Saya Ini Tukang Sambat

Mungkin dari luar, penulis tidak terlihat sebagai orang yang gemar mengeluh. Apalagi, penulis sering menuliskan artikel-artikel yang berbau motivasi positif.

Padahal, penulis ini adalah seorang tukang sambat yang luar biasa, walau lebih sering didengungkan di dalam hati. Kenapa ini begitu, kenapa ini begitu, dan lain sebagainya.

Munculnya pikiran-pikiran negatif menjelang tidur bisa berawal dari keluhan. Contoh:

“Duh kok kangen sama rumah, ya?” menjadi “Apa resign dari sini terus cari kerja di dekat rumah aja, ya?” berkembang menjadi “Tapi nanti pasti gajinya turun, enggak sebesar sekarang!”

Lamunan tersebut masih berlanjut menjadi “Lagipula di sana industri kreatif masih dikit.” menjadi “Apalagi skill-ku cuma nulis, dasar aku enggak bodoh dan enggak guna!” dan terakhir menjadi “Aku insecure sama masa depanku!!!”

Cuma contoh, kok. Cuma contoh. Contoh bagaimana penulis sering overthinked.

Manusia dan Sambatnya

Manusia dan sambat memang susah untuk berpisah. Ada saja kejadian yang akan memicu munculnya sambat dari bibir atau minimal nggerundel di hati.

Sambat itu sangat manusiawi karena keterbatasan yang kita miliki. Mengeluh itu wajar karena kita bukan nabi yang sempurna dan bisa menerima segala hal dengan positif.

Apalagi, sambat juga bisa dilakukan secara bersama-sama. Biasanya, kita akan mencari teman yang senasib dan saling menumpahkan sambat satu sama lain.

Hanya saja, terlalu sering sambat juga tidak baik untuk kita. Hidup kita akan tidak pernah tenang dan gelisah selalu menemani hari-hari kita.

Terlalu banyak sambat juga menandakan kita kurang bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seolah kita lupa memiliki Tuhan yang sudah menganugerahkan banyak hal ke kita.

Hanya Melihat yang Lebih Baik

Stephen Hawking (Telegraph)

Sambat sering kali datang dari sikap kita yang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kita membandingkan diri dengan mereka yang sudah bergaji puluhan juta rupiah, yang sudah momong anak, yang sudah ke luar negeri, dan lain sebagainya.

Dengan membandingkan diri seperti itu, kita pun akan merasa kurang, kurang, dan kurang. Apalagi, kita hidup di era materialisme yang semuanya ditakar dengan benda fisik.

Kita melupakan apa yang telah kita miliki karena terlalu berfokus dengan apa yang belum dimiliki. Karena selalu “mendongak ke atas”, kita cenderung melupakan orang lain yang tidak seberuntung kita.

Penulis terinspirasi menulis topik ini karena salah satu teman penulis yang (maaf) fisiknya kurang sempurna meninggalkan komentar di Instagram Whathefan.

Inti dari komentarnya adalah membandingkan depresi yang dialami Sulli sebenarnya tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang memiliki banyak kekurangan fisik seperti Beethoven, Helen Keller, hingga Stephen Hawking.

Lanjutnya, seharusnya Sulli dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya bisa lebih bersyukur dan mengingat apa yang ia miliki di dunia ini. Pembaca boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat ini.

Hal tersebut membuat penulis berpikir, apa yang sering penulis keluhkan selama ini jelas bukan apa-apa jika dibandingkan dengan permasalahan teman-teman yang mengalami disabilitas.

Penulis merasa bahwa selama ini sering lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Penulis sering lupa untuk merasa bersyukur telah diberikan banyak sekali oleh Yang Maha Kuasa. Untunglah, Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mengingatkan penulis.

Penutup

Sesekali sambat itu boleh saja. Toh, terkadang setelah sambat kita merasa lebih baik. Yang tidak boleh itu sambat berlebihan hingga melupakan apa saja yang telah kita miliki.

Jika merasa kita mulai sambat berlebihan, coba tutup mata dan bayangkan apa saja yang kita miliki. Keluarga, cinta, persahabatan, tabungan, kerja yang nyaman, apapun yang terlintas di kepala kita.

Hidup dengan penuh syukur itu dijamin lebih enak dibandingkan dengan hidup penuh sambat.

 

 

Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi dari sebuah komentar sederhana dari salah satu teman hebat penulis.

Foto: Icons8 team