Digital</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8899" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku <em>Merawat Luka Batin </em>yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari <em>Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan</em>, <em>Mengapa Negara Gagal</em>, hingga<em> <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">Start with Why</a></em>. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai <em>mood</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/"><strong>Notion</strong> menjadi jawaban dari permasalahan ini</a>. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8900" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/10/catatan-buku-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa <strong>memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca</strong>. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya &#8220;beban&#8221; untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah <em>mood </em>baru direkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga tulisan ini bisa sedikit &#8220;menginspirasi&#8221; Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/">Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-mulai-mencatat-apa-yang-sedang-saya-baca/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2026 16:37:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Avengers]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8885</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday. Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/">[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jelang rilisnya film <em>Avengers: Doomsday </em>pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-avengers-endgame-bagian-1-adegan-favorit/"><em>Avengers: Endgame </em>(2019)</a> dengan beberapa adegan tambahan yang langsung <em>nyambung </em>ke film <em>Doomsday</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini diberi judul <em><strong>Avengers: Endgame Encore</strong></em>. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena <em>spoiler </em>duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari <em>premiere</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa <em>deleted scenes </em>yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film <em>Avengers: Doomsday</em>. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/setelah-membaca-dona-dona-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/setelah-membaca-dona-dona-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/setelah-membaca-dona-dona-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/setelah-membaca-dona-dona-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/setelah-membaca-dona-dona-banner.jpg 1280w " alt="[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-dona-dona/">[REVIEW] Setelah Membaca Dona Dona</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Avengers: Endgame Encore</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Avengers: Endgame Encore</em></li>



<li>Sutradara: Anthony dan Joe Russo</li>



<li>Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin</li>



<li>Durasi: 185 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8892" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Langsung Berlanjut Setelah Adegan Ini (<a href="https://www.reddit.com/r/marvelstudios/comments/e2ko3j/official_still_of_peggy_steve_from_avengers/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi <em>ending </em>bagi <em>Endgame</em>, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah <a href="https://whathefan.com/filmserial/akhirnya-marvel-kembali-ke-jalan-yang-benar-melalui-loki-season-2/">Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya</a>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi <em>post-credit </em>untuk film <em>Spider-Man: Brand New Day</em>. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia terlihat sedang membuat video <em>footage </em>mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam <em>glitch </em>yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk <em>collect </em>Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam <em>rune </em>yang menjadi ciri khas Doom di lantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke &#8220;kantor&#8221; Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan &#8220;Best Employee of All Time&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti <em>I love you 3.000 </em>di film <em>Endgame</em>). OB pun mengatakan <em>multiverse is collapsing</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat <em>suit </em>Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan Steve Rogers dan Loki</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8890" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Loki di Rumah Steve Rogers (<a href="https://screenrant.com/avengers-doomsday-major-loki-change-tva-mcu-story/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer <em>Doomsday</em>, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Rogers yang kita lihat di trailer <em>brewokan</em>, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film<em> Endgame Encore </em>dan trailer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film <em>Endgame </em>juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di <em>Doomsday</em> mengenai hal ini. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8891" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bruce Banner Jadi Hulk Lagi (<a href="https://www.yahoo.com/entertainment/movies/articles/happens-hulk-spider-man-brand-000000393.html">Yahoo!</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, hal ini lantas berubah di serial <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-she-hulk-attorney-at-law/">She-Hulk: Attorney at Law</a> </em>dan film <em>Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings</em>, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di film <em>Brand New Day</em>, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya? </p>



<h3 class="wp-block-heading">Adegan TVA dan Topeng Doom</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8889" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/review-avengers-endgame-encore-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">&#8220;Multiverse is collapsing,&#8221; OB (<a href="https://www.radiotimes.com/tv/sci-fi/ke-huy-quan-ouroboros-ob-loki/">Radio Times</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film <em>Doomsday</em>. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan <em>multiverse</em>. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan <em>multiverse </em>dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh <em>multiverse</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film <em>Avengers: Doomsday</em>. Pasalnya, <em>build up </em>film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film <em>Fantastic Four: The First Step </em>dan film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi <em>villain </em>utama film <em>Avengers: Infinity Wars</em> (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film <em>Guardians of the Galaxy Vol. 1</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film <em>Endgame Encore </em>ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja Penulis salah dan <em>Avengers: Doomsday </em>tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Avengers: Endgame Encore</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/">[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-avengers-endgame-encore/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2026 01:49:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[effort]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[tom and jerry]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8870</guid>

					<description><![CDATA[<p>Serial kartun Tom and Jerry sering kali berhasil membuat kita, baik ketika kecil maupun telah tumbuh dewasa, tertawa. Sebagai salah satu kartun legend yang tetap populer hingga saat ini, selalu ada saja aksi mereka yang tak masuk akal, tapi berhasil mengundang tawa. Penulis pun menjadi salah satu anak yang tumbuh besar lewat kartun ini. Penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/">Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Serial kartun <em><strong>Tom and Jerry</strong> </em>sering kali berhasil membuat kita, baik ketika kecil maupun telah tumbuh dewasa, tertawa. Sebagai salah satu kartun <em>legend </em>yang tetap populer hingga saat ini, selalu ada saja aksi mereka yang tak masuk akal, tapi berhasil mengundang tawa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun menjadi salah satu anak yang tumbuh besar lewat kartun ini. Penulis bahkan dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa dirinya telah menonton semua episode <em>Tom and Jerry </em>dari era Fred Quimby hingga Hanna-Barbara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, belakangan ini Penulis baru menyadari ada beberapa episode di <em>Tom and Jerry </em>yang terasa cukup <em>dark</em> sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah <strong><em>Blue Cat Blues</em>,</strong> yang tayang sebagai episode ke-103.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/07/sistem-zonasi-sekolah-banner.jpg 1280w " alt="Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berbincang-tentang-sistem-zonasi-sekolah/">Berbincang Tentang Sistem Zonasi Sekolah</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alur Cerita Episode Blue Cat Blues</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8874" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gal Cat di Episode Blue Cat Blues (<a href="https://www.imdb.com/title/tt0049020/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kebanyakan episode <em>Tom and Jerry</em>, masalah kerap muncul ketika <strong>Tom</strong> bertemu dengan kucing betina dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Di serial ini, kucing betina kerap dinamai Toodles Galore, tapi di seri ini ia sering disebut sebagai <strong>&#8220;Gal Cat&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan Toodles, Gal Cat di episode <em>Blue Cat Blues </em>terlihat tidak pernah menggerakkan mulutnya dan ekspresinya cenderung dingin sekaligus <em>tempting</em>. Ia tidak banyak menunjukkan emosi, apalagi terang-terangan menolak Tom.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Episode ini sendiri menggunakan alur mundur, di mana <strong>Jerry</strong> sebagai sahabat (bukan musuh) Tom menjadi naratornya. Ia menceritakan bagaimana Tom bertemu dengan Gal hingga akhirnya duduk terpuruk di rel kereta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, Tom langsung jatuh cinta dengan Gal pada pandangan pertama. Awalnya, Gal tampak mau menerima Tom, sebelum ia bertemu dengan <strong>Butch</strong> yang jauh lebih kaya raya. Jerry menyadari hal ini dan berusaha menghentikan Tom, tapi peringatan tersebut tidak digubris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kondisi ekonominya pas-pasan, Tom tetap berusaha merebut Gal dari Butch. Namun, setiap ia berusaha membelikan sesuatu untuk Gak, Butch pasti telah memberikan hadiah yang jauh lebih besar dan mewah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Tom membawa setangkai bunga, Butch memberikan karangan bunga raksasa. Ketika Tom membawa sebotol parfum, Butch mengirimkan truk tangki berisi parfum. Tom bahkan menguras habis tabungannya demi membeli cicin dengan berlian mini, tapi Butch telah memberikan berlian jumbo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya atau hadiah terakhir yang berusaha Tom berikan adalah sebuah mobil, di mana ia sampai menjual dirinya sebagai &#8220;budak&#8221; selama 20 tahun untuk bisa menutupi cicilan selama 312 bulan dengan tingkat bunga tahunan hingga 112%. Bahkan, ia hingga rela menggadaikan satu lengan dan kakinya!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah semua pengorbanan itu, ia hanya mendapatkan mobil tua yang bobrok dan tak layak guna. Mobil itu pun dengan mudah diratakan oleh Butch yang membawa sebuah <em>coupe </em>yang sangat panjang dan mewah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Depresi dengan keadaan, Tom pun menenggelamkan dirinya dengan meminum susu hingga mabuk. Ia bahkan sempat terlihat hanyut di air sebelum diselamatkan oleh Jerry. Pada akhirnya, Gal memutuskan untuk menikah dengan Butch dan meninggalkan Tom begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rentetan keadaan itulah yang membuat Tom benar-benar terpuruk dan duduk termenung di rel kereta. Jerry yang awalnya yakin pasangannya tidak seperti itu justru harus menerima takdir yang sama dengan Tom. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jerry pun bergabung dengan Tom untuk duduk di rel kereta, dengan suara peluit kereta terdengar dari arah belakang mereka, yang makin lama makin terdengar kencang&#8230;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tom Telah Memberikan Segalanya, dan Mungkin Itu Kesalahan Terbesarnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8875" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/tom-memberikan-segalanya-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tom Benar-Benar Memberikan Semua yang Ia Miliki (<a href="https://www.imdb.com/title/tt0049020/mediaviewer/rm967836417/">IMDb</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sangat gelap bukan cerita <em>Blue Cat Blues</em>? Butch mungkin memberikan semua yang Gal inginkan, tapi <strong>Tom telah memberikan segala yang ia miliki</strong>. Walaupun begitu, tetap saja ia gagal mendapatkan cinta Gal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ini berarti Gal adalah kucing materialistis yang hanya melihat harta dalam memilih pasangan? Setidaknya di mata Jerry memang seperti itu, walau di era sekarang keputusan Gal bisa dianggap sebagai realistis, karena Tom memang hampir tidak punya apa-apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis ingin lebih menyoroti dari sudut pandang Tom sebagai pihak &#8220;pengejar&#8221; sekaligus yang kalah. Perasaan jatuh cinta yang ia rasakan itu wajar, karena Gal memang seekor kucing yang terlihat menarik. <strong>Apa yang tidak wajar adalah semua upaya yang ia keluarkan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tom <strong>tidak memiliki kemampuan untuk mengukur batas dirinya</strong>. Ia terlalu fokus untuk bisa membuat Gal kagum hingga mengabaikan dirinya sendiri. Tak peduli tabungannya habis, tak peduli harus mengorbankan tangan dan kakinya, yang penting ia bisa memberikan sesuatu untuk Gal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya saingan yang super kaya, Tom melakukan itu semua agar dirinya dipilih oleh Gal. Mungkin di dalam hatinya, ia berharap kalau Gal bisa merasakan cintanya lebih besar dari semua hadiah yang diberikan oleh Butch. <strong>Ia gagal mengelola ekspektasinya</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, harapan tersebut pupus karena pada akhirnya Gal memilih Butch. Gal tidak peduli kalau Tom telah memberikan segala yang ia miliki, karena ternyata hal tersebut tidak cukup untuk dirinya. Kesalahan terbesar Gal di sini adalah <strong>tidak pernah benar-benar menutup pintu untuk Tom</strong>, sehingga Tom terus berharap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tom juga<strong> tidak mengindahkan nasehat dari sahabatnya</strong>, Jerry. Sudah berkali-kali Jerry berusaha untuk menghentikan niat Tom karena tahu perempuan seperti apa sebenarnya Gal. Namun, namanya juga cinta buta, niat baik Jerry tersebut sama sekali diabaikan oleh Tom.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena sudah merasa telah memberikan segalanya dan tetap gagal, Tom pun menjadi depresi. <strong>Ia telah meletakkan kehidupannya pada Gal</strong>, bahkan menjadikannya sebagai pusat semestanya. Itulah yang telah menghancurkan dirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, Tom juga telah <strong>terjebak pada <em>sunk cost fallacy</em></strong>, di mana ia merasa memberikan (bahkan terlalu) banyak hal untuk Gal. Ia merasa sudah &#8220;berinvestasi&#8221; sedemikian besarnya, hingga merasa putus asa ketika tahu hasilnya malah &#8220;bodong&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dibawa ke dunia nyata, alih-alih melakukan apa yang seperti dilakukan oleh Tom, kita <strong>seharusnya fokus kepada diri sendiri dan terus meningkatkan <em>value </em>diri</strong>, karena siapa juga yang mau sama seseorang yang tidak punya apa-apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai seorang manusia, kita harus belajar untuk memahami batas diri dan meletakkan kehidupan kita pada diri kita sendiri. <strong>Jangan terlalu memaksakan diri demi mendapatkan seseorang yang tidak memilih kita</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak tahu apa motivasi dari kreatornya hingga bisa membuat episode yang sekelam itu untuk pasar anak-anak. Memang, waktu kecil Penulis menganggap episode tersebut lucu-lucu saja. Namun, ketika telah dewasa, Penulis jadi bisa lebih memahami makna di baliknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, dari episode kartun ini kita belajar jangan mencintai orang lain secara membabi buta. Jangan memberikan segalanya untuk seseorang yang tidak benar-benar menerima kita. Jangan berkorban sebanyak itu untuk orang yang akan mematahkan hati kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kita harus bisa belajar menerima bahwa <strong>tidak semua upaya akan memberikan hasil yang kita inginkan</strong>. Walau begitu, pasti ada hal lain yang kita dapatkan dari upaya tersebut, pengalaman dan pelajaran hidup misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga saja kartun masa kecil kita yang hanya berdurasi beberapa menit ini bisa membuat kita belajar tentang hal tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 22 September 2026, terinspirasi setelah menonton Tom and Jerry episode <em>Blues Cat Blues</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/">Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/tom-telah-memberikan-segalanya-dan-tetap-gagal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game</title>
		<link>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-35-camel-up-the-card-game/</link>
					<comments>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-35-camel-up-the-card-game/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2026 14:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Permainan]]></category>
		<category><![CDATA[board game]]></category>
		<category><![CDATA[camel up]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8856</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dulu waktu masih kerja di tempat lama, teman Penulis yang bernama Pandu berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia board game. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli board game karena harganya yang lumayan mahal. Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor board game. Meskipun work from [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-35-camel-up-the-card-game/">Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dulu waktu masih kerja di tempat lama, <a href="https://whathefan.com/permainan/mas-pandu-dan-koleksi-board-gamenya/">teman Penulis yang bernama Pandu</a> berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia <em>board game</em>. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli <em>board game </em>karena harganya yang lumayan mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor <em>board game</em>. Meskipun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>work from home </em>(WFH)</a> hingga hari ini, Penulis pernah beberapa kali datang ke kantor yang terletak di daerah Tangerang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, atasan Penulis ini sering membawa <em>board game-</em>nya untuk dimainkan ketika waktu istirahat kerja. Salah satu yang pernah dibawa dan berhasil membuat Penulis tertarik untuk memilikinya adalah<strong> Camel Up: The Card Game</strong>, yang akan Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/10/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi-banner.jpg 1280w " alt="Benarkah Apple Telah Berhenti Berinovasi?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/benarkah-apple-telah-berhenti-berinovasi/">Benarkah Apple Telah Berhenti Berinovasi?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Board Game Camel Up: The Card Game</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: Camel Up: The Card Game</li>



<li>Desainer: Steffen Bogen</li>



<li>Publisher: Pretzel Games</li>



<li>Tahun Rilis: 2023</li>



<li>Jumlah Pemain: 2 &#8211; 6 pemain</li>



<li>Waktu Bermain: 30 &#8211; 45 menit</li>



<li>Rating BGG: 6,8</li>



<li>Tingkat Kesulitan: 2,06/5</li>



<li>Harga: Rp250.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Cara Bermain Camel Up: The Card Game</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8860" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">(<a href="https://boardgamegeek.com/image/7672585/camel-up-the-card-game">Board Game Geek</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara <em>board game </em>Penulis lain yang berukuran serupa, Camel Up: The Card Game bisa dianggap yang persiapannya paling ribet karena komponennya lumayan banyak. Yang jelas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menata kartu arena balapannya secara berurutan, yang tergantung jumlah pemain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap pemain akan mendapatkan <strong>3 Egyptian Pound</strong>, <strong>1 token Fennec</strong>, dan <strong>1 token Shortcut</strong>. Setelah itu, jejerkan kartu<em> bidding </em>di dekat semua pemain. Ada beberapa jenis kartu <em>bidding </em>yang bisa diambil pemain setiap putaran, yakni:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Final Betting Overall Winner Card</strong>: Memilih unta yang akan finis pertama ketika Race berakhir</li>



<li><strong>Final Betting Overall Loser Card</strong>: Memilih unta yang akan finis terakhir ketika Race berakhir</li>



<li><strong>Leg Betting Winner Card</strong>: Memilih unta yang unggul di tiap Leg dengan jumlah koin yang berbeda-beda, termasuk juga Leg Betting Midfield Cards yang memilih unta yang berada di posisi ke-3</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Akan ada <strong>5 unta yang turut serta dalam balapan</strong> dan akan mulai dari belakang garis Start (kartu arena nomor 1), serta <strong>1 unta gila yang berwarna hitam</strong> yang akan diletakkan pada kartu arena nomor 7. Di awal balapan, buka lima kartu untuk menentukan posisi awal unta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap pemain nanti akan mendapatkan kartu unta secara acak (baik warna maupun berapa langkah ia akan melangkah), lantas memilih beberapa untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck dan satu kartu untuk diletakkan di depan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tergantung jumlah pemain, ada juga beberapa kartu tambahan secara acak yang akan ditambahkan ke Racing Deck. Tak hanya itu, kita juga akan memilih dua kartu unta yang berwarna hitam untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, permainan pun bisa dimulai. Dimulai dari pemain pertama, ia bisa memilih beberapa aksi untuk dilakukan, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Memainkan token Fennec atau Shortcut</li>



<li>Membuka kartu teratas dari Racing Deck</li>



<li>Memainkan kartu yang ada di depan kita atau membeli kartu pemain lain seharga 1 koin</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memilih salah satu aksi di atas, pemain bisa mengambil satu kartu Betting, baik Leg Betting Card maupun Final Betting Card. Untuk kartu Final Betting, baik Winner maupun Loser, pemain hanya bisa mengambil satu per jenisnya. Jadi, kita tidak boleh menjagokan dua unta untuk menjadi juaranya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Leg akan berakhir ketika Racing Deck habis. Jika Leg berakhir, maka <em>setup </em>akan diulang lagi dari awal dan Leg berikutnya pun dimulai. Permainan pun akan terus berlangsung hingga salah satu unta berhasil melintasi garis finis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa detail peraturan lain yang belum Penulis sebutkan, tapi secara garis besar seperti itulah cara bermain Camel Up: The Card Game. Pemenangnya adalah<strong> pemain yang memiliki koin terbanyak di akhir permainan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Bermain Camel Up: The Card Game</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8859" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/09/camel-up-the-card-game-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">(<a href="https://comicbook.com/gaming/news/camel-up-the-card-game-review-the-delightful-chaos-of-the-original-on-a-smaller-scale/">ComicBook</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Camel Up adalah salah satu <em>board game </em>yang menarik perhatian Penulis karena konsep &#8220;taruhan&#8221; yang diusung. Penulis bahkan pernah memainkan versi aslinya yang seharga Rp700 ribu-an dan memang seseru itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, Camel Up: The Card Game adalah versi <em>budget </em>yang lebih ramah kantong. Meskipun mekanismenya jauh berbeda, inti dari permainannya berhasil dipertahankan dengan baik, sama-sama <em>push your luck</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tingkat ke-<em>random</em>-an versi kartunya bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan aslinya yang menggunakan dadu. Pasalnya, pemain bisa memilih kartu apa yang akan muncul di <em>racing deck</em>, sehingga setidaknya bisa menebak beberapa unta yang akan keluar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, kita bisa memilih strategi apa untuk bisa mendapatkan uang terbanyak. Misal, kita ingin unta ungu kalah, maka kita tidak akan memainkan kartu unta ungu. Contoh lain, kita tidak ingin unta kuning menang, maka kita akan membuang kartu unta ungu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Strategi ini terasa makin <em>deep </em>karena kartu <em>bidding-</em>nya sangat bervariasi. Kita tidak hanya memilih mana unta yang akan menang, tapi juga bisa memilih unta yang akan kalah maupun berada di urutan 2 hingga 4, walau uang yang didapat relatif lebih sedikit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis merasa dua token Fennec dan Shortcut terasa kurang berguna. Selain karena pemain terlalu fokus dengan unta yang sedang balapan, token yang sudah dipasang justru jarang kena ke untanya. Setidaknya, itu yang Penulis rasakan selama bermain <em>board game </em>ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, peran unta gila di sini juga terasa kurang signifikan. Mungkin, karena ia naik ke atas unta (bukan ke bawahnya), jadinya jarang ada unta yang berada di atasnya. Ini berbeda dengan versi aslinya yang entah mengapa lebih mudah berada di atas unta hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk kualitas komponennya, unta-untanya terasa sangat solid dan begitu enak ketika digerakkan. Koinnya juga terasa cukup solid, mirip dengan kualitas koin dari <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-10-machi-koro-2/">Machi Koro 2</a>. Kartunya standar saja, tapi cukup tebal agar tidak mudah tertekuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, Camel Up: The Card Game adalah versi singkat dari Camel Up yang cocok untuk dibawa ke tongkrongan karena ukurannya yang mungil. Hanya saja, <em>board game </em>ini butuh meja yang cukup luas karena arena balapannya cukup memakan ruang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>SKOR: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">7/10</mark></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seingat Penulis, ada jeda cukup panjang untuk membeli <em>board game </em>lagi setelah Penulis membeli Camel UP: The Card Game. Pilihan Penulis jatuh kepada <em>board game </em>lokal yang sebelumnya telah Penulis pernah mainkan: <strong>Waroong Wars</strong>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 7 September 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri <em>board game </em>ini</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-35-camel-up-the-card-game/">Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-35-camel-up-the-card-game/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 14:38:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[Madara Uchiha]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[villain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8850</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel, Naruto rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini. Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai Naruto, entah itu callback cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/">Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel,<em> Naruto</em> rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat <a href="https://www.upstation.media/article/kenapa-naruto-tetap-populer-tamat">menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja</a> yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai <em>Naruto</em>, entah itu <em>callback </em>cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga membedah <em>chapter </em>yang masih menimbulkan tanda tanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis sendiri, hingga saat ini ada satu hal yang mengganjal dari serial ini, yakni <strong>bagaimana Madara Uchiha tidak menjadi <em>final villain-</em>nya</strong>. Masashi Kishimoto justru memunculkan karakter yang selama ini hampir tidak pernah disebut, yakni Kaguya Ōtsutsuki.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gatau-lagi-harus-ngomong-apa-banner-300x169.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gatau-lagi-harus-ngomong-apa-banner-300x169.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gatau-lagi-harus-ngomong-apa-banner-1024x576.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gatau-lagi-harus-ngomong-apa-banner-768x432.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/gatau-lagi-harus-ngomong-apa-banner.jpeg 1280w " alt="Gatau Harus Ngomong Apalagi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/gatau-harus-ngomong-apalagi/">Gatau Harus Ngomong Apalagi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Madara Lebih Cocok Jadi Final Villain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8852" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Madara Uchiha Ketika Menjadi Jinchuriki Juubi (<a href="https://www.reddit.com/r/Naruto/comments/17qd0gb/do_you_think_madara_in_juubidara_form_can_pee/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Penulis, salah satu yang membuat <em>Naruto </em>bagus adalah para <em>villain-</em>nya. Mulai dari Zabuza, Orochimaru, Gaara, Itachi, Akatsuki, Pain, hingga Obito, semua begitu membekas karena latar belakang maupun motifnya menjadi seorang <em>villain</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Madara Uchiha juga salah satunya. Ia adalah <em>villain </em>yang cukup kompleks. Sebagai rival dari Hashirama Senju, tujuan utamanya sebenarnya adalah <strong>menciptakan perdamaian abadi melalui Mugen Tsuyokomi</strong>, ketika semua manusia berada di alam mimpi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk hal itu, ia berkali-kali selamat dari kematian, terutama dalam pertarungan melawan Hashirama. Ia hidup cukup lama hingga bisa memanipulasi Obito untuk mendirikan Akatsuki demi melancarkan rencana Mugen Tsuyokomi-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kemunculan Madara juga tidak mendadak begitu saja</strong>. Sebelum dibangkitkan kembali melalui Edo Tensei dari Kabuto, ia telah beberapa kali disebutkan dalam ceritanya (<em>foreshadowing</em>) sebelum kemunculan perdananya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat patungnya bersama Hashirama Senju di Lembah Akhir di <em>chapter </em>217. Kyuubi juga pernah menyebutkannya ketika Naruto menyerang markas Orochimaru demi menyelamatkan Sasuke di <em>chapter </em>309. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Obito sewaktu masih bertopeng juga sempat mendeklarasikan diri sebagai Madara. Hal ini menjadi <em>twist </em>yang menarik setelah Madara yang asli muncul pertama kali, tentu dalam wujud Edo Sensei.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, efek <em>plot twist-</em>nya ketika ia menjadi dalang dari semua peristiwa di <em>Naruto </em>terasa masuk akal. Apalagi, ia telah berkali-kali <em>aura farming </em>sejak kemunculannya, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar bahkan sebelum menjadi Jinchuriki Juubi!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, Madara justru menjadi &#8220;korban penipuan&#8221; dari Zetsu Hitam. Ternyata, semua rencananya selama ini telah diatur oleh mereka demi bisa membangkitkan kembali Kaguya Ōtsutsuki.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mari Kita Bandingkan dengan Kaguya Ōtsutsuki</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8853" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/madara-uchiha-final-villain-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tiba-Tiba Muncul, eh Kaget (<a href="https://naruto.fandom.com/wiki/Kaguya_Ōtsutsuki">Fandom</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang mari kita bandingkan Madara dengan <em>final villain </em>yang sesungguhnya, Kaguya Ōtsutsuki. Dari motivasinya, Kaguya <strong>ingin seluruh <em>chakra </em>manusia di dunia kembali ke dirinya karena merasa bumi ini adalah miliknya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi motivasi, jelas ini lebih <em>pure chaos </em>dibandingkan motivasi &#8220;perdamaian&#8221; dari Madara. Kaguya sebenarnya adalah &#8220;alien&#8221; yang datang ke bumi, lalu menamam Pohon Dewa (Shinju) demi bisa memakan Buah Chakra secara ilegal. Dibandingkan dengan Madara, motivasi Kaguya ini jelas lebih egois.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <strong>Kaguya benar-benar baru disebutkan menjelang akhir cerita</strong>. Madara yang menyebutkan pertama kali ketika menjelaskan tentang Shinju di <em>chapter </em>646. Namun, kemunculannya sendiri baru terjadi pada <em>chapter </em>679.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai analogi, bayangkan Thanos yang telah di-<em>tease </em>sejak film pertama <em>Avengers</em>. Namun, di film <em>Avengers: Infinity War</em>, sewaktu Thanos hendak menjentikkan jarinya, tiba-tiba ia ditikam dari belakang oleh Doctor Doom dan mengatakan rencananya selama ini berhasil!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis sering berprasangka buruk kalau<strong> Kaguya dihadirkan hanya agar Naruto bisa dilanjutkan oleh Boruto</strong>. Seperti yang kita tahu, klan Ōtsutsuki menjadi pusat konflik di sekuel tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Penulis saat ini sedang mengoleksi ulang komik-komik <em>Naruto</em> versi Bind Up-nya</a>. Saat artikel ini ditulis, Perang Dunia Ninja ke-4 baru saja dimulai. Penulis tak sabar ingin membaca ulang kisah Madara dan Kaguya ini, siapa tahu dulu ada detail yang terlewat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, Penulis merasa kalau Madara tetap lebih layak menjadi <em>final villain</em>. Kalau memang klan Ōtsutsuki mau menjadi musuh utama di <em>Boruto</em>, ya buat <em>build up-</em>nya di sana, jangan di <em>Naruto</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan saja Madara dengan kemampuan dewanya yang berhasil ia dapatkan harus bertarung dengan <a href="https://whathefan.com/animekomik/memaknai-kesepian-ala-naruto-dan-sasuke/">Naruto dan Sasuke</a>. Bahkan, ia memang terlihat kalah dalam pertarungan tersebut, sebelum akhirnya malah dikhianati oleh Zetsu Hitam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seandainya tidak melawan Kagura, mungkin pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke juga akan berlangsung lebih lama dan seru, bukan dalam kondisi kehabisan stamina dan <em>chakra </em>seperti yang kita dapatkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yah, pada akhirnya kita harus tetap menerima keputusan Masashi Kishimoto. Walau agak <em>ngedumel</em>, Penulis tetap menjadikan <em>Naruto </em>sebagai salah satu komik favoritnya setelah <em>Dragon Ball</em>.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 30 Agustus 2026, terinspirasi setelah merenungi kalau Madara Uchiha lebih cocok menjadi<em> final villain </em>daripada Kaguya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/">Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/madara-uchiha-lebih-layak-jadi-final-villain-di-naruto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 15:27:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Marvel]]></category>
		<category><![CDATA[MCU]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Spider-Man]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8837</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton. Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), <em><strong>Spider-Man: Brand New Day</strong>. </em>Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Spider-Man merupakan salah satu <em>superhero </em>favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi <em>villain</em> utama di film ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/klub-sekolah-ala-anime-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/klub-sekolah-ala-anime-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/klub-sekolah-ala-anime-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/klub-sekolah-ala-anime-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/11/klub-sekolah-ala-anime-banner.jpg 1280w " alt="Klub Sekolah Ala Anime" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/klub-sekolah-ala-anime/">Klub Sekolah Ala Anime</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Film Spider-Man: Brand New Day</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Spider-Man: Brand New Day</em></li>



<li>Sutradara: Destin Daniel Cretton</li>



<li>Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo</li>



<li>Durasi: 145 Menit</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8842" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Banyak Easter Egg dari Komik (<a href="https://www.gamesradar.com/news/live/spider-man-brand-new-day-trailer-launch-all-the-clips-posted-throughout-the-day-from-spider-man-4/">GamesRadar</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-no-way-home/">Spider-Man: No Way Home</a> </em>(2021), ketika <strong>Peter Parker</strong> (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ia tak benar-benar <em>move-on</em> dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, <strong>MJ</strong> (Zendaya) dan <strong>Ned</strong> (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah <strong>Jean Gray</strong> (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat <strong>Bruce Banner </strong>(Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh<strong> Frank Castle alias The Punisher </strong>(John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah <em>plot twist </em>terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan <em>abusing </em>kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May<em> </em>berhasil menenangkan Jean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru <em>sniper</em> dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan <em>action </em>seperti di film <em>No Way Home</em>. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8843" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Beban Emosional Peter Parker (<a href="https://images.dawn.com/news/1195042/the-trailer-for-spider-man-brand-new-day-shows-peter-parker-down-on-his-luck">Dawn Images</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu adegan paling emosional sekaligus &#8220;keterlaluan&#8221; di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar <em>move on </em>dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, &#8220;<em>I don&#8217;t love you</em>&#8221; secara terang-terangan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8844" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">UANGNYA DARI MANA??? (<a href="https://www.reddit.com/r/okbuddycinephile/comments/1vdkh14/in_spiderman_brand_new_day_peter_is_able_to/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film <em>No Way Home</em>, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam <em>shortcut </em>untuk tidak meninggalkan <em>plot holes </em>di dalam film.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8845" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sadie Sink sebagai Jean Gray (<a href="https://screenrant.com/spider-man-brand-new-day-tramell-tillman-bill-metzger-mcu-future/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter <em>telepath </em>yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-<em>No Way Home</em>, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat <em>badass </em>terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om <em>tsundere </em>yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8846" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-5.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Semua Beres dengan Kekuatan Tekad! (<a href="https://screenrant.com/spiderman-brand-new-day-trailer-peter-parker-change-organic-webbing/">ScreenRant</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah <em>villain </em>yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan <em>overuse</em>, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-far-from-home/">Spider-Man: Far from Home</a> </em>(2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan &#8220;tekad&#8221; juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar <em>struggling </em>dengan kemampuan barunya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Cameo Yelena yang Terasa Nanggung</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8847" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/review-spider-man-brand-new-day-6.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Cameo Yelena Belova (<a href="https://www.facebook.com/nathanistic/posts/brand-new-day-has-yelena-meet-peter-in-a-bathhousethe-fandom-is-abuzz-over-a-hil/1055667963510639/">Facebook</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi <em>cameo </em>yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa &#8220;asal tempel&#8221; karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan <em>post-credit Thunderbolts* </em>yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film<em> Thunderbolts*</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang &#8220;<em>small potato</em>&#8221; versus &#8220;<em>big potato</em>&#8220;. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi <em>street-villain level</em>, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?</p>



<h3 class="wp-block-heading">Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang <a href="https://whathefan.com/filmserial/langkah-frustasi-marvel-dalam-menyelamatkan-semestanya/">Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film <em>Avengers: Doomsday</em></a>. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan <em>post-credit </em>di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari <em>mulitverse </em>lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film <em>Doomsday.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film <em>Avengers: Doomsday</em>, karena <em>build up</em>-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kesimpulan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada <em>action</em>-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang <em>related </em>dengan kita!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">SKOR: 7/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton <em>Spider-Man: Brand New Day</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/">[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-spider-man-brand-new-day/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
