Connect with us

Intermeso

Evolusi Princess Disney

Published

on

Berawal dari diskusi awal mengenai trailer film Mulan yang baru tayang beberapa waktu lalu, Penulis jadi merasa penasaran dengan evolusi princess Disney dari masa ke masa.

Dari pengamatan Penulis, ada tiga masa yang memiliki perbedaan cukup signifikan. Kita akan melihat bagaimana karakter princess Disney yang awalnya tak berdaya tanpa bantuan seorang laki-laki menjadi perempuan mandiri yang tangguh.

Fase Pertama: Tak Berdaya Tanpa Laki-Laki (1937-1959)

Sebelum menjadi raksasa seperti sekarang, Disney merupakan studio animasi yang tak seberapa besar. Didirikan oleh Walt Disney, kita mengenal banyak sekali karakter kartun seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dan kawan-kawan.

Tak hanya membuat karakter binatang kartun yang lucu, Disney juga mulai memproduksi film-film animasi dengan durasi yang lebih panjang. Yang pertama adalah Snow White.

Snow White (Disney+)

Ketika tayang pertama kali pada tahun 1937, banyak penonton yang merasa terharu dengan jalan ceritanya. Hanya saja jika film tersebut tayang sekarang, pasti akan banyak dikritik oleh SJW feminisme.

Bagaimana tidak, ia muncul sebagai stereotipe princess Disney yang cantik, baik hatinya keterlaluan, cenderung naif, dan membutuhkan seorang pangeran untuk menolongnya.

Cinderella (Disney+)

Pola ini terulang lagi pada film Cinderella, seorang wanita yang tersiksa bersama keluarga tirinya. Berkat bantuan ibu peri, ia bisa berubah menjadi seorang putri dan berdansa dengan pangeran.

Setelah kehilangan sebelah sepatu kacanya, pada akhirnya ia bisa keluar dari rumah tersebut setelah sang pangeran menjemput dan melamarnya. Agar bisa bahagia, ia butuh tinggal bersama laki-laki penguasa kerajaan yang kaya raya.

Bagaimana dengan Aurora dari film Sleeping Beauty? Lebih parah lagi, ia tertidur selama ratusan tahun tanpa berbuat apa-apa sebelum ada seorang pangeran datang untuk menyelamatkannya.

Untungnya, Aurora adalah karakter princess pasif terakhir yang dimunculkan oleh Disney, digantikan oleh princess-princess yang lebih memiliki pendirian dan sikap.

Fase Kedua: Wanita-Wanita Pemberontak (1989-1992)

Setelah sekitar 30 tahun hiatus, Disney kembali mengeluarkan karakter princess melalui kemunculan Ariel pada film The Little Mermaid.

Ariel (MickeyBlog.com)

Ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang sedikit pemberontak dari kekangan ayahnya, penuh rasa ingin tahu, dan tak takut melakukan petualangan.

Tidak hanya itu, ia juga tidak butuh diselamatkan oleh pangeran untuk menemukan kebahagiaannya. Justru ialah yang menyelamatkan seorang pangeran hingga dua kali.

Hanya saja, Ariel memutuskan untuk menjual suaranya agar bisa mendapatkan sepasang kaki dan bertemu dengan pangeran. Hal ini membuat ia terlihat seperti seorang bucin.

Belle (Insider)

Tren ini dilanjutkan oleh Belle dari film The Beauty and the Beast. Sama seperti Ariel, ia juga menyelamatkan seorang pangeran (yang berbentuk seperti monster) lepas dari kutukan yang ia derita.

Selain itu, Belle juga menjadi karakter pertama yang mencintai seseorang tanpa memedulikan penampilan fisiknya, walau ujung-ujungnya sang buruk rupa berubah menjadi seorang pangeran tampan.

Walaupun tidak punya sikap pemberontak, Belle cukup berani untuk membuat keputusan sendiri demi melindungi sang ayah tercinta.

Jasmine (The Mary Sue)

Princess terakhir pada masa ini adalah Jasmine dari film Aladdin. Ia memiliki sifat pemberontak yang sama seperti Ariel karena sama-sama putri tunggal penguasa kerajaan.

Tidak hanya itu, Jasmine juga menjadi princess kulit berwarna pertama yang dimiliki oleh Disney, setelah sebelumnya didominasi oleh perempuan-perempuan berkulit putih.

Fase Ketiga: Wanita-Wanita Tangguh (1995-Sekarang)

Selanjutnya mulai dari film Pocahontas (1995) hingga Frozen 2 (2019), kita akan melihat Disney mengembangkan karakter-karakter Princess-nya. Pocahontas, seperti yang kita ketahui, bahkan bisa menghentikan perang demi melindungi sukunya.

Mulan (Syfy Wire)

Film Mulan yang tayang pada tahun 1998 menunjukkan bagaimana seorang wanita bisa sama kuatnya dengan kaum laki-laki. Ia dengan gagah berani bertempur di medan perang bersama para tentara.

Princess-princess seperti Tiana, Rapunzel, Merida, Vanellope, Anna, Elsa, hingga Moana mengirimkan pesan serupa kepada para penontonnya. Tidak ada lagi karakter wanita tak berdaya yang membutuhkan uluran tangan seorang pangeran.

(Penulis tidak bisa bercerita banyak tentang nama-nama yang disebut terakhir karena belum pernah menonton ataupun membaca ceritanya)

Penutup

Kesetaraan gender menjadi salah satu isu yang paling menyedot masyarakat. Sudah bukan zamannya lagi melakukan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.

Disney, salah satu pemain besar di dunia hiburan, menyadari hal ini sehingga secara bertahap mengubah karakter-karakter princessnya. Tentu mereka tidak ingin mendapatkan kritik karena selalu menggambarkan karakter wanita yang lemah.

Evolusi karakter dari Snow White hingga Anna dan Elsa menjadi topik yang menarik, sehingga Penulis memutuskan untuk mengangkatnya menjadi sebuah tulisan (walau sempat kebingungan akan dimasukkan ke dalam kategori apa).

Patut kita amati bersama, bagaimana princess-princess baru Disney akan ditampilkan di masa depan.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi setelah berdiskusi dengan teman kantor tentang evolusi princess Disney

Foto: Medium

Sumber Artikel: EW

Intermeso

Puisi di Dalam Lirik: Peterpan dan Noah

Published

on

By

Jika ditanya mengenai band atau penyanyi Indonesia favorit Penulis, Penulis tanpa ragu akan menjawab Peterpan atau yang sekarang telah bertransformasi menjadi Noah.

Pada dasarnya, mulai SMP Penulis lebih menyukai musik luar negeri seperti Linkin Park, Avenged Sevenfold, hingga Good Charlotte. Bukannya tidak nasionalis, tapi memang masalah selera saja.

Hanya saja, Penulis merasa cocok dengan style musik Peterpan yang puitis. Rasanya, band yang satu ini membawa warna yang berbeda untuk belantika musik Indonesia.

Penulis sempat berhenti total mendengarkan lagu-lagu Peterpan ketika sang vokalis, Ariel, tersandung kasus pornografi. Koleksi kasetnya langsung Penulis jual ke teman satu bangku.

Hanya saja beberapa tahun terakhir ini, Penulis memutuskan untuk mendengarkan mereka lagi karena merasa terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi, Noah memiliki banyak lagu yang enak didengarkan.

Peterpan dan Album-Albumnya

Sepengetahuan Penulis, Peterpan memiliki empat album plus satu album kompilasi. Keempat album tersebut adalah Taman Langit (2003), Bintang di Surga (2004), Alexandria (2005), dan Hari yang Cerah… (2007).

Yang menjadi favorit Penulis adalah album Alexandria. Album ini hanya memiliki lima lagu baru, di mana lima lagu lainnya merupakan hasil aransemen ulang. Hanya saja, Penulis menyukai semua lagu yang ada di album ini.

Penulis paling menyukai lagu Ku Katakan dengan Indah yang liriknya sangat mengena di hati. Lirik ini yang paling Penulis sukai:

Kau beri rasa yang berbeda, mungkin ku salah
Mengartikannya, yang kurasa cinta

Penulis juga menyukai lagu Di Belakangmu dan Langit Tak Mendengar. Secara kualitas musik, Penulis sangat puas dengan album yang merupakan soundtrack film berjudul sama ini.

Di urutan kedua, Penulis menyukai album Bintang di Surga yang legendaris. Sama seperti sebelumnya, Penulis menyukai semua lagu yang ada di dalam album ini.

Selain lagu Ku Katakan dengan Indah versi asli, Penulis juga menyukai lagu Di Atas Normal dan Bintang di Surga. Apalagi, video klip Bintang di Surga dibuat macam film Hollywood.

Selanjutnya di album Hari yang Cerah…, Penulis menyukai lagi Hari yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi dan Kota Mati. Album ini terdengar lebih modern dibandingkan album sebelumnya.

Penulis kurang menyukai album pertama mereka, Taman Langit, meskipun banyak lagu hits Peterpan berasal dari album ini. Sekali lagi, semua hanya masalah selera.

Album kompilasi mereka berjudul Sebuah Nama Sebuah Cerita yang dirilis pada tahun 2008. Ada beberapa lagu baru juga di album ini dan Penulis sangat menikmati lagu Dilema Besar.

Noah dan Album-Albumnya

Pada tahun 2012, setelah Ariel menyelesaikan masa hukumannya, Peterpan resmi berubah nama menjadi Noah. Album pertama mereka adalah Seperti Seharusnya dengan single pertama Separuh Aku.

Pada album ini, Penulis lebih menyukai lagu Jika Engkau (Berartinya Dirimu) dan Tak Lagi Sama. Kedua lagu ini sama-sama mengandung kegetiran dan ketakutan untuk ditinggalkan oleh sang kekasih.

Noah juga melakukan aransemen ulang beberapa lagu Peterpan di album Second Chance yang rilis pada tahun 2014. Di salah satu podcast, Ariel mengatakan hal itu dilakukan agar lagu-lagu lama mereka memiliki versi yang terdengar Noah.

Di album ini, Penulis sangat sangat sangat menyukai aransemen ulang lagu Menunggumu yang dulu Peterpan nyanyikan bersama almarhum Chrisye. Di iTunes Penulis, lagu ini sudah Penulis putar lebih dari 400 kali, hampir tiga kali lipat dari lagu-lagu lainnya.

Pada tahun 2016, Noah merilis album Sings Legends di mana mereka melakukan aransemen ulang terhadap lagu-lagu milik legendaris, seperti lagu Andaikan Kau Datang-nya Koes Plus dan Sajadah Panjangnya Bimbo.

Album utuh kedua Noah rilis pada tahun 2019 dengan judul Keterkaitan Keterikatan. Jumlah lagu di album ini tergolong sedikit jika dibandingkan dengan album-album sebelumnya, hanya ada delapan lagu.

Penulis paling suka dengan lagu Kupeluk Hatimu yang sendu dan Jalani Mimpi yang sangat optimistik dan membuat semangat untuk menjalani hari.

Ketika pandemi kemarin, mereka juga melakukan aransemen ulang terhadap lagu Kala Cinta Menggoda yang dipopulerkan oleh almarhum Chrisye. Penulis lebih menyukai versi baru ini dibandingkan versi aslinya yang bernada ceria.

Puisi di Dalam Lirik

Formasi awal Peterpan terdiri dari enam orang, yakni Ariel, Lukman, Uki, Reza, Andika, dan Indra. Dua nama terakhir hengkang dan membentuk band sendiri dengan nama The Titans.

Ketika berubah menjadi Noah, personilnya bertambah satu: David sebagai pemain piano. Kini, Noah tinggal bertiga setelah Reza dan Uki memutuskan untuk pensiun dari dunia musik.

Dari awal mendengarkan lagu Peterpan, Penulis langsung jatuh cinta dengan lirik-liriknya yang puitis. Mereka kerap menggunakan metafora yang terkadang sebenarnya tidak bisa Penulis pahami.

Hal ini bisa kita lihat pada album pertama mereka. Metafora yang digunakan kadang membuat bingung lagunya bercerita tentang apa. Tapi semakin ke sini, metafora yang berlebihan mulai dikurangi dan tiap lagu memiliki pesannya masing-masing.

Ketika Peterpan berubah menjadi Noah, Penulis merasa lirik-liriknya sudah tidak terlalu puitis. Masih indah, tapi kata-katanya menjadi lebih mudah dipahami. Yang jelas, Penulis masih mendengarkan lagu-lagunya hingga kini, terutama ketika hati sedang gundah gulana.

Lawang, 9 Desember 2020, terinspirasi setelah menyadari kalau rubrik Musik & Film sudah lama tidak diisi

Foto: Urban Radio Bandung

Continue Reading

Intermeso

Linkin Park dan One More Light

Published

on

By

Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir, One More Light. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya.

Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah “kok gini?”.

Album Pop Linkin Park?

Pikiran tersebut muncul sejak Penulis mendengar single pertamanya yang berjudul Heavy. Selain karena genrenya yang cenderung pop, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng penyanyi perempuan sebagai teman duet, Kiiara.

Chester dan Kiiara (Just Jared)

Bukannya tidak enak. Penulis bisa menikmati lagunya, apalagi makna liriknya yang cukup dalam. Hanya saja, rasanya ini bukan seperti lagu-lagu Linkin Park seperti biasanya, apalagi setelah tiga tahun lalu mereka merilis album The Hunting Party.

Setelah albumnya yang berisi sepuluh lagu rilis, Penulis mendengarkan baik-baik lagu demi lagunya. Album ini benar-benar berbeda, sama sekali tidak terasa nuansa rock-nya! Bahkan Chester sama sekali tidak mengeluarkan screaming andalannya.

Awalnya Penulis menganggap hal tersebut terjadi karena usianya yang sudah mulai menua, sehingga tidak disarankan untuk berteriak. Tetapi ketika menonton video konsernya, ia tetap melakukan screaming seperti biasa.

Artinya, sekali lagi Linkin Park berusaha melakukan eksperimen ekstrem seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, Penulis pribadi merasa eksperimen kali ini sudah terlalu jauh. Mereka meninggalkan genre alternative/rap/electric rock dan memilih untuk membuat album pop.

Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggunakan salah satu judul lagu sebagai judul album dan tidak ada kesinambungan antar lagunya seperti biasanya.

Lagu-Lagu One More Light

Album dibuka dengan lagu Nobody Can Save Me. Bisa dibilang, peletakkan lagu ini di awal album menjadi penanda seperti apa album ini akan terdengar. Enak sih, cuma sedikit membosankan.

Selanjutnya adalah satu-satunya lagu di mana Mike Shinoda melakukan rap, Good Goodbye. Pada lagu ini, Linkin Park menggandeng rapper Pusha T dan Stormzy. Mike hanya mengisi rap di bagian pertama lagu.

Bisa dibilang, Talking to Myself menjadi lagu terkeras di album ini. Tidak ada teriakan, namun vokal Chester terasa kuat. Perilisan video klipnya bersamaan dengan ditemukannya Chester bunuh diri, di mana isinya merupakan berbagai aktivitas Linkin Park.

Album berlanjut dengan lagu Battle Symphony yang kalau tidak salah menjadi single kedua lagu ini. Penulis ingat ketika konser untuk memperingati kematian Chester, Mr. Han melakukan kesalahan hingga ditegur oleh Mike.

Lagu Invisible secara penuh dinyanyikan oleh Mike, mirip dengan lagu In Between di album Minutes to Midnight. Hanya saja, lagu ini lebih cocok untuk berada di album Fort Minor atau Mike Shinoda sendiri.

Single pertama dari album ini, Heavy, menjadi trek keenam. Dibandingkan lagu lainnya, lagu ini masih bisa Penulis nikmati karena dentuman drum yang ada di bagian 1/4 lagu terakhir.

Sorry for Now mungkin terdengar aneh karena Mike menjadi vokalis utama, sedangkan Chester hanya mengisi bagian bridge dan backing voval-nya. Halfway Right juga terdengar seperti lagu-lagu pop Linkin Park lainnya, bahkan dianggap sedikit cengeng.

Judul utama album ini diambil dari lagu kesembilan, One More Light. Lagunya sangat terasa sendu dan menyedihkan. Pada akhirnya, lagu ini sering dihubungkan dengan kepergian Chester yang tragis. Album ditutup dengan lagu akustik berjudul Sharp Edges.

Pembaca bisa lihat, Penulis tidak bisa banyak berkomentar mengenai lagu-lagu yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan kalau Penulis tidak bisa terlalu memahami album ini.

Penutup

Tidak ada teriakan, tidak ada suara gitar yang berat, rap yang sangat sedikit, tak ada lagi gesekan turntables. Banyak hal yang awalnya membuat Penulis merasa tidak terlalu suka dengan album ini.

Penulis tidak sendirian. Banyak fans yang merasakan hal yang sama. Bahkan, banyak kritikus musik yang habis-habisan memberi respon negatif ke album ini hingga membuat Chester marah.

Siapa yang menyangka kalau ternyata album ini menjadi album terakhir dari Linkin Park. Sang vokalis, Chester Bennington, memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menggantung lehernya, menyisakan duka mendalam bagi para penggemarnya termasuk Penulis.

Penulis tidak akan lagi membaca berita Linkin Park akan mengeluarkan album baru. Kalaupun pada akhirnya band merekrut vokalis baru, Penulis tidak bisa menerimanya sebagai Linkin Park.

Meskipun begitu, sampai kapanpun Linkin Park akan tetap menjadi band nomor satu di hati Penulis. Sampai kapanpun.

Seri artikel album Linkin Park, selesai.

Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon

Continue Reading

Intermeso

Linkin Park dan The Hunting Party

Published

on

By

Tidak ingin mengulangi kesalahan ketika album Living Things rilis, Penulis benar-benar memantau kabar terbaru dari Linkin Park. Siapa tahu, mereka akan merilis album baru dua tahun kemudian.

Benar saja, pada tahun 2014 Linkin Park mengeluarkan album keenam mereka yang diberi judul The Hunting PartyJujur, Penulis sangat menyukai art cover dari album ini. Rasanya sangat artistik.

Selain itu, isi lagu di album ini juga berbeda dari album-album sebelumnya. Singkatnya, album ini terdengar sangat rusuh!

Rock Murni

Satu poin yang membuat album ini sangat berbeda dibandingkan dengan dua album sebelumnya adalah minimnya sentuhan elektronik pada lagu-lagunya. Benar-benar terdengar seperti lagu rock murni.

Penulis sampai berpikir apa peran sang DJ, Mr. Han, di album ini. Lagu-lagunya benar-benar menonjolkan instrumen musik rock yang sangat berat, keras, dan kental.

Banyak yang menganggap Linkin Park sedang melawan arus, mengingat band lain mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Semua eksperimen yang telah dilakukan ditinggalkan demi instrumen musik rock tradisional.

Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng musisi lain di dalam albumnya. Mereka adalah Page Hamilton (Helmet), Daron Malakian (System of a Down), Tom Morello (Race Against the Machine), dan Rakim.

Itulah beberapa alasan yang membuat Penulis merasa kalau album yang satu ini sangat rusuh!

Lagu-Lagu The Hunting Party

Album ini berisikan 12 lagu, di mana 2 lagu hanya berperan sebagai interlude. Lagu pembuka dari lagu ini adalah Keys to the Kingdom. Penulis setuju lagu ini dijadikan sebagai track nomor satu karena mampu merepresntasikan kerusuhan album ini.

Diawali dengan suara teriakan Chester, kita akan mendengar rap Mike yang diiringi dengan dentuman musik yang makin menjelang akhir makin keras. Penulis cukup menyukai lagu ini.

Album berlanjut dengan lagu All for Nothing, di mana Linkin Park menggandeng Page Hamilton yang merupakan gitaris dan vokalis band Helmet.

Dengan aliran hip-hop di bagian awal, lagu ini terdengar seperti lagu punk. Permainan gitar Brad Delson benar-benar sangat menonjol di sini, tentu dengan bantuan dari Page.

Single pertama yang rilis dari album ini adalah Guilty All the Same. Untuk pertama kalinya, Linkin Park menggandeng seorang rapper lain untuk mengisi pos yang biasanya diisi oleh Mike. Rapper yang dipilih adalah Rakim.

Intro lagu ini cukup panjang, lebih dari satu menit. Durasi lagunya sendiri hampir menyentuh angka enam. Didominasi oleh suara gitar dan drum yang agresif, mendengarkan lagu ini seolah memancing kita untuk berbuat kerusuhan.

Setelah itu, ada lagu The Summoning yang berperan sebagai interlude dari lagu WarLagu ini mirip dengan lagu Victimized dari album sebelumnya. Durasinya pendek, namun vokal Chester sangat kuat. Bedanya, lagu ini tidak memiliki bagian rap.

Selanjutnya ada lagu Wasteland yang awalnya tidak Penulis sukai karena terdengar berantakan. Setelah didengar ulang dan menonton video konsernya, Penulis jadi menyukai lagu ini. Lagu ini menjadi lagu ketiga di mana Mike melakukan rap.

Outro dari Wasteland juga menjadi pembuka untuk lagu selanjutnya, Until It’s Gone. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang masih memiliki efek elektronik yang tidak terlalu menonjol. Walaupun begitu, Penulis kurang menyukai lagu ini.

Sama seperti sebelumnya, outro dari lagu ini juga terhubung dengan lagu selanjutnya, Rebellion. Nah, kalau lagu ini sangat Penulis sukai. Selain karena permainan gitar yang ditunjukkan oleh Daron Malkian, Penulis juga menyukai liriknya.

Lagu ini menggunakan riff gitar yang cepat dan hentakan drum yang dinamis, membuat kita akan bersemangat ketika mendengarkannya. Mike menyanyi di lagu ini walaupun bukan bagian rap. Ada juga bagian Chester melakukan screaming.

Mark the Graves yang menjadi lagu selanjutnya benar-benar tidak Penulis sukai. Sangat terdengar berantakan seolah yang menyanyikan bukan Linkin Park. Penulis tidak ragu untuk memberikan lagu ini bintang dua di iTunes.

Selanjutnya ada lagu instrumen berjudul Drawbardi mana Tom Morello dari Race Against the Machine ikut mengambil bagian. Berbeda dengan lagu Cure for the Itch dan Session, tidak terdengar suara elektronik di lagu ini.

Di antara semua lagu, Final Masquerade adalah lagu favorit Penulis di album ini. Lagu ini dideskripsikan sebagai genre rock alternatif atau hard rock. Nuansanya mirip dengan lagu What I’ve Done.

Tempo lagunya tidak terlalu cepat, namun sangat enak didengarkan. Chester tidak perlu melakukan screaming untuk menunjukkan kemampuan vokalnya yang luar biasa.

Album ditutup dengan lagu A Line in the Sand yang juga tidak Penulis sukai sama sekali. Alasannya sama dengan lagu Mark the Graves, begitupun dengan ratingnya di iTunes Penulis.

Penutup

Bagi penggemar lagu-lagu rock, album ini akan disukai setelah sebelumnya Linkin Park gemar melakukan eksperimen. Nyaris tidak ada sentuhan elektronik sekali, sehingga bagi beberapa fans album ini terdengar aneh.

Penulis pun sejujurnya kurang menyukai album ini, walaupun menyukai beberapa lagu di dalamnya seperti WastelandRebellion, dan Final Masquerade.

Bagi Penulis, yang namanya Linkin Park harus mampu menggabungkan musik rock, electronic, hingga hip-hop. Lagu yang memiliki video klip juga hanya dua, Until It’s Gone dan Final Masquerade. Tapi yang namanya fans, Penulis tetap mendengarkan album ini.

Setelah mendengarkan album ini, Penulis berharap di album selanjutnya Linkin Park akan kembali seperti dulu lagi. Harapan tersebut tidak terkabul, karena Linkin Park semakin berubah drastis!

Album selanjutnya, One More Light. Stay Tuned!

Kebayoran Lama, 19 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan