Banjir Jakarta Salah Siapa?

Indonesia tengah dikepung banjir di berbagai daerah. Walaupun yang sering disorot hanya Jakarta, sebenarnya ada banyak titik lain yang juga tidak kalah parah.

Kita, seperti biasa, berlomba-lomba mencari kambing hitam yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Kita seolah-olah memiliki pendapat yang pasti benar, sama seperti era Pilpres kemarin.

Di sini, Penulis hanya akan menyoroti banjir Jakarta sebagai contoh. Selain karena paling sering diberitakan oleh media, kita juga terlihat sering ribut membahasnya.

Banjir Jakarta Salah Siapa?

Siapa yang paling sering disorot karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas “tenggelamnya” Jakarta? Siapa lagi kalau bukan gubernurnya.

Gubernur dan Banjir (RMOL Jakarta)

Banyak pihak, termasuk lawan politik, menudingnya tidak becus dan tidak serius dalam mengatasi masalah banjir. Hitung saja sudah berapa kali Jakarta banjir dalam tahun 2020.

Mereka pun membandingkannya kinerja gubernur yang sekarang dengan gubernur sebelumnya. Disebutkan beberapa kebijakan lama yang terlihat tidak diteruskan pada kepemimpinan yang sekarang.

Kebijakan-kebijakan yang diambil gubernur untuk mengatasi banjir dianggap tidak solutif. Toa banjir yang anggarannya mencapai milyaran rupiah kerap ditertawakan karena manfaatnya dirasa kurang.

Apalagi, jajaran Pemkot Jakarta juga ngotot untuk tetap menyelenggarakan ajang Formula E yang dijadwalkan pada pertengahan tahun. Gubernur dan jajarannya dianggap tidak peka atas penderitaan korban banjir, apalagi dengan tingginya anggaran yang dikeluarkan.

Proses Evakuasi (Dompet Dhuafa)

Tentu saja pendukung sang gubernur juga memiliki argumen pembelaan. Mereka mengatakan bahwa curah hujan tahun ini memang sangat tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga banjir menjadi tidak terhindarkan.

Mereka juga menilai gubernur dan Pemkot Jakarta telah berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalisir dampak banjir. Evakuasi dan penyaluran bantuan kepada korban juga terus dilakukan dengan bantuan berbagai pihak.

Ada yang melakukan serangan balik dengan menunjuk presiden. Rupanya masih banyak yang ingat, di tahun 2014 beliau pernah berkata bahwa penanganan banjir di Jakarta akan lebih mudah jika menjadi presiden.

Dituduh Jadi Penyebab Banjir (Voi.id)

Yang netral mengatakan bahwa banjir terjadi karena ulah masyarakatnya sendiri. Sebagai daerah dataran rendah, banyak titik rawa di Jakarta yang berfungsi sebagai wadah penampungan air.

Masalahnya, titik-titik tersebut telah beralih fungsi yang kebanyakan menjadi bangunan properti. Bisa dibayangkan, air yang kehilangan wadah pun harus mencari tempat lain dan menyerang pemukiman warga.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan buruk masyarakat kita yang masih kurang sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan. Para pengembang properti pun kerap mengabaikan hal ini.

Jadi, Salahnya Siapa?

Mungkin Gubernur dan para stafnya memang kurang maksimalkan dalam mencegah dan menangani banjir. Jika seperti itu, silakan dikritik sesuai dengan kapabilitas kita. Nanti ketika Pilgub, jangan pilih beliau lagi.

Lawan politik gubernur juga melihat adanya kesempatan untuk menyerang. Bahkan ada anggota partai baru yang mengaitkan hal ini dengan tidak pantasnya sang gubernur untuk menjadi calon presiden di Pemilu 2024 mendatang.

Pemerintah pusat juga terlihat tidak bisa berbuat banyak. Mungkin karena masih dipusingkan dengan berbagai hal lain, termasuk realisasi pemindahan ibu kota.

Ada juga yang bertindak anarki dengan melakukan perusakan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Alasannya, sebelum bangunan atau blok tersebut dibangun, daerah sekitarnya belum pernah banjir. Bentrokan yang diiringi teriakan rasis pun terjadi.

Bisa dilihat dari tulisan di atas, tidak akan ada habisnya jika kita mencari siapa yang salah dari masalah banjir yang melanda Jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Penutup

Menurut Penulis, daripada mencari siapa yang salah, lebih baik kita sama-sama mencari solusi dari permasalahan ini. Lakukan apa yang bisa kita lakukan sesuai kemampuan masing-masing.

Mungkin ada yang merasa bisa mengatasi banjir sehingga berambisi untuk masuk ke dalam pemerintahan. Sekadar mengumpulkan donasi untuk korban bencana pun termasuk berbuat sesuatu.

Penulis sendiri tidak bisa berbuat banyak. PalingĀ banterĀ cuma bisa berdoa dan menjaga lingkungan sekitarnya, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik.

Yang jelas, banjir di Jakarta dan beberapa tempat lainnya adalah masalah kita bersama. Sudah seharusnya kita saling bergandeng tangan untuk mengatasi masalah ini.

 

 

Kebayoran Lama, 29 Februari 2020, terinspirasi dari masifnya berita banjir Jakarta

Foto: Voi.id