Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 1)

Chapter 12 Mengikat Tali Persahabatan

Published

on

Aku terlamun di kelas hari ini setelah pelajaran Kewarganegaraan berakhir. Tidak ada yang peduli karena memang biasanya aku hanya berdiam diri di kelas. Kenji selalu mengajakku keluar, namun aku selalu menolaknya dengan alasan tidak lapar. Jika sudah demikian, maka ia akan mengajak teman-teman yang lain. Satu per satu teman kelasku keluar untuk istirahat, hingga akhirnya hanya tinggal aku, Juna dan Rika yang ada di kelas. Dari Kenji, aku sudah mengetahui semua nama panggilan teman-teman satu kelas. Bahkan untuk memudahkanku menghafal, aku membuat sketsanya di atas selembar kertas.

“Hei Juna, kau sedang apa?”Juna dan Rika sama-sama seperti sedang menulis sesuatu di bangkunya masing-masing. Karena kemarin aku sudah bertekad untuk berubah menjadi orang yang lebih friendly, tidak ada salahnya untuk memulainya dari Juna. Dengan awalan ‘ehem’ aku memulai percakapan dengannya.

Ia butuh tiga detik untuk merespon kata-kataku, lalu balik bertanya, ”Aku?”

“Iya, kau sedang apa? Apa yang kau tulis?” tanyaku tak sabar.

Tiga detik berlalu, lalu ia berkata,”Tulis?”

Tidak ingin gagal pada percobaan pertama, maka aku bangkit meninggalkan Juna yang lambat responnya, dan mendekat ke bangku Rika.

“Rika, apa yang sedang kau tulis?” tanyaku tiba-tiba.

Ia tidak menjawab pertanyaanku, seolah-olah tidak merasakan keberadaanku. Aku ulangi pertanyaanku sedikit keras, ia tetap tidak bergeming. Akhirnya pada pengulangan ketiga, ia baru menyadari bahwa dari tadi aku duduk di hadapannya.

“Ah, pangeran kegelapan dari desa Vlatovic yang terletak di gunung nun jauh disana datang menghampiriku, ada apa gerangan?” Rika malah balik bertanya dengan kalimat yang aneh.

“Maaf?” aku berharap, aku salah mendengarkan.

“Pangeran kegelapan sampai rela turun gunung hanya untuk menghampiri rakyat jelata sepertiku, pasti ada keperluan yang sangat penting kan? Anda tidak bisa bertahan lama di bawah sinar matahari karena kegelapan adalah kekuatan Anda, sedang sinar matahari akan memperlemah Anda.”

Aku menatap Rika dengan tatapan kebingungan yang tidak dibuat-buat. Segala kicauan panjangnya yang sangat berbau fantasi membuatku kehilangan kata-kata untuk diucapkan.

“Hahaha, maafkan aku Leon, aku hanya bercanda.”

               Sudah kuduga.

“Aku memang suka berkhayal seperti itu, bagus sebagai inspirasi novelku. Kamu yang biasanya duduk di sudut sana tiba-tiba menghampiriku, merupakan hal yang luar biasa bukan? Makanya aku langsung dapat ide dialog seperti itu.”

Terserah, aku tidak peduli, kataku dalam batin yang urung kuucapkan karena takut membuatnya tersakiti. Maka aku berusaha untuk menyambung percakapan ini.

“Jadi, kau jadikan aku inspirasi menulis begitu?” tanyaku kepada Rika yang sudah meletakkan pensilnya.

“Bukan hanya kamu sih, tapi hampir semua orang yang aku temui dalam hidupku. Inspirasi itu bisa didapat dari mana saja, termasuk teman sekelas. Tapi ya begitu, aku jadi sering dianggap aneh, hahaha.”

Kau memang aneh, kata batinku lagi.

“Omong-omong ada apa nih Leon? Sampai “turun gunung” menghampiri aku? Kamu naksir aku ya?”

Sudah aneh, kepedean pula.

“Bukan, aku hanya ingin mengenal semua teman satu kelasku lebih dekat.” aku memberikan pada kata semua untuk menghilangkan kepercayaan dirinya.

“Ih, enggak asyik, bilang aja iya, nanti aku buat inspirasi novel romantis.”

Jangan jadikan aku sebagai obyekmu terus, wahai kau wanita yang selalu nampak ceria.

“Maaf Rika, tapi itu memang apa adanya.”

“Hahaha, kamu lucu ya Leon, jadi gemes aku. Santai kok, aku emang gini orangnya, ceplas-ceplos asal ngomong. Kamu tadi tanya aku ngapain kan ya? Aku sedang nulis novel.”

“Tentang pangeran kegelapan?” tanyaku balik tanpa mempedulikan kalimat pertamanya.

“Bukan, itu belum kutulis, baru juga kepikiran waktu kamu datang. Ini novel tentang persahabatan, bagaimana seorang pendiam berteman dengan seorang cerewet, bagaimana perbedaan yang kontras tidak menghalangi mereka untuk berkawan.”

Lalu ia memandangku dengan wajah polos penuh dengan keingintahuan, seperti tatapan Gisel kepadaku. Jantungku sama sekali tidak berdebar, walaupun Rika sebenarnya memiliki paras wajah yang cukup imut. Aku akan percaya jika diberitahu bahwa ia masih SMP, mungkin wajahnya terlihat awet muda karena ia selalu nampak ceria.

“Kalau aku pikir-pikir lagi, kok novelku ini mirip kamu sama Kenji ya?” ia bertanya setelah sekitar 2 menit memandang wajahku.

“Memang Kenji cerewet?”

“Bukan cerewet sih, tapi kalian mempunyai kepribadian yang berbeda, namun terlihat sangat akur.”

“Oh.”

“Kayaknya aku akan lebih sering memperhatikan kalian berdua buat sumber inspirasiku deh.”

Aku hanya tersenyum mendengar kalimat terakhirnya, lalu terdengar suara seseorang memanggilku. Ternyata Juna.

“Maaf Leon, aku ingin memanggilmu dari tadi, tapi kalian sepertinya sedang asyik mengobrol. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu, aku sedang belajar materi pelajaran kita selanjutnya.”

Aku hanya terdiam sambil berusaha menganggukkan kepala mendengar jawaban pertanyaanku yang sempat delay tadi. Rika hanya tertawa cekikikan melihat peristiwa ini.

***

Setidaknya hari ini aku sudah melakukan percakapan dengan beberapa teman di kelas, total sudah tiga orang yang sudah pernah aku ajak bicara termasuk Kenji. Bisa dihitung delapan jika pertengkaran dengan Sudarwono bersaudara Jessica, Gita, dan Bejo diikutsertakan. Namun di kelas ini ada lima belas anak, dan aku ingin berbincang-bincang dengan mereka semua. Karena kebetulan yang ada di dekatku -selain Juna dan Dea- adalah Gita, maka aku memutuskan untuk bertanya apapun yang ada di pikiranku. Selain itu, semenjak insiden pelemparan air kepadaku, aku belum pernah berbicara dengannya.

“Hei Gita.” panggilku.

Ia menoleh kepadaku dengan tatapan penuh selidik. Wanita dengan alis tebal ini nampak merasa agak canggung untuk berbicara denganku, mungkin karena insiden tersebut.

“Iya Leon, ada apa?”

“Eh, apa kau punya saudara?”

Dari sekian banyak daftar pertanyaan yang bisa dilontarkan, entah mengapa malah ini yang keluar. Aku pun merasa sangat aneh mendengar pertanyaanku sendiri.

“Kenapa kamu tanya itu?” ia bertanya balik, wajahnya menjadi penuh curiga.

“Eh, karena itu yang terlintas.”

“Aku enggak paham Leon.”

Aku bingung mendengar pertanyaan itu, maka kualihkan mataku ke sebelah kiri, dan terlihat Rika yang nampak sedang mendengarkan percakapan canggung antara kami. Semoga Rika bisa menjelaskan maksudku ini, karena ia sudah kuberitahu tadi.

“Wahai ratu dari negara Stolkom, sang pangeran kegelapan berusaha untuk mengubah tabiat buruknya yang kejam, dengan cara berusaha membuat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar kastil hitamnya. Terimalah perjanjian ini.”

Sudah kuduga, seharusnya aku tidak berharap pada anak yang mencampuradukkan dunia nyata dengan fantasi ini. Gita pun kebingungan mendengar kalimat dari Rika.

“Hahaha, maksudnya, Leon ingin berusaha dekat dengan kita semua, jadi ia berusaha untuk bercakap dengan teman-temannya satu per satu. Kamu jelasin ke Gita ya Leon, kenapa aku kayak gini, hahaha.”

Gita pun berbalik menghadapku, masih memancarkan kebingungan. Aku pun menjelaskan apa yang Rika jelaskan kepadaku, dan Gita mengangguk-angguk tanda ia memahami.

“Sebenarnya, aku punya satu kakak laki-laki, dan ia sama menyebalkannya dengan dirimu. Karena kesamaan itulah aku menyirammu dengan air waktu MOS itu. Maaf ya Leon.”

“Tidak apa-apa Git, aku juga salah kan karena…”

Aku tidak meneruskan kalimatku karena tiba-tiba jawaban Gita memberikan sebuah gagasan baru. Jika aku seperti kakaknya Gita, jangan-jangan Gisel merasakan apa yang Gita rasakan? Tapi selama ini tidak pernah sekali pun Gisel mengungkapkan kekesalannya terhadapku. Ia selalu menerima diriku apa adanya.

“Kamu kenapa Leon, kok tiba-tiba bengong?” tanya Gita sembari mengayun-ayunkan tangannya di depan wajahku.

“Ah, tidak Gita. Aku hanya teringat adikku.”

“Adikmu usia berapa memang?”

“Sekarang 10 tahun, dan selama ini ia mendapatkan perlakuan buruk dariku, sehingga ketika kamu bilang kakakmu menyebalkan, aku langsung teringat dengannya. ”

“Benarkah? Berarti ia perempuan juga?”

“Iya, namanya Gisella, lengkapnya Gisella Margaret Spencer.”

“Astaga, orangtua kalian kalau kasih nama bagus-bagus ya, hahaha.”

Gita tertawa, namun aku tidak. Ia sudah menyebutkan kata tabu untukku, orangtua. Aku langsung mengeluarkan aura permusuhan, dan Gita merasakan aura ini, mungkin terlihat dari raut wajahku.

“Eh Leon, apa aku salah bicara?”

Pertanyannya mengingatkanku untuk tidak bertindak bodoh. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui masalah keluargaku, sehingga aku berusaha untuk mereduksi emosiku.

“Tidak kok Git, tidak apa-apa.”

“Hmmm, jadi bagaimana sikap Gisel ke kamu ketika kamu bersikap menyebalkan seperti kemarin?”

“Gisel selalu nampak ceria, tetap berusaha berbuat baik meskipun aku sudah jahat kepadanya, bagaikan air tuba dibalas dengan air susu.”

“Kok bisa ya? Mungkin nanti aku perlu bicara dengannya, tanya kiat-kiat menghadapi kakak yang membuat kita mengelus dada, hahaha.”

Pembicaraan kami berakhir dengan cair, dan bertambah satu lagi teman yang berhasil aku ajak bicara. Satu persatu, aku akan mengikat tali persahabatan dengan semua teman di kelas ini.

***

Setelah pelajaran kimia berakhir, kami bersiap-siap untuk pulang. Aku memutuskan berjalan sambil membaca catatanku hari ini, karena ada beberapa poin yang membuatku sangat bersemangat untuk mempelajarinya lebih dalam. Karena tidak fokus melihat jalan, aku menabrak seseorang. Yang kutabrak adalah wanita yang telah menyentakku di hari pertama, Sica.

“Ah, maaf Sica, aku tidak sengaja.”

Dengan satu senyum, iya menjawab.

“Ah, tidak apa-apa kok Leon, santai saja.”

Berbeda dengan Rika ketika menatapku dua menit, Sica menatapku dua detik dan jantungku pun berdetak lebih kencang bagaikan piston mesin mobil yang sedang dipacu untuk balapan.

***

“Kamu siap menjalani hari pertamamu mendapat pelajaran tentang apa yang kita bicarakan kemarin Leon?” tanya Kenji sewaktu kami berdua berada di rumahku.

Aku tidak mendengar perkataan Kenji karena masih melamunkan kejadian sepulang sekolah tadi. Senyumnya itu, entah mengapa terasa berbeda.

“Leon?”

“Ah, maaf, aku melamun. Ada apa?

“Aku tadi tanya, apa kamu siap buat pelajaran yang kemarin aku sampaikan?”

“Ya.”

“Baiklah Le, pertama keluarkan semua apa yang ada di dalam hatimu. Jangan biarkan ada secuil paku ada di dalam hatimu.”

“Di hatiku tidak ada paku.”

“Kiasan Le, kiasan! Kamu tahu aku sangat senang menggunakan kata kiasan. Sekarang jawablah pertanyaanku tadi.”

Aku tidak begitu suka akan pertanyaan ini. Malah bisa dibilang aku benci dengan pertanyaan yang seperti ini. Tapi aku berusaha untuk menjaga perasaan Kenji.

“Tidak ada.”

“Kamu yakin?”

“Ya.”

“Kalau begitu biarlah aku yang bercerita.”

Kenji bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Dia mengatakan bahwa dalam kondisi keluarga lain, mungkin saja kakaknya yang mengalami kelainan mental akan dikirim ke rumah sakit jiwa. Namun itu tidak di lakukan, karena orang tua Kenji merasa bertanggung jawab atas anaknya sendiri. Mereka tidak ingin tanggung jawab mereka diambilalih oleh orang lain. Aku jadi teringat, bagaimana tidak bertanggung jawabnya orang tuaku. Yang satu memilih mati, yang satu memilih pergi. Aku merasa sedih akan perbedaan ini. Mengapa perbedaannya begitu jauh? Mengapa orang tuaku tidak bisa merawat aku dan Gisel? Apa salah kami berdua hingga ditelantarkan seperti ini?

“Oi Leon, halo? Aku cerita kok malah melamun? Nanti kerasukan lo, hehe” potong Kenji terhadap lamunanku.

“Maaf, aku tidak sengaja.”

“Ya sudahlah Le, tak apa. Kamu tetap tidak mau membagi sesuatu denganku?”

“Tidak.”

“Baiklah Leon jika tidak ada, mungkin lain waktu. Omong-omong, dimana Gisel?”

“Belajar di kamarnya.”

“Boleh kutengok?”

“Silahkan. Kamarnya ada dibalik tembok ini.”

Begitu Kenji pergi untuk menengok Gisel, muncul pertanyaan besar dalam benakku. Apakah aku benar-benar bisa menjadi anak baik? Benarkah aku bisa berubah? Sekali lagi terngiang pertanyaan, sejak kapan aku seperti ini? Kuingat kembali memori masa laluku. Memori dimana aku masih menjadi anak baik-baik.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)

Published

on

By

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Malik

Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.

Malik adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.

Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa Malik adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap Malik seperti karakter Joker pada serial Batman.

Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata Malik memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua Leon dan Kenji!

Para Kakak Pembimbing OSIS

Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.

Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah Aan yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang ngelamak. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.

Rudi dan Sinta

Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan Rudi, lantas bertemu dengan Sinta di kantin.

Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.

Paman Anton

Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. Paman Anton merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.

Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi single parent. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.

Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, Bondan, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.

Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.

Penutup

Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?

Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal 3 Desember 2018. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 19 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi

Published

on

By

Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.

Andrea Putri Sudarwono

Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.

Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.

Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. Dea jago bermain basket dan memainkan drum.

Aqilla Sagita Danastri

Selanjutnya adalah Gita, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, Gita Gutawa. Akan tetapi, Gita yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.

Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter Gita yang bermain pada serial Cinta dan Rahasia yang diperankan oleh Taskya Namya, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.

Taskya Namya (media.iyaa.com)

Padahal, penulis menciptakan karakter Gita jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.

Gita adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, Gita adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.

Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.

Elvina Yurina Zefina

Yuri, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter Girls’ Generation yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.

Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)

Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang single parent yang memiliki usaha katering. Yuri kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.

Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.

Maroon Malvinanita

Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. Nita, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.

Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.

Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang Nita, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.

Verena Nur Izora

Nama Verena penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.

Verena, atau Rena, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.

Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. Rena juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada chapter 40.

Virginia Vanya Valora

Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, VVV Venlo, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.

VVV Venlo (youtube.com)

Vanya atau kerap dipanggil Ve (penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.

Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi

Published

on

By

Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.

Andra Putra Sudarwono

Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.

Inspirasi karakter ini datang dari Fred dan George Weasley dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.

via bookstr.com

Kurang lebih seperti itulah Andra (dan kini bersama Dea). Andra adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.

Nama Andra sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band Andra and the Backbone. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, Budi Sudarsono.

via indosport.com

Andra juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.

Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.

Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah Andra.

Andra memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.

Achmad Khrisna Subejo

Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama Bejo bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.

Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter Tenya Iida pada anime Boku No Hero Academia, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.

via http://bokunoheroacademia.wikia.com

Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).

Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.

Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang gentle dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.

Arjuna Wahyunara

Namanya terinspirasi dari chef Juna. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari Goo Ji-soo, salah satu peserta acara reality show Girls’ Generation and the Dangerous Boys.

via snsdkorean.com

Juna adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.

Apalagi, Juna adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.

Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan Juna, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.

Jean Xavier Pierre

Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.

Pierre penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, Pierre Bouvier, yang penulis ketahui dari video klip When I’m Gone. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan ide nama Sarah.

Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.

Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.

 

 

 

Kebayoran Lama, 5 November 2018

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan