<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brian Khrisna Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/brian-khrisna/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/brian-khrisna/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Aug 2026 15:16:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>Brian Khrisna Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/brian-khrisna/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 14:42:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Brian Khrisna]]></category>
		<category><![CDATA[mie ayam]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan &#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;. Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena <em>cover</em>-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan <strong>&#8220;Edisi Spesial Cetakan ke-100&#8221;</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel tersebut adalah <em><strong>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</strong></em> karya <strong>Brian Khrisna</strong>, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang <em>related </em>bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.</mark></em>&#8220;</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-2-1280-1.jpg 1280w " alt="Bagian 4 Kia dan Orangtuanya" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/bagian-4-kia-dan-orangtuanya/">Bagian 4 Kia dan Orangtuanya</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:<em> Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)</em></li>



<li>Penulis: Brian Khrisna</li>



<li>Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia</li>



<li>Cetakan: Ke-100</li>



<li>Tanggal Terbit: April 2026 </li>



<li>Tebal: 216 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020531328</li>



<li>Harga: Rp93.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Novel <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>berpusat pada karakter bernama <strong>Ale</strong>, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di edisi spesial ini, ada satu &#8220;perjalanan tambahan&#8221; yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Karena belakangan ini suka membaca <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">novel-novel dari penulis Jepang</a>, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk &#8220;berkenalan&#8221; dengan karya-karya Brian Khrisna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan <em>related </em>dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini <strong>terkadang membuat kita merasa buntu</strong> dan<strong> tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, &#8220;kematian&#8221; pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika <strong>masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen</strong>. Ini bukan kata Penulis, tapi kata <strong>Dr. Jiemi Ardian</strong> lewat bukunya yang berjudul <em>Merawat Luka Batin</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai <strong>&#8220;pelukan hangat&#8221; </strong>dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, <strong>kita memiliki peran masing-masing</strong>. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa <em>quote </em>kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">&#8220;<em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.</mark></em>&#8221; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, <strong>beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural</strong>. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti <em>textbook</em> yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya <em>cringe</em>. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung <em>ngatain</em>, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah <strong>punya pekerja sampingan sebagai motivator</strong>. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Petualangan Ale&#8221; dalam buku ini juga terasa terlalu mulus</strong>. Seperti kritik pada <a href="https://whathefan.com/filmserial/review-setelah-menonton-project-hail-mary/">film <em>Project Hail Mary</em></a>, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale &#8220;lolos&#8221; setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu <em>happy ending</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki &#8220;kelemahan&#8221; berupa keluarga yang ia sayangi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya <em>universal </em>dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati </em>karya Brian Khrisna</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/">[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-seporsi-mie-ayam-sebelum-mati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
