Racun Literasi Pada Platform Digital

Selain lewat blog ini, penulis juga menerbitkan novel penulis (Leon dan Kenji & Distopia Bagi Kia) di platform digital seperti Wattpad dan Storial. Walaupun belum mendapat pembaca di Storial, novel penulis sudah lumayan banyak dibaca di Wattpad (sekitar 500 kali).

Akan tetapi, penulis memiliki keprihatinan mendalam terhadap konten-konten yang ada di Wattpad. Bukannya iri, tapi penulis merasa miris melihat genre novel yang banyak dibaca dan mendapat banyak like adalah genre yang berbau seks dan fan fiction.

Novel Vulgar untuk Semua

Menurut teman penulis, sejak dulu memang banyak sekali novel-novel seperti itu. Yang membuat penulis merasa kaget, pembuat novel-novel itu adalah usia anak sekolah, bahkan masih duduk di bangku SMP!

Pantas saja, tanpa bermaksud sombong, sewaktu penulis mencoba membaca salah satu cerita tersebut, penulisannya masih carut-marut. Salah meletakkan tanda baca, penggunaan diksi yang kurang tepat, serta alur cerita yang terkesan tidak beraturan.

Penulis sangat menyayangkan fenomena ini harus terjadi di ranah dunia literasi. Memang bagus, dengan hadirnya platform digital tingkat literasi kita meningkat. Tapi jika jenis bacaan yang dibaca seperti itu, jelas hal tersebut menjadi racun yang berbahaya.

Apalagi penulis kemarin mendapatkan pesan WhatsApp dari ibu, tentang seorang pemilik penerbit kecil merasa terkejut ketika ada dua anak SMP yang menerbitkan novel dewasa dengan kata-kata tidak seronok! Apalagi, mereka dengan bangga mengakui bahwa mereka adalah seorang fujoshi!

Apa itu fujoshi? Fujoshi (腐女子) adalah sebutan dari bahasa Jepang untuk perempuan yang menyukai cerita di mana laki-laki menyukai laki-laki atau sering disingkat BxB. Mengerikan bukan jika sejak usia sekolah mereka sudah melihat sesuatu yang secara norma dan agama tidak benar?

Pengaruh Novel Vulgar terhadap Pola Pikir

Mau mengakui atau tidak, apa yang kita baca dan tonton akan mempengaruhi pola pikir kita. Apabila sejak remaja kita menonton hal-hal yang berbau vulgar, tentu lama kelamaan kita akan terbawa dan terpengaruh dengan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi mereka menggunakan oppa favorit mereka untuk menyalurkan fantasi liar mereka. Penulis menjadi merasa prihatin terhadap para oppa tersebut karena dijadikan obyek untuk novel vulgar.

Mereka terkadang menggunakan alasan “kebebasan berekspresi” atau dalih “jangan fokus pada kevulgarannya, tapi pada ceritanya”. Mereka mungkin tidak sadar bahwa tulisan mereka akan membawa dampak yang buruk kepada para pembacanya.

Sayangnya, Wattpad tidak bisa melakukan penyaringan terhadap konten-konten seperti itu. Mungkin karena mereka mengusung konsep free for all, sehingga siapapun bisa menerbitkan apapun, sama seperti di media sosial (ya walaupun di Facebook dan Instagram lebih ketat proses penyaringannya).

Tentu kita tidak ingin generasi muda terpengaruh hal-hal seperti itu. Yang bisa kita lakukan hanya bisa berusaha mengingatkan orang-orang terdekat kita untuk menjauhi hal-hal seperti itu. Kalaupun mereka tetap membandel dengan alasan “Hak Asasi”, setidaknya kita sudah berusaha.

 

Kebayoran Lama, terinspirasi setelah melihat novel-novel di Wattpad yang begitu vulgar

Foto: picjumbo.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.