Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 1)

Chapter 28 Pikiran yang Mengganggu

Published

on

Sekitar Maghrib aku baru beranjak pulang. Aku yakin Kenji masih berada di rumahku untuk mengajari Gisel. Kami memutuskan bahwa belajar bersama bersama Yuri dan kawan-kawan lainnya baru akan dimulai awal bulan November nanti, sehingga kami bisa mengajar Gisel sepulang sekolah seperti biasa.

Benar saja, Kenji masih berada di rumahku ketika aku menginjakkan kaki di pintu rumahku. Semoga saja mereka tidak menyadari bahwa aku baru saja menangis. Aku belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi di kelas sore ini.

“Kok baru pulang kak? Gisel kepikiran lo kak.” sambut adikku dengan polosnya.

“Tidak apa-apa.” kataku datar sembari berjalan terus menuju kamarku. Kejadian hari ini terlalu menguras emosi, dan emosi membutuhkan tenaga, sehingga aku merasa sangat lemas dan segera ingin beristirahat. Namun apa daya, banyak pikiran akan menghalangi keinginanku untuk tidur, sehingga aku hanya akan terdiam di kasur selama berjam-jam.

Terdengar suara ketukan pintu, yang kuyakin dilakukan oleh Kenji. Mungkin ia bisa membaca apa yang aku pikirkan, sehingga ia berusaha untuk menghiburku. Maaf Kenji, aku sedang ingin sendirian, tidak ingin diganggu oleh siapapun.

“Le, ada Rena, mau bicara samu katanya.”

Eh? Ada Rena? Bukankah ini kesempatan yang baik untuk meminta maaf, sehingga tidak perlu lagi mengulur-ngulur waktu yang tak pasti? Baiklah, kutegarkan diriku, kukontrol ekspresi wajah agar terlihat tenang, dan kumantapkan hati.

Aku melangkahkan kaki, membuka pintu, dan terlihatlah Kenji sedang menantiku. Kenji adalah kawan yang setia serta memiliki hati yang tulus. Beruntunglah aku bertemu dengannya di SMA ini.

“Di mana Rena?”

“Di rumahnya Le.”

“Maksudmu, kau membohongiku?”

“Iya dan tidak. Di sini ada Rena aku berbohong, tapi Rena ingin bicara denganmu adalah sebuah kejujuran.” katanya tetap tenang.

“Lalu apa maksudmu?”

“Pertama biar kamu keluar dari kamar dan meratapi diri, dan yang kedua aku ingin mengajakmu bertemu dengan Rena. Aku sudah janjian dengannya sore ini, setelah membuat perkiraan berapa lama kamu akan menyendiri di sekolah. Agak kelebihan sedikit dari prediksiku, namun sama sekali belum terlambat.” kata Kenji dengan riang.

Aku diam saja mendengar penuturannya, lalu mengikuti kemauannya. Mungkin memang ini yang harus aku lakukan agar segala macam pikiran yang mengganggu ini bisa hilang.

***

Kenji dan Rena sepakat pertemuan akan dilakukan di tempat nongkrong dekat sekolah. Aku tidak pernah ke sana sebelumnya karena memang aku tipe yang langsung pulang ke rumah sepulang sekolah. Mungkin didikan ayahku yang tak tahu diri itu yang membuatku menjadi seperti itu. Untung saja, setelah ia pergi entah ke mana, aku tidak mengubah kebiasaan tersebut.

Sepanjang perjalanan, aku dan Kenji hanya saling berdiam diri. Mungkin Kenji menahan diri melihat situasinya yang kurang mendukung untuk berdiskusi. Salah satu kelebihan lainnya dari Kenji adalah kebijaksanaannya dalam melihat suatu kondisi. Ia tahu harus berbuat apa ketika terjadi sesuatu. Belum lagi ketenangannya dalam melihat permasalahannya. Aku menjadi penasaran, sifat-sifatnya tersebut berasal dari didikan orang tuanya atau trauma yang pernah dihadapinya? Kusimpan pertanyaan ini untuk lain waktu.

Akhirnya setelah sekitar 15 menit kami berjalan, kami sampai di lokasi. Aku melihat Rena sudah duduk di sana seorang diri. Ketika melihat kami, terlihat getir di matanya, menandakan ketakutan terhadap kehadiranku. Sayangnya, aku tak bisa melempar senyum untuk mengurangi ketakutannya tersebut.

Setelah memesan minuman, Kenji memulai tugasnya sebagai mediator tanpa diminta.

“Jadi, kawan-kawanku, hari ini terdapat peristiwa yang aku yakin terjadi karena kesalahpahaman semata. Alangkah baiknya jika hari ini juga masalah tersebut selesai dan kalian bisa saling memaafkan.”

Melihat Rena yang terus gelisah sambil memainkan tangannya, aku mengambil inisiatif untuk mengatakannya duluan.

“Aku minta maaf.”

“Hahaha, sangat kamu sekali Le, singkat dan tegas. Harusnya kamu sedikit santai minta maafnya, dan disertai alasan mengapa kamu minta maaf.” Kenji menegur cara minta maafku yang, mungkin, agak sedikit kasar.

“Rena, aku minta maaf karena telah menyentakmu tadi di kelas. Aku hanya terbawa emosi sesaat.”

“Aku juga minta maaf Le, seharusnya aku tahu batas-batas mana yang boleh diceritakan, mana yang sekiranya tidak menyakiti perasaanmu. Terkadang, kenyataan yang pahit harus disembunyikan agar hati tak terluka.”

“Sayangnya aku tipe orang yang memilih untuk menelan pil pahit tersebut daripada harus menyembunyikannya di sudut kotak obat. Aku sudah mengalami berbagai macam peristiwa yang memilukan Ren, peristiwa yang belum tentu orang lain kuat menghadapinya. Aku bukan tipe orang yang hancur hanya karena menghadapi satu fakta yang menyakitkan.”

Aku yang biasanya sangat terbatas berbicara mendadak menjadi sangat cerewet, entah apa penyebabnya. Rena memperhatikan dengan seksama, juga terlhat sedikit terkejut mendengarkanku berbicara panjang setelah sekian lama.

“Jadi, seandainya aku meneruskan perkataanku tadi siang, kamu enggak akan marah?”

“Marah urusan lain, itu hanya salah satu ekspresi yang digunakan untuk menghadapi kenyataan tersebut. Namun yang pasti, aku tidak akan marah kepada kau, aku hanya akan marah kepada orang lain yang menganggapku anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya.”

“Apa Le?” kini Rena memandangku dengan heran.

“Itu bukan kelanjutan kalimatmu? Mereka menganggapku sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orangtuanya?”

Rena memandang ke arah Kenji, seolah meminta penjelasan atas perkataanku barusan. Kenji melihatku sebentar, lalu mengatupkan kedua matanya seolah ingin berpikir.

“Tidak ada yang berkata seperti itu Le, mereka menganggapmu sebagai anak setan, bukan seperti yang kamu ucapkan.”

***

“Kamu bertemu Malik sepulang sekolah ya Le.” tanya Kenji ketika kami telah berada di rumahku, setelah aku dan Rena bersalaman. Ketika mendengar penjelasan Rena, aku menjadi heran sendiri, mengapa aku menyimpulkan sesuatu yang salah. Dibilang sebagai anak setan pun sebenarnya setengah benar, karena tingkah laku ayahku seperti setan, hanya wujudnya saja yang manusia. Maka ketika kecanggungan tersebut hadir di antara kami, Kenji langsung menutup acara dan kami bertiga saling bersalaman.

“Dari mana kau tahu?”

“Mengumpulkan data yang ada, lalu diolah di dalam otak, dan muncul suatu hipotesis yang baru saja kamu klarifikasi.”

“Bagaimana caranya? Data apa?”

“Bukankah Sherlock pernah mengatakan ‘buanglah semua yang mustahil, apapun yang tersisa, semustahil apapun, pasti benar.’? Hanya itu dasar yang kugunakan Le, sehingga aku menulis daftar di pikiranku, apa yang mungkin menyebabkan kamu memiliki pemikiran seperti itu. Dari beberapa penyebab tersebut, aku mengeliminasi hal-hal yang tidak akan membuatmu berpikiran seperti itu. Lalu yang tersisa hanyalah Malik, yang sudah pernah mengobrak-abrik perasaanmu sebelumnya.”

“Aku tidak terlalu paham, tapi benar, memang Malik bertemu denganku sepulang sekolah, ketika aku mengurung diri di kelas.”

“Menurutmu, mengapa ia ke kelas?”

“Karena ia kangen dengan kelas lamanya.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Ada jawaban lain?”

“Informasi menyebar begitu cepat Le, apalagi jika kamu mengeluarkannya dengan suara keras. Pasti kamu akan jadi bahan pembicaraan teman sekelas, sehingga pada akhirnya informasi tersebut sampai di telinganya. Ia melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk menghancurkanmu!” kata Kenji dengan menggebu-gebu.

“Benarkah itu?”

“Tidak, aku tidak tahu, itu hanya analisa yang berlebihan, hehehe.” jawabnya dengan menghilangkan semangatnya secara tiba-tiba.

“Seandainya benar, sebenarnya apa motifnya? Mengapa selalu aku yang ia incar?”

“Aku juga kurang tahu Le, tak usahlah dipikirkan kataku, itu teori ngawur. Ah, seharusnya aku pandai menjaga mulutku.”

Kenji bukan tipe orang yang berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Meskipun ia berkata demikian, aku yakin sebenarnya Kenji memiliki makna tersirat dari ucapannya yang terakhir. Sayangnya, aku tidak memiliki keinginan untuk medebatnya lebih jauh, dan beralih ke topik lain.

“Malik bilang bahwa ia sudah bercerita tentang aib keluargaku kepada teman-teman sekelas.”

“Sebenarnya ya, terutama ketika kamu masih menjadi public enemy. Namun yang perlu kamu ketahui, mereka berusaha mengonfirmasi kabar tersebut kepadaku. Tentu aku tak punya hak untuk menjawab, sehingga aku meminta mereka untuk bertanya langsung kepadamu, yang aku yakin belum mereka lakukan hingga sekarang.”

Ya, aku berkata dalam hati, mereka cukup cerdas untuk tidak mempercayai begitu saja kabar angin.

“Yang bisa aku katakan sekarang,” lanjut Kenji, “mereka tidak pernah mempersoalkan masalah pribadimu yang menurutmu kelam tersebut. Yang mereka pedulikan hanya dirimu yang sekarang, bukan yang dulu. Kamu harus percaya diri bahwa teman-teman di kelas peduli denganmu, dan mereka benar-benar ingin menjadi temanmu. Jika kamu sadar, setelah kamu minta maaf di depan kelas, pernahkah ada satu orang yang membahas masalahmu di masa-masa MOS?”

Aku menggelengkan kepala.

“Bahkan Bejo yang kurang menyukaimu pun tidak pernah secara gamblang membicarakan hal tersebut di depanmu maupun di depan teman-teman yang lain. Aku tidak menghitung Sarah, karena memang ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi di kelas. Karena itu, berhentilah merutuk diri sendiri, alihkan pikiranmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk hari esok.”

Aku menganggukkan kepala. Ceramah dari Kenji membuka pikiranku yang sempit ini. Sudah terlalu lama aku dikuasai energi negatif, sudah sepatutnya aku harus mengusir jauh energi tersebut dan menggantinya dengan energi positif. Dalam hati aku berjanji kepada diriku sendiri, kejadian seperti hari ini tidak boleh terulang kembali. Tidak boleh lagi ada pikiran yang mengganggu untuk malam ini dan seterusnya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)

Published

on

By

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Malik

Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.

Malik adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.

Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa Malik adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap Malik seperti karakter Joker pada serial Batman.

Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata Malik memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua Leon dan Kenji!

Para Kakak Pembimbing OSIS

Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.

Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah Aan yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang ngelamak. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.

Rudi dan Sinta

Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan Rudi, lantas bertemu dengan Sinta di kantin.

Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.

Paman Anton

Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. Paman Anton merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.

Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi single parent. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.

Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, Bondan, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.

Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.

Penutup

Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?

Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal 3 Desember 2018. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 19 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi

Published

on

By

Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.

Andrea Putri Sudarwono

Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.

Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.

Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. Dea jago bermain basket dan memainkan drum.

Aqilla Sagita Danastri

Selanjutnya adalah Gita, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, Gita Gutawa. Akan tetapi, Gita yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.

Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter Gita yang bermain pada serial Cinta dan Rahasia yang diperankan oleh Taskya Namya, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.

Taskya Namya (media.iyaa.com)

Padahal, penulis menciptakan karakter Gita jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.

Gita adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, Gita adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.

Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.

Elvina Yurina Zefina

Yuri, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter Girls’ Generation yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.

Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)

Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang single parent yang memiliki usaha katering. Yuri kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.

Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.

Maroon Malvinanita

Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. Nita, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.

Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.

Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang Nita, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.

Verena Nur Izora

Nama Verena penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.

Verena, atau Rena, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.

Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. Rena juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada chapter 40.

Virginia Vanya Valora

Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, VVV Venlo, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.

VVV Venlo (youtube.com)

Vanya atau kerap dipanggil Ve (penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.

Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi

Published

on

By

Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.

Andra Putra Sudarwono

Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.

Inspirasi karakter ini datang dari Fred dan George Weasley dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.

via bookstr.com

Kurang lebih seperti itulah Andra (dan kini bersama Dea). Andra adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.

Nama Andra sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band Andra and the Backbone. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, Budi Sudarsono.

via indosport.com

Andra juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.

Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.

Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah Andra.

Andra memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.

Achmad Khrisna Subejo

Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama Bejo bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.

Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter Tenya Iida pada anime Boku No Hero Academia, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.

via http://bokunoheroacademia.wikia.com

Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).

Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.

Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang gentle dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.

Arjuna Wahyunara

Namanya terinspirasi dari chef Juna. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari Goo Ji-soo, salah satu peserta acara reality show Girls’ Generation and the Dangerous Boys.

via snsdkorean.com

Juna adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.

Apalagi, Juna adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.

Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan Juna, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.

Jean Xavier Pierre

Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.

Pierre penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, Pierre Bouvier, yang penulis ketahui dari video klip When I’m Gone. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan ide nama Sarah.

Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.

Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.

 

 

 

Kebayoran Lama, 5 November 2018

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan