Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 1)

Chapter 16 Pertemuan dengan Kawan Lama

Published

on

Hari Sabtu adalah hari di mana kami bisa dengan bebas mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sesuai dengan minat dan bakat kami. Dari Kenji, dan selalu dari Kenji, aku mengerti kegiatan tambahan apa yang diikuti oleh teman-teman.

Bejo bergabung dengan tim sepakbola, Pierre bertemu dengan kawanan penggemar elektornik, dan Juna bergabung dengan Paskibraka. Si kembar memutuskan untuk bergabung dengan band. Para wanita tersebar, dimana Sica dengan suara emasnya masuk paduan suara, Rika dengan imajinasinya masuk teater, Gita mendalami bakatnya dengan ikut klub lukis, Yuri yang pemalu masuk klub tata boga, Nita yang ahli bahasa ingin mengasah kemampuan menulisnya dengan bergabung tim jurnalistik, Rena yang sholehah ikut tartil Quran, dan Ve ikut klub debat Bahasa Inggris. Kenji tidak tahu Sarah bergabung dengan ekskul mana, tapi menurutnya wanita angkuh itu kemungkinan ikut modern dance. Kenji sendiri memutuskan untuk bergabung dengan klub bahasa Jepang, karena ingin mendalami bahasa keluarga ayahnya lebih dalam.

Lalu bagaimana dengan aku? Karena mendapatkan skors di minggu pertama, aku belum menentukan akan bergabung dengan ekskul manapun, sehingga selama enam minggu aku selalu belajar mandiri ketika jam ekskul dimulai. Selain merasa kegiatan tersebut kurang penting, aku juga belum menentukan ekskul mana yang mau kuikuti.

“Leon?” Bejo menghampiriku ketika teman-teman satu kelas hendak berangkat menuju ruangan ekskul mereka masing-masing.

“Iya Bejo?”

“Bu Rima ingin bertemu denganmu di ruangannya sekarang.” katanya sambil lalu begitu saja. Sudah hampir dua bulan sejak peristiwa itu, ia tetap saja tidak ramah kepadaku.

Setelah membereskan buku-buku di atas meja, aku melangkah menuju ruang guru. Bisa dibilang ini pertama kali aku keluar ruangan ketika jam ekstrakulikuler. Aku menengok ruang guru, dan menemukan bu Rima sedang duduk di mejanya, nampaknya sedang mengerjakan sesuatu.

“Selamat pagi bu, Ibu mencari saya?” tanyaku berusaha sesopan mungkin.

“Ah Leon, duduk.” kebetulan kursi guru di sebelahnya sedang kosong.

Bu Rima masih melanjutkan pekerjaannya sebentar, baru memulai pembicarannya denganku.

“Ibu mendapatkan laporan kalau kamu belum mengikuti kegiatan ekstra apapun, kenapa?” tanyanya dengan memancarkan kegarangan yang luar biasa. Jika siswa lain, pasti sudah ketakutan setengah mati.

“Iya bu, saya mohon maaf, waktu pengumuman kegiatan ekstra apa saja yang ada di sekolah, saya sedang diskors. Selain itu, saya juga belum tahu di bidang apa saya tertarik.”

“Meskipun nilaimu bagus, kamu bisa diturunkan dari kelas akselerasi nak. Coba kamu pikirkan, mana kegiatan yang paling cocok untukmu. Ini kebetulan ibu ada daftarnya.”

Aku mengambil kertas yang disodorkan oleh bu Rima. Kubaca satu persatu secara berurutan hingga selesai, namun tetap tidak ada satupun. Apakah aku bergabung dengan kelas bahasa Jepang saja? Toh di sana ada Kenji. Tapi aku kurang tertarik dengan pelajaran bahasa. Seandainya saja ada kegiatan ekstra yang berhubungan dengan labotarium, pasti aku sudah memilih hal tersebut.

“Kamu dulu suka berkelahi bukan? Kenapa tidak ikut karate?”

Kata-katanya menusuk meskipun benar. Tapi aku tidak suka gaya berkelahi yang memiliki pola-pola teratur. Aku tipe petarung gaya bebas yang tidak membutuhkan metode. Oleh karena itu, aku menggelengkan kepala.

“Sebenarnya, apa hobimu?” tanya bu Rima mulai kehilangan kesabaran.

“Saya tidak punya hobi bu, jika tidak ada hal yang dilakukan, saya biasanya belajar.” jawabku dengan jujur, meskipun mungkin tidak serajin Kenji.

“Kalau begitu kenapa tidak bergabung dengan Kelompok Ilmiah Remaja? Di sana kamu akan meneliti banyak hal, sepertinya cocok untukmu.”

Meskipun aku belum tahu seperti apa yang akan dilakukan di sana, aku tidak melihat ada kemungkinan ekskul lain yang cocok denganku. Maka, aku menyetujui saran bu Rima tersebut.

***

Aku langsung diantar ke labotarium Biologi, tempat di mana kelas ilmiah remaja dilakukan. Pembimbing kami disana adalah pak Arief, seorang guru Biologi. Setelah perkenalan singkat, aku dipersilahkan duduk di samping seorang laki-laki berambut keriting. Belum ada sedetik aku duduk, laki-laki tersebut langsung menyodorkan pertanyaan kepadaku.

“Kamu Leon kan? Leon yang tinggal di dekat sekolah?”

Aku menatapnya pelan-pelan, berusaha menganalisa hal yang terjadi. Seorang asing tiba-tiba memastikan nama seseorang, artinya orang tersebut merasa pernah mengenal kita. Aku mengamatinya lebih dalam, berusaha mengingat siapa dirinya. Setelah lima detik berlalu, aku masih sulit untuk mengetahui identitas dirinya.

“Ini aku, Rudi.”

Ah! Ternyata teman bermainku di masa kecil yang singkat. Tentu saja, siapa lagi yang bisa punya rambut sekeriting itu. Hanya saja karena lama tak bertemu, aku lupa siapa dirinya.

“Rudi kan? Apa kabar? Aku baru tau kau sekolah disini.”

“Aku juga, kupikir kamu akan sekolah di tempat lain yang lebih bergengsi. Dulu waktu kamu SMP kan selalu rangking satu.”

Aku baru tau jika aku satu SMP dengannya, bahkan bisa di bilang aku tidak tahu sama sekali siapa-siapa di SMP. Entah berapa kali aku tidak menghiraukan sapaan hingga akhirnya tidak ada satupun yang menyapaku. Tapi akan menyakitkan perasaan Rudi jika aku mengatakan bahwa aku tidak mengingatnya sebagai teman satu almamater SMP.

“Kamu rasanya sedikit berubah ya, rasanya menjadi, emmm, lebih ramah.”

“Banyak yang terjadi Rud, setidaknya aku bisa memastikan bahwa aku yang sekarang bukan Leon ketika SMP.”

“Leon, meskipun kamu anggota baru disini, tolong jangan lama-lama ya perkenalan dirinya. Kalau mau bicara panjang lebar, lakukan ketika kelas selesai ya.” pak Arief menegurku karena sama sekali tidak menghiraukan instruksinya.

Kami pun memutuskan untuk diam dan akan melanjutkannya nanti ketika kegiatan ekstra ini selesai.

***

Kegiatan ekstra berakhir bertepatan dengan jam istirahat. Rudi mengajakku ke kantin, dan ia tidak percaya ketika aku bilang ini pertama kali aku ke kantin sekolah. Setelah ia membeli beberapa makanan ringan, kami mencari tempat duduk untuk mengobrol.

“Aku sempat mendengar isu ada anak akselerasi yang dikeroyok karena sok, aku tidak menyangka ternyata itu kamu.” Rudi membuka percakapan kami.

“Iya benar, tapi bukan peristiwa itu yang membuatku seperti ini.”

“Lalu apa?”

Maka dengan singkat aku menceritakan tentang Kenji dan bagaimana ia bisa mengeluarkan diriku dari kesengsaraan. Rudi mendengarkan dengan serius, berusaha memahami setiap kata yang meluncur dari bibirku. Wajahnya menunjukkan simpati, atau mungkin lebih karena ia berusaha memahami ceritaku yang menurutku sendiri kurang terstruktur dengan baik.

“Wah, luar biasa sekali, baru kali ini aku mendengar yang seperti itu.”

“Ya begitulah Rud.”

“Aku bukannya tidak peduli denganmu Le waktu itu, hanya saja memang kamu seolah-olah memberi tembok untuk orang yang ingin mendekatimu.”

Aku tidak menyangkal pernyataannya tersebut karena memang hal itulah yang terjadi. Segala perlakuan buruk orang lain terhadapku membuatku ingin memutus semua bentuk hubungan yang mungkin bisa tercipta, hingga aku bertemu dengan Kenji. Ia membuatku membongkar tembok yang selama ini susah payah kubangun.

“Jadi, kamu yang sekarang sudah punya pacar?”

Aku tertawa ringan mendengar pertanyaan yang asal bunyi ini. Tentu saja tidak bisa secepat itu aku bisa mendapatkan seorang pasangan. Meskipun begitu, entah mengapa tiba-tiba terbayang seorang wajah seorang wanita dipikiranku, wanita cantik bersuara emas…

“Kalau cari yang seperti itu lo Le.” Rudi membuat otakku yang sedang bekerja membuat gambar seorang wanita berhenti. Aku menolehkan kepala untuk melihat seperti apa wanita yang ditunjuk oleh Rudi. Memang, ada seorang wanita cantik dengan rambut sebahu, sedang berjalan bersama teman-temannya. Ia nampak ceria, dan keceriaannya itu terasa tidak asing. Paras itu juga tidak terasa asing. Karena terus memandangi wanita tersebut, akhirnya mata kami saling bertatapan dari kejauhan. Sekitar sepuluh detik berlalu dalam diam, ia yang mengeluarkan suara terlebih dahulu.

“Leon?”

***

Ternyata wanita yang dianggap ideal oleh Rudi tersebut adalah Sinta, teman SDku yang pernah mengundangku untuk datang ke acara ulang tahunnya. Begitu aku merespon panggilannya, ia langsung menghampiriku. Kami bersalaman dan saling bertukar kabar. Tak lupa aku mengenalkan Rudi yang terperangah, tak menyangka aku mengenal Sinta.

Sinta satu SMP dengan Kenji, dan kenal baik dengan Nita karena mereka teman sebangku. Kami bernostalgia sebentar ketika masa-masa SD, dan untunglah ia sama sekali tidak menyinggung tentang kejadian pengusiran ayahku waktu itu. Sinta memang sudah baik dari dulu, dan nampaknya ia masih tetap seperti dulu. Ketika aku bertanya dimana teman-teman yang lain, ia menjawab bahwa hanya beberapa yang bersekolah di sini, dan dari beberapa itu tidak ada yang aku ingat.

Yang aneh adalah Rudi. Ia yang talkactive tiba-tiba mengkerut bagaikan pewangi ruangan batangan yang sudah satu bulan digunakan. Meskipun aku sudah berusaha untuk memasukkannya ke dalam percakapan, ia hanya memberikan respon dengan mengangguk-angguk. Aku baru mengetahui alasannya ketika Sinta berbalik menuju kelasnya.

“Leon, bisa kamu kenalkan aku dengan temanmu itu?”

Astaga, bukankah aku sudah mengenalkannya dengan Sinta tadi?

***

“Pasti menyenangkan ya Le bertemu dengan teman-teman lama.” Kenji memberi tanggapan ketika aku menceritakan kejadian siang ini.

“Lumayan, terutama ketika tahu bahwa sebenarnya mereka peduli kepadaku. Aku saja yang menutup mata terhadap kebaikan orang lain.”

“Ya baguslah kalau begitu, itulah pentingnya menghargai orang lain. Nampaknya hari ini kamu sudah mendapatkan pelajaran hidup yang berharga, sehingga aku tidak perlu memberimu pelajaran kehidupan hari ini. Aku akan fokus untuk mengajari Gisel hari ini.” katanya dengan senyum khasnya.

Ia memanggil Gisel yang sedang di dapur, sehingga aku duduk sendiri di ruang tamuku. Aku menghayati kejadian yang terjadi hari ini, dan heran dengan diriku sendiri. Bukankah aku dendam dengan semua orang yang sudah membuatku merasa sendiri? Tapi mengapa aku menikmati pertemuan dengan kawan lama ini? Mungkin saja sifat pemaaf Kenji sudah mulai merasuk ke dalam diriku.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)

Published

on

By

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Malik

Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.

Malik adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.

Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa Malik adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap Malik seperti karakter Joker pada serial Batman.

Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata Malik memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua Leon dan Kenji!

Para Kakak Pembimbing OSIS

Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.

Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah Aan yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang ngelamak. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.

Rudi dan Sinta

Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan Rudi, lantas bertemu dengan Sinta di kantin.

Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.

Paman Anton

Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. Paman Anton merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.

Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi single parent. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.

Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, Bondan, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.

Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.

Penutup

Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?

Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal 3 Desember 2018. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 19 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi

Published

on

By

Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.

Andrea Putri Sudarwono

Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.

Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.

Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. Dea jago bermain basket dan memainkan drum.

Aqilla Sagita Danastri

Selanjutnya adalah Gita, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, Gita Gutawa. Akan tetapi, Gita yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.

Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter Gita yang bermain pada serial Cinta dan Rahasia yang diperankan oleh Taskya Namya, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.

Taskya Namya (media.iyaa.com)

Padahal, penulis menciptakan karakter Gita jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.

Gita adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, Gita adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.

Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.

Elvina Yurina Zefina

Yuri, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter Girls’ Generation yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.

Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)

Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang single parent yang memiliki usaha katering. Yuri kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.

Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.

Maroon Malvinanita

Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. Nita, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.

Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.

Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang Nita, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.

Verena Nur Izora

Nama Verena penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.

Verena, atau Rena, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.

Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. Rena juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada chapter 40.

Virginia Vanya Valora

Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, VVV Venlo, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.

VVV Venlo (youtube.com)

Vanya atau kerap dipanggil Ve (penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.

Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi

Published

on

By

Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.

Andra Putra Sudarwono

Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.

Inspirasi karakter ini datang dari Fred dan George Weasley dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.

via bookstr.com

Kurang lebih seperti itulah Andra (dan kini bersama Dea). Andra adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.

Nama Andra sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band Andra and the Backbone. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, Budi Sudarsono.

via indosport.com

Andra juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.

Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.

Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah Andra.

Andra memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.

Achmad Khrisna Subejo

Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama Bejo bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.

Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter Tenya Iida pada anime Boku No Hero Academia, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.

via http://bokunoheroacademia.wikia.com

Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).

Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.

Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang gentle dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.

Arjuna Wahyunara

Namanya terinspirasi dari chef Juna. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari Goo Ji-soo, salah satu peserta acara reality show Girls’ Generation and the Dangerous Boys.

via snsdkorean.com

Juna adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.

Apalagi, Juna adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.

Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan Juna, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.

Jean Xavier Pierre

Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.

Pierre penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, Pierre Bouvier, yang penulis ketahui dari video klip When I’m Gone. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan ide nama Sarah.

Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.

Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.

 

 

 

Kebayoran Lama, 5 November 2018

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan