Setelah Menonton 212: The Power of Love

Berhubung punya sisa saldo di aplikasi M-Tix, penulis memutuskan untuk menggunakannya di Jakarta. Film yang penulis pilih adalah 212: The Power of Love yang menceritakan tentang aksi damai yang dilakukan untuk menuntut pejabat negara yang telah melakukan penistaan agama.

Ini adalah film ke enam yang penulis tonton tahun ini. Benar-benar sebuah rekor!

Ketika penulis mencari infomasi di mana film tersebut diputar, hanya ada tiga bioskop yang memutarnya (dan itupun bioskop-bioskop kecil). Penulis memutuskan untuk menonton di Blok M Square karena letaknya dekat dengan tempat penulis menjalani training pertama sebagai volunteer Asian Games.

Lantas, bagaimana dengan isi filmnya? Penulis sangat merekomendasikannya, baik muslim maupun non muslim.

Walaupun mengangkat tema yang berbau politik, nyatanya pada film tersebut hanya sedikit sekali menyinggung hal tersebut. Lebih banyak mengangkat tema keluarga menurut penulis.

Tokoh utama Rahmat diperankan oleh Fauzi Baadila, yang dapat memerankan sosok muslim yang membenci Islam. Sebagai seorang jurnalis lulusan Harvard, ia kerap menulis hal-hal negatif tentang Islam, seperti mengecap Islam radikal dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Sepanjang film, ia akan terus menentang keinginan ayahnya, seorang ulama dari Ciamis, untuk tidak ikut aksi 212.

Pada awalnya, penulis agak merasa skeptis setelah mendengar judul filmnya. The Power of Love, kok mirip sama lagu-lagumya Kenny G. Setelah menonton, barulah penulis memahami alasannya. Selain cinta dalam lingkup keluarga, sutradara ingin menyampaikan bahwa hanya kekuatan cintalah yang membuat jutaan orang dapat berkumpul di Monas, sesuatu yang tidak bisa disamai oleh partai politik manapun. Hanya saja, menurut penulis lebih baik menggunakan judul 212: Kekuatan Cinta.

Memang, beberapa tokoh nampak kurang natural dalam berakting. Kaku kaku gimana gitu, meskipun tidak terlalu mempengaruhi isi film tersebut. Beberapa artis juga turut menjadi figuran, seperti Dimas Seto dan Tommy Kurniawan.

Kesimpulan, film ini layak untuk ditonton oleh semua kalangan. Banyak sekali nilai-nilai yang dapat dipetik hikmahnya, yang tentunya dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Islam itu agama damai, bukan agama radikal. Yang radikal itu otak loe, sama gue, tapi gue radikalis romantis :).

 

 

Jelambar, 11 Mei 2018, setelah menonton film 212: The Power of Love

Sumber Foto: https://www.viva.co.id/indepth/fokus/1035021-212-the-power-of-love-tak-sesuai-ekspektasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.