Epilog: Setelah Kematian Wijaya

Kantor polisi terasa lengang, hanya ada suara angin dari AC. Peran komputer telah digantikan oleh sebuah mesin kotak canggih yang mampu merekam apapun kesaksianku dengan baik, termasuk ekspresi terkecil wajahku. Sudah satu jam aku berada di entah ruangan apa ini, menanti ketidakpastian. Yang jelas, hanya ada satu kalimat yang menggantung di pikiranku: hidupku akan berakhir di penjara. Petugas kepolisian yang ada di hadapanku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.

“Dokter Leon, saya ulangi sekali lagi, Anda ke sini untuk menyerahkan diri?” tanya petugas tersebut.

“Benar.”

“Dengan alasan pembunuhan berencana?”

“Benar.”

“Korban adalah Wijaya Hardikusuma, mantan konglomerat yang sudah berusia lanjut?”

“Benar.”

“Pembunuhan dilakukan dengan alasan balas dendam karena korban merupakan pelaku pembunuhan ibu dan beberapa kerabat Anda?”

“Benar.”

“Dan metode pembunuhannya, eh, dengan ancaman?”

“Benar.”

Petugas tersebut menggaruk-garuk lagi kepalanya. Nampaknya baru kali ini ia menemukan kasus sejanggal ini. Pembunuh yang menyerahkan diri karena merasa bersalah memang banyak, tapi pembunuh yang mengakui pembunuhannya hanya dengan bersenjatakan ancaman? Rasanya baru kali ini petugas itu mengalaminya.

“Berdasarkan hasil otopsi, korban meninggal karena komplikasi penyakit yang telah lama dideritanya. Tidak ditemukan adanya unsur kekerasan ataupun racun pada tubuhnya. Bahkan yang saya dengar dari salah satu perawat, Anda berusaha memberikan pertolongan pertama begitu korban mengalami tanda-tanda kejang, benar seperti itu?”

“Benar, saya memberikan pertolongan karena telah mengurungkan niat untuk membunuh. Tapi tetap saja, saya menyadari bahwa ancaman saya di awal lah yang memicu penyakitnya. Seandainya saya tidak memberikan ancaman, mungkin Wijaya masih hidup sekarang.”

Sekali lagi si petugas menggaruk kepalanya. Nampaknya ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara meladeniku. Pasal apa yang bisa menjeratku? Apakah sekadar ancaman sudah merupakan tindak pidana? Berapa lama masa hukuman yang akan menantiku?

“Sepengetahuan saya, tidak ada pasal yang bisa menjerat Anda untuk masuk sel. Niat selama hanya berada di kepala tidak akan membahayakan pihak lain. Mesin AI yang ada di depan Anda ini rasanya juga akan menyimpulkan hal yang sama.”

“Tapi tetap saja…” aku menggantungkan kalimatku karena bingung harus berkata apa lagi. Mungkin kedatanganku ke kantor polisi setelah proses otopsi Wijaya hanya merupakan tindakan spontanku yang masih terkejut atas apa yang baru saja terjadi.

“Jadi, bapak ingin tetap membawa kasus ini ke pengadilan?”

“Benar.”

“Ada pihak pengacara?”

“Ada.”

Jawaban tersebut buat keluar dari mulutku, melainkan dari laki-laki yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Ketika menolehkan wajahku, aku melihat sosok Zane Trunajaya yang sudah semakin menua. Lihat saja, rambut dan jenggotnya sudah dipenuhi oleh uban. Padahal usianya tak terlalu jauh dariku.

“Selamat malam pak, saya Zane Trunajaya yang akan menjadi pengacara saudara Alexander Napoleon Caesar atas dugaan kasus pembunuhan berencana. Tapi sebelumnya, saya mohon izin dulu untuk bicara empat mata dengannya.”

“Ya ya ya, silakan,” kata petugas tersebut dengan pasrah. Nampaknya ia mulai mencurigai kalau kedatanganku ke kantor polisi hanya untuk sekadar mencari sensasi. Namaku cukup terkenal, aku melihat ada beberapa wartawan membuntuti mobil listrikku sewaktu perjalanan dari rumah sakit ke sini. Mungkin Zane mengetahui posisiku juga dari berita daring yang bisa diakses secara kilat, terlalu kilat bahkan.

“Leon, astaga, kerasukan apa dirimu?” tanya Zane sewaktu kami berdua menemukan tempat yang cukup sepi.

“Aku melakukan hal yang menurutku benar, Zane. Lagipula, dari mana kau tahu aku di sini? Aku tidak bercerita ke siapapun, termasuk keluarga.”

“Kamu enggak lihat wartawan di depan pada heboh? Dokter yang namanya terkenal hingga banyak orang yang menginginkannya menjadi Menteri Kesehatan, tiba-tiba ngebut ke kantor polisi setelah pertama kali gagal menyelamatkan pasiennya. Semua orang pasti akan klik judul berita yang dibuat oleh para wartawan itu. Dengan teknologi sekarang, mereka bisa membuatnya hanya dalam hitungan menit.”

Dugaanku terbukti benar, Zane tahu aku dari sini dari berita.

“Adikmu sampai menghubungiku, khawatir kakaknya tidak bisa ditelepon setelah baca berita kegagalan perdanamu. Astaga Leon, apa yang ada di pikiranmu? Kenapa bertindak gegabah seperti ini?”

Aku diam saja dicecar pertanyaan-pertanyaan tersebut dari Zane. Entah mengapa aku tak berani memandang kedua matanya.

“Pasienmu Wijaya, kan? Tidak ada pasien lain yang akan memicumu bertindak seperti ini selain dia.”

Meskipun sudah dipenuhi uban, kecerdasan Zane belum sama sekali hilang. Kecerdasannya mengingatkanku pada…

“Aku bisa bicara dengan petugas untuk meluruskan apa yang tengah terjadi. Tidak ada tindakanmu yang berbau pidana, kamu enggak akan bisa dipenjara hanya karena memiliki niat yang tidak jadi dilakukan. Kalau semua bisa dihukum hanya karena niat, penjara enggak akan muat nampungnya.”

“Ini beda Zane,” aku akhirnya buka suara, “Wijaya terkena serangan jantung setelah aku mengungkapkan siapa aku dan mengungkapkan keinginanku untuk balas dendam. Seandainya aku tidak berbuat seperti itu, mungkin dia masih hidup.”

“Para wartawan itu telah mewawancarai keluarga Wijaya. Katanya, itu bukan pertama kali Wijaya terkena serangan jantung. Entah sudah berapa ring yang ada di pembuluh darahnya. Sejak awal, mereka tidak berharap banyak, Wijaya memang sudah terlalu tua dan mungkin memang sudah ditakdirkan meninggal setelah bertemu dengan korbannya.”

Zane mengendurkan ekspresi wajahnya, memandangku dengan rasa simpati.

“Seandainya Wijaya masih hidup, kita akan memprosesnya lewat hukum atas kejahatan di masa lalunya. Orang yang selama ini kita cari akhirnya ketemu dalam kondisi tidak berdaya. Hanya saja, itu akan membuatnya makin menderita. Biarlah dia diadili di akhirat karena kita tidak bisa menjeratnya di dunia,” tambahnya lagi.

Kepalaku sudah mulai berpikir jernih. Benar yang dikatakan Zane, ini semua sudah ditakdirkan.

“Waktu aku memandangi Wijaya dengan penuh dendam, aku merasa tiba-tiba ada tepukan halus pada bahuku. Ketika aku menoleh, tidak ada siapa-siapa, tapi perasaan dendamku mendadak lenyap begitu saja. Kemudian, aku melihat Wijaya mulai kesulitan bernapas dan aku langsung memberikan pertolongan pertama.”

“Nah, sekarang otakmu yang cemerlang itu mulai bisa digunakan dengan normal, kan? Sudahlah, kamu hanya terguncang karena baru saja bertemu dengan orang yang selama ini membuatmu menderita. Kamu memang salah karena berniat membunuh orang, tapi niat tersebut tidak jadi kamu lakukan.”

“Iya Zane, terima kasih karena sudah datang kemari.”

“Tenang saja, lagipula sebentar lagi kamu akan jadi adik iparku. Tunggu di sini, aku akan bicara dengan petugas di dalam. Nanti kita makan malam bareng.”

Begitu Zane berjalan ke dalam kantor polisi, aku segera mengaktifkan ponselku yang dari tadi mati. Aku langsung menghubungi satu nomor yang pasti sudah mencemaskanku.

“Halo Gisel?”

“KAKAK DARI MANA? KAKAK ENGGAK TAHU DARI TADI GISEL TELEPON ENGGAK ADA NADA SAMBUNGNYA? KAKAK MASUK BERITA TAHU, DAN UNTUK PERTAMA KALINYA BUKAN BERITA BAGUS!!! MALAH UDAH ADA YANG BIKIN BERITA SKANDAL YANG ENGGAK BENER!!! KAKAK ITU KEBIASAAN KALAU ADA MASALAH SUKA HILANG TIBA-TIBA. KAKAK ITU…”

Mungkin sekitar lima menit Gisel memarahi dengan nada tinggi seperti itu. Aku hanya bisa diam mendengarkannya, menantinya capek sendiri.

“Sudah marahnya?” tanyaku pelan setelah ada jeda beberapa detik darinya.

“Belum, tapi Gisel capek, jadi berhenti dulu.”

“Kalau gitu gantian ya, Gisel yang dengerin kakak.”

Aku pun menceritakan apa adanya ke adik perempuan kesayanganku itu, menjelaskan situasi yang sebenarnya. Pada akhirnya, kemarahan Gisel pun bisa kuredam.

“Selama Gisel kuliah di luar, jangan bikin Gisel kepikiran dong kak. Nanti makin lama lulusnya Gisel, padahal udah kangen sama Indonesia. Makanya kakak cepet nikah biar ada yang ngurusin kakak, calon juga udah ada juga.”

“Duh, calon bu dosen ini jadi makin galak ya. Iya, maafkan kakak, tapi Gisel pasti tahu kenapa kakak bisa sampai seperti ini.”

“Iya Gisel paham, tapi kan bisa ngerem dikit, enggak grusa-grusu seperti ini. Terus Kak Zane di mana sekarang?”

“Masih di dalam, ngobrol sama petugas.”

“Ya udah kalau gitu, kakak jaga kesehatan, jangan telat makan. Kakak tugasnya ngobatin orang, jangan sampai diri sendiri enggak keurus.”

“Iya iya, Gisel juga ya, jaga kondisi di sana. Jepang habis gempa bumi yang lumayan besar, kan? Peringatan tsunami juga muncul.”

“Iya kak, tenang, kampusnya Gisel jauh dari pesisir kok. Ya udah, Gisel mau lanjut ngerjakan disertasi, papai kakak.”

Aku pun mematikan telepon dan segera melamun. Mungkin memang semuanya telah ditakdirkan seperti ini. Wijaya diberi hidup sampai bertemu denganku, anak dari korban yang telah ia habisi karena mengusik bisnisnya. Kalau saja aku tidak merasakan tepukan itu, mungkin aku akan melanjutkan niat membunuhku.

Sentuhan tangan siapa kah itu? Aku merasa itu sentuhan tangan dari Kenji, kawan lamaku yang telah lama tiada. Sama sepertiku, ia juga merupakan anak dari korban Wijaya. Beda denganku, ia tak pernah menyimpan dendam. Ia membantuku mengusut kasus Wijaya, tapi tak pernah terucap dari mulutnya kalau ia menginginkan kematian Wijaya sebagai bayarannya. Seandainya dia masih hidup, mungkin dia akan memintaku untuk memaafkan Wijaya karena alasan kemanusiaan.

Sudah berapa lama aku kehilangan Kenji? Lima belas tahun? Entahlah, aku tak bisa mengingatnya dengan pasti. Hanya dua tahun kami saling mengenal, tapi rasanya sudah kenal seumur hidup. Selama di SMA, ia lah yang menuntunku ke jalan yang lebih baik. Bahkan setelah kepergiannya, aku masih merasa kalau Kenji ada di sekitarku. Kasus Wijaya ini menjadi salah satu buktinya, walau sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan hal yang berbau mistis. Orang yang meninggal akan hidup di alam lain yang berbeda dimensi dengan kita.

Ataukah sebenarnya energinya masih ada di dunia ini, berusaha mencegahku untuk melakukan hal-hal bodoh seperti tadi?

 

 

 

TAMAT

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.