Perlukah Pencitraan?

Menjelang masa pemilu, istilah pencitraan kerap muncul untuk menuding para calon yang sedang “bermain peran” demi elektabilitas. Mereka sedang berupaya terlihat sebaik mungkin agar mendapatkan simpati dari para pemilih.

Apakah salah melakukan pencitraan? Yang jelas, hal tersebut banyak membuat beberapa netizen merasa terganggu karena merasa sedang melihat kebohongan. Para netizen ini menganggap semua hal baik yang dilakukan oleh seseorang hanya kepura-puraan semata, demi popularitas.

Yang menjadi masalah, tudingan pencitraan ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak didukungnya. Apabila yang melakukan adalah orang yang didukungnya, dengan gagah mereka membela bahwa hal tersebut bukan pencitraan.

Sekali lagi, fanatisme yang berlebihan terkadang membuat orang tidak bisa lagi memandang sesuatu dengan obyektif. Semua tergantung kepada subyek, mana yang didukung mana yang bukan.

Beberapa pencitraan yang dilakukan oleh para tokoh sebenarnya tidak perlu dicibir. Andai kata pencitraan tersebut bermanfaat bagi orang lain, ya biarkan orang tersebut melakukan pencitraan. Toh akan ada pihak-pihak yang merasakaan manfaat dari pencitraan tersebut.

Tentu orang-orang takut, jika seandainya orang yang melakukan pencitraan terpilih, segala kebaikan yang ia lakukan selama ini sirna begitu saja. Sama sekali tak ada jejak yang tersisa karena ambisinya telah tergapai. Orang-orang merasa bahwa mereka telah tertipu oleh pencitraan.

Lantas, apakah perlu pencitraan? Sebenarnya, bukan itu pertanyaan besarnya, melainkan apa yang disebut pencitraan? Apakah semua perbuatan baik yang ditunjukkan kepada publik merupakan pencitraan? Apakah segala keburukan yang ditutupi termasuk pencitraan?

Andai kita jujur kepada diri sendiri, sebenarnya setiap manusia selalu ingin mencitrakan dirinya sebagai orang yang baik-baik (bahkan penjahat ingin terlihat baik agar tidak dicurigai melakukan kejahatan). Rasanya wajar jika para tokoh ingin mencitrakan dirinya sebagai orang yang patut untuk diserahi amanah untuk memimpin negeri ini.

Pencitraan itu bukan masalah perlu atau tidaknya. Kita sebagai penonton pertandingan politik seharusnya tidak boleh menghakimi seseorang sesuai dengan interpretasi kita masing-masing.

Jangan asal menuduh orang melakukan pencitraan, siapa tahu ia benar-benar ikhlas melakukan kebaikan. Yang paling tahu tentang dirinya sendiri adalah orang tersebut dengan Tuhannya. Lantas mengapa kita bisa begitu mudah menuduh orang melakukan pencitraan?

 

 

Lawang, 15 Oktober 2018, terinspirasi dari banyaknya komentar seputar pencitraan para tokoh

Photo by Roberto Delgado Webb on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.