Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 1)

Chapter 36 Senyum Sarah

Published

on

Aku hampir saja memutuskan untuk membolos hari ini jika teringat dengan kejadian kemarin. Betapa bisanya aku mengatakan hal tersebut dengan tenangnya. Sica pun hanya bisa diam membeku, seolah ada yang menembakkan pistol pembeku. Untung saja mama Sica sudah selesai dengan teleponnya dan kembali ke dalam ruangan, menyelematkan mukaku dari tatapan Sica. Dengan alasan Gisel ada jadwal les, aku berpamitan dengan mama Sica, dan agak canggung mengucapkan selamat tinggal ke Sica. Sica masih berada dalam posisi membeku, hanya bisa mengangguk-angguk pelan. Dengan memegang tangan Gisel, aku melangkah keluar rumah sakit.

Selama perjalanan hingga masuk ke dalam rumah, Gisel menghujaniku dengan pertanyaan “kakak suka kakak cantik ya?” hingga akhirnya aku memutuskan untuk masuk kamarku dan menguncinya dari dalam. Tidak kuhiraukan ketukan Gisel, bahkan untuk menawarkan makan malam. Aku memutuskan untuk tidur, melupakan apa yang telah terjadi, dan gagal total, karena aku tetap terpikirkan perkataanku kemarin.

Lalu aku ingat, tidak ada satupun di kelas yang tahu kejadian kemarin. Tentu tidak mungkin Sica sudah kembali masuk ke sekolah, mengingat kemarin kondisinya masih payah. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, aku melihat ada makanan kemarin malam. Karena kemarin aku tidak makan seharian, aku memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.

***

Begitu aku memasuki kelas, terlihat semua temanku memancarkan aura sendu karena bangku Kenji masih terlihat kosong. Padahal, biasanya Kenji selalu menjadi yang pertama datang. Kenji memang berharga buat kami. Bagi kami dia adalah dinamo kelas kami, penggerak mesin berpikir kelas kami. Kata-katanya selalu menyihir kami agar terus dan terus berjuang meraih nilai dan prestasi tertinggi. Karena itu tidaklah salah jika kami mengalami kehilangan yang sangat besar.

“Hai Le, sudah kamu temukan petunjuk tentang Kenji?” kata Pierre tiba-tiba. Padahal selama ini dia terkenal tidak mempedulikan hal lain selain gawainya. Ternyata dia bisa juga peduli dengan kawannya.

“Belum Pierre, aku sudah berusaha mencari informasi ke agen koran tempat Kenji bekerja. Mereka juga tidak tahu dimana ia sekarang.”

“Padahal baru satu hari tak berjumpa, namun rasanya seperti satu tahun.”gumam Andra dan Andrea bersamaan. Seperti biasa, mereka selalu berkata dengan menggunakan majas hiperbola.

Kuperhatikan wajah seluruh kelas, semua memasang raut muka yang sama, raut muka kebingungan, raut muka kehilangan. Aku memutuskan untuk duduk di tempatku agar tidak dapat melihat pemandangan tersebut.

“Bung, berarti aku harus ke rumah Sarah siang nanti.” Andra memohon restu ke kepala suku.

“Silahkan Andra, kita sudah membuat kesepakatan.”

Lalu hening kembali datang kembali.

“Wah wah, baru sehari aku tidak masuk, kenapa satu kelas menjadi begitu murung?” terdengar sebuah suara dari arah pintu. Suara yang sangat kukenal, tak salah lagi, ini suara Kenji! Secara spontan kami langsung menghampiri Kenji dan berebutan untuk memeluknya (maksudku hanya anak laki-laki, perempuan hanya berani melihat, tak berani memeluk). Dia terlihat senang sekali menerima perlakuan seperti itu dari teman-temannya. Namun ia segera meminta untuk dilepaskan dari pelukan-pelukan itu.

“Maaf maaf, bukannya aku menolak untuk di peluk kalian, tapi lihatlah, badanku penuh dengan luka.” Kata Kenji memohon.

Aku baru menyadari hal tersebut, begitu pula dengan teman-teman lain. Mukanya memar, bekas terkena pukulan. Di tangan kanannya terdapat perban yang mengelilinginya. Raut ceria kami berangsur-angsur menjadi kecemasan. Semua terdiam karena telat menyadari hal ini. Melihat semua terdiam, Kenji mulai membuka mulut.

“Waktu kejadian Sica pingsan, aku keluar sekolah sebentar untuk mencari bantuan, namun sayang aku ditabrak sepeda motor dari arah belakang. Begitu menabrak diriku, pengemudinya langsung kabur dan memacu kendaraannya cepat sekali, meninggalkan aku begitu saja dengan luka-luka ini. Untung waktu itu ada Sarah, dan dia langsung membawaku ke rumah sakit.”

“SARAH??!!”teriak kami semua tak percaya akan omongan Kenji barusan. Mungkin kami salah dengar.

“Iya, Sarah teman kita. Itu anaknya.” kata Kenji sambil menunjuk ke arah pintu. Dengan wajah dinaungi ketakutan, ia memberanikan diri untuk memasuki kelas.

“Aaa . . assalamualaikum.”gumamnya tergagap. Tak ada satupun dari kami yang menjawab salamnya, entah karena masih merasa kesal akan sikapnya atau karena kaget melihat dia mengucap salam kepada kami semua. Hanya Kenji yang bisa menjawab salamnya. Lalu dengan cepat Kenji merespon keheranan kami dengan berkata, “Hei kalian ini kenapa semua? Ada orang memberi salam kok tidak dijawab, cepat dijawab.”

“Wa . . wa`alaikum salam.”jawab kami tak kalah gagap dari Sarah.

***

Suasana kelas hari ini begitu aneh, kaku dan dingin. Awkward. Meskipun Kenji berusaha mencairkan suasana kelas, namun tetap saja kami semua tetap merasa ada yang aneh di kelas ini. Apa lagi kalau bukan karena Sarah. Kelakuannya tadi pagi dibandingkan kemarin berbeda lima ratus delapan puluh derajat, karena jauh jauh jauh berbeda. Mulai dari ucapannya, meskipun hanya satu kata, kemudian sikapnya yang tiba-tiba menjadi santun, sampai acara berdiam diri di kelas. Padahal biasanya dia sering bersuara keras untuk mendapatkan perhatian. Tipe orang seperti ini adalah tipe orang yang paling kubenci. Itulah salah satu alasanku, bahkan kami, tidak menyukainya.

Kejutan Sarah belum berakhir. Setelah Pak Atmaji, guru kesenian keluar kelas, dengan segera ia berdiri di depan kelas dan mulai mengatakan sesuatu.

“Maaf teman-teman, saya minta waktunya sebentar.” telingaku berdiri mendengarkan Sarah mengatakan ‘saya’ bukan ‘gue’.

“Ada apa?” tanya Andra dan Andrea bersamaan dengan nada agak tinggi.

“Sa . . saya mau meminta maaf untuk perilaku saya selama ini. Saya sadar kalau saya salah, dan saya berjanji akan mengubah sikap saya ini. Sekali lagi saya minta maaf.” Sarah mengakhiri diplomasinya dengan menundukkan badannya hingga sembilan peluh derajat.

Semua anak terperangah melihat kejadian yang langka ini. Tidak ada satu pun anak yang menanggapi permintaan maafnya, apalagi Sica masih dirawat dirumah sakit. Sarah masih belum bangkit dari posisi menduduknya, tapi entah mengapa hati kami tidak tergerak sama sekali. Melihat situasi seperti ini, Kenji mengambil inisiatif untuk berdiri dan menemani Sarah.

“Teman-teman, aku percaya bahwa semua agama mengajarkan untuk saling memaafkan apabila kita melakukan kesalahan. Sarah telah menyadari apa yang dilakukannya selama ini salah, dan ia berjanji akan berubah. Aku mohon teman-teman bisa memaafkan Sarah.”

Kami tetap terdiam, walaupun Kenji yang bersuara. Mungkin beberapa dari kami mulai merasa kasihan melihat Sarah yang menunduk terus menerus. Aku yang begitu benci dengan perempuan satu ini pun merasa iba, karena aku bisa merasakan aura bersalah yang sangat besar dari dirinya. Tetap saja, aku belum bisa memaafkannya secepat ini.

“Sarah juga akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dengan Sica. Ia berjanji akan menanggung semua biaya rumah sakit. Karena itu, aku mohon maafkan lah Sarah.”

Kali ini Kenji turut menundukkan tubuhnya. Beberapa terlihat sudah akan bersuara, namun tidak ada satupun yang mulai mengeluarkan suara. Biasanya Sica lah yang mengusai keadaan seperti ini, namun karena ia tidak ada di kelas, tidak ada yang berinisiatif untuk bersuara terlebih dahulu.

“Kalau kalian tidak memaafkan aku tidak apa-apa,” Sarah melanjutkan permintaan maafnya, ”tapi aku mohon biarkan aku tetap berada di kelas ini, biarkan aku membayar semua kesalahanku selama ini. Aku tidak mempersalahkan kalian tidak menganggap aku ada, tapi aku mohon diberi kesempatan.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sarah terduduk di lantai dan menangis dengan terisak. Akhirnya, Ve yang duduknya di belakang Kenji, berdiri dan menghampiri Sarah, lalu memeluknya. Satu per satu, teman-teman perempuan ikut maju menghampiri Sarah. Semua saling berpelukan dalam suasana haru. Sekilas aku bisa melihat untuk pertama kali Sarah tersenyum.

Sayangnya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang ganjil. Aku merasa cerita Kenji tadi terlalu dibuat-buat, seperti ada yang ditutup-tutupi. Aku melirik kearahnya, aneh, ia tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan apa yang telah diraihnya? Tampaknya aku harus menginterogasi Kenji untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.

***

“Sudah kubilang tadi pagi kan Le? Aku habis kecelakaan, dan Sarah monolongku. Apa ada yang kurang jelas?” jawab Kenji begitu aku menginterogasinya di rumahnya sendiri.

“Aku merasa ada yang aneh Kenji, tak bisa kupercaya sepenuhnya omonganmu. Pasti kau dianiaya Sarah, iya kan?” kataku terus menginterogasi Kenji.

“Astaga, kamu ini memang luar biasa keras kepala. Beri aku satu bukti bahwa aku telah mendapat siksaan dari Kenji.” jawabnya tenang.

Aku memang tidak memiliki bukti apa-apa tentang pendapatku ini. Hanya perasaan, dan perasaan itu dengan keras menolak jawaban Kenji. Aku berusaha berpikir keras untuk mendapatkan bukti. Kupejamkan mata, dan mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang ada sangkut pautnya dengan ini. Sayangnya, tidak ketemukan satupun kejadian yang bisa membuktikan Kenji berbohong.

“Aku tidak bohong Le.” kini justru matanya berputar-putar. Dari reaksinya sudah jelas, dia telah berbohong. Aku kecewa berat, dan segera berdiri dari tempat dudukku.

“Sudahlah jika kau memang tak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku paling benci dengan seorang pembohong. Selamat sore.” aku segera berjalan mendekati pintu, namun tangan Kenji menahan tanganku agar aku tak pergi.

“Baiklah Le, aku akan bercerita yang sebenarnya. Aku memang tak pandai berbohong, jadi wajar kamu menyadari kebohonganku. Duduklah dan aku akan ceritakan semua dengan sejujur-jujurnya, asalkan kamu tidak menceritakannya kepada yang lain.”

“Aku janji.”

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)

Published

on

By

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Malik

Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.

Malik adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.

Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa Malik adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap Malik seperti karakter Joker pada serial Batman.

Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata Malik memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua Leon dan Kenji!

Para Kakak Pembimbing OSIS

Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.

Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah Aan yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang ngelamak. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.

Rudi dan Sinta

Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan Rudi, lantas bertemu dengan Sinta di kantin.

Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.

Paman Anton

Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. Paman Anton merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.

Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi single parent. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.

Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, Bondan, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.

Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.

Penutup

Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?

Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal 3 Desember 2018. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 19 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi

Published

on

By

Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.

Andrea Putri Sudarwono

Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.

Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.

Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. Dea jago bermain basket dan memainkan drum.

Aqilla Sagita Danastri

Selanjutnya adalah Gita, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, Gita Gutawa. Akan tetapi, Gita yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.

Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter Gita yang bermain pada serial Cinta dan Rahasia yang diperankan oleh Taskya Namya, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.

Taskya Namya (media.iyaa.com)

Padahal, penulis menciptakan karakter Gita jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.

Gita adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, Gita adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.

Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.

Elvina Yurina Zefina

Yuri, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter Girls’ Generation yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.

Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)

Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang single parent yang memiliki usaha katering. Yuri kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.

Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.

Maroon Malvinanita

Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. Nita, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.

Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.

Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang Nita, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.

Verena Nur Izora

Nama Verena penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.

Verena, atau Rena, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.

Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. Rena juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada chapter 40.

Virginia Vanya Valora

Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, VVV Venlo, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.

VVV Venlo (youtube.com)

Vanya atau kerap dipanggil Ve (penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.

Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi

Published

on

By

Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.

Andra Putra Sudarwono

Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.

Inspirasi karakter ini datang dari Fred dan George Weasley dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.

via bookstr.com

Kurang lebih seperti itulah Andra (dan kini bersama Dea). Andra adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.

Nama Andra sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band Andra and the Backbone. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, Budi Sudarsono.

via indosport.com

Andra juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.

Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.

Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah Andra.

Andra memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.

Achmad Khrisna Subejo

Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama Bejo bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.

Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter Tenya Iida pada anime Boku No Hero Academia, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.

via http://bokunoheroacademia.wikia.com

Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).

Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.

Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang gentle dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.

Arjuna Wahyunara

Namanya terinspirasi dari chef Juna. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari Goo Ji-soo, salah satu peserta acara reality show Girls’ Generation and the Dangerous Boys.

via snsdkorean.com

Juna adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.

Apalagi, Juna adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.

Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan Juna, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.

Jean Xavier Pierre

Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.

Pierre penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, Pierre Bouvier, yang penulis ketahui dari video klip When I’m Gone. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan ide nama Sarah.

Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.

Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.

 

 

 

Kebayoran Lama, 5 November 2018

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan