Politisasi Terorisme

Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja.

Berikut tweet dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi.

Tweet Ruhut Sitompul (www.twitter.com)

Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak jika mati-matian ingin mendukung Jokowi 2 periode, tapi memanfaatkan bom Surabaya untuk meraup simpati jelas merugikan bapak sendiri. Masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilah mana yang baik mana yang buruk.

Dari pihak oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon pun memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang pemerintahan. Berikut tweet dari Fahri Hamzah.

 

 

Tweet Fahri Hamzah (www.twitter.com)

Mungkin tweet tersebut merupakan kritikan bung Fahri terhadap pemerintah yang seringkali menyudutkan agama tertentu sehingga terciptalah iklim yang tidak kondusif antar umat beragama. Tetap saja, menyebutkan itu ketika suasana duka rasanya kurang bijak dan dapat menyakiti beberapa pihak.

Saling Lempar Tanggung Jawab

Lucunya, berbagai elemen yang ada di Indonesia saling melempar tudingan terkait penyebab terjadinya aksi teror tersebut. Beberapa menuduh DPR lama sekali menyelesaikan revisi UU Terorisme, tidak seperti RUU MD3 yang kilat.

Pihak DPR mengelak, dengan mengatakan bahwa pemerintah lah yang sering mengulur penyelesaian RUU Terorisme. Yasonna Laoly sebagai Menhunkam mengelak fakta tersebut dan balik menyalahkan DPR. Presiden Jokowi menyatakan bahwa akan membuat Perppu apabila hingga bulan Juni RUU Terorisme belum rampung juga.

Menurut penulis, revisi UU Terorisme bukan solusi dari permasalahan teror ini. Bukankah selama ini pihak kepolisian telah menangkap banyak sekali pelaku terorisme, termasuk bom panci yang sempat ramai. Lalu, mengapa revisi undang-undang yang disalahkan, jika dengan undang-undang yang lama bisa digunakan untuk sementara waktu.

Ada juga yang menyalahkan pihak polisi dan intelijen, kenapa bisa bobol berkali-kali dalam rentang waktu yang dekat? Bukankah biasanya mereka dapat meringkus terduga teroris dengan sigap? Apa karena sang teroris kali ini terlalu lihai sehingga dapat melewati celah-celah keamanan? Jelas, para aparat keamanan negara mendapatkan tekanan yang cukup tinggi dari masyarakat.

Rocky Gerung mengungkapkan permasalahan ini pada twitter-nya.

Tweet Rocky Gerung (www.twitter.com)

#KAMITIDAKTAKUT

Di luar mencari siapa yang salah, masyarakat menyatakan keberaniannya dengan menggunakan hashtag #kamitidaktakut. Tidak salah, namun apakah penggunaan hashtag di media sosial efektif menjadi solusi dari permasalahan yang ada? Bisa jadi, setidaknya hashtag tersebut digunakan untuk menguatkan satu sama lain.

Hanya saja, kita perlu mencari solusi yang lebih aplikatif di lapangan. Penulis sendiri belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini, mungkin hanya sekedar waspada dan segera melapor jika melihat orang yang mencurigakan.

Banyak yang berspekulasi bahwa rentetan kejadian ini memiliki sesuatu yang lebih besar daripada yang nampak di permukaan. Ada yang mengatakan pengalihan isu, ada yang mengatakan ingin mengadu domba, ada yang mengatakan penghancuran Islam dari dalam, macam-macam.

Semoga saja segala prasangka tersebut salah, meskipun kita harus tetap waspada.

 

 

Jelambar, 16 Mei 2018, setelah membaca tweet dari beberapa pejabat publik.

Sumber Foto: http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.