Connect with us

Produktivitas

Melepaskan Diri dari Cengkeraman Smartphone

Published

on

Apa yang kita lakukan ketika akan tidur? Apa yang pertama kita lakukan ketika bangun tidur? Apa yang kita lakukan ketika sedang berjalan ke sebuah tempat? Apa yang kita lakukan ketika merasa bosan? Apa yang kita lakukan ketika sedang berkumpul dengan teman?

Jawabannya mungkin akan sama: bermain smartphone. Entah mengencek pesan yang masuk, melihat linimasa media sosial terbaru, melihat video YouTube yang menarik, bermain game, dan masih banyak aktivitas lainnya.

Smartphone memang hadir dengan tujuan untuk memudahkan kita melakukan berbagai aktivitas. Berbagai aplikasi dan fitur yang ada di dalamnya sangat canggih dan mudah digunakan.

Konsep iPhone adalah membawa PC mereka (Mac) ke dalam genggaman penggunanya, sehingga pekerjaan yang dulunya hanya bisa dilakukan di komputer bisa dilakukan melalui ponsel. Merek lain pun memiliki konsep serupa.

Efek sampingnya, kita menjadi memiliki semacam ketergantungan kepadanya. Rasanya kita akan takut terlewatkan sesuatu jika sejenak saja tidak memeriksa smartphone.

Melepaskan Cengkeraman Smartphone

Penulis sudah menulis topik tentang istirahat dari media sosial beberapa kali di blog ini. Alasannya bukan karena prihatin melihat orang lain kecanduan, melainkan karena dirinya sendiri termasuk orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk scrolling medsos tanpa batas.

Oleh karena itu, Penulis banyak mengunduh aplikasi yang membantu detox seperti Quality Time ataupun Forest. Kedua aplikasi tersebut sangat membantu Penulis mengurangi ketergantungan.

Aplikasi Quality Time (QualityTime)

Hanya saja, ternyata bukan media sosial saja yang membuat kita betah berlama-lama di depan layar smartphone. Ada saja yang menarik untuk dilirik, mulai dari aplikasi belanja online, chat, hingga browser.

Artinya, tidak cukup untuk sekadar mengurangi waktu bermain media sosial. Ada banyak aktivitas lain yang bisa mengganggu fokus kita dan tanpa disadari beberapa jam telah terlewati.

Kita harus benar-benar berusaha melepaskan diri dari cengkeraman smarpthone yang terlalu menjerat. Jadikan smartphone sebagai alat komplementer, bukan bagian vital dari kehidupan.

Sebenarnya wajar jika kita bermain smartphone sambil rebahan setelah pulang sekolah ataupun kerja. Badan yang lelah karena digunakan seharian tentu membutuhkan istirahat, dan smartphone terlihat sebagai teman yang cocok untuk itu.

Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan juga tidak baik untuk berbagai alasan. Alasan kesehatan, terutama mata, menjadi salah satunya. Bahkan pengaruhnya bisa sampai memengaruhi kemampuan otak, terutama daya fokus.

Belum lagi kalau kita menggunakannya untuk melihat media sosial, lantas membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan kita. Mau tidak mau, hal tersebut akan menumbuhkan perasaan insecure.

Membiarkan Rasa Bosan Mengalir

Salah satu alasan terkuat mengapa kita begitu doyan di depan layar smartphone adalah karena tidak memiliki aktivitas lain. Ada juga alasan karena takut merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa.

Rasa Bosan (Pinterest)

Jawaban dari alasan yang pertama mungkin jelas, mencari aktivitas lain. Contohnya, Penulis menghabiskan waktu untuk menulis blog, menyelesaikan novel Leon dan Kenji, ataupun membaca buku.

Yang lain mungkin akan memilih untuk berolahraga, membersihkan rumah, menghadiri pengajian, belajar hal baru, dan lain sebagainya. Semua orang pasti memiliki caranya masing-masing.

Bagaimana dengan alasan yang kedua? Dari buku Desi Anwar berjudul Going Offline yang sedang Penulis baca, apa yang harus dilakukan ketika tidak melakukan apa-apa adalah menikmati momen tersebut

Mungkin awalnya kita akan merasa bosan, namun perlahan otak akan menemukan sesuatu untuk kita pikirkan atau renungkan. Di dalam diam, otak akan mengembara untuk mencari topik yang mampu menghindarkan kita dari kebosanan.

Ketika sedang banyak pikiran, Penulis kadang akan berjalan kaki untuk menjernihkan pikiran tersebut. Penulis meninggalkan smartphone di kamar kos begitu saja agar tidak ada distraksi.

Dengan demikian, Penulis bisa fokus ke diri sendiri dan permasalahan yang sedang dihadapi.

Penutup

Ketika kecil, Penulis membaca komik biografi Thomas Alva Edison. Pada salah satu adegan, ada yang bertanya mengapa ia hanya tidur sebentar (rata-rata 4 jam sehari). Jawaban Edison kurang lebih seperti ini:

Hidup ini singkat, jadi harus diisi dengan sebanyak mungkin hal yang bermanfaat

Kalimat ini mungkin menempel di alam bawah sadar, sehingga Penulis berusaha memiliki waktu produktif sebanyak mungkin (walaupun waktu tidur Penulis dalam sehari masih 8 jam bahkan lebih).

Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis berhasil mengurangi penggunaan smartphone di bawah lima jam setiap harinya. Hanya akhir pekan yang biasanya melebihi angka tersebut.

Untuk mencapai hal tersebut, Penulis sampai menghapus YouTube karena merasa aplikasi tersebut sudah menyita banyak sekali waktu Penulis. Beberapa game juga menyusul kemudian.

Nah, di tengah-tengah kebingungan mau ngapain ketika tidak memegang HP, Penulis pun melakukan aktivitas menulis ataupun membaca. Sebagai hadiahnya, akan muncul perasaan senang karena telah memanfaatkan waktu dengan baik.

Kalau sudah menemuan kenikmatan hidup tanpa smartphone, niscaya hidup kita akan menjadi lebih damai dan tenang.

 

 

Kebayoran Lama, 22 Februari 2020, terinspirasi dari pengalaman diri sendiri dan buku karya Desi Anwar yang berjudul Going Offline

Foto: English Grammar

Produktivitas

Productivity Hacks #1: To-Do List Harian

Published

on

By

Menjadi orang yang produktif setiap hari (setidaknya, ketika weekday) adalah salah satu impian Penulis dalam hidup. Hidup ini terlalu singkat untuk sesuatu yang sia-sia.

Sayangnya, Penulis merupakan tipe orang yang malas dan suka menunda-nunda. Akibatnya, Penulis kerap lalai dalam memanfaatkan waktu dalam hidupnya.

Menyadari kekurangan tersebut, Penulis memutuskan untuk membuat to-do list harian untuk mengetahui apa yang akan dilakukan hari ini.

Untuk Apa To-Do List Harian?

Buat Apa Sih? (Breakingpic)

Ketika bermain game, misalnya PUBG Mobile, biasanya kita memiliki misi-misi yang harus diselesaikan untuk mendapatkan reward tertentu.

Di game-game Steam, ada beberapa achievement yang bisa kita dapatkan jika sudah melakukan sesuatu di dalam game.

Hal-hal seperti itu membuat kita bersemangat untuk bermain game. Akan muncul semacam kepuasan jika kita berhasil mendapatkannya.

Itulah peran dari to-do list harian.

Sama seperti game, kita akan merasa puas apabila bisa memberikan tanda centang kepada daftar pekerjaan yang telah dituntaskan.

Jika berhasil melakukan apa yang sudah dituliskan pada to-do list, kita akan merasa hari ini telah dijalani dengan produktif yang ujung-ujungnya baik bagi kesehatan mental.

Tentu saja daftar pekerjaannya yang berbau produktif, ya! Jangan sampai main game Mobile Legends 2 jam dimasukkan ke dalam to-do list, kalau seperti itu sama saja bohong.

Masukkan daftar pekerjaan yang produktif seperti belajar, mempelajari atau menemukan hal baru, membersihkan kamar, menyelesaikan tanggungan pekerjaan, dan lain sebagainya.

Penulis sendiri biasanya menyantumkan “100% completed” sebagai penanda kalau semua to-do list hari ini berhasil dikerjakan. Anggap saja seperti mendapatkan badges di Steam.

Bagaimana Cara Membuat To-Do List Harian?

To-Do List Penulis

Tidak ada patokan khusus untuk membuat to-do list harian. Sesukanya saja, tapi diusahakan yang bisa membuat kita merasa senang ketika menuliskannya.

Penulis pribadi memiliki hobi membuat catatan dengan rapi. Oleh karena itu, Penulis menjadikan sebuah buku dan mendesainnya sendiri menjadi to-do list.

Sebagai pemanis, Penulis memberikan tambahan ornamen-ornamen yang sederhana. Tidak lupa catatan harus berwarna-warni agar tidak monoton dan membosankan.

Mungkin ada yang lebih nyaman dan merasa praktis dengan menggunakan aplikasi di ponsel. Kalau Penulis merasa tidak cocok karena feel-nya tidak dapat.

Ada yang lebih suka menuliskannya di sticky notes dan menempelkannya di tempat yang mudah terlihat. Macam-macam, metodenya bisa dipilih sesuka hati.

Bagaimana Jika Banyak Tugas yang Tidak Diselesaikan?

Gagal? Tetep Gas! (freestocks.org)

Sudah membuat to-do list tapi ternyata sampai menjelang tidur masih banyak tugas yang belum selesai? Tenang, itu merupakan hal yang lumrah dalam dunia per-to-do-list-an.

Penulis sangat sering mengalaminya. Sebagai orang yang moody, terkadang suasana hati yang sedang berantakan bisa membuat Penulis mengabaikan semua tugas yang sudah ditulis.

Yang penting, jangan berhenti membuat to-do list. Kalau punya kebiasaan baik harus dipertahankan, jangan dihentikan hanya karena merasa tidak mampu konsisten.

Ketika kita melakukan evaluasi to-do list yang gagal dikerjakan, memang akan memunculkan perasaan bersalah yang membuat kita malas untuk menulis to-do list lagi.

Tidak apa-apa, nikmati saja perasaan bersalah tersebut sembari berusaha besok akan lebih baik lagi. Jika ada yang tidak selesai hari ini, coba untuk diselesaikan besok.

Inilah pentingnya untuk tidak membuat to-do list terlalu banyak ketika baru mulai. Daftar tugas yang terlalu banyak berpotensi terbengkalai dan akhirnya membuat kita malas.

Hanya ada satu to-do list pun tidak masalah, misalnya latihan mengerjakan latihan soal SBMPTN sebanyak 5 soal dalam sehari. Yang penting adalah komitmen kita untuk mengerjakannya.

Penutup

Mencatat to-do list harian bisa jadi tidak cocok untuk sebagian orang, terutama orang yang benci rutinitas dan menyukai hal-hal yang berbau spontan (uhuy!).

Berhubung Penulis tipe orang yang suka dengan rutinitas, mencatat to-do list setiap hari bisa meningkatkan produktivitas dan membuat dirinya bersemangat menjalani hidup.

Ketika tulisan ini ditulis, Penulis telah berhasil menyelesaikan tujuh tugas yang dibuat pada pagi hari ini. Kelihatan hebat? Sebenarnya tidak jika melihat hari-hari sebelumnya.

Sabtu dan Minggu kemarin, Penulis tidak mencatat to-do list sama sekali. Akibatnya, Penulis menghabiskan waktunya untuk bermain game dan scroll media sosial berjam-jam.

Pada hari Kamis dan Jumat kemarin, hanya satu dari lima tugas yang berhasil dikerjakan. Alasannya seperti yang sudah disebutkan di atas, mood sedang tidak karuan.

Walaupun gagal berkali-kali, Penulis tidak berhenti mencatat to-do list harian karena merasa bisa membantu Penulis untuk tetap produktif.

Perasaan gembira yang muncul ketika berhasil meninggalkan tanda centang sangat memuaskan. Penulis harap, para Pembaca sekalian juga bisa merasakannya setelah membuat to-do list harian.

 

NB: Tulisan ini menjadi tulisan pertama dalam serial Productivity Hacks. Ditunggu tulisan-tulisan yang bisa memotivasi diri untuk lebih produktif lagi!

 

 

Lawang, 8 Februari 2021, terinspirasi setelah dirinya merasa mendapatkan banyak manfaat dengan mencatat to-do list harian

Foto: Ivan Samkov · Fotografi (pexels.com)

Continue Reading

Produktivitas

Menjaga Konsistensi

Published

on

By

Sir Alex Ferguson melalui buku autobiografinya pernah menyatakan bahwa mempertahankan gelar lebih susah dibandingkan meraihnya.

Jika diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari, kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai:

Memulai kebiasaan baik baru jauh lebih mudah daripada mempertahankannya

Menjaga konsistensi dalam melakukan sesuatu, terutama hal baik, merupakan hal yang susah. Apakah memang benar demikian? Berdasarkan pengalaman pribadi, hal tersebut benar adanya.

Susah Memulai Lagi

Susah Memulai Lagi Jika Berakhir (Braden Collum)

The hardest part of ending is starting again

Kalimat di atas merupakan lirik dari lagu Waiting for the End dari band favorit Penulis, Linkin Park. Dalam bahasa Indonesia artinya bagian tersulit dari akhir adalah memulainya kembali.

Itulah yang Penulis alami saat ini. Pada tulisan Rutinitas Pagi Harian, Penulis menjelaskan bagaimana dirinya memiliki rutinitas yang dilakukan setiap pagi.

Rutinitas tersebut berlangsung kurang lebih dua bulan. Menjelang pergantian tahun, semangat Penulis justru turun. Ketika tulisan ini dibuat, Penulis sudah satu minggu berhenti lari pagi.

Kenapa? Karena sudah terlalu lama berhenti.

Padahal di tulisan sebelumnya Penulis sudah menuliskan salah satu pantangan membuat rutinitas pagi adalah berhenti lebih dari dua hari. Ironis memang, Penulis melanggar pantangannya sendiri.

Sekarang, rasanya begitu berat untuk mengambil jaket dan menggunakan sepatu, lantas melakukan pemanasan dan lari keliling perumahan. Padahal Shubuh bangun, tapi rasanya begitu malas keluar rumah.

Dengan kata lain, kurangnya niat juga menjadi musuh terbesar dalam menjaga konsistensi.

Buruknya Time Management

Gunakan Waktu dengan Bijak (Nathan Dumlao)

Contoh lain dari susahnya menjaga konsistensi adalah blog ini. Pada awal tahun 2020, Penulis berhasil rutin menulis setiap hari. Akhir tahun? Sedikit sekali tulisan yang Penulis produksi.

Apakah Penulis sibuk hingga tidak punya waktu untuk menulis blog? Apakah Penulis mengalami creative block karena padatnya pekerjaan?

Jika Penulis renungkan kembali, itu semua hanya alasan sebagai pembenaran. Alasan sebenarnya adalah Penulis terlalu malas dan time management yang buruk.

Penulis rutin menulis agenda harian (salah satu rutinitas yang berhasil Penulis pertahankan dari zaman kuliah, walaupun sempat berhenti beberapa bulan di tahun 2020 kemarin).

Dari sana Penulis tahu dalam satu hari apa saja yang Penulis lakukan. Setelah dievaluasi, memang Penulis terlalu banyak membuang-buang waktunya.

Dibuang seperti apa? Terlalu banyak main media sosial (medsos), terlalu banyak main game, terlalu banyak tidur menjadi contoh yang paling mudah.

Ambil contoh Penulis menghabiskan waktu di medsos sebanyak 2 jam satu hari. Menulis artikel blog paling lama satu jam, tapi biasanya 30 menit sudah selesai.

Jika Penulis mengambil waktu di medsos 1 jam, mau sesibuk apapun Penulis bisa mengalokasikannya untuk menulis artikel blog. Apalagi, ada aplikasi WordPress di ponsel sehingga aktivitas ngeblog tidak melulu harus di layar laptop.

Apa yang Harus Dilakukan?

Memanfaatkan To-Do-List (Cathryn Lavery)

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menjaga konsistensi? Jawabannya klasik dan klise, semuanya berawal dari niat!

Setiap orang mungkin akan memiliki metode yang berbeda, tapi ini cara Penulis. Sebagai awal, Penulis harus memaksa dirinya untuk membuat to-do-list harian.

Penulis adalah tipe orang yang suka menetapkan target-target untuk dicapai karena dengan demikian Penulis jadi memiliki titik fokus dalam menjalani harinya.

Jika Penulis tidak tahu apa yang akan dilakukan hari ini, Penulis akan terdorong untuk menyia-nyiakan waktu yang ada.

Di to-do-list harian tersebut, bisa dibilang isinya hampir sama setiap hari. Jika ada yang beda mungkin hanya satu dua, tapi selebihnya sama.

Walaupun begitu, hal tersebut melatih konsistensi Penulis. Dari sisi psikologi, akan muncul perasaan senang apabila berhasil menyelesaikan target-target yang telah dibuat.

Penulis juga memanfaatkan aplikasi Loop Habit Tracker yang bisa diunduh gratis di Play Store. Kalau lihat daftar kebiasaan yang kita buat tercentang semua, rasanya puas sekali!

Kadang Penulis juga berusaha memunculkan kembali semangat menjalani rutinitas dengan mencari motivasi, entah dari buku ataupun video YouTube.

Penutup

Memulai kebiasaan baik yang baru merupakan hal yang sulit. Mempertahankannya jauh lebih sulit lagi. 

Pembaca mungkin punya kesulitan menjaga konsistensi di bidang lain, mungkin ibadahnya, diet makannya, belajarnya, dan lain sebagainya.

Penulis tidak memiliki kapabilitas untuk memberikan jawaban untuk permasalahan tersebut. Hanya saja, Penulis berharap tulisan ini dapat menginspirasi Pembaca untuk menemukan solusinya sendiri.

Yang perlu diingat adalah musuh terbesar dari konsistensi adalah berhenti untuk jangka waktu tertentu, kurangnya niat, rasa malas, dan time management yang buruk.

Kalau kita berhasil mengalahkan empat hal ini, kemungkinan besar kita bisa menjaga konsistensi kita dalam hal apapun.

Yuk, teguhkan niat untuk menjaga konsistensi. Serap sebanyak mungkin motivasi dari mana pun agar kita semangat untuk menjaga konsistensi tersebut!

 

 

Lawang, 12 Januari 2021, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kesulitan menjaga konsistensi diri

Foto: Siora Photography

Continue Reading

Produktivitas

Rutinitas Pagi Harian (Bagian 2)

Published

on

By

Menyadari bahwa kita harus memiliki kebiasaan baik sudah sering muncul sejak dulu. Hanya saja pada praktiknya, niat tersebut sering pudar karena berbagai alasan. Agar tidak lengah dan bisa konsisten menjalani rutinitas, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan.

Sedikit Demi Sedikit

Keinginan untuk berubah lebih baik sering muncul dari dalam diri Penulis. Sayangnya, selama ini keinginan untuk berubah itu hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa hari, Penulis kembali ke kebiasaan lama.

Setelah dipikir-pikir, hal itu terjadi karena dua hal. Satu, kurangnya tekad. Dua, perubahan yang terlalu mendadak.

Ada sebuah buku yang berjudul Atomic Habit. Penulis belum membacanya, tapi Penulis menangkap maksud buku tersebut. Perubahan kebiasaan itu dilakukan secara sedikit demi sedikit, tidak langsung banyak.

Untuk masalah bangun pagi misalnya. Kalau Penulis memaksakan diri untuk bangun jam 4 pagi, mungkin tubuh Penulis akan merasa kaget sehingga ujung-ujungnya akan kembali bangun siang.

Daripada seperti itu, Penulis memilih untuk bangun jam 4.45. Nanti secara perlahan, waktu bangunnya akan dimajukan secara pelan-pelan.

Begitu pula dengan kebiasaan olahraga. Penulis tidak memaksakan diri untuk langsung lari sepuluh putaran. Lebih baik hanya tiga putaran, tapi rutin setiap pagi. Nanti perlahan-lahan jumlahnya ditambah.

Seperti kata peribahasa yang sering kita dengar ketika SD, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Menghilangkan Distraksi

Salah satu hal yang mendukung Penulis untuk melakukan rutinitas paginya adalah tidak membuka media sosial dan game hingga pukul tujuh pagi.

Kebanyakan dari kita memiliki kebiasaan buruk untuk mengecek HP setelah bangun tidur. Akhirnya, kita malah terlena dan baru beraktivitas beberapa jam setelah bangun.

Penulis termasuk salah satu di antaranya. Biasanya kalo weekend, Penulis bisa menghabiskan waktu berjam-jam di atas kasur setelah bangun. Tak jarang selepas Dhuhur baru beraktivitas yang lain.

Untuk mendisplinkan diri, Penulis menggunakan aplikasi bantuan bernama AppBlock. Dengan ini, aplikasi-aplikasi yang Penulis pilih tidak akan bisa dibuka dalam jangka waktu tertentu.

Sebagai tambahan, Samsung memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi (AppBlock sebenarnya juga memiliki fitur ini). Dengan fitur ini, Penulis bisa membatasi penggunaan media sosial sehingga harinya bisa menjadi lebih produktif.

Aplikasi yang Penulis batasi adalah media sosial seperti Instagram, Twitter, Pinterest, dan Quora. Masing-masing Penulis beri jatah 15 menit. Untuk YouTube dan TikTok, Penulis batasi 30 menit per hari.

Jauh dari hingar bingar media sosial sebenarnya memberikan banyak manfaat. Penulis sudah pernah membahas ini di tulisannya yang lain.

Menjaga Konsistensi

Hingga kini, rutinitas pagi ini telah berlangsung selama kurang lebih 20 hari. Ada yang mengatakan, rutinitas akan menempel pada diri kita setelah dilakukan 40 hari berturut-turut. Harapannya, Penulis bisa menjaga rutinitas ini hingga hari ke-40 dan seterusnya.

Apakah selama 20 hari itu Penulis melakukan rutinitasnya tanpa terputus? Tentu tidak. Ketika sakit, Penulis tidak akan melakukan lari pagi ataupun mengaji. Anggaplah hari itu sebagai cheat day, tapi jangan sampai lebih dari dua hari.

Ada teori yang mengatakan kebiasaan akan terhenti jika rutinitas tidak dilakukan selama dua hari berturut-turut. Dibutuhkan upaya yang besar agar kita bisa memulai lagi kebiasaan yang ditinggalkan. Penulis sudah sering mengalaminya, sehingga kali ini berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Penutup

Dengan menerapkan kebiasaan pagi ini, Penulis merasakan banyak dampak positif. Sekarang, Penulis bisa tidur cepat dan jarang mengalami insomnia. Selain itu, Penulis juga rutin buang air besar setiap hari. Padahal, dulu bisa 3-4 hari sekali.

Walaupun begitu, masih banyak hal yang perlu Penulis tingkatkan. Penulis masih sering tidur lagi setelah melakukan rutinitas pagi. Targetnya, tidur bisa dilakukan setelah Dhuhur saja.

Selain itu, memiliki rutinitas pagi seharusnya bisa meningkatkan produktivitas hari itu. Penulis masih sering tidak menggunakan waktunya secara bijaksana.

Semoga dengan menuliskan artikel ini, Penulis bisa lebih konsisten dalam menjalankan rutinitasnya sembari memperbaiki apa yang masih kurang.    

 

 

Lawang, 23 November 2020, terinspirasi dari upaya dirinya sendiri agar memiliki rutinitas pagi harian

Foto: Danielle MacInnes

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan