Ya Udah Sih…

Rasanya sudah lama Penulis menjadi seorang pemikir. Mungkin, dari kecil. Ada saja pikiran yang melintas di kepala, mulai yang realistis hingga yang imajinatif.

Mungkin karena inilah Penulis menjadi orang yang overthinking hingga sekarang. Semakin bertambah usia, ada saja yang bisa dijadikan bahan pemikiran.

Penulis menyadari bahwa sifat ini tidak baik untuk dirinya sendiri, apalagi jika kerap dilakukan secara berlebihan. Efeknya bermacam-macam, mulai insomnia sampai merasa insecure.

Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari berbagai cara untuk mengurangi sifat ini. Salah satunya, dengan sebuah mantra sederhana: Ya udah sih...

Hidup untuk Hari Ini

Daripada terus dihantui ketakutan akan kehilangan, mengapa tidak kita fokuskan diri untuk bersyukur atas semua kenangan yang telah terjadi?

Kita ini kadang terlalu memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu, hingga lupa kalau kita hidup di masa kini. Perasaan cemas, gelisah, khawatir, takut, seolah mendominasi diri hingga menjadi tak berdaya.

Padahal, kebanyakan apa yang kita khawatirkan tak pernah benar-benar terjadi. Seperti yang Penulis pernah tulis, 85% kekhawatiran tidak pernah benar-benar terjadi.

Itu semua adalah apa yang sering Penulis pikirkan secara berlebihan. Ada saja yang dicemaskan atau disesali, terutama ketika hendak beranjak tidur.

Hal ini membuat Penulis terkadang lupa kalau dirinya hidup untuk saat ini, bukan di masa lalu. Kita memang perlu memikirkan masa depan, tapi jangan sampai kita terbelenggu karenanya.

Oleh karena itu, terutama beberapa hari terakhir, Penulis berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri dengan berkata: Ya udah sih… ketika mulai overthinking.

Mengendalikan Kehidupan

Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sikap orang ke kita, perasaan orang lain, hanya menjadi beberapa contohnya.

Daripada memusingkan hal tersebut, mengapa tidak kita fokuskan untuk mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan?

Apa itu? Diri kita sendiri, perasaan sendiri, emosi sendiri. Dengan demikian, kita bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu merasa takut akan masa depan ataupun menyesali masa lalu.

Penulis mempelajari hal ini dari buku Filosofi Teras. Istilahnya adalah dikotomi kendali. Dunia terbagi menjadi apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.

Mantra Ya udah sih… biasa Penulis lontarkan di dalam hati untuk menyadarkan dirinya kalau tidak semua bisa kita kendalikan.

Pekerjaan kantor bisa kita kendalikan, namun sikap atasan ke kita tidak bisa dikendalikan. Sikap orang yang tiba-tiba berubah tidak bisa kita kendalikan, namun bagaimana kita menyikapi hal tersebut dapat dikendalikan.

Seharusnya jika Penulis bisa secara bertahap menerapkan hal ini dalam kehidupannya, niscaya sifat mudah overthinking yang dimiliki bisa dikurangi.

Penutup

Selain berusaha mendisiplinkan diri menggunakan mantra tersebut, Penulis juga sedang belajar meditasi agar bisa hidup yang lebih santuy. Percayalah, capek jadi orang yang apa-apa dipikir!

Penulis memang seorang pemikir, bahkan kadang merasa bangga karenanya. Namun apapun yang berlebihan tidak pernah baik.

Semoga saja dengan mantra sederhana ini, Penulis bisa mengurangi sifat overthinking-nya yang kerap membuat orang lain risih ini.

 

 

Kebayoran Lama, 24 Juni 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang memang kerap overthinking

Foto: Kat Jayne on Pexels

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.