<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bioskop Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bioskop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bioskop/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Oct 2018 09:13:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>bioskop Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bioskop/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2018 08:00:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Aruna dan Lidahnya]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1446</guid>

					<description><![CDATA[<p>Yang jelas, penulis merasa lapar setelah menonton film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo tersebut. Bagaimana tidak, sepanjang film penulis melihat orang makan dengan lahapnya, di berbagai daerah di Indonesia. Film ini merupakan film kesebelas yang penulis tonton tahun ini, dan film Indonesia yang ketujuh. Bisa jadi, semangat film lokal yang penulis miliki berawal dari ajakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/">Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Yang jelas, penulis merasa lapar setelah menonton film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo tersebut. Bagaimana tidak, sepanjang film penulis melihat orang makan dengan lahapnya, di berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p>Film ini merupakan film kesebelas yang penulis tonton tahun ini, dan film Indonesia yang ketujuh. Bisa jadi, semangat film lokal yang penulis miliki berawal dari ajakan Chelsea Islan dengan hashtag andalannya, #banggafilmindonesia.</p>
<p>Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama, garis besar film ini adalah perjalanan investigasi Aruna, seorang ahli wabah, untuk menyelidiki kasus flu burung yang baru. Dalam perjalanan tersebut, ia ditemani oleh dua sahabatnya, Bono sang chef (Nikolas Saputra) dan Nad sang kritikus makanan dan penulis (Hannah Al Rasyid).</p>
<p>Pada perjalanan investigasi tersebut, mereka <em>nyambi </em>dengan menyicipi berbagai kuliner yang ada di daerah. Di tengah-tengah perjalanan, muncul Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja sekaligus laki-laki yang Aruna cintai.</p>
<p>Genre film ini bisa dibilang drama komedi, karena banyak adegan-adegan yang membuat penonton tertawa. <em>Rating</em>-nya yang dewasa membuat bahan bercanda yang dibawakan pun sedikit vulgar.</p>
<p>Yang menarik dari film ini adalah peran Aruna yang sering berbicara ke arah kamera untuk sekedar mencurahkan apa yang ia rasakan. Kadang, ia hanya menampilkan ekspresi wajah untuk menunjukkannya. Penulis membayangkan, seandainya tidak ada teknik tersebut, film ini akan terasa membosankan.</p>
<p><em>Plot twist </em>juga disediakan film ini, namun pada bagian mananya pembaca diharapkan menonton sendiri filmnya. Yang jelas, entah mengapa penulis merasa bahagia setelah menonton film ini. Mungkin karena merasa terhibur.</p>
<p>Ada bagian yang membuat penulis sedikit merinding, ketika Nad menceritakan kehidupan bebasnya. Ngeri membayangkan jika gaya hidup Nad yang ogah menikah ditiru oleh kalangan muda.</p>
<p>Jika pembaca adalah penikmat kuliner, penulis menyarankan menonton film ini dan bawalah alat tulis untuk mencatat nama-nama makanan yang disantap para pemeran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 8 Oktober 2018, terinspirasi setelah menonton film Aruna dan Lidahnya</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://omovies.org/movie/535077/aruna-and-her-palate-2018-hd-720p-full-movie">https://omovies.org/movie/535077/aruna-and-her-palate-2018-hd-720p-full-movie</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/">Setelah Menonton Aruna dan Lidahnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-aruna-dan-lidahnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-2/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-2/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2018 14:24:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kulari ke pantai]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=997</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghargai Perbedaan Cekcok yang terjadi antara Sam dan Happy diakibatkan oleh tidak adanya sikap menghargai perbedaan. Happy yang hidup di perkotaan dengan lingkungan yang serba elit tidak bisa menerima perbedaan yang dimiliki Sam. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu sepanjang perjalanan menuju pantai G-Land, mereka berdua saling belajar untuk memahami satu sama lain dari berbagai peristiwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-2/">Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menghargai Perbedaan</strong></p>
<p>Cekcok yang terjadi antara Sam dan Happy diakibatkan oleh tidak adanya sikap menghargai perbedaan. Happy yang hidup di perkotaan dengan lingkungan yang serba elit tidak bisa menerima perbedaan yang dimiliki Sam.</p>
<p>Akan tetapi, dengan berjalannya waktu sepanjang perjalanan menuju pantai G-Land, mereka berdua saling belajar untuk memahami satu sama lain dari berbagai peristiwa yang mereka alami.</p>
<p><strong>Harta Berupa Saudara</strong></p>
<p>Saudara adalah harta berharga yang patut untuk disyukuri atas kehadirannya. Jika tidak percaya, tanyakan saja kepada kawan-kawan yang terlahir dengan status anak tunggal. Mayoritas jawaban menyatakan bahwa mereka sangat mendambakan saudara dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Sayang sekali, beberapa pasangan kakak-adik yang telah diberi anugerah ini justru lebih milih untuk ribut satu sama lain. Mereka menganggap saudara mereka hanya sebagai pengganggu, bukan sebagai partner dalam mengarungi kehidupan.</p>
<p>Sam dan Happy memang bukan saudara kandung, mereka pun kerap bertengkar karena berbagai alasan. Akan tetapi pada akhirnya mereka menyadari betapa pentingnya seorang saudara, meskipun hanya sebatas sepupu. Oleh karena itu, film ini sangat saya rekomendasikan kepada kakak-adik yang sering bertengkar :).</p>
<p><strong>Pertemanan Bersyarat</strong></p>
<p>Alasan Happy mau ikut <em>tour </em>bersama Sam adalah janji dari kedua orangtua mereka. Mereka menjanjikan akan mengijinkan Happy untuk ikut datang ke konser bersama teman-temannya, sekelompok anak perempuan yang namanya saya lupa.</p>
<p>Datang ke konser bersama, di mana mereka datang hanya demi <em>story </em>Instagram, merupakan syarat untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Sam menyadari keganjilan ini dan berusaha menyadarkan Happy bahwa pertemanan dengan syarat bersifat semu.</p>
<p>Dalam kehidupan nyata pun, jangan sampai kita mencari teman yang membutuhkan syarat agar bisa berteman dengannya. Masih banyak orang-orang yang mau berkawan dengan kita secara tulus tanpa syarat.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Film anak <strong>Kulari ke Pantai</strong>, yang disutradarai oleh Riri Reza dan diproduksi oleh Mira Lesmana, menunjukkan bahwa film dengan alur yang sederhana pun dapat memikat penonton. Tidak dibutuhkan alur rumit seperti film-film Hollywood, cukup dengan kejadian sehari-hari yang kita alami.</p>
<p>Pesan-pesan yang ingin disampaikan pun, setidaknya bagi penulis, sudah tersampaikan dengan baik. Semua penulis rangkum dalam tulisan-tulisan ini.</p>
<p>Entah film ini masih ada di bioskop atau tidak, namun jika ada penulis sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton bersama keluarga. Bangga film Indonesia!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Juli 2018, terinspirasi setelah menonton film Kulari ke Pantai</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.femina.co.id/agenda/film-anak-terbaru-dari-miles-film-kulari-ke-pantai-segera-rilis-rebut-tiket-nobarnya-di-sini">https://www.femina.co.id/agenda/film-anak-terbaru-dari-miles-film-kulari-ke-pantai-segera-rilis-rebut-tiket-nobarnya-di-sini</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-2/">Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2018 13:52:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[akur]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kulari ke pantai]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=991</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rencananya, penulis mau menonton film ini bersama satu teman kuliah. Berhubung mendadak mendapatkan undangan untuk mengikuti training sebagai volunteer Asian Games, maka penulis jadi menonton sendirian di Mall Daan Mogot, Jakarta. Sejak membaca sinopsisnya, penulis memutuskan bahwa film ini harus ditonton. Selain itu, banyak testimoni yang mengatakan bahwa film ini sangat direkomendasikan termasuk salah satu komikus favorit penulis, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rencananya, penulis mau menonton film ini bersama satu teman kuliah. Berhubung mendadak mendapatkan undangan untuk mengikuti <em>training </em>sebagai <em>volunteer</em> Asian Games, maka penulis jadi menonton sendirian di Mall Daan Mogot, Jakarta.</p>
<p>Sejak membaca sinopsisnya, penulis memutuskan bahwa film ini harus ditonton. Selain itu, banyak testimoni yang mengatakan bahwa film ini sangat direkomendasikan termasuk salah satu komikus favorit penulis, Muhammad Mirsad dari <em>Mice Cartoon</em>.</p>
<p>Hubungan saudara yang tidak akur yang jadi sinopsi menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis. Bagaimana tidak, penulis banyak menjumpai pasangan kakak-adik yang kurang harmonis semasa menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Penulis berharap bisa menemukan inspirasi dari film yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini.</p>
<p><strong>Sekilas Tentang Kulari ke Pantai</strong></p>
<p>Ketika film mulai, penulis sempat terkejut karena ternyata ketidak akuran yang terjadi bukan antar saudara kandung, melainkan saudara sepupu. Tak apa, pasti tetap ada nilai-nilai kehidupan yang bisa dipetik.</p>
<p>Sam, yang berusia 10 tahun, besar di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, biasa dekat dengan alam karena rumahnya yang dekat pantai. Sebaliknya, Happy, 12 tahun, merupakan tipikal anak yang berusaha untuk menjadi <em>hits </em>dan senantiasa menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.</p>
<div id="attachment_994" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-994" class="size-full wp-image-994" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/21628_film-kulari-ke-pantai.jpg" alt="" width="700" height="465" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/21628_film-kulari-ke-pantai.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/21628_film-kulari-ke-pantai-300x199.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/21628_film-kulari-ke-pantai-356x236.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-994" class="wp-caption-text">Sam dan Happy (http://bobo.grid.id/read/08682053/video-berkenalan-dengan-pemain-dan-pembuat-film-kulari-ke-pantai?page=all)</p></div>
<p>Pertengkaran mereka ketika ulang tahun Oma mereka menimbulkan ide bagi ibunda Happy untuk ikut perjalanan darat bersama Sam dan ibunya, Uci. Sebagai informasi, Sam berencana melakukan perjalanan darat untuk menuju Banyuwangi demi bertemu dengan <em>surfer</em> idolanya .Ibu dari Happy berharap perjalanan tersebut Happy bisa belajar banyak.</p>
<p>Penulis tidak akan menceritakan cerita perjalanan tersebut, karena sama saja dengan <em>spoiler</em>. Penulis akan menuliskan beberapa poin yang bisa dipetik dari film ini.</p>
<p><strong>Bangga Menggunakan Bahasa Indonesia</strong></p>
<p>Terdapat satu <em>scene </em>di mana mereka bertemu dengan Dani, seorang bule yang lahir dan besar di Papua. Happy merasa heran karena seorang bule dengan fasihnya berbicara bahasa Indonesia. Bahkan, ia berusaha mengajaknya bicara dengan menggunakan bahasa Inggris.</p>
<p>Dani pun menyindirnya dengan halus, dengan berkata:</p>
<p><em>&#8220;Kau sedang di Indonesia, ya gunakanlah bahasa Indonesia. Kalau terlalu sering menggunakan bahasa lain nanti kau lupa dengan bahasamu sendiri.&#8221;</em></p>
<div id="attachment_993" style="width: 490px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-993" class="size-full wp-image-993" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/hqdefault.jpg" alt="" width="480" height="360" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/hqdefault.jpg 480w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/hqdefault-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/hqdefault-340x255.jpg 340w" sizes="(max-width: 480px) 100vw, 480px" /><p id="caption-attachment-993" class="wp-caption-text">Kakak Dani (youtube.com)</p></div>
<p>Jleb! Penulis merasa ditampar dengan halus oleh dialog ini, karena penulis sendiri terkadang menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Benar, jika ngobrol dengan sesama orang Indonesia, untuk apa menggunakan bahasa Inggris? Bukankah kita memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia.</p>
<p>Note: Ketika mengetik tulisan ini, penulis pun masih membalas <em>chat </em>dengan bahasa Inggris, hahaha.</p>
<p>Kecuali, digunakan dengan tujuan belajar, bukan memamerkan kemampuan. Tentu dengan membiasakan diri membuat kita akan semakin terlatih dalam menggunakan bahasa Inggris. Tapi, yang tahu niat kan diri kita sendiri.</p>
<p><em>Bersambung&#8230;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Juli 2018, terinspirasi setelah menonton film Kulari ke Pantai</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.femina.co.id/agenda/film-anak-terbaru-dari-miles-film-kulari-ke-pantai-segera-rilis-rebut-tiket-nobarnya-di-sini">https://www.femina.co.id/agenda/film-anak-terbaru-dari-miles-film-kulari-ke-pantai-segera-rilis-rebut-tiket-nobarnya-di-sini</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/">Setelah Menonton Kulari ke Pantai (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-kulari-ke-pantai-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton 212: The Power of Love</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-212-the-power-of-love/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-212-the-power-of-love/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2018 16:18:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[212]]></category>
		<category><![CDATA[212: The Power of Love]]></category>
		<category><![CDATA[aksi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=705</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berhubung punya sisa saldo di aplikasi M-Tix, penulis memutuskan untuk menggunakannya di Jakarta. Film yang penulis pilih adalah 212: The Power of Love yang menceritakan tentang aksi damai yang dilakukan untuk menuntut pejabat negara yang telah melakukan penistaan agama. Ini adalah film ke enam yang penulis tonton tahun ini. Benar-benar sebuah rekor! Ketika penulis mencari infomasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-212-the-power-of-love/">Setelah Menonton 212: The Power of Love</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berhubung punya sisa saldo di aplikasi M-Tix, penulis memutuskan untuk menggunakannya di Jakarta. Film yang penulis pilih adalah <strong>212: The Power of Love </strong>yang menceritakan tentang aksi damai yang dilakukan untuk menuntut pejabat negara yang telah melakukan penistaan agama.</p>
<p>Ini adalah film ke enam yang penulis tonton tahun ini. Benar-benar sebuah rekor!</p>
<p>Ketika penulis mencari infomasi di mana film tersebut diputar, hanya ada tiga bioskop yang memutarnya (dan itupun bioskop-bioskop kecil). Penulis memutuskan untuk menonton di Blok M Square karena letaknya dekat dengan tempat penulis menjalani training pertama sebagai <em>volunteer </em>Asian Games.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan isi filmnya? Penulis sangat merekomendasikannya, baik muslim maupun non muslim.</p>
<p>Walaupun mengangkat tema yang berbau politik, nyatanya pada film tersebut hanya sedikit sekali menyinggung hal tersebut. Lebih banyak mengangkat tema keluarga menurut penulis.</p>
<p>Tokoh utama Rahmat diperankan oleh Fauzi Baadila, yang dapat memerankan sosok muslim yang membenci Islam. Sebagai seorang jurnalis lulusan Harvard, ia kerap menulis hal-hal negatif tentang Islam, seperti mengecap Islam radikal dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Sepanjang film, ia akan terus menentang keinginan ayahnya, seorang ulama dari Ciamis, untuk tidak ikut aksi 212.</p>
<p>Pada awalnya, penulis agak merasa skeptis setelah mendengar judul filmnya. The Power of Love, kok mirip sama lagu-lagumya Kenny G. Setelah menonton, barulah penulis memahami alasannya. Selain cinta dalam lingkup keluarga, sutradara ingin menyampaikan bahwa hanya kekuatan cintalah yang membuat jutaan orang dapat berkumpul di Monas, sesuatu yang tidak bisa disamai oleh partai politik manapun. Hanya saja, menurut penulis lebih baik menggunakan judul <strong>212: Kekuatan Cinta</strong>.</p>
<p>Memang, beberapa tokoh nampak kurang natural dalam berakting. Kaku kaku gimana gitu, meskipun tidak terlalu mempengaruhi isi film tersebut. Beberapa artis juga turut menjadi figuran, seperti Dimas Seto dan Tommy Kurniawan.</p>
<p>Kesimpulan, film ini layak untuk ditonton oleh semua kalangan. Banyak sekali nilai-nilai yang dapat dipetik hikmahnya, yang tentunya dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
<p>Islam itu agama damai, bukan agama radikal. Yang radikal itu otak loe, sama gue, tapi gue radikalis romantis :).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 11 Mei 2018, setelah menonton film 212: The Power of Love</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.viva.co.id/indepth/fokus/1035021-212-the-power-of-love-tak-sesuai-ekspektasi">https://www.viva.co.id/indepth/fokus/1035021-212-the-power-of-love-tak-sesuai-ekspektasi</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-212-the-power-of-love/">Setelah Menonton 212: The Power of Love</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-212-the-power-of-love/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 11:05:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[#banggafilmindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Chelsea Islan]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Hongkong Kasarung]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Sekala Niskala]]></category>
		<category><![CDATA[Sule]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=537</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis. Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya tidak ada niatan untuk menonton di bioskop ketika penulis melakukan perjalanan ke Jakarta. Hanya saja, ketika membuat rekening Genius dari BTPN saat penulis berada di even Education Fair, penulis mendapatkan voucher menonton di Cinema XXI. Walaupun bukan termasuk hobi, apa salahnya menonton ketika punya tiket gratis.</p>
<p>Maka penulis pun mencari-cari, film apa yang sekiranya bisa dilihat. Setelah menimbang-nimbang dan teringat kampanye Chelsea Islan dengan hashtag #banggafilmindonesia, penulis pun memilih film <strong>Sekala Niskala </strong>yang mengangkat budaya Bali.</p>
<p>Setelah tertunda beberapa kali, penulis akhirnya berangkat menuju Cinema XXI yang berada di Taman Ismail Marzuki karena dekat dengan Masjid Cut Meutia (baca: <a href="http://whathefan.com/2018/03/21/pengalaman-sholat-jumat-di-masjid-cut-meutia/">Pengalaman Sholat Jum&#8217;at di Masjid Cut Meutia</a>).</p>
<p><strong>Sekala Niskala</strong></p>
<div id="attachment_538" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-538" class="size-full wp-image-538" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg" alt="" width="690" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68.jpg 690w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-300x196.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/xekspresi-sekala-niskala.jpg.pagespeed.ic_.gvosiN6i68-356x232.jpg 356w" sizes="(max-width: 690px) 100vw, 690px" /><p id="caption-attachment-538" class="wp-caption-text">Sekala Niskala (http://www.suaramerdeka.com/ekspresi/detail/504/Sekala-Niskala-Hubungan-Magis-Antara-Saudara-Kembar)</p></div>
<p>Ketika berada di loket, penulis melihat bahwa film terbaru Sule, <strong>Hongkong Kasarung</strong>, telah tayang di bioskop. Maka dari itu penulis putuskan untuk menonton sekalian film tersebut. #banggafilmindonesia</p>
<p>Penulis sedikit terlambat karena waktunya yang agak mepet dengan waktu berakhirnya Sholat Jum&#8217;at. Pikir penulis, pasti sudah banyak yang datang. Ternyata, baru enam orang yang datang. Fakta ini penulis ketahui ketika memilih kursi di loket, ketika warna hijau mendominasi layar. Penulis sampai bertanya kepada petugas loket, yang kosong yang warna apa, merah atau hijau.</p>
<p>Karena banyak kursi kosong, penulis bisa bebas memilih kursi mana yang ingin diduduki. Bioskop serasa milik sendiri, walaupun di belakang banyak pasangan yang juga ikut menonton.</p>
<p>Lalu, bagaimana filmnya?</p>
<p>Melihat Sekala Niskala itu serasa membaca puisi. Multitafsir dan butuh penghayatan yang dalam. Penulis butuh browsing untuk bisa memahami film tersebut.</p>
<p>Ternyata, Sekala dan Niskala adalah dua dunia yang berbeda, di mana Sekala adalah dunia nyata di mana kita tinggal dan Niscaya adalah alam lain, yang di film ini merupakan dunia imajinasi dari karakter utama.</p>
<p>Budaya Bali dalam film ini sangat kentara, mulai dari bahasa hingga tarian-tarian yang ditampilkan. Benar-benar membawa budaya asli Indonesia, bukan hanya sekedar kata-kata dalam bahasa daerah (termasuk kata kotornya) seperti film sebelah.</p>
<p>Walaupun sempat tertidur karena banyaknya adegan sinden bernyanyi yang membuat penulis terkantuk-kantuk, penulis merasa puas melihat film ini, bagaikan melihat almarhum Rendra membawakan puisinya.</p>
<p><strong>Hongkong Kasarung</strong></p>
<div id="attachment_539" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-539" class="size-large wp-image-539" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/maxresdefault.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-539" class="wp-caption-text">Hongkong Kasarung (youtube.com)</p></div>
<p>Setelah melihat film serius (sama sekali tidak ada humor dalam film Sekala Niskala), penulis menonton film komedi Hongkong Kasarung. Awalnya penulis agak skeptis melihat film komedi lokal, takutnya garing seperti kerupuk.</p>
<p>Untunglah, semua pesimisme penulis salah besar. Film tersebut kocak habis! Banyak adegan-adegan lucu yang berhasil membuat tawa penulis lepas. Guyonan khas Sule dkk muncul dalam film ini. Penggunaan bahasa Sunda menambah nilai positif film ini.</p>
<p>Intinya, film ini penulis rekomendasikan untuk semua kalangan usia.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Tahun 2018 ini merupakan rekor penulis dalam menonton film, dengan menonton 4 film dalam tiga bulan. Sebagai perbandingan, tahun 2017 kemarin, selama satu tahun penulis hanya menonton satu kali, yakni film Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale (padahal penulis tidak pernah melihat serial Sword art Online, alhasil teman penulis menjadi korban karena penulis tak pernah berhenti bertanya tentang film tersebut).</p>
<p>Dari empat film tersebut, tiga di antaranya adalah film lokal (baca: Setelah Menonton Si Juki), hanya Black Panther yang film buatan luar (karena penulis penggemar Superhero).</p>
<p>Mengapa bisa seperti itu?</p>
<p>Karena penulis menyadari bahwa kita bisa berperan memajukan perfilman Indonesia dengan cara menontonnya. Kalau bisa, bukan film-film terkenal macam cinta-cintaan anak SMA itu, melainkan film-film yang mengangkat budaya lokal. Tapi jika maunya film yang bergenre romantis, ya enggak apa-apa, yang penting masih film lokal.</p>
<p>Semangat #banggafilmindonesia ini terinspirasi dari teman penulis semasa di Pare, bang Edo, yang pernah berkata:</p>
<p>&#8220;Kalau ada film Indonesia, aku akan berusaha untuk menontonnya.&#8221;</p>
<p>Kalau film-film <em>box office </em>dari luar negeri kan sudah tersebar ke mana-mana tuh, pasti banyak penontonnya. Karena itu, sebagai warga negara yang baik, menonton karya anak bangsa adalah salah satu bentuk dukungan kita kepada perfilman Indonesia agar semakin maju.</p>
<p>Sekali lagi, <strong>#banggafilmindonesia</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, terinspirasi setelah menonton film Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/">Setelah Menonton Sekala Niskala dan Hongkong Kasarung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-sekala-niskala-dan-hongkong-kasarung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
