<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bisnis Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bisnis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bisnis/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:03:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Bisnis Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bisnis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca Zero to One</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2021 10:34:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Thiel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[startup]]></category>
		<category><![CDATA[Zero to One]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4343</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di dalam hidupnya, Penulis beberapa kali beririsan dengan yang namanya startup, baik diajak orang ataupun membuat sendiri bersama teman-teman. Sedikit banyak Penulis mengetahui susahnya membangun sebuah bisnis dari nol. Dari pengalaman Penulis, banyak sekali startup tersebut tumbang di tengah jalan. Walaupun begitu, Penulis masih ingin tetap belajar tentang startup. Setidaknya, Penulis punya ilmunya untuk bekal di masa depan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/">Setelah Membaca Zero to One</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam hidupnya, Penulis beberapa kali beririsan dengan yang namanya <strong><em>startup</em></strong>, baik diajak orang ataupun membuat sendiri bersama teman-teman.</p>
<p>Sedikit banyak Penulis mengetahui susahnya membangun sebuah bisnis dari nol. Dari pengalaman Penulis, banyak sekali <em>startup </em>tersebut tumbang di tengah jalan.</p>
<p>Walaupun begitu, Penulis masih ingin tetap belajar tentang <em>startup</em>. Setidaknya, Penulis punya ilmunya untuk bekal di masa depan.</p>
<p>Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku <em><strong>Zero to One</strong> </em>karya <strong>Peter Thiel</strong> yang satu ini. Seperti apa isinya?</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dari judulnya, buku ini berusaha meyakinkan pembacanya kalau dalam membangun <em>startup </em>harus memberikan sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada.</p>
<p>Bill Gates membuat sistem operasi yang mendominasi dunia, Larry Page dan Sergey Brin membuat mesin pencari paling sering digunakan, Mark Zuckerberg menciptakan jejaring sosial paling populer.</p>
<p>Kalau kita ingin membangun <em>startup </em>kita sendiri, <strong>jangan membuat sesuatu yang sudah ada</strong>, kecuali kita bisa menawarkan sesuatu yang jauh lebih baik.</p>
<p>Buku ini berisikan<strong> 14 bab</strong> seputar dunia <em>startup</em>, mulai dari membangun, menjaganya, menawarkan sesuatu yang lebih baik, dan lain sebagainya.</p>
<p>Beberapa poin penting dari buku ini adalah <strong>pentingnya monopoli dalam dunia bisnis</strong>, <strong>budaya <em>startup</em></strong>, <strong>dasar-dasar marketing</strong>, hingga <strong>menguasai pasar</strong>.</p>
<p>Ada juga tujuh pertanyaan penting yang harus bisa dijawab oleh pemilik atau pendiri <em>startup. </em>Kalau ingin bisnis sukses, ketujuh pertanyaan ini harus bisa dijawab dengan meyakinkan:</p>
<ol>
<li>Pertanyaan tentang Teknis</li>
<li>Pertanyaan tentang Pemilihan Waktu</li>
<li>Pertanyaan tentang Monopoli</li>
<li>Pertanyaan tentang Orang</li>
<li>Pertanyaan tentang Distribusi</li>
<li>Pertanyaan tentang Keberlangsungan</li>
<li>Pertanyaan tentang Rahasia</li>
</ol>
<p>Untuk detailnya bisa dibaca di bukunya langsung, halaman 189. Di buku ini, contoh perusahaan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik adalah <strong>Tesla</strong>.</p>
<p>Hanya saja, Penulis merasa buku ini <strong>terlalu korporat</strong> untuk buku yang menggunakan kata <em>startup </em>di bagian sampul depannya.</p>
<p>Selain itu, <em>startup </em>di sini sangat menekankan kepada <strong>teknologi</strong>. Hampir tidak ada ruang tersisa di buku ini untuk <em>startup </em>yang di luar hal tersebut.</p>
<p>Penulis pribadi paling tertarik dengan <strong>bab 13</strong> yang menjelaskan mengenai kenapa perusahaan yang kesannya peduli terhadap lingkungan kerap gagal.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku <em>Zero to One</em></h3>
<p>Penulis dari buku ini, <strong>Peter Thiel</strong>, merupakan salah satu pendiri <em>PayPal</em> dan kerap menyisipkan kisahnya sendiri di dalam bab-babnya.</p>
<p>Sebagai seorang <em>businesman </em>top di Silicon Valley, wajar jika di belakang bukunya terdapat testimoni dari Elon Musk dan Mark Zuckerberg.</p>
<p>Sayangnya, hal tersebut membuat buku ini terasa jauh. Buku ini oke-oke saja sebagai referensi dan menambah wawasan kita seputar dunia <em>startup</em>, tapi tidak lebih dari itu.</p>
<p>Penulis lebih menikmati kisah-kisah para orang sukses yang ada di dalamnya seperti kisah Elon Musk dengan Teslanya dibandingkan <strong>tips-tips bisnisnya yang rasanya susah untuk dipraktikkan secara langsung</strong>.</p>
<p>Di era yang sekarang serba ada dan mudah, rasanya susah sekali untuk menemukan sesuatu dari nol, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia.</p>
<p>Paling banter, kita hanya bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dari para kompetitor. Produk-produk kopi misalnya, pasti ada faktor pembeda dari kedai satu dengan lainnya.</p>
<p>Sebagai buku bisnis, buku ini mudah dicerna dan penerjemahannya pun masih bisa dipahami. Adanya contoh kasus dari tokoh-tokoh terkenal juga menjadi nilai utama dari buku ini.</p>
<p>Buku ini tidak terlalu Penulis rekomendasikan, tapi kalau hanya ingin sekadar menambah wawasan dunia <em>startup </em>masih layak untuk dibaca.</p>
<p>Nilainya: <strong>3.9/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 2 Februari 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Zero to One </em>karya Peter Thiel</p>
<p>Foto: <a href="https://www.gramedia.com/api/amp/product/zero-to-one/">Gramedia</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/">Setelah Membaca Zero to One</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-zero-to-one/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Bisnis Sejak Dini</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Feb 2018 13:14:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Wiraswasta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=323</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika melakukan wawancara dengan beberapa anggota Karang Taruna, beberapa mereka mengatakan bahwa cita-cita mereka adalah menjadi pengusaha. Bahkan salah satunya secara jujur bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Chairul Tanjung. Berbisnis memang pekerjaan yang menjanjikan, walaupun jalan yang harus dilalui sangatlah terjal. Oleh karena itu, ilmu-ilmunya harus dipelajari sejak usia remaja. Bagaimana caranya? Mulai saja dulu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/">Belajar Bisnis Sejak Dini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika melakukan wawancara dengan beberapa anggota Karang Taruna, beberapa mereka mengatakan bahwa cita-cita mereka adalah menjadi pengusaha. Bahkan salah satunya secara jujur bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Chairul Tanjung.</p>
<p>Berbisnis memang pekerjaan yang menjanjikan, walaupun jalan yang harus dilalui sangatlah terjal. Oleh karena itu, ilmu-ilmunya harus dipelajari sejak usia remaja. Bagaimana caranya? Mulai saja dulu bisnis yang sekiranya bisa dilakukan. Sebagai contoh, saya akan menceritakan pengalaman wirausaha saya ketika masih SD dan SMP.</p>
<p><strong>Penyewaan CD</strong></p>
<p>Waktu SD, saya ingat betul ketika membuka usaha persewaan CD (bukan DVD, belum populer ketika itu) sendirian. Bermodalkan seri hampir lengkap Power Ranger Turbo dan beberapa CD lainnya seperti Teletubbies, saya beri nama <strong>Persewaan CD Iraq. </strong></p>
<p>Kenapa Iraq? Bukan sebagai dukungan terhadap Irak yang sedang diinvasi oleh AS, melainkan Iraq pakai Q memiliki kepanjangan odI heRAl aQsa. Iya, maksa memang, namanya juga anak kecil, belum sunat pula.</p>
<p>Apakah ada pelanggannya? Ada, teman satu kelas. Malah pada akhirnya jadi mitra. Sayangnya, karena yang nyewa juga cuma satu orang itu, akhirnya mau tidak mau bisnis pertama saya harus saya tutup.</p>
<p><strong>Penyewaan Komik</strong></p>
<p>Gagal di tahap pertama tidak menyurutkan semangat saya untuk menghasilkan uang sendiri. Bersama teman yang sama, ketika SMP kami berdua mendirikan <strong>Penyewaan Komik Konohagakure</strong>. Bahkan, kami sudah membuat stempel perusahaan.</p>
<p>Iya, Konoha, tempat Naruto lahir dan menjadi Hokage. Kami berdua kebetulan sama-sama penggemar komik Naruto, hingga drama kelas pun menggunakan cerita Naruto (kalau tidak salah, episode Sasuke bertemu Itachi pertama kali).</p>
<p>Bermodalkan katalog sederhana, di hari pertama kami berhasil menyewakan komik banyak sekali, sekitar satu kantong kresek besar. Bahkan kami berhasil menggandeng mitra ketiga dan keempat untuk menambah koleksi kami.</p>
<p>Sayang, karena saya orangnya <em>sungkanan</em>, banyak komik yang tidak kembali ke saya. Rasanya tidak enak mau menagih. Demi menghentikan hilangnya komik saya (karena saya penyumbang komik terbanyak), maka penyewaan ini pun kami tutup.</p>
<p><strong>Manfaat Berbisnis Sejak Muda</strong></p>
<p>Apapun bentuknya, mencoba berbagai jenis bisnis sangat bagus terutama untuk remaja. Asal jangan bisnis yang haram saja, seperti menipu atau jasa pukul. Yang paling sering dilakukan adalah jualan pulsa atau buka <em>online shop. </em>Jika orangtua wiraswasta, mungkin bisa kita bantu supaya mengerti bagaimana prosesnya.</p>
<p>Setidaknya, ada tiga manfaat menjadi <em>entrepreneur </em>muda. Yang pertama, kita bisa memahami susahnya mencari uang. Keuntungan yang didapat mungkin tidak seberapa, tapi seperti kata Enjel, salab satu anggota Karang Taruna:</p>
<p><em>&#8220;Mending untung sedikit tapi jujur, daripada untung banyak dari hasil menipu.&#8221;</em></p>
<p>Yang kedua, karena merasakan susahnya meraup rupiah, kita bisa menjadi lebih menghargai kerja keras orangtua kita dalam mencari nafkah. Dengan merasakannya sendiri, tentu akan tumbuh empati terhadap setiap tetes keringat orangtua kita yang mereka keluarkan demi kebahagiaan kita.</p>
<p>Yang terakhir, jelas kita akan mendapatkan pengalaman untuk seumur hidup. Pengalaman ini tak akan tergantikan karena waktu terus bergulir, seperti salah satu judul sajak saya. Semakin muda kita memulai usaha semakin banyak pula ilmu yang aka kita raih sebagai modal untuk berbisnis di kala usia kita sudah menginjak dewasa.</p>
<p>Jadi, tunggu apalagi? Segera temukan <em>passion</em>-mu dan jangan tunda-tunda lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tukangkayu, Banyuwangi, 3 Februari 2018, setelah melihat video konser Panic! At the Disco di Youtube (mumpung ada wifi)</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://ymcairedell.org/index.php/money-tips-for-kids/">http://ymcairedell.org/index.php/money-tips-for-kids/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/">Belajar Bisnis Sejak Dini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/belajar-bisnis-sejak-dini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
