Pendapat Saya Tentang Reuni 212

Alhamdulillah acara reuni 212 yang berlangsung kemarin (2/12) berlangsung dengan damai dan tertib, sejauh yang penulis pantau dari media sosial. Sayang, penulis belum bisa ikut acara, semoga saja jika tahun depan ada penulis bisa turut serta.

Terlepas dari isu politik, acara tersebut sudah sewajarnya mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sayangnya, masih banyak nyinyiran dan cibiran dari orang-orang yang tidak menyukai acara ini.

Mereka menebar isu-isu yang menyakitkan, seperti massa bayaran, politik terselubung, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka mengeluarkan pernyataan tersebut tanpa didukung bukti dan fakta yang kuat.

Penulis percaya, ada yang memanfaatkan momen ini untuk kepentingan dirinya atau golongannya. Pasti ada yang seperti itu. Tapi yang mbok tolong jangan dipukul rata seperti itu.

Kalaupun ada yang menyuarakan untuk mendukung salah satu pasangan capres, ya itu hak politik mereka bukan? Kenapa yang disorot hanya itu, sedangkan aktivitas ibadah yang mereka lakukan sejak dini hari sama sekali tidak dilirik?

Dilihat sekilas saja, penulis yakin massa yang datang berjumlah jutaan, tidak hanya seratus ribuan seperti yang banyak dihembuskan di media sosial. Yakin semua datang karena motif politik? Pernahkan ada partai politik yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ini?

Penulis yakin bahwa ada (dan banyak) peserta reuni yang datang ke acara tersebut karena lillahi ta’ala. Mereka datang karena panggilan hati, bukan karena selembar uang seratus ribuan.

Jika saja para penuduh ini lebih terbuka nalarnya, mereka harusnya bisa berlogika. Mana bisa uang seratus ribu menggantikan uang transport mereka ke Monas, terutama yang berasal dari luar daerah?

Kalaupun enggan untuk ikut, minimal jangan mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyayat hati, apalagi sampai mengeluarkan fitnah yang beracun. Hargailah mereka yang sudah berjuang agar bisa berangkat menuju Jakarta untuk berkumpul bersama saudara seimannya.

Sayang, mereka nampaknya lebih mendahulukan emosi dan perasaan dendam. Mereka seolah-olah menutup mata atas apa yang sudah terjadi di hari Minggu tersebut.

Bahkan ada berita orang meninggal sewaktu mengikuti acara pun mereka olok-olok. Apakah sudah begitu buta nurani mereka sehingga memperolok orang yang telah meninggal?

Seorang kawan yang baru saja mengikuti pengajian ustadz Hanan Attaki memberikan jawaban. Katanya, mereka yang suka mencela akan ditutup hidayahnya dari Tuhan, hatinya akan terkunci.

Oleh karena itu, buang-buanglah sikap suka mencela orang lain, apalagi ditambah perasaan merasa lebih baik dari mereka. Mau ditujukan ke presiden, artis, hingga public figure lainnya, jangan pernah mengeluarkan kata-kata celaan yang tidak bermanfaat.

 

 

Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari acara reuni 212 yang diadakan kemarin

Foto: twitter.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.