Connect with us

Karakter

Rasa Takut Akan Sendirian (Emotional Dependency Disorder)

Published

on

Semenjak merantau di Jakarta, penulis kerap mengalami permasalahan tidur. Jarang sekali penulis bisa terlelap di bawah jam 12 malam. Tentu penulis berpikir, apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.

Awalnya, penulis mengira karena berantakannya pola hidup akibat terlalu sering nonton YouTube dan bermain game, sehingga penulis memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. Akan tetapi, kenyataannya penulis tetap kesulitan tidur.

Lantas, berawal dari sebuah balasan chat di WhatsApp yang menimbulkan kecemasan, penulis menemukan yang namanya Emotional Dependency Disorder (EDD) atau lebih mudah disebut sebagai autophobia. Rasa takut akan sendirian.

Memang butuh dikonfirmasi ke psikiater, akan tetapi penulis merasa inilah yang menyebabkan penulis susah tidur, sering gelisah, hingga kadang terkena serangan panik ringan.

Apa Itu Autophobia?

Seperti yang sudah penulis singgung di atas, autophobia adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa ketakutan ketika sendirian. Akibatnya, akan timbul rasa cemas yang berlebihan, seringkali irasional.

Selain itu, akan muncul juga perasaan insecure yang berlebihan. Hal ini masih ditambah dengan munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang sebenarnya mungkin terlalu dilebih-lebihkan.

Ketika membaca beberapa sumber, penulis merasa ciri-ciri yang dipaparkan benar-benar sesuai sehingga mengejutkan penulis. Penulis tak menyangka bahwa ada kondisi mental yang benar-benar menggambarkan apa yang penulis rasakan selama ini.

Ciri-Ciri Autophobia

Autophobia (Medical News Today)

Umumnya, orang yang menderita (jika ini memang termasuk gangguan kondisi mental) autophobia akan merasa nyaman jika sedang berada bersama orang lain.

Mungkin ini yang menjelaskan mengapa ketika di rumah, penulis bisa tidur dengan nyaman. Itu pula mengapa ketika adik datang berkunjung ke Jakarta, penulis merasa lebih tenang.

Penderita autophobia cenderung memiliki keinginan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Mereka memiliki obsesi untuk memelihara “kesempurnaan” dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Penulis merasa memiliki tendensi untuk memberikan perhatian dan kasih sayang (kadang berlebihan) kepada orang lain. Kenyataan pahitnya, itu jugalah yang penulis harapkan dari orang lain.

Ciri lainnya adalah tidak bisa tegas, cenderung egois, mudah cemassusah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan suasana hatinya sering berubah-ubah.

Bahkan, penderita sebenarnya menyadari bahwa rasa takut yang dirasakan tidak sebading dengan bahaya yang menyertai kesendirian.

Astaga, penulis benar-benar merasa shock sewaktu membaca ciri-ciri ini. Entah bagaimana ini bisa sangat akurat.

Akibat yang ditimbulkan dari autophobia adalah ketergantungan dengan orang lain. Penderita akan sering merasa tidak yakin untuk membuat keputusan atau melakukan sebuah aktivitas. Penulis sering mengalami hal tersebut.

Contoh yang paling terbaru adalah ketika penulis hendak membeli kacamata baru. Sebelum membeli, penulis menelepon orang rumah untuk membantu penulis mengambil keputusan. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang amat sepele.

Penyebab Autophobia

Faktor Orangtua (Hand in Hand Parenting)

Ketika membaca penyebab munculnya ketakutan ini, penulis merasa berat untuk menuliskannya di sini.

Menurut sumber, penyebab autophobia adalah orangtua yang tidak memberikan kepercayaan kepada anaknya ketika kecil dan cenderung mendikte apapun yang harus dilakukan.

Selain itu, ketika sang anak berusaha mengambil keputusan, sering kali orangtua tidak menyetujuinya dan memberikan keputusan yang mereka anggap lebih baik untuk sang anak.

Orangtua penulis, yang amat sangat penulis sayangi, memang mendidik seperti itu. Penulis tentu tidak akan menyalahkan mereka karena yakin maksud mereka baik. Apalagi, penulis adalah anak pertama, sehingga wajar jika mendapatkan didikan yang paling ketat.

Penulis sama sekali tidak menyimpan dendam untuk masalah ini. Bahkan, penulis sudah pernah secara terbuka menyampaikan bagaimana perasaan penulis sewaktu kecil yang cenderung dikekang, dan mereka pun memahaminya.

Hanya saja, akibatnya penulis susah mendapatkan teman ketika masa-masa sekolah. Ketika menemukannya, penulis justru seperti bergantung kepada mereka agar tidak merasa kesepian.

Mengapa Baru Sekarang?

Karang Taruna

Lantas, mengapa baru akhir-akhir ini saja penulis mengalami ketakutan akan sendirian? Penulis merasa tahu akan jawabannya.

Akibat kekangan orang tua, bisa dibilang penulis tidak memiliki teman yang benar-benar dekat sewaktu sekolah. Ada yang dekat karena satu kompleks perumahan, dua orang, dan kami masih menjalin hubungan dengan baik hingga sekarang bagai saudara.

Jadi, bisa dibilang semasa sekolah penulis terbiasa sendirian. Ada teman, ada gebetan, tapi lebih sering sendiri dan merasa ingin sendirian. Ego penulis waktu itu benar-benar tinggi, sehingga penulis merasa gemas dengan dirinya sendiri.

Lantas, sewaktu kuliah, penulis mulai berusaha untuk menjalin hubungan dengan lebih baik lagi agar bisa memiliki teman-teman dekat lebih banyak.

Selain karena tinggal bersama nenek sehingga lebih bebas, penulis merasa bahwa dirinya harus berubah menjadi lebih baik. Penulis pun memiliki teman-teman dekat, yang penulis juluki 11 Pria Tampan.

Akan tetapi, penulis baru merasakan “pertemanan” yang lebih intens adalah ketika membentuk Karang Taruna bersama dua orang yang sudah penulis sebutkan sebelumnya. Di sana, penulis bertemu dan berkenalan dengan semua remaja yang ada di tempat tinggal penulis.

Banyak yang nyiyir dengan menganggap penulis main bersama anak-anak kecil. Tak apa, mereka memang tidak memahami latar belakang dan masa lalu penulis.

Yang jelas, berkumpul dengan mereka, entah ketika sedang ada program kerja atau sekadar bermain, membuat penulis merasa bahagia dan merasa dibutuhkan.

Penulis seolah menemukan kepingan yang hilang dari masa kecil penulis. Hal itu membuat penulis amat menyayangi mereka dan seolah rela berbuat apa saja demi mereka (termasuk menunda skripsi dan bekerja).

Akan tetapi, justru karena inilah autophobia penulis dimulai. Ini baru sekadar asumsi, belum terbukti secara medis. Semoga saja salah.

Karena kedekatan yang terjalin akibat pertemuan yang hampir setiap hari, penulis menjadi takut dilupakan oleh mereka ketika merantau ke Jakarta. Penulis merasa tergantung dengan mereka agar tidak merasa sendirian.

Mungkin ada pembaca yang ingin tertawa atau menganggapnya lebay, tapi itulah yang penulis rasakan.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, penulis berusaha memberikan perhatian ke mereka meskipun dari jauh. Menanyakan tentang rencana masa depan, komentar di story, dan lain-lain. Mungkin saja, ada yang merasa risih dengan yang penulis lakukan.

Sayang, ketakutan untuk dilupakan (yang pada akhirnya akan membuat penulis merasa sendiri) tidak bisa terobati dengan hal tersebut. Yang ada, ketakutan tersebut semakin membesar hingga mengganggu kesehatan penulis, fisik maupun mental.

Penanganan Autophobia

Butuh Pendengar (RS Lira Medika)

Jika terus berlanjut, autophobia bisa berubah menjadi depresi. Apalagi jika penulis makin sering  ketakutan, panik, hingga merasa sedih.

Penulis tidak ingin itu terjadi, sehingga berusaha mencari solusi. Mencari pendengar yang bisa memahami diri penulis adalah salah satunya. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas juga bisa menjadi obat.

Selain itu, penulis harus membiasakan diri untuk nyaman ketika sendirian. Penulis juga harus belajar membuat keputusan dengan cepat tanpa perlu berkonsultasi terlebih dahulu, terutama untuk masalah-masalah sepele.

Yang berat adalah bersikap realistis terhadap kebutuhan orang lain. Penulis harus memahami bahwa mereka, yang penulis beri perhatian, bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka baik-baik saja sebelum bertemu dengan penulis dan punya orang lain yang memberikan dukungan.

Penulis juga harus memahami bahwa setiap orang tidak bisa diberi perhatian dan kasih sayang secara berlebihan. Mereka juga butuh waktu sendiri untuk mengembangkan diri. Yang penulis lakukan selama ini ternyata justru bisa menghambat mereka.

Berat, ini sungguh berat…

Penulis juga harus meningkatkan waktu menyendiri. Penulis tidak boleh terlalu sering mengecek ponsel untuk sekadar mengecek grup. Kasarnya, harus berusaha move on. Mungkin, meningkatkan sikap cuek juga bisa membantu.

Tentu bukan berarti penulis harus menghancurkan hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik. Tidak. Yang penulis lakukan adalah mengurangi intensitasnya, sehingga tidak berlebihan.

Selain itu, penulis juga harus berusaha lebih jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis akan berusaha menyampaikan apa yang penulis inginkan dan butuhkan dari orang lain secara terbuka dan apa adanya.

Penutup

Di dalam hati kecil penulis, ada harapan bahwa semua yang penulis tuliskan di atas salah, penulis tidak mengidap autophobia atau Emotional Dependency Disorder. Sayang, ciri-ciri yang penulis temukan di berbagai sumber benar-benar penulis alami semua.

Setidaknya, penulis bisa bernapas lega karena menemukan salah satu permasalahan yang menyebabkan penulis kerap susah tidur dan gelisah tanpa sebab. Yang harus penulis lakukan adalah berusaha menghilangkan fobia tersebut secara bertahap.

 

 

Kebayoran Lama, 28 Juli 2019, terinspirasi setelah tiba-tiba terkena serangan panik ringan akibat merasa takut akan dilupakan orang lain.

Sumber Artikel: Beauty Journal, Dokter Sehat, Merdeka, Wikihow, Medcom

Foto: mwangi gatheca

Karakter

Berhenti Berpikir

Published

on

By

Dalam banyak kesempatan, Penulis kerap bercerita kalau dirinya termasuk orang yang pemikir. Segala sesuatu, termasuk yang tidak penting, dipikir sampai jadi overthinking.

Penulis menyadari bahwa sifat pemikir itu bermata dua: di satu sisi membuat kita berhati-hati dalam membuat keputusan, di satu sisi membuat kita menjadi seorang peragu.

Sifat pemikir yang dimiliki Penulis cenderung membawa dirinya ke poin yang kedua. Oleh karena itu, terkadang Penulis memiliki keinginan untuk berhenti berpikir.

Akhirnya Tidak Melakukan Apa-Apa…

Jadi Peragu (krakenimages)

Karena sifat pemikir yang dimiliki, Penulis cenderung lama ketika akan membuat sebuah keputusan. Harus ada variabel sebanyak mungkin agar bisa merasa yakin.

Tidak hanya itu, Penulis juga kerap membayang worst cases apa saja yang bisa terjadi. Harapannya, jika sampai kejadian Penulis sudah siap untuk melakukan antisipasi.

Hanya saja, terkadang apa yang akan dilakukan tidak jadi dilakukan karena terlalu banyak berpikir. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan seterusnya.

Kita mendadak ragu karena membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi dan kita tidak bisa mengatasinya dengan baik.

Segala keraguan tersebut sering menggema di dalam pikiran yang akhirnya menimbulkan rasa takut sebelum mencoba. Dengan kata lain, menyerah sebelum berperang.

Padahal, kebanyakan kekhawatiran yang kita pikiran tidak pernah terjadi. Semua hanya ada di dalam imajinasi kita tanpa ada realisasinya.

Gimana Nanti Kalau…

Bising di Dalam Pikiran (Usman Yousaf)

Sifat terlalu banyak berpikir ini bisa menghambat perkembangan kita sebagai manusia. Ketika hendak memulai hal baru, pikiran-pikiran negatif begitu mendominasi diri.

Contohnya adalah ketika Penulis mencoba untuk menjadi seorang freelancer. Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia tersebut, ada banyak pertanyaan yang muncul di dalam diri.

Gimana nanti kalau aku enggak bisa menyelesaikan proyek yang diberikan oleh klien?

Gimana nanti kalau aku udah ngejarin proyek tapi klien malah kabur dan enggak bayar kewajibannya?

Gimana nanti kalau udah buat aku ternyata enggak ada klien yang tertarik?

Gimana nanti kalau udah buat terus aku malah enggak bisa mengatur waktu dan baik sehingga proyek akan lewat deadline?

Gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau, gimana nanti kalau…

OH PLEASE STOP!!! STOP THINKING!!! JUST DO IT!!! JUST TRY IT!!!

Inilah yang kerap terjadi pada diri Penulis, terus membayangkan sesuatu yang buruk hingga akhirnya tidak jadi melangkah maju ataupun mencoba sesuatu yang baru.

Terkadang, kita perlu berhenti berpikir. Lakukan saja sebisanya dengan usaha semaksimal mungkin. Itu saja sudah cukup.

Yang penting mulai saja dulu dan berhenti berpikir yang tidak penting!!! Hasil dipikir belakangan saja!!!

Penutup

Tidak semua hal bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Banyak hal dalam kehidupan yang membutuhkan pertimbangan matang-matang. Pernikahan, memulai bisnis, resign, dan lainnya.

Ketika memiliki niatan untuk berbuat buruk, mencuri misanya, sebaiknya justru dipikir-pikir terlebih dulu apa saja konsekuensinya agar tidak jadi melakukannya.

Hanya saja, jangan sampai karakter terlalu pemikir ini menghambat langkah kita untuk maju. Coba saja dulu,  mulai saja dulu. Kalau memang ternyata tidak bisa, ya sudah berhenti.

Jangan mau dikuasai oleh kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi. Jangan mau kalah dengan ketakutan akan terjadinya kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Dalam hidup, terkadang kita perlu berhenti berpikir dan lakukan saja apa yang ingin dilakukan. Berhenti jadi seorang peragu dan tukang khawatir, yang penting mulai saja dulu.

 

 

 

Lawang, 9 Februari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memiliki sifat pemikir berlebihan

Foto: 胡 卓亨

Continue Reading

Karakter

Terlalu Suka Mengendalikan

Published

on

By

Salah satu sifat Steve Jobs yang paling terkenal adalah gila kontrolnya yang kerap membuat stres kolega dan bawahannya. Mulai konsep sampai hal sepele yang kerap diabaikan orang ia perhatikan. Ia berusaha mengendalikan segala hal.

Penulis merasa dirinya juga seperti itu. Apalagi, ayah Penulis mengatakan bahwa orang Wage (Penulis lahir pada hari Rabu Wage) adalah tipe orang pengendali.

Menurut Pembaca, apakah sifat ini termasuk baik? Atau sebaliknya merupakan sifat buruk yang bisa merugikan orang lain?

Mengendalikan Permainan

Ketika bermain game bersama teman-teman, Penulis lebih suka menjadi orang yang mengendalikan permainan daripada ikut dalam permainan itu sendiri.

Contoh mudahnya adalah permainan Werewolf. Hampir di mana pun bermain game ini, Penulis sangat sering menjadi moderatornya. Meskipun harus repot mencatat dan bergerak ke sana kemari, Penulis menikmati tugas ini karena dirinya bisa mengendalikan permainan.

Penulis bisa memilih peran apa saja yang bisa dipilih oleh pemain, bisa menambahkan peran baru yang bahkan tidak ada di versi resminya, dan lain sebagainya.

Menjadi Bank (The Spruce Crafts)

Begitu pun ketika bermain Monopoly. Penulis lebih senang berperan menjadi bank daripada harus ikut berebut lahan dengan pemain lain. Penulis bisa menambahkan aturan sesuka hati, termasuk memberikan bonus kepada pemain.

Ketika sedang berada di kepantiaan, Penulis lebih senang berada di Sie Acara yang pekerjaannya mengatur acara. Intinya, Penulis menyukai hal-hal yang bersifat mengendalikan.

Permasalahannya, terkadang sifat ini melampaui batas hingga membuat susah orang lain.

Agar Sesuai Ekspetasi

Sifat ingin mengendalikan ini, parahnya, bisa sampai masuk ke wilayah privasi orang lain. Ada rasa ingin mengendalikan orang-orang yang ada di sekitar kita agar bertindak seperti keinginan kita.

Contohnya adalah ketika ada kawan dekat yang tiba-tiba berubah. Karena merasa di luar kendali, kita pun menjadi panik dan berusaha untuk mencari tahu dengan paksa kenapa dia berubah.

Selain itu, kita bisa saja terlalu ikut campur terhadap permasalahan orang lain. Misal ada si A pacaran dengan si B. Karena kita tidak setuju, kita berusaha untuk memisahkan mereka.

Tanpa disadari, kita ingin mengendalikan orang agar sesuai dengan ekspetasi kita. Kita tidak ingin orang lain bersikap di luar ekspetasi tersebut. Di sini lah sikap ingin mengendalikan jadi melampaui batas.

Sikap terlalu ingin mengendalikan seperti ini ujung-ujungnya hanya akan berbuah kekecewaan. Kenapa? Karena kita akan menyadari bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan.

Penutup

Hidup ini bukan sebuah video game yang karakter dan dunianya bisa kita kendalikan seenak kita sendiri. Bahkan di dalam game, ada batasan-batasan tentang apa yang bisa kita kendalikan.

Bahkan dalam permainan open world seperti GTA V, pergerakan kita sebatas yang diberikan oleh pihak pengembang game. Kita tidak benar-bener mengontrol seluruh permainan.

Begitu pun dalam hidup. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan di dunia ini. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan sepenuhnya adalah diri sendiri.

Menyadari fakta ini membuat kita, terutama Penulis, bisa mengurangi sikap ingin mengendalikan yang terlalu berlebihan.

 

 

 

 

Lawang, 26 Desember 2020, terinspirasi setelah melakukan perenungan diri 

Foto: Diego Marín

Continue Reading

Karakter

Dikit-Dikit Insecure

Published

on

By

Generasi muda sekarang sangat akrab dengan yang namanya insecure. Mulai hal yang sepele hingga sesuatu yang susah untuk dicapai bisa menjadi alasannya.

Ada temen yang pintar, insecure. Ada artis yang pamer mobil baru, insecure. Ada orang yang jago banyak bahasa, insecure. Ada saudara yang berprestasi di bidang non-akademik, insecure.

Hal ini semakin diperparah dengan adanya media sosial. Seperti yang kita ketahui, kebanyakan pengguna hanya memperlihatkan sisi senangnya saja di berbagai platform.

Merasa insecure itu wajar. Tapi jika berlebihan, akan merugikan diri kita sendiri.

Mengabaikan Rasa Syukur

Insecure dalam Oxford Dictionary memiliki makna:

not confident about yourself or your relationships with other people

Perasaan tidak nyaman atau percaya diri sendiri ini kerap terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang dianggap lebih berhasil atau sukses.

Kita jadi berpikir, kok aku enggak bisa kayak dia ya. Padahal, masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Rasanya hampir mustahil ada orang yang isinya hanya kekurangan saja.

Perasaan insecure yang berlebihan juga akan membuat kita mengabaikan rasa syukur. Kita terlalu berfokus dengan apa yang tidak kita punyai dan melupakan apa yang sudah dimiliki.

Dari buku-buku seputar self-care yang telah dibaca, Penulis menemukan banyak sekali kisah orang-orang yang hidupnya jauh lebih sengsara.

Hal ini semakin diperkuat ketika Penulis membaca sejarah-sejarah dunia yang kisahnya kerap memilukan hati.

Penulis harusnya bersyukur tidak perlu menjadi tawanan perang, tidak tahu siapa orangtua kandungnya, mengalami trauma yang begitu berat, dan lain sebagainya.

Itu saja sudah cukup untuk dijadikan bahan syukur kita agar tidak mudah merasa insecure.

Memanfaatkan Rasa Insecure

Seharusnya, rasa insecure bisa dijadikan bahan untuk memotivasi diri kita menjadi lebih baik lagi. Insecure akan menjadi percuma jika kita hanya mendiamkannya saja.

Melihat teman yang lebih pintar, kita jadi semangat belajar. Percuma merasa insecure tapi kitanya malah memilih rebahan sambil main HP.

Melihat rekan kerja membeli smartphone baru, kita jadi semangat untuk mengatur keuangan lebih baik lagi atau mencari penghasilan sampingan. Jangan cuma dijadikan sebagai bahan rasan-rasan.

Seperti yang pernah Penulis singgung di beberapa tulisan sebelumnya, semua kejadian yang ada di dunia ini adalah netral. Persepsi kita yang menentukan hal tersebut baik atau buruk.

Melihat kesuksesan atau kemampuan orang lain yang di atas kita bisa dilihat sebagai hal yang baik dengan menjadikannya motivasi. Menjadi buruk apabila membuat kita terpuruk.

Menghilangkan (atau Minimal Mengurangi) Insecure

Jika perasaan insecure susah dihilangkan, coba untuk puasa media sosial semampunya. Selama itu, coba untuk lebih banyak melihat ke diri sendiri.

Latih self-awareness melalui berbagai sumber. Ada banyak video di YouTube ataupun aplikasi yang akan membantu kita mengenali diri sendiri.

Perbanyak rasa syukur juga sangat membantu. Coba ingat apa saja yang selama ini kita lupakan untuk disyukuri, entah itu anggota tubuh yang lengkap, masih diberi hidup, memiliki keluarga yang bahagia, dan lain sebagainya.

Lingkungan juga sangat memengaruhi. Circle yang selalu menjatuhkan kita akan membuat kita menjadi susah untuk percaya bahwa diri ini bisa lebih baik lagi.

Kalau lingkungan teman yang seperti itu, kita bisa meninggalkannya. Bagaimana dengan lingkungan keluarga? Cobalah untuk mencari orang-orang yang akan selalu mendukungmu dan memberimu kekuatan. Pasti ada orang seperti itu, Penulis yakin.

Penutup

Sekali lagi, merasa insecure itu sangat manusiawi. Penulis pun sampai sekarang masih sering merasakannya. Akan tetapi, kita bisa menggunakan perasaan tersebut untuk tumbuh atau justru menjatuhkan kita.

Pilihan ada di tangan kita sepenuhnya.

 

 

Lawang, 13 November 2020, terinspirasi dari mudahnya generasi sekarang untuk merasa insecure

Foto: Nate Neelson

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan