Tidak Memilih Sebelum Hari-H

Jika penulis ditanya akan memilih siapa pada 17 April nanti, biasanya penulis akan menjawab secara diplomatis “saya masih belum menentukan, meskipun hingga saat ini sudah condong ke paslon nomor urut sekian”.

Kenapa tidak mendeklarasikan dukungan secara terang-terangan seperti yang dilakukan oleh banyak orang? Apakah penulis termasuk orang yang tidak punya pendirian?

Berusaha Obyektif

Tentu bukan seperti itu alasan yang mendasari penulis tidak memilih sebelum hari-H. Penulis bersikap seperti ini untuk menghindari sikap fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu pasangan calon.

Kalau kita sudah menentukan pilihan sejak awal bahkan sebelum nama capres-cawapres diumumkan, kita akan cenderung menutup mata terhadap kekurangan calon.

Selain itu, penulis juga ingin sekali bisa menilai secara obyektif tanpa melihat subyeknya sama sekali. Bentuk penilaiannya mau tidak mau harus berbeda karena pada pemilu kali ini pesertanya terdiri dari petahana dan penantang.

Ketika melihat petahana, yang penulis lihat adalah berbagai prestasi yang sudah dicapai, pelunasan janji, berbagai peristiwa yang terjadi selama menjabat kemarin, dan lain sebagainya.

Dari penantang, karena belum pernah menjabat, yang penulis perhatikan adalah visi misi yang dimiliki, program-program yang ditawarkan, dan berbagai janji yang diberikan.

Asas Luber Jurdil

Selain alasan di atas, penulis juga teringat dengan pelajaran Kewarganegaraan sewaktu sekolah dulu, di mana salah satu asas dari Pemilihan Umum adalah Luber Jurdil.

Apa itu? Luberjudil merupakan akronim dari LangsungUmum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil. Asas ini sudah ada sejak jaman orde baru, di mana Jurdil-nya sendiri baru ditambahkan setelah reformasi.

Langsung, artinya, kita sendiri yang harus memilih tanpa boleh diwakilkan. Umum, artinya kegiatan pemilu ini bisa diikuti oleh semua warga negara Indonesia selama memenuhi persyaratan yang ada.

Bebas, artinya kita bisa memilih tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Jujur, artinya pelaksanaan pemilu harus sesuai dengan peraturan yang ada. Adil, artinya tidak boleh ada diskriminasi perlakukan terhadap peserta maupun pemilih.

Tunggu, rasanya ada yang kurang. Oh iya, Rahasia. Kata ini berarti suara yang diberikan oleh pemilih hanya diketahui oleh pemilih itu sendiri.

Atas dasar rahasia inilah penulis tidak pernah mengumbar pilihan penulis, meskipun memang belum menentukan pilihan (iya, memang sudah ada kecondongan, tapi belum 100% kok).

Apakah deklarasi secara terang-terangan berarti membuka rahasia? Belum tentu. Bisa saja pilihannya di balik bilik suara bisa berbeda dengan dukungan yang ia nyatakan.

Bolehkah Menentukan Pilihan Sebelum Hari-H?

Tentu saja boleh. Itu adalah hak berpendapat setiap warga negara. Yang ingin mendeklarasikan dukungan sedini mungkin, monggo. Yang ingin menunggu hingga hari-H, juga monggo.

Penulis sama sekali tidak merasa lebih baik dengan sikap penulis ini. Penulis hanya ingin berbagi pola pikir penulis yang mungkin bisa bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

 

 

Kebayoran Lama, 3 April 2019, terinspirasi setelah menonton salah satu video di Youtube

Foto: Tachina Lee