Deeper Deeper: One Ok Rock

Setelah merasa kurang puas dengan album Ambition yang rilis pada tahun 2017 karena dianggap kurang keras, penulis menaruh harapan pada album baru One Ok Rock berjudul Eye of the Storm yang rilis pada tahun ini.

Sayangnya sama seperti album sebelumnya, album ini juga kurang menunjukkan kesan rock. Tidak ada lagu-lagu yang memiliki scream seperti yang ditunjukkan pada lagu-lagu seperti Cry Out dan One By One dari album 35XXXV.

Ada yang enak seperti Change yang rilis duluan ataupun Worst in Me yang liriknya seputar orang yang berhasil move on. Tapi tetap saja, kesan rock dari album ini sama sekali tak terasa.

Oleh karena itu, penulis memutuskan untuk mengeksplorasi album-album lama One Ok Rock yang jarang penulis dengarkan. Siapa yang menyangka, penulis menemukan banyak lagu yang membuat penulis melakukan headbang.

Jinsei X Boku (2013)

Album pertama yang penulis dalami adalah album Jinsei X Boku yang dirilis pada tahun 2013. Album ini terkenal karena lagu The Beginning yang terkenal.

Penulis sebenarnya sudah mengetahui cukup banyak lagu dari album ini seperti Be the LightEnding Story, hingga 69. Ketika didengarkan ulang, penulis menemukan dua lagu yang enaknya enggak ketulungan.

Dua lagu tersebut adalah Deeper Deeper dan Onion. Kedua lagu bertempo cepat dan memamerkan kekuatan suara Taka. Penulis tak terlalu paham makna lagunya. Maklum, penulis termasuk orang yang menikmati lagu karena musiknya, bukan liriknya.

Hingga sekarang, penulis tak pernah bosan mendengarkan kedua lagu tersebut. Ada pula lagu Juvenile yang dilengkapi dengan teriakan Taka.

Zankyo Reference (2011)

Album selanjutnya adalah Zankyo Reference yang sebelumnya belum pernah penulis dengarkan. Padahal, penulis sudah mendengarkan album yang lebih lama. Entah kenapa penulis skip dengan album yang satu ini.

Karena belum pernah mendengarkan sama sekali, penulis butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menemukan lagu yang cocok dengan selera penulis.

Pertama, menemukan lagu Pierces yang slow dan Re:Make yang lumayan nge-rock. Hanya saja, rasanya masih biasa-biasa saja dan belum memuaskan penulis.

Lantas, penulis menemukan lagu No Scared yang liar banget! Mulai dari awal sampai akhir, kita akan mendengar Taka berteriak-teriak. Penulis pernah menyanyi lagu ini ketika karaoke, dan itu membuat tenggorokan penulis sakit.

Tapi yang terbaik dari album ini menurut penulis adalah C.h.a.o.s.m.y.t.hLagu ini memang cenderung mellow walau tetap bertempo cepat. Akan tetapi, lagu ini berhasil membuat penulis merinding.

Penulis memang berkata tidak terlalu peduli dengan makna lagu, tapi tema persahabatan yang terkandung pada lagu ini berhasil menggugah hati penulis.

Niche Syndrome (2010) dan Album-Album Lainnya

Album Niche Syndrome merupakan album pertama dari One Ok Rock yang penulis miliki. Walaupun begitu, penulis tetap bisa menemukan lagu baru yang tak disadari ternyata sangat enak untuk didengarkan.

Lagu tersebut adalah Kanzen Kankaku Dreamer (完全感覚Dreameryang mungkin untuk sekarang menjadi lagu favorit penulis dari One Ok Rock. Penulis susah mendeskripsikan lagu ini, yang jelas mantul!

Penulis juga mencoba untuk mendengarkan album-album yang lebih lama. Penulis menikmati lagu Living Dolls dari album Kanjō Effect yang rilis pada tahun 2008.

Sayangnya, penulis tidak menemukan lagu lain yang bisa dinikmati dari dua album yang lebih lama, yakni Beam of Light (2008) dan Zeitakubyō (2007).

Evolusi One Ok Rock

Mendengarkan semua lagu One Ok Rock dari album pertama hingga yang terbaru membuat penulis bisa melihat evolusi band ini. Album-album awal masih cukup J-Rock seperti L’Arc~en~Ciel sehingga penulis kurang bisa menikmatinya.

Genre mereka mulai berubah pada album Niche Syndrome dan mulai rajin menyisipkan lirik-lirik berbahasa Inggris. Album ini hingga album Jinsei X Boku menurut penulis adalah era di mana One Ok Rock menemukan jati dirinya.

Mereka mulai merilis dua versi album (International dan Japanese version) pada 35XXXV. Genre mereka juga sedikit bergeser ke arah pop-rock, meskipun masih mempertahankan nuansa rock di beberapa lagu.

Pada album Ambitions dan Eye of the Storm, band ini telah berevolusi seutuhnya. Penulis menduga hal ini mereka lakukan agar lebih diterima di pasar internasional. Penulis harus mengucapkan tinggal kepada scream Taka dan dentuman musik yang serba cepat.

Evolusi seperti ini sebenarnya biasa saja, mengingat band seperti Linkin Park dan 30 Second to Mars pun melakukan hal yang sama. Tidak salah, namun penulis jadi merasa kehilangan.

Kalau kata teman penulis, musik rock memang perlahan mulai menghilang dan digantikan genre musik lain seperti EDM. Penulis akan mengulas masalah ini lebih dalam pada tulisan selanjutnya.

Penutup

Untuk pertama kalinya dalam playlist penulis, ada penyanyi atau band yang jumlah lagunya lebih banyak dari Linkin Park. Sekarang, ada 32 lagu One Ok Rock di playlist penulis, berbanding 22 lagu dari Linkin Park.

Hal ini menunjukkan bahwa selera musik yang dibawakan oleh band asal Jepang ini cocok dengan selera penulis, meskipun jumlah lagu tersebut juga dipengaruhi rasa bosan mendengarkan lagu Linkin Park (bayangkan, mulai SMP!).

Yang jelas semakin dalam penulis mendengarkan lagu-lagu One Ok Rock, semakin suka penulis terhadap grup band asal Jepang yang satu ini.

 

 

Kebayoran Lama, 24 November 2019, terinspirasi setelah menemukan banyak lagu One Ok Rock yang asyik di album-album lamanya

Foto: Roundhouse