Beda Dua Pemimpin BUMN

Beberapa hari terakhir ini cukup diramaikan dengan permasalahan Direktur Utama (Dirut) maskapai Garuda Indonesia, Ari Askhara. Penyebabnya, ia dicopot dari jabatannya oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Ada berita lain yang tidak kalah heboh, yakni dicopotnya Dirut dari TVRI, Helmy Yahya. Bedanya, ia diberhentikan oleh Dewas Pengawas, bukan Menteri BUMN.

Meskipun sama-sama dicopot secara mendadak dan menolak untuk diberhentikan, penulis menemukan adanya perbedaan yang cukup mencolok dari kedua pemimpin BUMN ini.

Ari Askhara dan Masalah Garuda Indonesia

Ari Askhara (Okezone Ekonomi)

Nama Ari Askhara menjadi trending pada beberapa waktu terakhir. Penyebabnya adalah jabatannya yang dicopot oleh Erick Thohir yang baru menjabat beberapa bulan.

Tentu saja ada alasan mengapa Ari sampai diberhentikan secara paksa. Ditemukan sejumlah masalah, di mana yang paling heboh adalah penyelundupan motor Harley.

Selain itu, Ari juga dituding harus bertanggung jawab atas laporan keuangan siluman pada tahun 2018 kemarin. Ada juga yang sempat viral ketika muncul larangan mengambil foto ataupun video di dalam kabin pesawat.

Ari dikabarkan menolak pencopotan tersebut dan bersikukuh bahwa dirinya tetap Dirut Garuda yang sah. Walaupun begitu, sudah terlihat banyak karyawan Garuda yang gembira dengan berita mundurnya Ari sebagai pemimpin mereka.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karangan bunga yang bisa dilihat di depan kantor Kementerian BUMN dan kantor Garuda Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa para karyawan sudah lama merasa resah atas kepemimpinan Ari.

Bahkan, industri pariwisata pun bertepuk tangan dengan dicopotnya Ari. Mereka berpendapat Garuda Indonesia di bawah pimpinan Ari sama sekali tidak memerhatikan industri pariwisata lokal.

Banyak yang berharap, dicopotnya Ari akan menjadi momentun Garuda Indonesia untuk mulai berbenah.

Helmy Yahya dan Prestasinya di TVRI

Helmy Yahya (Nusantaratv.com)

Penulis mengenal Helmy Yahya sebagai raja kuis di masa kecilnya. Setelah itu, penulis jarang mendengar kabarnya. Ternyata, beliau sudah memimpin TVRI sejak tahun 2017.

Di bawah komandonya, laporan keuangan TVRI berhasil meraih predikat WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan untuk pertama kalinya pada tahun 2018 silam. Ini menjadi tanda bahwa stasiun televisi nasional ini mulai bertransformasi.

Beberapa sentuhannya yang lain mulai dari mengubah logo TVRI hingga menyajikan tayangan-tayangan yang berkualitas, termasuk siaran sepak bola Premier League.

Sayangnya, prestasi tersebut seolah diabaikan karena Dewan Pengawas TVRI memutuskan untuk menghentikannya dari jabatan Dirut.

Awalnya, pemberhentian ini diumumkan tanpa kejelasan. Setelah itu, baru muncul lima poin yang menyebabkan Dewan memutuskan untuk mencopot Helmy.

Intinya, banyak keputusan yang tidak melibatkan Dewan Pengawas dan tidak mampunya Helmy mengelola anggaran yang berpengaruh kepada kondisi keuangan TVRI.

Pihak Kominfo hingga DPR memutuskan untuk turun tangan untuk menyelesaikan perkara ini. Apalagi, Helmy didukung oleh direksi-direksi yang lain.

Penutup

Sama-sama dicopot secara mendadak dengan berbagai alasan, respon publik kepada dua tokoh ini begitu berbeda. Hujatan menghampiri Ari, sedangkan dukungan datang kepada Helmy.

Untuk kasus Ari, kita bisa melihat banyaknya masalah yang timbul pada Garuda Indonesia. Wajar jika banyak karyawan dan masyarakat yang mendukung pencopotannya.

Di sisi lain, Helmy dianggap mampu memberikan TVRI wajah baru yang lebih segar dan menyenangkan untuk ditonton oleh masyarakat. Banyak yang berharap Helmy tetap menduduki jabatan Dirut dan bisa berdamai dengan pihak Dewan Pengawas.

Hingga penulis menulis tulisan ini, belum ada berita baru mengenai perkembangan kasus ini. Perlu diingat, BUMN merupakan salah satu pemasukan kas negara. Kalau bermasalah, pasti akan berpengaruh kepada kondisi ekonomi negara kita.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Desember 2019, terinspirasi setelah membaca banyak berita tentang kedua tokoh