Menggoreng Isu

Di dalam KBBI, isu memiliki makna masalah yang dikedepankan (untuk ditanggapi dan sebagainya) atau kabar yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin kebenarannya.

Coba perhatikan kata-kata terakhir pada definisi terakhir. Tidak terjamin kebenarannya. Sayang, kini isu telah menjadi “makanan favorit” masyarakat yang mengunyahnya dari media.

Yang namanya makanan, terserah kokinya bukan? Mau dibuat pedas, mau dibuat asin, mau dibuat pahit, koki memilki hak sepenuhnya dalam meracik makanannya.

Kecuali, ada yang “memesan” makanan tersebut. Jika ada pemesan, koki membuat masakan sesuai pesanan. Mau seburuk apapun masakannya, sang koki tidak peduli karena ia sudah dibayar.

Selain itu, koki juga memiliki wewenang untuk mengurangi atau menambah bahan masakan tersebut. Jika ada seekor ayam, bisa saja yang ia ambil hanya bagian brutu-nya saja alias hanya bagian yang buruk.

Kurang lebih seperti itulah realita yang terjadi di tengah masyarakat kita, terlebih lagi para elit politik. Penulis sebagai pengamat awam, merasa kecewa dengan hal ini. Andai yang digoreng bukan isu, melainkan program kerja, tentu akan lebih sehat bagi kita.

Selain itu, para penggoreng isu juga seringkali berbuat nakal dengan hanya mengambil sebagian kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh. Penulis ambil contok ucapan kalimat Titiek Soeharto mengenai kembali ke era Soeharto.

Jika dilihat secara utuh, yang dimaksud Titiek adalah bagaimana kita bisa swasembada pangan seperti di era Order Baru. Akan tetapi, oleh beberapa pihak hanya dipotong sebagai keinginan Titiek untuk mengulang masa-masa buruk pada era tanpa demokrasi tersebut.

Memang Faisal Basri mengatakan bahwa swasembada beras pada era tersebut hanya sebuah kesemuan yang menyengsarakan petani, tapi bukan di situ poinnya. Poinnya adalah tentang harapan bagaimana Indonesia bisa mandiri secara pangan.

Wah, jadi penulis ini partisan Orba ya?

Tentu tidak. Penulis masih balita sewaktu gelombang reformasi menyerbu Jakarta. Akan tetapi, penulis banyak membaca buku-buku tentang sejarah Orde Baru, sehingga paham bagaimana suramnya kehidupan pada saat itu, terutama karena dibungkamnya kebebasan berbicara.

Kembali ke topik penggorengan isu. Jika yang terjadi seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Mudah saja, jangan mau menerima makanan-makanan isu seperti itu. Toh jika makanan tersebut tidak laku, nantinya mereka akan berhenti menggoreng.

Sama seperti yang sudah penulis sebutkan pada tulisan sebelumnya, kita sebenarnya memiliki kontrol penuh atas apa yang beredar di media sosial. Tergantung diri kita sendiri, mau menelan isu tersebut atau mengabaikannya agar segera basi.

 

 

Kebayoran Lama, 24 November 2018, terinspirasi dari banyaknya isu yang digoreng demi kepentingan politik semata

Photo by Kevin McCutcheon on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.