Linkin Park dan One More Light

Pada akhirnya Penulis sampai di album Linkin Park yang terakhir, One More Light. Album ini rilis pada tahun 2017, tak lama setelah Penulis wisuda dari kampusnya.

Penulis telah menantikan album ini sejak 2016. Setelah penantian yang panjang, akhirnya album ini rilis tanggal 19 Mei. Ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya, yang muncul di benak Penulis adalah “kok gini?”.

Album Pop Linkin Park?

Pikiran tersebut muncul sejak Penulis mendengar single pertamanya yang berjudul Heavy. Selain karena genrenya yang cenderung pop, untuk pertama kalinya Linkin Park menggandeng penyanyi perempuan sebagai teman duet, Kiiara.

Chester dan Kiiara (Just Jared)

Bukannya tidak enak. Penulis bisa menikmati lagunya, apalagi makna liriknya yang cukup dalam. Hanya saja, rasanya ini bukan seperti lagu-lagu Linkin Park seperti biasanya, apalagi setelah tiga tahun lalu mereka merilis album The Hunting Party.

Setelah albumnya yang berisi sepuluh lagu rilis, Penulis mendengarkan baik-baik lagu demi lagunya. Album ini benar-benar berbeda, sama sekali tidak terasa nuansa rock-nya! Bahkan Chester sama sekali tidak mengeluarkan screaming andalannya.

Awalnya Penulis menganggap hal tersebut terjadi karena usianya yang sudah mulai menua, sehingga tidak disarankan untuk berteriak. Tetapi ketika menonton video konsernya, ia tetap melakukan screaming seperti biasa.

Artinya, sekali lagi Linkin Park berusaha melakukan eksperimen ekstrem seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, Penulis pribadi merasa eksperimen kali ini sudah terlalu jauh. Mereka meninggalkan genre alternative/rap/electric rock dan memilih untuk membuat album pop.

Selain itu, untuk pertama kalinya Linkin Park menggunakan salah satu judul lagu sebagai judul album dan tidak ada kesinambungan antar lagunya seperti biasanya.

Lagu-Lagu One More Light

Album dibuka dengan lagu Nobody Can Save Me. Bisa dibilang, peletakkan lagu ini di awal album menjadi penanda seperti apa album ini akan terdengar. Enak sih, cuma sedikit membosankan.

Selanjutnya adalah satu-satunya lagu di mana Mike Shinoda melakukan rap, Good Goodbye. Pada lagu ini, Linkin Park menggandeng rapper Pusha T dan Stormzy. Mike hanya mengisi rap di bagian pertama lagu.

Bisa dibilang, Talking to Myself menjadi lagu terkeras di album ini. Tidak ada teriakan, namun vokal Chester terasa kuat. Perilisan video klipnya bersamaan dengan ditemukannya Chester bunuh diri, di mana isinya merupakan berbagai aktivitas Linkin Park.

Album berlanjut dengan lagu Battle Symphony yang kalau tidak salah menjadi single kedua lagu ini. Penulis ingat ketika konser untuk memperingati kematian Chester, Mr. Han melakukan kesalahan hingga ditegur oleh Mike.

Lagu Invisible secara penuh dinyanyikan oleh Mike, mirip dengan lagu In Between di album Minutes to Midnight. Hanya saja, lagu ini lebih cocok untuk berada di album Fort Minor atau Mike Shinoda sendiri.

Single pertama dari album ini, Heavy, menjadi trek keenam. Dibandingkan lagu lainnya, lagu ini masih bisa Penulis nikmati karena dentuman drum yang ada di bagian 1/4 lagu terakhir.

Sorry for Now mungkin terdengar aneh karena Mike menjadi vokalis utama, sedangkan Chester hanya mengisi bagian bridge dan backing voval-nya. Halfway Right juga terdengar seperti lagu-lagu pop Linkin Park lainnya, bahkan dianggap sedikit cengeng.

Judul utama album ini diambil dari lagu kesembilan, One More Light. Lagunya sangat terasa sendu dan menyedihkan. Pada akhirnya, lagu ini sering dihubungkan dengan kepergian Chester yang tragis. Album ditutup dengan lagu akustik berjudul Sharp Edges.

Pembaca bisa lihat, Penulis tidak bisa banyak berkomentar mengenai lagu-lagu yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukkan kalau Penulis tidak bisa terlalu memahami album ini.

Penutup

Tidak ada teriakan, tidak ada suara gitar yang berat, rap yang sangat sedikit, tak ada lagi gesekan turntables. Banyak hal yang awalnya membuat Penulis merasa tidak terlalu suka dengan album ini.

Penulis tidak sendirian. Banyak fans yang merasakan hal yang sama. Bahkan, banyak kritikus musik yang habis-habisan memberi respon negatif ke album ini hingga membuat Chester marah.

Siapa yang menyangka kalau ternyata album ini menjadi album terakhir dari Linkin Park. Sang vokalis, Chester Bennington, memutuskan untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menggantung lehernya, menyisakan duka mendalam bagi para penggemarnya termasuk Penulis.

Penulis tidak akan lagi membaca berita Linkin Park akan mengeluarkan album baru. Kalaupun pada akhirnya band merekrut vokalis baru, Penulis tidak bisa menerimanya sebagai Linkin Park.

Meskipun begitu, sampai kapanpun Linkin Park akan tetap menjadi band nomor satu di hati Penulis. Sampai kapanpun.

Seri artikel album Linkin Park, selesai.

 

 

Kebayoran Lama, 10 Mei 2020, terinspirasi karena ingin menulis serial artikel tentang Linkin Park

Foto: Amazon