Ada Apa dengan KPU?

Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah disorot oleh banyak mata karena keputusan yang dibuat akhir-akhir ini. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan media sosial menjadi riuh: pembatalan penyampaian visi misi dan pemberian soal pertanyaan sebelum debat capres dimulai.

Penyampaian Visi Misi

Yang pertama adalah penyampaian visi misi. Sebenarnya, kedua pasang capres-cawapres telah merilisnya dan siapapun bisa melihatnya. Mungkin, pemaparan secara langsung akan menjabarkan poin-poin visi misi tersebut.

Kubu 01 menginginkan cukup tim sukses saja yang menyampaikan, sedangkan kubu 02 ingin langsung capres-cawapres yang memaparkan. Tidak ketemunya kata sepakat membuat KPU memutuskan untuk membatalkan acara penyampain visi misi tersebut.

Visi Misi (National Savings Bank)

Menurut pandangan penulis, hal ini justru merugikan kubu 01. Terlepas apapun alasannya, tentu beberapa masyarakat menganggap capres-cawapres 01 tidak berani menjelaskan visi misinya dan hal tersebut bisa mempengaruhi elektabilitas mereka.

Bahkan di tingkat pemilihan ketua Karang Taruna, penulis mewajibkan masing-masing calon untuk menjelaskan visi misi mereka sendiri apabila nanti terpilih. Bukan karena tidak ada tim sukses, melainkan untuk mengetahui seberapa paham mereka akan tugas yang akan diemban selama tiga tahun ke depan.

Pertanyaan Debat Capres-Cawapres

Selanjutnya yang tak kalah ramai adalah kontroversi soal pertanyaan debat yang akan diberikan beberapa hari sebelumnya. Sepengetahuan penulis, belum pernah sebelumnya ada pemberian soal pertanyaan sebelum debat. Kalau kisi-kisinya, mungkin iya, sama seperti Ujian Nasional.

Dari pengamatan penulis di media sosial terutama Twitter, kubu 02 sangat gencar mengeritik keputusan ini dan membuat berbagai analogi yang menarik. Kubu 01 terkesan tutup telinga seolah tidak mengetahui persoalan ini.

Debat Tahun 2014 (Merdeka.com)

Mungkin saja maksud KPU baik, agar kedua pasangan calon bisa mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Toh ketika acara debat nanti masih ada pertanyaan-pertanyaan dari lawan, sehingga publik masih menilai kapasitas calon ketika mendapatkan pertanyaan mendadak.

Hanya saja, publik sudah jatuh skeptis terhadap kinerja KPU. Bahkan tokoh seperti Rizal Ramli menyatakan bahwa hal tersebut adalah kemunduran demokrasi.

Ada Apa dengan KPU?

Sebelum dua hal tersebut mencuat, kita dihebohkan dengan penggunaan kotak suara yang terbuat dari kardus (atau bahan material lainnya?) dengan menghemat anggaran menjadi salah satu latar belakangnya.

Tentu berbagai sorotan tersebut membuat publik bertanya-tanya, ada apa dengan KPU? Perasaan kemarin-kemarin belum pernah ada kasus semacam ini.

Muncul berbagai prasangka buruk terhadap KPU, termasuk kenetralan yang dimiliki oleh mereka. KPU dianggap sebagai tidak tegas dan memihak salah satu calon tertentu. Sebagai wasit, seharusnya KPU bisa lebih berani dalam membuat keputusan.

Jangan sampai kejadian-kejadian seperti ini membuat masyarakat menjadi semakin apatis. Seolah mereka tidak akan percaya apapun hasil pemilu yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 nanti.

.

.

Kebayoran Lama, 6 Desember 2018, terinspirasi dari gaduhnya media sosial terkait keputusan yang diambil oleh KPU

Foto: Aktual.Com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.