<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dungu Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/dungu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/dungu/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jul 2019 00:08:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>dungu Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/dungu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2018 15:05:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bong]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ILC]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=664</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya. Siapa Rocky Gerung? Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya.</p>
<p><strong>Siapa Rocky Gerung?</strong></p>
<p>Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). Penulis mengingatnya karena keberaniannya berbicara lantang terhadap kinerja pemerintah.</p>
<p>Bahkan, netizen pun sampai khawatir bahwa RG akan bernasib sama dengan Hermansyah, ahli IT yang mengungkap fakta bahwa <em>screenshot </em>yang membuat Habib Rizieq Shihab terkena kasus chat mesum adalah rekayasa. Untunglah, sampai hari ini kekhawatiran itu tidak terjadi.</p>
<p>Setelah itu, RG kerap menjadi narasumber, hampir di setiap episode ILC. Tentu penulis menjadi penasaran, sebenarnya siapa beliau sehingga mampu mengeluarkan kosa kata yang berat-berat.</p>
<div id="attachment_668" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-668" class="size-full wp-image-668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-668" class="wp-caption-text">Narasumber ILC (http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/03/pks-dihina-usai-undang-dirinya-rocky-gerung-serendah-inikah-politik-hari-ini)</p></div>
<p>Ternyata, RG adalah (mantan) dosen filsafat di Universitas Indonesia. Artis cantik Dian Sastrowardoyo merupakan murid bimbingannya. Dari berbagai sumber yang penulis baca, RG tidak pernah melamar di UI, justru UI yang meminta RG mengajar, termasuk jenjang Magister dan Doktor. Padahal, RG sendiri hanya lulusan tingkat Sarjana.</p>
<p>Ajaib? Tanya ke UI, begitu kata beliau. Dari beberapa testimoni, mereka menyebutkan RG memang sosok yang cerdas cenderung arogan ketika berdiskusi. Itu memang <em>style-</em>nya.</p>
<p><strong>Dungu dan Bong200</strong></p>
<p>RG hanya aktif di Twitter, dan banyak cuit-cuitannya yang memantik kemarahan orang. Salah satunya ya penggunaan kata dungu yang sering ditujukan kepada orang lain.</p>
<p>Sebenarnya, kata dungu tersebut bukan ditujukan kepada orangnya, melainkan cara berpikir atau bernalar orang tersebut. Hanya saja, mungkin sebagian besar orang menganggap dungu itu sama kasarnya dengan bodoh, dan tidak ada orang yang senang dipanggil bodoh.</p>
<div id="attachment_669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-669" class="size-full wp-image-669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg" alt="" width="800" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-300x177.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-768x452.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-356x210.jpg 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-669" class="wp-caption-text">Contoh Tweet RG (twitter.com)</p></div>
<p>Selain itu, RG juga kerap kali menggunakan istilah bong. Sebenarnya penulis tahu siapa yang dimaksud dan penyebab panggilan tersebut. Hanya saja, rasanya kurang etis untuk dijadikan bahan tulisan. 200? <em>You know lah</em>, sudah banyak yang membahas ini di media sosial. Yang terbaru, kini ada istilah <strong>KALABONG</strong>, persilangan antara kalajengking dan katak. Yang ini jelas termasuk fiktif.</p>
<p>Banyak yang mengkritik kasarnya bahasa yang RG gunakan dalam <em>tweet-tweet </em>yang ia ketik, namun kembali lagi, itulah gayanya. Setidaknya, ia mengakui bahwa itu merupakan <em>tweet</em>-nya dalam salah satu acara stasiun televisi swasta, tidak seperti politikus partai baru yang berkelit-kelit ketika ditanya hal serupa.</p>
<p><strong>Profesor Tanpa Gelar</strong></p>
<p>Netizen yang kontra terhadap RG, sering menyerang label profesor yang sering disematkan kepada RG (biasa dilakukan oleh netizen yang tidak mampu membalas argumen RG). Jujur, penulis sebenarnya tertawa tipis saja ketika mengetahui hal tersebut.</p>
<p>Pertama, RG tidak pernah ingin dipanggil profesor. Penulis ingat sekali ketika di acara ILC yang agak lama, dengan lugas RG berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebenarnya saya bukan prof, bukan tidak bisa tapi tidak butuh</em>.&#8221;</p>
<div id="attachment_667" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-667" class="size-full wp-image-667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg" alt="" width="640" height="372" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-300x174.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-356x207.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-667" class="wp-caption-text">Profesor Tanpa Gelar (http://pepnews.com/2018/04/15/tentang-fiksi-nya-rocky-gerung-dan-perbatasan-kamus/)</p></div>
<p>Terkesan arogan? Iya memang, tapi lagi-lagi, itulah gaya seorang RG. Lantas mengapa ia bisa dipanggil seperti itu? Mungkin karena orang mengagumi kecerdasannya, mengagumi nalar berpikirnya yang (mungkin) mengalahkan profesor sungguhan. Intinya, profesor merupakan sebutan untuk menghormati RG.</p>
<p>Satu yang pasti, penulis merasa bertambah cerdas ketika mendengar RG berbicara maupun membaca <em>tweet</em>-nya yang menggelitik, walaupun tidak memahami seluruhnya apa yang disampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi ketika <em>stalking </em>twitter Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi">https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kedunguan dalam Berdebat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2018 02:26:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kedunguan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam tweet-tweetnya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna: sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam <em>tweet-tweet</em>nya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;"><em>sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh;</em></p>
<p>Sedangkan kedunguan sama dengan kebodohan atau kebebalan. Kebodohan memiliki arti sifat-sifat bodoh atau ketidaktahuan. Jadi, judul di atas ingin menyampaikan tentang sifat-sifat bodoh yang dilakukan orang ketika berdebat.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai kedunguan dalam berdebat, sebut saja menyebut data hoax. Namun pada tulisan kali ini, penulis hanya ingin menekankan satu perbuatan yang menurut penulis paling dungu di antara kedunguan lainnya.</p>
<p>Menyerang personal ketika kalah berdebat.</p>
<p>Hal ini kerap terjadi kepada orang-orang yang sudah tidak memiliki argumentasi dalam konteks perdebatan. Semua perkataannya telah dipatahkan oleh lawan debatnya, sehingga ia memutuskan untuk menyerang secara pribadi, baik fisik maupun psikis.</p>
<p>Biasanya, orang-orang seperti ini adalah tipikal orang yang tidak mau kalah meskipun salah.</p>
<p>Sebagai contoh, karena tidak memahami ucapan lawan bicaranya, ia mengalihkan pembicaraan:</p>
<p><em>&#8220;Masa wajah jelek kayak gitu bisa mimpin.&#8221;</em></p>
<p>Atau</p>
<p><em>&#8220;Pasti dia anak haram, makanya kelakuannya seperti itu.</em>&#8221;</p>
<p>Mungkin jenis-jenis kalimat seperti di atas jarang keluar di televisi. Akan tetapi, coba cek di media sosial. Astaga, benar-benar menyedihkan. Sedemikian dangkal pola pemikiran kita sehingga yang bisa kita lakukan hanya menyerang tanpa bisa mendebat konteks perbincangan.</p>
<p>Idealnya, kita menghargai lawan debat kita dan mengakui apabila argumen kita kalah dengan miliknya. Sayang, kedewasaan berdebat masih menjadi barang yang langka di negara ini. Atau, bahkan di dunia sekalipun?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 April 2018, terinspirasi setelah membaca linimasa twitter milik Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://vancouverdebate.ca/">https://vancouverdebate.ca/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
