Linkin Park dan Living Things

Saat kelas 11-12 SMA, selera musik Penulis mulai merambah ke dunia lain yang waktu itu sedang booming: K-Pop. Ada alasannya, namun rasanya tidak akan Penulis ceritakan di sini.

Karena genre musik tersebut benar-benar baru, maka Penulis banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan lagu-lagunya terutama dari SNSD dan Super Junior.

Akibatnya, Penulis sampai tidak menyadari kalau Linkin Park mengeluarkan album baru!

Album dengan Jarak Terpendek

Penulis pertama kali mengetahui kalau Linkin Park mengeluarkan album baru adalah dari tetangga. Katanya, Linkin Park punya single baru yang berjudul Burn It Down.

Waktu itu Penulis tidak percaya dan mengatakan kalau itu merupakan lagu dari Avenged Sevefold. Ketika dicek, ternyata memang benar kalau Linkin Park baru merilis album baru berjudul Living Things.

Hal ini memang sangat mengejutkan Penulis karena jarak album ini dengan album sebelumnya, A Thousand Suns, hanya 2 tahun. Bisa dibilang, ini merupakan rekor tercepat.

Sebagai perbandingan, jarak antara Hybrid Theory dan Meteora adalah 3 tahun. Jarak Meteora dan Minutes to Midnight adalah 4 tahun. Minutes to Midnight ke A Thousand Suns juga 3 tahun.

Oleh karena itu, di tahun 2012 Penulis sama sekali tidak menyangka kalau band ini akan merilis album baru mereka. Meskipun sedang menggandrungi K-Pop, album baru Linkin Park adalah sesuatu yang wajib didengarkan.

Lagu-Lagu Living Things

Living Things berisikan 12 lagu dan terdengar “normal” jika dibandingkan dengan album sebelumnya, A Thousand Suns. Linkin Park mengatakan kalau album ini menggabungkan unsur-unsur yang ada di empat album sebelumnya.

Album dibuka dengan lagu Lost in the Echo yang menggabungkan rap Mike Shinoda dan vokal Chester di bagian reff. Bisa dibilang, inilah formula standar untuk lagu-lagu Linkin Park.

Selanjutnya ada lagu In My Remains yang cukup Penulis sukai. Musiknya enak, suara Chester terdengar sangat merdu dan powerful, suara Mike di bridging berhasil membuat Penulis merinding ketika mendengarkannya.

Single pertama dari album ini adalah Burn It Down yang video klipnya terlihat seperti dari film Transformers dan banyak adegan slow-motion. Sayangnya, Penulis kurang menyukai lagu ini.

Lagu berikutnya, Lies Greed Miserybaru Penulis sangat sukai. Meskipun terdengar sangat elektronik dan hip-hop, lagu ini terasa sangat enak dan keras untuk didengarkan.

Dua pertiga lagu didominasi oleh rap dari Mike, sedangkan sepertiganya lagi kita akan mendengarkan teriakan Chester yang sangat kuat sampai akhir lagu.

Penulis kurang menyukai lagu I’ll Be Gone dan hanya memberikannya bintang dua di iTunes. Penulis sangat jarang memberikan lagu Linkin Park dengan bintang serendah itu.

Sebaliknya, lagu Castle of Glass menjadi lagu favorit Penulis di album ini. Gimana ya, sangat susah untuk mendeskripsikan lagu yang satu ini.

Diawali dengan suara sample yang sangat catchy, kita akan mendengarkan suara Mike yang disambung dengan suara Chester di bagian reff. Meskipun terdengar lembut, lagu ini mampu menyayat hati.

Konsep dari video klipnya sendiri sangat Penulis sukai, di mana ada cuplikan game Medal of Honor: Warfighter. Lagu ini memang menjadi soundtrack dari game tersebut.

Tidak hanya lagu Lies Greed Mesery, lagu Victimized juga sangat keras. Durasi lagunya di bawah 3 menit, membuat lagu ini terdengar sangat intens dan padat. Skin to Bone terdengar aneh, sehingga Penulis kurang menyukainya.

Kalau lagu Until It Breaks yang bernuansa hip-hop cukup Penulis sukai. Lagunya terasa seperti lagu When They Come for Me di album A Thousand Suns.

Selanjutnya adalah Tinfoil yang merupakan interlude dari lagu terakhir, Powerless. Lagu ini menjadi salah satu soundtrack film Abraham Lincoln: Vampire Hunter.

Lirik lagu ini terasa dalam dan memilukan karena menunjukkan ketidakberdayaan kita.  Oleh karena itu, lagu ini menjadi favorit Penulis lainnya dari album ini.

Penutup

Setelah melakukan dua eksperimen di album Minutes to Midnight dan A Thousand Suns, Linkin Park merasa menemukan zona nyaman baru mereka sehingga terciptalah album ini.

Album ini memang terdengar segar, namun tidak meninggalkan identitas Linkin Park yang selama ini dikenal oleh publik. Sayangnya, suara gesekan turntables sudah tidak terdengar lagi, mungkin sudah dianggap ketinggalan zaman.

Jika disimpulkan, album ini masih mengusung genre alternative rock, electronic rock, dan rap rock. Genre-genre tersebut sudah lama identik dengan Linkin Park sehingga Penulis lumayan menyukai lagu-lagu yang ada di album ini.

Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Penulis akhirnya memasang mata agar tidak ketinggalan album barunya. Benar saja, dua tahun kemudian, Linkin Park kembali merilis albumnya yang paling rusuh!

Album selanjutnya, The Hunting Party. Stay Tuned!

 

 

Kebayoran Lama, 12 April 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon