Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.

Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaftolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.

Maaf

Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata maaf. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang.

Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak baper.

Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.

Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata permisi, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.

Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.

Tolong

Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata tolong harus terucap.

Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di chat. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.

Alih-alih berkata “mas, tolong save ya”, mereka justru hanya berkata “mas save”. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.

Photo by Dane Deaner on Unsplash

Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.

Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.

(Peribahasa Jawa kebo nyusu gudhel yang bermakna yang tua belajar kepada yang muda benar-benar kerap terjadi di era ini)

Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.

Terima Kasih

Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, terima kasih bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.

Photo by rawpixel on Unsplash

Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah sama-sama. Bisa juga dengan kata sederhana seperti oyi, siap, yuhuu, dan lain sebagainya.

Penutup

Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.

Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.

Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.

 

 

Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah chat dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.

Photo by Caleb Woods on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.