Semburan Dusta

Salah seorang kubu 01 yang penulis kagumi, Budiman Sudjatmiko, menyatakan bahwa kubu 02 tengah menerapkan strategi Firehose of Firehood demi menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap semua pasangan calon.

Sebenarnya, apa itu Firehose of Firehood? Sejauh yang penulis pahami, istilah tersebut merujuk pada semburan dusta yang dilakukan berulang-ulang secara masif agar publik menjadi apatis.

Kebohongan tersebut diproduksi secara massal tanpa peduli benar atau tidaknya informasi yang disampaikan. Selain itu, kebohongan juga harus bisa membakar emosi masyarakat agar menyebar secara cepat bagaikan virus.

Firehood of Falsehood (Twitter)

Ciri-ciri lainnya adalah soal inkonsisten. Seringkali pernyataan yang dilontarkan satu orang dengan orang lain tidak selaras, padahal mereka satu tim di mana seharusnya memiliki informasi yang sama.

Setelah kebohongan tersebar di masyarakat dan menimbulkan ketakutan, akan muncul sesosok “pahlawan” yang akan hadir untuk mengusir rasa ketakutan tersebut. Pola seperti ini terus diulang-ulang dengan topik yang berbeda-beda.

Tujuannya, ya seperti yang telah penulis katakan tadi, membuat publik merasa bahwa kedua pasangan calon sama-sama gemar berbohong dan membuat mereka malas untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Katanya, strategi ini juga diterapkan oleh beberapa pemimpin dunia. Sebut saja Donald Trump dari Amerika Serikat dan Jair Bolsonaro dari Brazil.

Jair Bolsonaro (Reuters)

Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah kubu 02 benar-benar gemar menyebar kebohongan dengan strategi tersebut?

Dari yang beberapa penulis baca, memang beberapa telah banyak beredar di media massa. Sebut saja kasus Ratna, selang cuci darah, dan surat suara 7 kontainer yang menjadi headline berita.

Tentu ini bukan hal yang baik bagi alam demokrasi kita. Mengajari publik dengan politik kebohongan hanya akan menyesatkan kita dan menimbulkan ketidakpercayaan kepada orang-orang politik.

Penulis mengikuti Budiman di Twitter sehingga sering melihat tweet-tweet beliau. Akan tetapi, karena memang dia anggota partai politik, wajar jika ia hanya menyorot kebohongan lawan dan menyamarkan kebohongan yang ada di pihaknya.

Hal yang sama akan dilakukan oleh kubu satunya. Jadi, ya sebenarnya sama saja. Kedua pihak mungkin sama-sama mengeluarkan kebohongan dan sama-sama menuding lawan berbohong, bagaikan dua ekor rubah yang saling menyalak satu sama lain.

Adalah tugas kita untuk bisa melihat semuanya secara obyektif. Caranya? Tidak perlu menjadi pendukung fanatik. Jika condong ke salah satu pasangan calon, silahkan. Itu adalah hak setiap warga negara, memilih pemimpin yang diinginkan.

Yang harus diingat adalah jangan sampai kita terlalu mengkultuskan calon kita sehingga seolah-olah ia tak memiliki kesalahan dan kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Dengan menempatkan diri di luar kotak atau berada di tengah, kita akan bisa melihat kelebihan dan kekurangan secara berimbang. Bukankah hidup ini memang harus seimbang, seperti yang dikatakan oleh Thanos?

 

 

Kebayoran Lama, 11 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kebohongan yang beredar di media massa

Foto:

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.