Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa

Sebenarnya ini bukan murni pemikiran saya. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca tulisan Ahmad Rifa’i Rifan dan Emha Ainun Najib, yang saya lupa judulnya.

Kedua tulisan yang sebenarnya berbeda makna -yang satu membahas perlunya untuk tidak merasa, satunya membahas menjadi manusia dulu sebelum menjadi muslim- akan tetapi saya melihat ada korelasi diantara kedua tulisan ini.

Manusia, otomatis termasuk saya, seringkali cepat merasa. Misalnya, belajar bahasa Inggris di Pare beberapa bulan membuat saya merasa lebih jago berbahasa Inggris.

Nyatanya, ketika ditelepon mahasiswa Manchester Metropolitan University, jawaban saya masih gelagapan enggak karuan (terbaca sombong, padahal sebenarnya mendapat telepon dari luar negeri itu ada caranya, dan tidak susah). Artinya, kita itu seringkali terlalu tinggi dalam menilai diri sendiri.

Seharusnya, semakin kita belajar, maka semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Seperti kata Aristoteles, kebijakan sejati adalah mengetahui kalau kita tidak tahu apa-apa.

Dalam konteks berbuat baik, terutama kepada sesama, cukuplah kita berbuat baik saja, tanpa perlu merasa berbuat baik. Sekali kita merasa, maka hilanglah esensi berbuat baik itu. Darimana dasarnya? Setidaknya, keikhlasan sudah sirna dari perbuatan tersebut. Orang baik tidak akan merasa dirinya baik.

Contoh lain, misal dalam hal ibadah. Jika kita menganggap ibadah kita sudah bagus, lalu melihat ibadah orang lain yang belum sebagus kita, maka kita cenderung merasa lebih baik dan meremehkan orang tersebut.

Tuhan menilai kita tidak hanya dari ibadah yang kita lakukan untuk menyembah-Nya, perilaku kita pun bisa menjadi pemberat timbangan amalan kita.

Bukankah Nabi diturunkan untuk memperbaiki akhlak? Apa artinya belajar syariat kalau kita masih menyakiti orang lain, masih tidak menghargai orang lain.

Disinilah Cak Nun mengatakan bahwa kita harus menjadi manusia dulu, baru belajar menjadi muslim yang taat.

Kenapa? Karena menjadi muslim tanpa belajar menjadi manusia akan membuat kita menjadi angkuh, membuat kita merasa lebih baik dari orang-orang yang mungkin ibadahnya kurang.

Bukan berarti orang yang selalu memandang sederajat kepada sesama tapi tidak pernah sholat lebih baik daripada orang yang sholatnya rajin tapi tidak pernah memberi makan yatim piatu.

Dua-duanya salah. Jadilah keduanya, belajar menjadi keduanya, manusia dan muslim.

Oleh karena itu, dalam berbuat, terutama hal baik, tidak perlulah dibumbui dengan sikap merasa. Lakukan dengan tulus, niscaya akan membuat kita menjadi lebih manusia.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.