Pentingkah Keperawanan?

Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir.

Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin sharing tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu.

Catatan: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan)

Pentingkah Keperawanan?

Ketika pulang ke Malang pada akhir tahun 2019 kemarin, Penulis menggelar diskusi santai dengan ditemani kopi susu hangat. Tema yang diangkat adalah Pentingkah Keperawanan.

Mengapa tema itu yang diambil? Alasannya sederhana. Ketika sedang chat di grup seperti biasa, ide atau topik tersebut terlontar begitu saja.

Setelah itu, Penulis dengan beberapa anggota aktif yang sudah berusia 17 tahun ke atas berjanji untuk mendiskusikannya lebih lanjut ketika Penulis pulang. Ternyata, anggota yang berusia lebih muda pun tertarik untuk ikut terlibat dalam diskusi.

Suasana Diskusi

Lantas, bagaimana pendapat para pengurus Karang Taruna aktif yang rata-rata masih berusia belasan tahun? Jawabannya kurang lebih seragam, keperawanan itu penting dan sudah seharusnya dijaga dengan baik hingga pernikahan.

Masalahnya, sebagaimana dulu Penulis ketika masih seusia mereka, beberapa anggota menyampaikan pendapat betapa buruknya orang-orang yang gagal menjaga keperawanannya.

Jawaban tersebut sesuai dengan perkiraan Penulis. Teman Penulis yang seumuran menangkap maksud Penulis mengangkat topik ini, sehingga ia mulai memberikan sudut pandang baru kepada mereka semua.

Intinya, walaupun kita menganggap keperawanan itu penting, jangan sampai kita memandang rendah orang lain yang sudah tidak memilikinya.

Kita tidak pernah tahu apa alasan dibalik hilangnya keperawanan tersebut, sehingga kita tidak boleh judgemental seenaknya sendiri. Merasa suci dengan melihat kesalahan orang lain adalah hal yang kurang bijak.

Jadi, kalau kita menganggapnya penting ya dijaga dengan baik tanpa perlu menghakimi orang lain yang menganggapnya tidak terlalu penting.

Diskusi Karang Taruna

Di Karang Taruna tempat tinggal Penulis, ada sedikit jarak yang cukup lebar antara angkatan Penulis dengan angkatan di bawahnya. Selisihnya antara lima hingga sepuluh tahun.

Lebarnya jarak tersebut tidak membuat kami berkumpul dengan yang seumurannya saja. Semua bisa berbaur tanpa melupakan etika untuk menghormati yang lebih tua.

Nah, yang seangkatan dengan Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi. Tidak hanya akademik, tapi hal-hal yang bersentuhan dengan permasalahan sosial. Diskusi terbuka menjadi salah satu caranya.

Beberapa manfaat yang didapatkan dengan diskusi seperti ini antara lain mengasah daya kritis dan pemikiran logis, mengetahui permasalahan sosial yang sering terabaikan, meningkatkan keberanian untuk bersuara, dan lain sebagainya.

Alasan lain yang tak kalah penting, seperti contoh yang sudah Penulis sebutkan di atas, mereka mendapatkan sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang mungkin sebelumnya belum terpikirkan.

Kita mendapatkan banyak sudut pandang dengan bertemu banyak orang dari beragam latar belakang. Penulis mendapatkannya ketika ke Kampung Inggris, jadi volunteer Asian Games, hingga bekerja di Jakarta.

Ketika berada di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan kampus, pergaulan Penulis kurang luas sehingga temannya ya itu-itu aja. Hal tersebut membuat sudut pandang Penulis kurang luas.

Agar para generasi muda di Karang Taruna tidak mengalami hal yang sama, kami pun berusaha memberikan beragam sudut pandang baru kepada mereka sedini mungkin. Harapannya, mereka akan menjadi generasi yang open-minded dan mampu menerima perbedaan.

 

 

Kebayoran Lama, 23 Februari 2020, terinspirasi dari diskusi Karang Taruna terakhir yang mengangkat tema Pentingkah Keperawanan

Foto: Medium