Ironi Superhero Amerika

Penulis bukan penggemar film, tetapi penulis menyukai cerita superhero alias pahlawan super, bahkan sebelum Marvel menjadi bintang seperti sekarang. Batman dan Spiderman menjadi favorit penulis, karena ketika penulis masih kecil belum ada Ironman maupun Captain America.

Akan tetapi, terdapat dilema ketika penulis menyaksikan superhero tersebut di layar lebar. Superhero yang kerap kali (atau selalu?) berasal dari Amerika Serikat (AS) tersebut selalu menyelamatkan orang lain, bahkan Bumi sekalipun. Pesan yang disampaikan selalu “kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan”.

Yang menimbulkan dilema, apakah di dunia nyata AS benar-benar menjadi pahlawan seperti tokoh rekaannya?

Memang, dan nampaknya akan selalu, AS menempatkan dirinya di media sebagai “pihak yang baik” melawan “pihak yang jahat”. Lengkapnya, “pihak yang jahat karena memiliki ideologi yang berbeda dengan kami, dan mengancam cengkeraman ideologi kami di dunia”.

Itu bukan pendapat saya, melainkan William Blum, penulis buku Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan. AS akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hegemoninya di dunia.

Perang-perang atas nama kemanusiaan bisa dibilang omong kosong semata. Coba sebutkan, negara Timur Tengah mana yang hidup bahagia setelah AS menginvasi negara mereka dengan berbagai alasan.

Ambil contoh Libya, yang katanya AS menderita karena dipimpin diktaktor bernama Khadafi. Bagaimana kondisi Libya kini? Bisa searching di Google, namun secara singkat kondisi Libya sekarang “penak jaman e Khadafi toh”.

Seandainya saja AS benar-benar bisa menjadi pahlawan seperti superhero yang mereka ciptakan, betapa bahagainya dunia ini memiliki mereka.

 

 

Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi setelah menonton film Avengers: Infinity Wars

Sumber Foto: https://www.sideshowtoy.com/collectibles/marvel-captain-america-sideshow-collectibles-3005241/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.