Setelah Menonton NKCTHI (Bagian 2)

Tulisan ini melanjutkan tulisan sebelumnya terkait film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Jika sebuah film sampai membutuhkan dua tulisan di Whathefan, tandanya Penulis sangat menikmati film tersebut.

Pada bagian dua ini, Penulis akan menjelaskan tentang apakah film ini dapat related di dalam kehidupan kita dan bagaimana kesan Penulis setelah menonton film ini.

Related?

Kata teman-teman, film ini tidak akan related dengan kehidupan kita karena bercerita tentang keluarga kaya, berbeda dengan film Keluarga Cemara misalnya (walaupun di film tersebut awalnya mereka juga keluarga kaya).

Setelah menonton film ini, ternyata konflik yang ada di dalamnya tidak ada urusan dengan harta. Permasalahan yang terjadi di dalamnya bisa terjadi di keluarga mana pun.

Dari sudut pandang ayah misalnya. Setelah pernah kehilangan satu anaknya, ia menjadi sangat menjaga anaknya yang berhasil selamat, Awan.

Angkasa dan Adik-Adiknya (IMDb)

Ia memutuskan untuk menutupi kebenaran agar anak-anaknya yang belum mengerti tak perlu merasakan kehilangan, walaupun ia harus membuat anak pertamanya, Angkasa, memanggul beban berat sejak kecil.

(Sedikit trivia, Penulis juga memiliki seorang adik perempuan kelahiran 1996 yang juga meninggal setelah dilahirkan)

Dari sudut pandang Aurora, merasa tidak dianggap di dalam keluarga lumrah terjadi. Ayahnya dan Angkasa terlihat terlalu memberi perhatian kepada adiknya, membuatnya merasa dikucilkan.

Tidak hanya anak tengah, kasus ini bisa terjadi pada siapapun dan tidak memandang urutan kelahiran. Misal, anak tunggal yang tiba-tiba memiliki adik, biasanya akan merasa seperti ini.

Memaafkan Ayah (IMDb)

Hidup dengan kontrol orang tua hingga merasa tak pernah punya pilihan dirasakan oleh si bungsu, Awan. Trauma yang dimiliki oleh ayahnya membuatnya harus menerima pengekangan, bahkan setelah ia sudah bekerja.

Jika ditarik kesimpulan, semua permasalahan yang terjadi diakibatkan oleh sebuah rahasia besar yang berusaha untuk ditutupi selama bertahun-tahun.

Seperti kata orang, serapi-rapinya kebohongan pada akhirnya akan terbongkar juga. Inilah pesan moral utama yang Penulis tangkap dari film ini.

Kesan Setelah Menonton NKCTHI

Sebelum nonton, Penulis sama sekali tidak tahu akan seperti apa cerita dari film ini. Nonton trailer-nya di YouTube saja belum pernah dan tak pernah terbesit di pikiran untuk melakukannya.

Apa yang Penulis tahu adalah film ini diangkat dari sebuah buku berjudul sama karya Marchella FP. Masalahnya, Penulis sama sekali tidak pernah minat untuk membeli bukunya karena isinya yang relatif sedikit (satu kalimat bisa memakan satu halaman berwarna-warni).

Buku NKCTHI (Blibli.com)

Karena itu, Penulis sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana sebuah buku seperti itu akan diangkat menjadi sebuah film. Ternyata, hasilnya di atas ekspetasi.

Bagi Penulis, dosis drama yang ada di dalam film ini terasa pas. Tidak kekurangan, tidak juga berlebihan. Adegan-adegannya terasa natural dan tidak terasa lebay seperti sinetron.

Sepanjang film, Penulis berusaha menemukan plot holes dan gagal melakukannya. Adegan tiap adegannya terasa runtut dan semua kejadian memiliki alasan mengapa harus terjadi.

Ayah dan Ibu Ketika Muda (IMDb)

Film ini bergerak maju mundur, di mana ayah dan ibu versi muda diperankan oleh Oka Antara dan Niken Anjani. Setiap ada sebuah kejadian di masa kini, akan terlihat flash back sekilas yang seolah menjelaskan mengapa itu bisa terjadi.

Eksekusi yang bagus dan akting para pemerannya menjadi nilai tambah dari film ini. Pesan moral yang dimiliki juga dapat banget, setidaknya untuk Penulis.

Yang jelas, film ini membuat Penulis menjadi semakin bersemangat untuk menonton film-film Indonesia di bioskop. Yah, kecuali film yang bergenre horor.

 

 

Kebayoran Lama, 19 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Foto: IMDb