Haruskah Kita Mengatakan Saya Pancasila?

Apakah memang harus berkata SAYA PANCASILA untuk menunjukkan kita sudah berperilaku seperti yang tertuang pada Pancasila? Bagaimana jika itu hanya lips service saja, atau yang lebih parah hanya latah meniru? Bukankah munafik namanya, jika perkataan dan kenyataannya berbeda. Mengaku Saya Pancasila, tapi tidak melaksanakan perintah Tuhan. Padahal sila 1 adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Lucu kan? Padahal terdapat 5 sila yang tertulis.
Karena itu saya tidak berani mengatakan Saya Pancasila dan memasangnya sebagai profile picture, karena saya tidak yakin saya sudah mengamalkan kelima sila tersebut. Tapi insyaAllah, saya akan berusaha untuk bertindak dan bertutur seperti yang diamanatkan oleh Pancasila. Tidak perlulah koar-koar saya Pancasila, yang penting realisasinya di kehidupan bernegara.
Semoga saja saya salah, orang-orang yang memasang profil picture Saya Pancasila, terutama para artis, benar-benar sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang agung. Bukan hanya sekedar berkata kosong, apalagi untuk menyerang kelompok-kelompok yang dituduh secara tidak bertanggungjawab sebagai kelompok anti Pancasila.

Tulisan ini akan semakin panjang jika mendebat apakah tanggal 1 Juni merupakan kelahiran Pancasila, mengingat teks yang terdapat pada Pancasila sekarang diresmikan pada tanggal 18 Agustus 1945, yang merupakam revisi dari Piagam Jakarta. Namun memang benar, jika pada tanggal 1 Juni, bung Karno menyampaikan ide Pancasila meskipun isinya berbeda dengan Pancasila sekarang. Muhammad Yamin dan beberapa tokoh pun menyampaikan idenya sebelum giliran bung Karno bicara. Mana yang benar? Terserah Anda, yang penting jangan merasa paling benar lalu menuduh orang lain salah. Katanya kita negara demokratis bukan? Maka hargailah pendapat orang lain.

Sekian, terima kasih
Lawang, 2 Juni 2017, ketika tiba-tiba banyak orang yang mengaku paling Pancasila

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.