Connect with us

Leon dan Kenji (Buku 1)

Chapter 7 Anak yang Bernasib Sama

Published

on

Keesokan hari aku berangkat dengan membawa segudang dendam dan kemarahan. Aku akan menghajar anak dungu bernama Kenji itu. Pasti sekarang dia sudah menyebarkan berita-berita tentang aib keluargaku. Mau ditaruh mana muka ini? Selama ini aku telah berusaha menyembunyikannya dari para tetanggaku dengan mengatakan bahwa ayah masih keluar kota, bukan ditinggal karena pergi dengan wanita lain. Kini akan bertambah banyak orang yang tahu karena dia. Aku benar-benar ingin menghajarnya hingga ia benar-benar terluka.

Tapi ini masih di lingkungan sekolah, pasti aku akan dipanggil BP lagi jika aku menghajarnya. Bukannya aku takut, tapi aku sangat benci dengan omelan-omelan tak penting yang hanya memekakkan telinga. Baik, jadi dia akan kucegat pulang sekolah, di tempat yang sepi, dan kuhajar sampai puas. Dalam batinku, sudah kuulang terus skenario ini, karena pikiranku sudah dipenuhi dengan balas dendam.

Aku melangkah acuh menuju kelasku. Aku menyiapkan mental untuk hinaan dan caci maki tentang keluargaku yang akan kuhadapi sesaat lagi. Namun bukannya hinaan yang kuterima, melainkan hadangan dari Andra dan Bejo. Mereka bukannya memasang wajah ingin menghina, tapi ingin menghajar.

“Apa yang kamu lakukan ke Kenji?” Andra bertanya kepadaku dengan tatapan mata yang menunjukkan permusuhan, tapi tak membuatku gentar sedikitpun.

“Bukan urusanmu, aku tak melakukan apapun.” jawabku dusta karena alasan yang sama dengan alasanku menunda untuk menghajar Kenji.

“Wajah Kenji memar, dan hanya ada satu kemungkinan. Kamu yang menghajarnya.” tambah Bejo.

“Sudah kukatakan aku tak tahu apa-apa.” jawabku dengan memandang penuh benci ke arah mereka.

“Rupanya kamu belum kapok ya dengan pelajaran kemarin. Mau minta tambah?”

Tiba-tiba Kenji keluar dari kelas. Memang, bekas memar kemarin masih jelas terlihat.

“Kalian ini kenapa sih? Sudah kubilang aku kemarin terjatuh, makanya aku memar. Mana mungkin kawan kita yang satu ini tega memukulku sampai seperti ini, iya kan?” terlihat Kenji bergetar ketika ia mengatakan hal ini. Nampaknya ia bukan tipe orang yang bisa berbohong.

Tampaknya Kenji tidak menyebarkan aib keluargaku, bahkan ia menutup-nutupi kenyataan bahwa kemarin aku menghajarnya. Kenapa ia rela melakukan itu semua? Mengapa ia membela aku setelah aku memperlakukannya semena-mena? Muncul rasa bersalah dalam diriku, namun aku tak ingin orang lain mengetahuinya. Tanpa berkata sedikit pun, aku masuk kelas meninggalkan mereka bertiga.

Terdengar suara yang terdengar pelan diiringi lirikan sinis terhadap diriku begitu aku memasuki kelas. Mungkin mereka semua berpikir bahwa aku menghajar Kenji, meskipun itu memang benar adanya. Akan tetapi, Kenji berusaha untuk menyakinkan mereka semua bahwa aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Jujur sebenarnya aku benci akan hal ini, dibela oleh orang yang kubenci. Untuk apa dia melakukan ini untukku? Mengapa dia membalas keburukanku dengan kebaikannya?

Lamunanku terpecah oleh kegaduhan di luar kelas. Semua anak menengok keluar untuk melihat apa yang terjadi, namun aku tetap kukuh di tempat dudukku. Tampaknya Andra kesal terhadap Kenji yang tampaknya menutup-nutupi kesalahanku, tapi Kenji juga tetap bersikukuh bahwa ia mendapatkan memar itu bukan karenaku. Hatiku yang sudah lama tak terpakai mulai bergerak pelan seperti bayi dalam kandungan, melihat banyaknya kebaikan yang Kenji berikan terhadap diriku. Aku berusaha menutupi perasaan bersalah ini dengan mencari-cari kesalahan Kenji, namun sampai seorang guru masuk, aku tidak dapat menemukan satu kesalahan pun.

***

Di saat istirahat, aku mendapatkan panggilan dari BP. Ada apa? Aku tidak melakukan apapun. Apakah idiot bersaudara itu telah melaporkan diriku? Kemungkinan yang sangat mungkin.

Namun aku tidak sendirian. Ternyata Andra dan Bejo juga ikut dipanggil. Tampaknya analisisku benar. Mungkin mereka dipanggil untuk dijadikan saksi. Sial, mungkin aku harus benar-benar meninggalkan sekolah ini.

“Silahkan duduk nak.” kata guru BP yang tempo hari memberi ancaman untuk mengeluarkan diriku. Guru ini melihatku dengan penuh kecemasan. Mungkin karena di tubuhku penuh dengan balutan perban.

“Ananda tahu mengapa kalian bertiga dipanggil kemari?” tambahnya.

Tidak ada jawaban. Tampaknya tidak ada yang mengapa dipanggil kemarin. Berarti analisisku salah besar.

“Saya mendapat laporan bahwa ananda Alexander Napoleon Caesar mendapat pengeroyokan dari Anda berdua bersama segerombolan anak kelas 12. Apakah benar?”

“Iya bu, kami mengakuinya dan siap menerima apapun hukumannya. Tapi kami juga memiliki alasan bu.”

Mereka berdua bercerita tentang keburukanku. Aku sesekali menyanggah pernyataan mereka yang menurutku tidak sesuai dengan fakta. Bu guru ini hanya mengangguk-anggukkan kepala dan bertanya jika ada yan kurang dipahami.

“Baiklah, supaya adil, kalian berdua ibu skors tiga hari. Untuk Alexander, karena ini bukan yang pertama kalinya, kamu ibu skors selama satu minggu. Selamat belajar di rumah.”

Aku tidak terlalu peduli dengan pemberian hukuman ini, karena hari ini diriku dilingkupi oleh rasa bersalah yang sangat besar terhadap Kenji. Entah sudah berapa lama aku tidak merasa seperti ini. Aku sangat diam hari ini, meskipun aku memang pendiam. Hatiku mulai bergerak-gerak memerintahkan diriku untuk meminta maaf ke Kenji, meskipun aku terlalu gengsi dan malu untuk menyatakan kesalahanku apalagi jika di hadapan banyak orang. Bagaimana jika aku membuntuti dia pulang, lalu meminta maaf di rumahnya? Aku rasa itu bisa kulakukan. Sebenarnya setan dalam hatiku terus membisiki agar aku tak perlu melakukan itu, karena toh pada akhirnya nanti lupa-lupa sendiri. Tapi ternyata Tuhan masih sayang kepadaku walaupun selama ini aku sudah melupakannya. Perlahan-lahan pikiran-pikiran setan tersebut lenyap, diganti dengan pikiran bersalah yang terus bergelanyut di pikiranku. Lalu kuputuskan, aku harus minta maaf karena aku salah. Aku harus mengakui kebenaran bahwa aku bersalah dan konsekuensinya adalah meminta maaf, meskipun selama ini aku sangat jarang sekali melakukannya.

Aku menjadi yang terakhir meninggalkan kelas. Dengan langkah ragu aku melangkahkan kaki untuk membuntuti Kenji ke rumahnya. Aku berusaha menjaga jarak dan tidak terlihat olehnya. Sekali-kali aku bersembunyi dibalik tiang listrik atau benda-benda lainnya yang ada di pinggir jalan. Aku merasa seperti detektif-detektif yang mengincar mangsanya secara diam-diam dan terselubung.

Sejenak ia berhenti di depan rumahku. Aku heran, mengapa ia bisa mengetahui rumahku? Sejak kapan ia tahu rumahku? Apakah sudah dari dulu? Apakah ia membuntuti diriku kemarin? Aku diam saja. Mungkin aku bisa menanyakannya nanti.

Kenji mengetuk pintu rumahku. Munculah Gisel. Wajahnya sudah kembali ceria seperti biasa. Aku tidak bisa mendengar percakapan yang mereka bicarakan. Jarakku dengan mereka terlalu jauh. Mungkin ini akan kutanyakan juga nanti.

Kenji bergerak keluar dari rumahku. Gisel menjadi lebih ceria hingga matanya berkaca-kaca. Entah mengapa, tapi kejadian ini semakin membuat kepercayaan diriku luntur.  Kemarin aku masih menjadi orang yang congkak luar biasa. Namun hanya dalam beberapa hari ia telah membuatku merasa menjadi orang paling rendah di dunia. Baru kali ini aku bertemu dengan anak sebaik itu, setulus itu, dan sepolos itu. Dalam hatiku masih bergejolak antara malu, rasa bersalah dan gengsi.

Kulanjutkan langkahku membuntutinya. Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 500 meter dari rumahku. Kulihat rumah Kenji yang ternyata begitu sederhana. Temboknya dari kayu, tak berpagar, tapi terlihat bersih. Rumput-rumput ilalang menjadi taman pribadi buat Kenji. Terdapat sepeda ontel tua di samping rumahnya.

Aku terdiam di depan rumah Kenji. Apa aku urungkan saja niat ini? Toh dia akan melupakan masalah ini. Untungnya, hati nurani terus mengajakku untuk bersikap ksatria untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sayangnya, kakiku membeku, tak bisa digerakkan, mengkhianati nuraniku.

Kebekuan kakiku mencair begitu ada seorang nenek berkacamata dan berambut afro menghampiri diriku.

“Ada apa nak, kok diam saja di depan rumah si Kenji? Mau masuk?” tanya nenek itu dengan lembut.

“Tidak apa-apa.” jawabku sama sekali tidak ramah. Tapi terlintas ide bahwa aku bisa mengorek informasi dari nenek ini.

“Kenji kalau di sini gimana nek?”

“Kenji? Kenji itu anaknya baik, lembut, humoris, ramah, dan suka menolong siapapun. Semua tetangganya menyukainya karena kebaikannya. Dia selalu tersenyum dan tertawa. Kasihan orang tuanya sudah meninggal.”

“Ke mana orang tuanya?”

“Sudah meninggal. Ibunya meninggal ketika melahirkan Kenji, sedangkan ayahnya meninggal karena kecelakaan sewaktu membawa kakak Kenji ke rumah sakit setelah kakaknya tidak sengaja menikam lehernya sendiri. Memang kakaknya sedikit kelainan mental.”

“Kapan kejadian itu?”

“Seminggu sebelum dia masuk SMA. Mentalnya benar-benar kuat. Meski mendapat cobaan berat, ia tetap bisa tersenyum dan berusaha bangkit dari kesedihannya.”

“Ini rumahnya sendiri?”

“Ini rumah kontrakan. Keluarga Yasuda mengeluarkan banyak biaya untuk mengobati kakaknya, sehingga mereka hanya bisa menyewa rumah sekecil ini. Kenji mendapat biaya hidup sebagai loper Koran. Untung sang bos Koran dengan suka rela memberinya gaji yang cukup untuk kebutuhannya sendiri. Dia menggunakan sepeda yang berada di samping rumahnya itu untuk mengantarkan koran setelah Shubuh. Selain itu, warga sini juga sering memberi bantuan kepada Kenji sebagai tanda terima kasih atas kebaikannya.”

Aku menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasihku kepada nenek itu. Nenek itu membalasnya dengan senyuman lembut sambil berlalu. Aku makin merasa bahwa aku bersalah, mungkin manusia paling bersalah di dunia ini. Mungkin aku pantas dikirimkan ke penjara Guantanamo di Kuba. Ia juga hidup menderita dalam kesendirian, mengapa ia bisa sebahagia itu?

Nyaliku semakin ciut untuk bertatap mata dengan Kenji. Syukurlah Tuhan senantiasa membimbingku di jalan yang benar.. Maka dengan tuntunan-Nya, aku melangkah tegap layaknya seorang lelaki sejati yang berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada anak yang bernasib sama denganku ini.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Karakter Lain (Terakhir)

Published

on

By

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari episode ektra novel Leon dan Keji. Di sini, penulis akan bercerita tentang karakter lain yang belum dijelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

Malik

Namanya penulis ambil dari musuh Yugi dari komik Yugioh (Marik jika dilihat dari animenya). Ia adalah kakak kelas Leon sekaligus mantan tetangganya. Ia juga bersekolah yang sama dengan Leon sejak SMP.

Malik adalah murid kesayangan guru dan idola banyak murid. Kemampuan otaknya yang cerdas, perilakunya yang santun, ditopang dengan paras yang rupawan membuatnya sering menjadi pusat perhatian.

Akan tetapi, Leon (dan Kenji) beranggapan bahwa semua itu hanyanya kamuflase semata. Di balik topeng ramahnya, Leon berasumsi bahwa Malik adalah orang yang licik dan egosentris. Mungkin Leon menganggap Malik seperti karakter Joker pada serial Batman.

Apakah dugaan Leon benar? Ataukah ternyata Malik memang benar-benar lain? Temukan jawabannya pada buku kedua Leon dan Kenji!

Para Kakak Pembimbing OSIS

Semua anggota OSIS yang penulis munculkan di novel ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Bahkan hingga namanya, walaupun tidak semua penulis ingat.

Dari semua anggota, yang paling menonjol adalah Aan yang pernah mengirim anggota gengnya untuk menghajar Leon karena sikapnya yang ngelamak. Ia juga tipikal orang pendendam dan suka tertawa di atas penderitaan orang-orang yang dibencinya.

Rudi dan Sinta

Keduanya adalah teman masa kecil Leon, yang satu teman SD dan yang satu lagi adalah teman bermain di masa kecilnya. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi ketika Leon mengikuti kelas ektrakulikuler, di mana ia bertemu dengan Rudi, lantas bertemu dengan Sinta di kantin.

Keduanya memiliki peran besar bagi Leon untuk mengetahui bahwa dirinya secara perlahan bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba memperbaiki hubungan dengan teman-temannya di masa lalu, sesuatu yang dulu terhalang karena kekangan ayahnya.

Paman Anton

Dia adalah adik dari ayah Leon yang sukses bekerja sebagai pengusaha. Meskipun bersaudara, ia memiliki kepribadian yang berbeda 180 derajat. Paman Anton merupakan pribadi yang begitu hangat dan sangat menyayangi keluarga.

Istrinya telah meninggal karena kecelakaan, membuatnya menjadi single parent. Berstatus duda kaya tidak lantas membuatnya menikah lagi. Ia begitu mencintai istrinya sehingga mengurungkan niat untuk menikah lagi.

Sisi buruknya, ia jadi begitu memanjakan anaknya, Bondan, yang belum pernah penulis tampilkan di buku pertama. Pada akhirnya, Bondan menjadi begitu sombong dan gemar memandang rendah orang lain, termasuk kedua sepupunya, Leon dan Gisel.

Namanya sendiri dapat begitu saja, mungkin terinspirasi dari nama tetangga penulis.

Penutup

Bagaimakah kelanjutan kehidupan sekolah Leon? Apakah semuanya berjalan lancar tanpa masalah? Apakah Leon berhasil memecahkan surat misterius yang ia temukan beserta sebuah kotak yang terkunci dengan kombinasi lima angka?

Semua akan terjawab pada novel Leon dan Kenji Buku 2 yang akan rilis pada tanggal 3 Desember 2018. Stay tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 19 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Perempuan Kelas Akselerasi

Published

on

By

Setelah para laki-laki, kini tiba saatnya bagi penulis untuk mendeskripsikan para perempuan lain penghuni kelas akselerasi selain Sica, Sarah, dan Rika. Seperti biasa, penulis akan menjelaskan darimana inspirasi nama mereka beserta karakteristik yang melekat pada mereka.

Andrea Putri Sudarwono

Sama seperti Rika, Andrea atau Dea merupakan karakter baru yang tidak ada di konsep awalnya. Dulu, penulis membuat seorang karakter wanita tomboy yang sama sekali tidak betah berada di kelas akselerasi karena paksaan orangtuanya.

Setelah menghilangkan David, pada akhirnya penulis memutuskan untuk mengubahnya menjadi saudara kembar Andra yang bernama Andrea (dulu bernama Arin). Sifat-sifat pada penokohan yang dulu penulis hilangkan, kecuali sifat tomboynya yang dipertahankan.

Karakternya kurang lebih sama seperti saudaranya. Ia lebih sering bermain bersama teman laki-laki berkat pengaruh Andra, sehingga tidak memiliki teman wanita yang dekat. Dea jago bermain basket dan memainkan drum.

Aqilla Sagita Danastri

Selanjutnya adalah Gita, yang namanya penulis ambil dari penyanyi favorit penulis ketika masa sekolah, Gita Gutawa. Akan tetapi, Gita yang satu ini tidak pandai menyanyi. Ia memiliki bakat menggambar yang luar biasa, mulai sketsa bangunan hingga sketsa wajah.

Tanpa disengaja, karakter ini mirip dengan karakter Gita yang bermain pada serial Cinta dan Rahasia yang diperankan oleh Taskya Namya, Kurang lebih, penulis membayangkan fisik Gita seperti dirinya.

Taskya Namya (media.iyaa.com)

Padahal, penulis menciptakan karakter Gita jauh sebelum serial tersebut tayang. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.

Gita adalah seorang perempuan hitam manis yang memiliki alis tebal dan cenderung mudah emosi, seperti yang ditunjukkan di awal cerita ketika ia melempar air ke wajah Leon. Akan tetapi, Gita adalah seseorang yang begitu peka terhadap sekitarnya.

Kepekaannya terbukti dengan beberapa kali bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Leon. Contohnya, ia tahu bahwa Leon menyukai Sica atau tahu kapan dirinya lebih baik diam ketika melihat suasana hati Leon sedang buruk.

Elvina Yurina Zefina

Yuri, mungkin dari namanya bisa ditebak, terinspirasi dari salah satu karakter Girls’ Generation yang bernama sama. Penulis ambil nama tersebut karena masih terdengar Indonesia.

Kwon Yuri (kpop.asiachan.com)

Ia adalah seorang perempuan yang memiliki masalah krisis kepercayaan diri. Ekonominya pas-pasan karena ibunya adalah seorang single parent yang memiliki usaha katering. Yuri kewalahan menghadapi ritme pelajaran di kelas akselerasi.

Untungnya, Kenji berinisiatif untuk mengadakan kelas tambahan sepulang sekolah, sehingga Yuri mampu mengejar ketertinggalannya. Terlebih lagi, semenjak itu ia menjadi lebih percaya diri, setidaknya di hadapan teman-teman kelas akselerasi.

Maroon Malvinanita

Karakter ini penulis bentuk sebagai wadah akan kesukaan penulis terhadap bahasa. Nita, yang namanya muncul begitu saja, adalah perempuan yang memiliki kelebihan dalam dunia bahasa.

Bahasa yang disukai oleh Nita bukanlah bahasa sastra seperti yang disukai oleh Rika, melainkan bahasa yang digunakan sehari-hari. Ketika masuk kelas akselerasi, ia sudah menguasai bahasa Inggris, Jepang, dan Prancis. Ia mulai mempelajari bahasa lainnya seperti Mandarin dan Belanda.

Pada buku pertama, belum terlalu terlihat bagaimana karakter seorang Nita, selain keingintahuannya yang besar akan bahasa.

Verena Nur Izora

Nama Verena penulis dapatkan sewaktu pesiapan ujian nasional SMA, ketika seorang gadis menjadi sampul buku latihan menghadapi Unas. Karena suka namanya, penulis memutuskan untuk menggunakan namanya untuk novel penulis.

Verena, atau Rena, adalah satu-satunya wanita yang berkerudung di kelas akselerasi. Ia adalah satu-satunya teman yang satu SMP dengan Leon di kelas.

Ia adalah seorang perempuan yang baik, hanya saja terkadang tidak pandai membaca situasi. Rena juga bisa berubah menjadi galak apabila melihat sesuatu yang salah, seperti yang digambarkan pada chapter 40.

Virginia Vanya Valora

Namanya yang berinisial VVV bukan terinspirasi dari klub bola asal Belanda, VVV Venlo, melainkan dari teman kuliah penulis yang memiliki inisial yang sama.

VVV Venlo (youtube.com)

Vanya atau kerap dipanggil Ve (penulis juga punya teman SMA yang panggilannya Ve) adalah seorang wanita yang paling gemuk di antara wanita-wanita lain yang cenderung bertubuh mungil.

Meskipun begitu, Ve merupakan anak yang berhati emas. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam. Baginya, berbuat baik adalah fokus hidupnya, sehingga cita-citanya adalah menjadi seorang guru di daerah terpencil.

 

 

Kebayoran Lama, 10 November 2018

Continue Reading

Leon dan Kenji (Buku 1)

Tentang Para Laki-Laki Kelas Akselerasi

Published

on

By

Selain Leon dan Kenji, terdapat empat laki-laki yang menghuni kelas akselerasi: Andra, Bejo, Juna, dan Pierre. Mereka berempat lebih sering berperan sebagai figuran, namun di beberapa bagian penulis tunjukkan karakteristik mereka.

Andra Putra Sudarwono

Dulu, pada konsep awalnya, si kembar Sudarwono bersaudara sama-sama laki-laki, Andra dan David. Tapi, sewaktu penulis meninjau ulang, ternyata komposisi laki-laki di kelas akselerasi ini terlalu banyak, sehingga penulis memutuskan untuk mengganti salah satunya dengan perempuan.

Inspirasi karakter ini datang dari Fred dan George Weasley dari novel Harry Potter. Penulis menyukai karakter mereka yang ceria, jahil, sering berbicara secara bergantian dengan saudaranya, dan selalu berpikiran positif.

via bookstr.com

Kurang lebih seperti itulah Andra (dan kini bersama Dea). Andra adalah laki-laki yang selalu nampak bersemangat. Ia selalu berusaha memberikan energi positifnya kepada semua orang.

Nama Andra sendiri (mungkin) penulis dapatkan dari band Andra and the Backbone. Penulis tidak terlalu ingat, namun untuk nama keluarganya, penulis pelesetkan dari nama stiker timnas Indonesia, Budi Sudarsono.

via indosport.com

Andra juga tidak segan berkonfrontasi dengan orang-orang yang ia anggap merusak suasana kelas. Hal ini ia tunjukkan pada bagian-bagian awal, ketika ia menantang Leon untuk berkelahi karena dianggap mengacau.

Ia juga tipe orang yang supel. Bahkan hanya dalam hitungan hari, ia sudah bisa menjalin hubungan dengan kakak kelasnya. Tidak muncul rasa canggung ketika ia berbicara dengan orang lain karena kepercayaan dirinya yang tinggi.

Akan tetapi, ia juga seorang pendendam. Pengeroyokan yang terjadi pada Leon ketika MOS adalah rencananya. Untungnya, sifat pendendamnya diimbangi dengan sifat pemaafnya. Memang kontradiktif, namun begitulah Andra.

Andra memiliki kecerdasan yang lumayan. Sayang, kecerdasan yang dimilikinya tidak ia gunakan di kelas. Hal ini menyebabkan ia harus turun ke kelas reguler bersama saudarinya.

Achmad Khrisna Subejo

Kalau yang satu ini, penulis lupa darimana inspirasinya. Mungkin, karena nama Bejo bernuansa pedesaan. Untuk nama tengahnya, terinspirasi dari salah satu tokoh pewayangan.

Sang ketua kelas akselerasi yang sangat bertanggungjawab dan melaksanakan tugasnya dengan agak terlalu berlebihan. Mungkin mirip dengan karakter Tenya Iida pada anime Boku No Hero Academia, meskipun penulis membuat karakter ini sebelum menonton anime tersebut.

via http://bokunoheroacademia.wikia.com

Bejo adalah tipikal anak yang ingin membuktikan bahwa dirinya, meskipun anak desa, bisa sama dengan anak-anak yang tinggal di kota (meskipun tempat ia sekolah tidak termasuk kota).

Ia memiliki harga diri yang tinggi, Pembangkangan Leon di awal masa sekolah merupakan buktinya. Bejo merasa harga dirinya terluka karena tidak dihargai oleh teman satu kelasnya. Hal ini membuat ia menyimpan dendam, dan Bejo bukan tipe pemaaf seperti Andra.

Meskipun begitu, Bejo adalah laki-laki yang gentle dan pemberani. Ia tak segan mengakui kesalahannya ketika ia telah sadar, seperti ketika ia bertengkar dengan Leon sewaktu lomba futsal antar kelas.

Arjuna Wahyunara

Namanya terinspirasi dari chef Juna. Akan tetapi, karakternya yang lambat merespon penulis dapatkan dari Goo Ji-soo, salah satu peserta acara reality show Girls’ Generation and the Dangerous Boys.

via snsdkorean.com

Juna adalah anak yang cerdas, namun susah berkomunikasi karena otaknya butuh waktu sekitar 5 detik untuk menangkap informasi yang disampaikan secara lisan. Akan tetapi, ia memiliki daya ingat yang kuat ketika berhadapan dengan hal visual.

Apalagi, Juna adalah tipe orang yang pemalu dan minder, sehingga ia sangat jarang memulai percakapan dengan orang lain. Ia merasa dirinya akan membebani orang lain ketika ia berkomunikasi dengan mereka.

Untunglah Leon secara tidak sengaja berhasil menemukan metode untuk berinteraksi dengan Juna, sehingga mulai saat itu ia mulai bisa dekat dengan teman-teman yang lain, terutama Pierre.

Jean Xavier Pierre

Namanya memang norak, karena penulis masih duduk di bangku SMA ketika membuat nama ini. Namun penulis memutuskan untuk tidak mengubah namanya karena nama tersebut memiliki maknanya sendiri.

Pierre penulis dapatkan dari nama vokalis Simple Plan, Pierre Bouvier, yang penulis ketahui dari video klip When I’m Gone. Ternyata, setelah penulis tonton ulang video tersebut, terdapat nama Sarah. Mungkin justru dari inilah penulis mendapatkan ide nama Sarah.

Pierre merupakan tipe anak yang lebih senang berkutat dengan gawainya daripada dengan manusia. Dengan kacamatanya yang tebal, ia tak akan pernah merasa jemu mengutak-atik komputer maupun handphonenya.

Interaksinya dengan karakter utama hanya terjadi sekali ketika Leon membutuhkan saran untuk membeli handphone, sehingga karakteristik lainnya belum terlihat.

 

 

 

Kebayoran Lama, 5 November 2018

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan