Menjaga Jempol

Di era di mana manusia lebih banyak berinteraksi di dunia maya seperti sekarang, peran mulut sudah banyak digantikan oleh jempol. Komentar yang biasanya dilakukan dengan bersuara kini bisa dilakukan dalam sunyi melalui ketikan di layar ponsel.

Ada yang curhat yang diiringi sumpah serapah, entah apa tujuannya. Mencari perhatian? Bisa jadi. Atau bisa juga menyindir orang yang sedang disumpahinya? Mungkin.

Ada yang mengeluarkan pendapatnya terkait permasalahan bangsa, namun diikuti oleh caci maki. Elokkah sebuah opini harus dibawakan dengan emosional? Bukankah para pendiri bangsa telah mengajarkannya dengan cara santun?

Ada yang pasif tak banyak berkomentar, namun ikut menyebarkan kabar bohong tanpa mengklarifikasikannya terlebih dahulu. Apakah ia melakukannya agar bisa merasakan repotnya membalas chat satu persatu?

Apalagi menjelang tahun politik seperti ini. Masyarakat kita seolah semakin tak terkontrol dalam berkomentar maupun beropini. Dalil kebebasan berpendapat disalahartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan.

Mungkin hal tersebut dapat terjadi karena kita lupa, Tuhan pun bisa mengetahui apa yang kita ketikkan melalui jempol maupun jari lainnya. Malaikat akan mencatat apapun yang tertuang di internet, termasuk kemarahan dan fitnah.

Mungkin kita lupa bahwa apa yang kita tulis di komputer maupun telepon genggang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Malaikat tidak butuh peralatan canggih untuk menunjukkan jejak-jejak digital yang sudah kita hapus.

Mungkin kita tak sadar bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensinya sendiri. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Apabila kita menanam kebencian, itulah yang kelak akan kita petik, entah kapan.

Terkadang penulis membayangkan, bagaimana seandainya kolom komentar ditiadakan. Apakah negeri kita akan lebih damai karenanya? Ataukah sama saja?

Bagaimana seandainya jika kita tidak bisa mengeluarkan pendapat di media sosial? Seperti bertahun-tahun yang lalu sebelum ada Facebook, Twitter, Instagram, hingga Whatsapp. Opini hanya muncul di forum atau media cetak.

Apakah kita sudah lebih baik dalam beropini jika dibandingkan ketika rezim orde baru berkuasa? Apakah cita-cita reformasi benar-benar seperti kondisi sekarang ini?

Hanya berandai-andai pun percuma jika tidak ada aksi nyata yang dilakukan. Sebagai generasi yang sadar akan besarnya potensi terpecahbelahnya bangsa, kita harus bisa menjaga jempol kita dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan bisa melukai perasaan orang.

Lakukanlah dari diri sendiri, dari jempolmu sendiri, mulai sekarang dan seterusnya. Bijaklah dalam menggunakan berbagai kemudahan teknologi, jangan menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tercela.

 

 

Jelambar, 30 Oktober 2018, terinspirasi dari banyaknya komentar-komentar yang seharusnya tidak muncul di ruang publik

Photo by Katya Austin on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.