Setelah Menonton Si Juki The Movie

Dari awal, saya memang niatkan menonton film ini karena saya adalah salah satu pembaca serial Juki (meskipun hanya di Webtoon) dan saya ikut merasa bangga karena komik karya anak bangsa dapat diangkat ke layar lebar. Yang lebih menarik perhatian saya, dubber-nya diisi oleh artis-artis top seperti Bunga Citra Lestari, Indro Warkop, Panji Pragiwasono dan masih banyak lainnya. Selain itu, adik saya yang sudah menonton duluan merasa prihatin karena sepinya penonton, padahal menurutnya film Juki lumayan bagus.

Hari ini, Rabu, 3 Januari 2018, saya memutuskan berangkat untuk menonton Si Juki The Movie. Dan dari awal saya sudah mendapat feeling kalau sinemanya nanti bakalan sepi. Karena sendirian, saya jadi bisa mengamati orang lain (bukan menguping) dan benar saja, yang dibicarakan kalau tidak Ayat-Ayat Cinta 2 (yang ada Chelsea Islannya), Star Wars, Jumanji atau Starla-Starla itu. Tidak ada satupun yang membicarakan Juki.

Ketika antri tiket, dari 3 booth yang ada, tidak ada satupun yang memesan tiket untuk Si Juki. Yang dipesan film-film lain yang saya sebutkan di atas. Ketika memilih kursi pun, saya bisa dikatakan punya wewenang untuk duduk dimanapun karena memang hampir kosong sama sekali!

Setelah pemeriksaan tiket, saya masuk di sinema 2, taraaa! Sepi sekali, tidak ada satu orang pun yang ada di ruangan. Saya sampai takut salah ruangan, meskipun saya sudah mengeceknya berkali-kali. Mungkin saja saya datang terlalu awal, sehingga penonton lain belum datang. Maka saya menghabiskan waktu dengan membaca komik Si Juki yang berjudul #BERANIBEDA yang saya beli sebelum ke bioskop. Benar saja, akhirnya satu persatu penonton masuk ke ruangan (rata-rata orangtua yang menemani anaknya).

Jujur saya cukup merasa terhibur dengan film ini, meskipun memang masih banyak ruang untuk perbaikan. Tapi untuk edisi perdana sebuah komik yang diangkat menjadi film (mohon maaf jika saya salah) ini sudah sangat layak untuk ditonton. Saya tidak merasa rugi telah menghabiskan uang sebesar Rp 30.000 untuk menonton sebuah “kartun”. Sebagai pembaca komiknya, saya merasa filmnya sudah berhasil menganimasikan bentuk statisnya.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka menonton film. Ini mungkin pertama kali saya nonton di bioskop semenjak saya menjadi sarjana. Alasan saya “rela” melakukan ini adalah sebagai bentuk apresiasi kepada karya insan kreatif yang dimiliki Indonesia, dan saya berharap film ini mampu menjadi pionir untuk komik-komik lainnya tayang di bioskop maupun serial televisi.

Masalahnya, tidak semua berpikir seperti saya atau penonton Si Juki lainnya.

Sepengetahuan saya, beberapa orang sudah skeptis duluan terhadap film ini.

“Animasinya payah.”

“Dubbingnya gak pas.”

“Alur ceritanya mudah ketebak.”

Saya pun hanya bisa garuk-garuk kepala dengan pemikiran seperti ini. Mas-mas dan mbak-mbak, semua itu memiliki awalan. Hidup pun berawal dari lahir. Wajarlah jika di awal masih banyak kekurangan sana-sini, kan masih pertama. Kalau kita support terus dengan cara menontonnya secara legal, ke depannya saya yakin film animasi Indonesia akan semakin hebat. Jangan mau serba instan, maunya film yang langsung sempurna. Selalu dibandingkan dengan animasi dari luar. Haloo, mereka udah berkecimpung lebih lama di dunia peranimasian, jadi wajar dong kalau mereka lebih bagus. Kita ini masih baru merintis, karena itu ayo dukung mereka agar terus berkarya. Kalau perlu, nanti semua komik Indonesia ada serial kartunnya, supaya adik-adik kita bisa menikmati kebahagiaan anak generasi 90an di Minggu pagi.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang yang berkonstribusi atas kelahiran film animasi Si Juki: Panitia Hari Akhir ini. Besar harapan saya akan ada film kedua, ketiga, dan seterusnya. Terima kasih, dan terus berkarya! Semoga kelak saya pun bisa berkarya seperti kalian.

 

Lawang, 3 Januari 2018, setelah prihatin dengan jumlah penonton yang hanya 1/4 dari kapasitas ruangan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.