Chapter 78 Kesaksian Malik

Penyelidikan berlanjut pada hari Sabtu. Aku dan Kenji langsung meluncur ke rumah Malik sepulang sekolah. Jaraknya cukup jauh, di perbatasan antara kabupaten dan kota. Setelah turun dari angkot, kami masih harus menyambung perjalanan dengan menggunakan ojek. Selama perjalanan, handphoneku dipegang oleh Kenji yang terus berkomunikasi dengan Malik agar kami tidak tersesat. Pada akhirnya, kami menemukan rumah dua tingkat dengan pagar berwarna putih.

Begitu Kenji mengucapkan salam, yang keluar adalah seorang wanita berusia 40-an. Ia memperkenalkan diri sebagai mamanya Malik. Setelah menanyakan keperluan kami, ia mempersilakan kami untuk masuk ke dalam kediamannya. Rumah Malik cukup besar dengan sebuah garasi yang diisi satu mobil dan dua sepeda motor. Mungkin salah satu alasan Malik pindah adalah kebutuhan rumah yang lebih besar.

Lima menit menanti, akhirnya Malik menampakkan diri. Tidak banyak perubahan darinya, kecuali rambutnya yang cukup panjang dan bulu-bulu tipis yang menghiasi wajahnya. Sama seperti biasanya, ia memasang topeng ramah seolah kami adalah kawannya yang sudah lama tak berjumpa.

“Leon dan Kenji, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Kalian baru selesai ujian, bukan? Pasti lancar, kan?”

“Hehehe, iya alhamdulillah lancar. Mas sendiri gimana, kuliahnya lancar?”

“Wah, dunia perkuliahan jauh berbeda dari sekolah. Kalian akan merasakannya sebentar lagi.”

Malik dan Kenji pun berbasa-basi dengan cukup lancar. Aku tetap diam sambil mengamati mereka berdua, menanti celah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah aku siapkan.

“Leon, kenapa diam aja?” tanya Malik tiba-tiba.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawabku singkat.

“Kalian ke mari karena butuh bantuanku, kan? Coba bilang apa yang bisa aku bantu.”

Kenji memandang ke arahku memberi kode untuk mulai bertanya ke Malik. Herannya, pertanyaan yang muncul justru bukan pertanyaan yang sudah aku siapkan.

“Kenapa kau membenciku?”

“Hah? Aku membencimu? Tidak tidak, aku tidak pernah berpikiran seperti itu.”

“Kita hanya bertiga di sini Malik, tidak usah kau gunakan topeng manismu itu. Aku ingin tahu alasannya, sehingga aku bisa meminta maaf untuk itu.”

Raut wajah Malik langsung berubah 180 derajat. Ia melemparkan senyum sinis ke arahku ditambah tatapan yang merendahkan.

“Yah, kamu benar Leon, aku membencimu ketika kita masih menjadi tetangga. Aku membencimu di rumah dan di sekolah, apalagi kita selalu bersekolah di tempat yang sama. Kenapa begitu? Menurutmu kenapa?” Malik justru membalikkan pertanyaanku.

“Karena aku pernah menyakitimu? Pernah melukai perasaanmu? Maaf, aku tidak terlalu bisa mengingatnya.”

“Hahaha, jelas kamu enggak akan ingat karena kamu enggak pernah peduli dengan sekitarmu. Dari dulu seperti itu.”

Aku sedikit meradang mendengar pernyataannya tersebut. Aku tidak menyangkal hal tersebut, namun rasanya tetap menyebalkan mendengarnya dari Malik.

“Iya, aku minta maaf untuk itu.”

“Yah, aku tak bisa menyalahkanmu sepenuhnya. Ingat adikku? Safrudin alias Udin? Dia sangat sering didamprat oleh ayahmu hanya karena hal sepele. Mungkin itu yang membuatmu mengisolasi diri dari sekiar.”

Aku teringat teman masa kecilku itu, walau aku tak bisa sepenuhnya menyebut teman karena sedikitnya waktu bermain kami. Kalau tidak salah, Malik pernah bercerita kalau adiknya itu telah tiada.

“Iya, perlakuan buruk ayah di masa kecilku memang banyak memengaruhi perilakuku sekarang. Aku menyadari hal itu sepenuhnya.”

Malik terlihat sedikit kebingungan melihat bagaimana tenangnya responku terhadap serangan-serangannya. Mungkin hal ini tidak ia duga sebelumnya.

“Meskipun begitu, kamu selalu bisa mencuri perhatian di sekolah. Waktu SD, guru-guru selalu memujamu. Ketika kamu kelas lima, guru kelas enam mengatakan bahwa ada murid kelas lima yang lebih pintar dari semua murid kelas enam. Waktu itu, aku benar-benar merasa diremehkan walaupun selalu berhasil rangking satu sejak kelas satu. Aku pun semakin memupuk kebencian kepadamu.

“Lulus SD, kamu menjadi semakin buruk. Aku berusaha memberikan simpati karena kamu baru saja ditinggal oleh orangtuamu. Hasilnya? Kamu sama sekali mengacuhkanku bahkan seolah tidak melihatku ada. Lantas, aku dan keluargaku pindah rumah meskipun sekolahku tidak ikut pindah. Di SMP, kamu dikenal sebagai evil genius. Cerdas bukan main, tapi peringai sangat buruk. Lagi-lagi kamu menjadi pusat perhatian dan membuatku tidak mendapatkan spotlight sama sekali.

“Aku berharap kita tidak bertemu ketika SMA, dan sayangnya harapan tersebut tidak terkabulkan. Bahkan, kamu juga masuk ke dalam kelas akselerasi. Waktu bertemu denganmu pertama kali, aku merasa sakit hati karena kamu tidak mengenalku sedikitpun. Karena itulah Leon, aku berusaha membuatmu dibenci oleh orang banyak.”

Malik menceritakan ini semua dengan menggebu-gebu, mengeluarkan semua yang mungkin sudah lama dipendamnya. Anehnya, aku sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun ingin membalas semua perkataan buruknya. Semua itu memang benar adanya, dan aku mengakui kesalahan tersebut.

“Kenapa kamu bisa setenang ini? Aku baru memberitahumu mengapa aku sangat membencimu!” desak Malik yang merasa heran dengan sikapku.

“Entahlah, mungkin karena aku benar-benar merasa bersalah atas sikapku kepadamu, Malik. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, tapi keadaan yang membuatku terlihat seperti itu. Aku sudah banyak berubah beberapa waktu terakhir ini berkat bantuan Kenji dan teman-teman lainnya. Atas semua yang sudah terjadi, aku meminta maaf secara tulus dari lubuk hati yang terdalam,” jawabku sembari mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Malik hanya memandangiku dengan tatapan tidak percaya, lantas melirik ke arah Kenji. Ia tetap tidak menyambut tanganku. Ia hanya melipat tangannya di depan dada dan bersandar di kursi sofa. Senyum tipis muncul di bibirnya.

“Aku tidak tahu ilmu seperti apa yang kamu gunakan, Kenji. Kamu benar-benar bisa mengubah anak ini,” kata Malik tiba-tiba.

“Ah, aku enggak melakukan banyak hal kok mas. Leon memang berusaha keras untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Pertemuan hari ini, selain karena butuh bantuan mas, juga untuk memperbaiki hubungan,” kata Kenji yang sedikit mengherankanku karena menambahi sedikit bumbu. Seingatku, kami tidak pernah berencana untuk membuat pertemuan ini sebagai ajang untuk memperbaiki hubungan.

“Begitu ya, kuakui aku cukup terkejut dengan hal tersebut. Padahal, aku sudah bersiap seandainya Leon akan mengamuk dan mengajakku berkelahi. Ternyata, ia bisa mengontrol dirinya menjadi setenang ini.”

Aku menarik kembali tanganku yang tak kunjung disambung, menanti dengan sabar sebelum mulai mengajukan pertanyaan seputar hari kematian ibu.

“Kamu ke sini mau tanya tentang hari kematian ibumu, bukan?” tanya Malik tiba-tiba. Ia memang cerdas bisa menebak alasan utama kami datang ke mari.

“Iya, benar sekali.”

“Sudah ketemu sama Mbok Sum?”

“Sudah kemarin Senin. Aku kaget ketika tahu Mbok Sum juga pernah bekerja untukmu.”

“Iya, papaku lah yang memintanya untuk membantu keluargamu. Waktu itu, kamu baru punya adik, kan? Pasti ibumu yang sering ditinggal oleh ayahmu itu akan kerepotan mengurus rumah.”

Malik masih berusaha memancing emosiku, namun aku sudah sangat bisa mengendalikan diri. Beberapa pertemuan dengan ayah mungkin memiliki andil besar dalam hal ini.

“Iya, Gisel namanya.”

“Terus, apa kata Mbok Sum?”

“Katanya, di hari kematian ibu, ada seseorang yang datang bertamu ke rumah.”

Malik menegakkan posisi duduknya. Ia mengatupkan ujung-ujung jarinya seperti seorang detektif yang hendak mengeluarkan hipotesisinya. Dengan tenang, ia memulai ceritanya.

“Di hari itu, aku enggak masuk sekolah karena sedikit demam. Aku disuruh istirahat total di rumah. Kedua orangtuaku bekerja dan Udin sekolah, sehingga aku cepat merasa bosan. Aku pun bermain-main di halaman depan rumah dengan menggunakan jaket. Sekitar jam sepuluh, aku melihat Mbok Sum berjalan pulang ke rumah kontrakannya.

“Aku bertanya kepadanya, kok tumben jam segini udah pulang? Dia jawab ibumu ada tamu penting, jadi disuruh pulang duluan. Aku pun menjadi penasaran, tamu penting itu seperti apa. Gimana kalau tamu penting itu presiden, pikirku waktu itu. Oleh karena itu, aku pun memutuskan untuk mengintip ke rumahmu.

“Dari teras, aku bisa melihat adikmu tengah tertidur di kursi. Tapi, aku mendengar suara orang bercakap-cakap di ruang tengah. Awalnya kupikir suara ayahmu, tapi rasanya bukan. Setidaknya, ada dua orang laki-laki yang bersama ibumu waktu itu. Aku berusaha mendengarkan percakapan mereka, tapi sayangnya suara mereka tidak terlalu jelas. Tiba-tiba, aku melihat salah satu dari mereka pergi ke ruang tamu. Karena takut ketahuan, aku pun segera pulang ke rumah.”

Malik mengakhiri ceritanya dengan meminum sirup yang tadi dihidangkan oleh mamanya. Cerita Malik memperkuat bahwa ada orang asing yang datang di hari kematian ibu. Belum ada bukti lagi yang lebih kuat, tapi dugaan Rika kalau kematian ibu merupakan hasil rekayasa semakin terlihat jelas.

“Kau tidak ingat dengan fisik dari laki-laki itu?”

“Hanya sedikit. Laki-laki yang aku lihat berambut cepak dengan tinggi rata-rata. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Selain itu, aku sama sekali tidak bisa mengingat detail lainnya.”

“Terima kasih Malik, bantuanmu sangat kubutuhkan.”

“Kamu curiga kematian ibumu hasil rekayasa, ya?” tanya Malik yang kurespon dengan menganggukkan kepala.

“Aku pun sering memikirkan hal itu dan sempat berusaha memberitahukannya kepadamu. Sayang, kamu tidak menyambut uluran tanganku.”

“Sekali lagi aku minta maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu. Aku harap setelah ini kita bisa menjalin hubungan lebih baik lagi.”

“Lihat nanti, ya. Aku enggak bisa menjanjikan hal itu. Omong-omong, kalian bakal kuliah di mana?”

Kami pun melanjutkan perbincangan dengan sedikit basa-basi. Sama seperti yang lain, Malik terkejut ketika mendengar Kenji tidak akan melanjutkan studinya. Setelah itu, ada saja topik pembicaraan yang ditemukan oleh Malik dan Kenji untuk mengobrol.

Ketika kami hendak pamit, mataku menangkap sebuah foto keluarga yang dipajang di ruang tamu. Di sana, Malik nampaknya masih berusia belasan tahun, mungkin masih SMP. Wajah Udin yang berada di sebelahnya terlihat familiar. Seandainya ia masih hidup, mungkin aku bisa berteman dengannya sebagaimana sekarang aku berteman dengan Rudi. Di belakangnya, ada sang mama yang masih sama cantiknya. Kepala keluarga berdiri dengan gagah di samping istrinya. Setelah mengamati foto itu cukup lama, aku merasa ada yang aneh dengan foto tersebut.

“Malik, ini papamu, kan?”

“Iya, kenapa memangnya?”

“Aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. Kenji, kau juga merasa seperti itu?”

Kenji yang dari tadi masih mengobrol dengan Malik pun memusatkan perhatian ke foto keluarga tersebut. Ia mengamati dengan detail dan tiba-tiba terdiam dengan sorot mata yang penuh dengan keterkejutan.

“Kenapa, Ken? Ada sesuatu yang kau ingat?” tanyaku melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Kalau aku tidak salah, itu adalah Awan, Le, teman sesama aktivis dari ibu kita.”