<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ekspetasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ekspetasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ekspetasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:54:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ekspetasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ekspetasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2021 10:15:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[kecewa]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bung Karno pernah membuat quote yang berbunyi, &#8220;bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.&#8221; Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa. Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bung Karno pernah membuat <em>quote </em>yang berbunyi, &#8220;<em>bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang</em>.&#8221;</p>



<p>Sayangnya realita berbicara lain, setidaknya menurut Penulis. Ketika kita memiliki harapan yang tinggi, jatuhnya juga akan tinggi. Kalau jatuhnya tinggi, <strong>rasa sakit yang diterima pun akan begitu terasa</strong>.</p>



<p>Hal ini bisa berlaku di mana pun, entah itu masa depan, cita-cita, karir, percintaan, dan lain sebagainya. Semua hal yang bisa membuat kita berharap dapat membuat kita merasa sakit juga.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Bersiap untuk Merasa Kecewa</h2>



<p>Tulisan ini terinspirasi dari salah satu video dari Jerome Polin ketika ia membuat video ulang tahunnya. Pembaca bisa menonton videonya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="(10C3-110Ln(e)+13) TAHUN! AWALNYA MAU NGEPRANK, EH MALAH..." width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/MFAO1o5Dp8g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ada satu <em>quote </em>darinya yang sangat cocok untuk tema tulisan kali ini, yakni:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Gak ada salahnya berekspetasi, tapi juga harus mempersiapkan hati untuk menerima fakta yang tidak menyenangkan.&#8221;</p><cite>Jerome Polin</cite></blockquote>



<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berharap, toh itu salah satu sifat dasar manusia. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan hati apabila yang diharapkan tidak terjadi.</p>



<p>Contohnya adalah kisah Jerome yang berharap akan diberikan kejutan oleh teman-temannya ketika jam 12 tepat. Ternyata tidak ada yang datang, walau akhirnya jam 1 lewat sedikit ada beberapa orang yang memberi kejutan.</p>



<p>Ketika kita berharap pada sesuatu, maka kita harus mempersiapkan diri apabila <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">harapan tersebut tidak terjadi</a>. Jangan hanya membayangkan senangnya saja, kecewanya pun harus dipersiapkan.</p>



<p>Penulis akan mengambil contoh harapan tentang hubungan kita dengan seseorang. Anggaplah kita menyayangi seseorang dan berharap bisa menjadi pasangannya. Sayangnya, harapan kita tidak terkabul karena cinta kita bertepuk sebelah tangan.</p>



<p>Salah seorang <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">&#8220;adik&#8221; Penulis</a> pernah berkata bahwa ketika ia sudah memutuskan untuk menyayangi seseorang, ia telah sadar perasaan tersebut sudah sepaket dengan perasaan kecewa.</p>



<p>Dalam contoh ini, berharap orang memberikan rasa sayang yang sebesar kita berikan bisa menimbulkan kekecewaan jika tidak terealisasi. Maka dari itu, ketika memutuskan untuk menyayangi seseorang, kita harus bersiap menelan pil terpahitnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Agar Jatuhnya Tidak Sakit</h2>



<p>Secara garis besar, ada dua cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak terlalu merasa sakit ketika terjatuh: <strong>ekspetasinya yang diturunkan</strong> atau <strong>kitanya yang harus menguatkan diri</strong>.</p>



<p>Cara pertama, kita harus bisa mengukur seberapa ekspetasi yang dikeluarkan. Jangan sampai ekspetasi tersebut tidak realistis sehingga kemungkinan tidak jatuhnya kecil.</p>



<p>Mengelola harapan jelas bukan perkara mudah. Untuk masalah ini, kita harus menyadari bahwa ada kalanya kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan dan percaya akan mendapatkan ganti yang lebih baik.</p>



<p>Cara kedua, ibaratnya seperti lagu <em>Terlatih Patah Hati </em>karya The Rain feat Endank Soekamti. Kita harus menempa diri hingga menjadi sosok yang tangguh dan seringnya hal ini bisa terjadi karena telah terbiasa.</p>



<p>Kalau kitanya bisa bertahan dari rasa sakit dan kecewa apapun, mau jatuh setinggi apapun kita akan tetap merasa kuat dan hanya merasa sedikit terluka. Dengan kepala tegak kita bisa kembali melanjutkan hidup.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Mengulang perkataan Jerome, tidak ada yang salah dari berekspetasi. Hanya saja, kita juga harus mempersiapkan diri jika hal yang diinginkan tidak terjadi.</p>



<p>Semakin tinggi harapan, semakin tinggi pula jatuhnya jika tidak kesampaian. Oleh karena itu, kita yang harus pintar-pintar mengelola harapan atau melatih diri menjadi sosok yang bisa menahan sakitnya terjatuh.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 31 Juli 2021, terinspirasi setelah menonton video dari Jerome Polin</p>



<p>Foto: <a href="https://novocom.top/view/2e361f-anime-girl-falling-from-the-sky-base/">Anime Girl Falling From The Sky Base &#8211; Novocom.top</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/">Semakin Tinggi Harapannya, Semakin Sakit Jatuhnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/semakin-tinggi-harapannya-semakin-sakit-jatuhnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 May 2021 10:37:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[ekspetasi]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap. Penulis pun berusaha untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator terbentuknya Karang Taruna di tempat Penulis tinggal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika kecil hingga remaja, Penulis kerap mendapatkan stigma sebagai orang yang cuek. Menyadari hal tersebut kurang baik, Penulis pun berusaha untuk memperbaiki karakter tersebut secara bertahap.</p>



<p>Penulis pun berusaha untuk <strong>lebih peduli</strong> dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang paling kelihatan bentuknya mungkin ketika Penulis menjadi salah satu inisiator <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">terbentuknya Karang Taruna</a> di tempat Penulis tinggal.</p>



<p>Tidak hanya itu, Penulis juga berusaha untuk memberikan perhatian kepada orang-orang dekatnya sebagai bentuk kepedulian. Penulis berusaha untuk selalu ada ketika mereka butuh sesuatu.</p>



<p>Akan tetapi, akhir-akhir ini Penulis kerap merasa risau tentang hal ini. Di balik segala bentuk kepedulian dan perhatian yang Penulis perhatikan, <strong>tersimpan pamrih yang masih menyimpan harapan untuk mendapatkan balasan.</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Kata Kuncinya Satu: Ikhlas</h2>



<p>Penulis tidak bisa membagikannya di sini karena termasuk privasi, tapi ada satu kejadian yang menyadarkan Penulis akan permasalahan ini. </p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis sadar kalau kuncinya hanya ada di satu kata: <strong>Ikhlas</strong>.</p>



<p>Berharap diperlakukan sama artinya Penulis belum bisa ikhlas ketika menunjukkan kepedulian dan perhatiannya ke orang lain. Karena telah berharap, akan timbul rasa kecewa karena yang apa yang terjadi <a href="https://whathefan.com/karakter/dikecewakan-ekspektasi/">tidak sesuai dengan ekspetasi</a>.</p>



<p>Ini salah. Meskipun terdengar manusiawi, Penulis menganggap hal ini salah. Seharusnya, Penulis bisa berbuat baik tanpa berharap apapun dari orang lain. Kalau mau berbuat baik, ya sudah berbuat baik saja tanpa berekspetasi apa-apa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</h2>



<p>Karena merisaukan masalah keikhlasan, Penulis sampai membeli buku berjudul <em><strong>Tuhan, Kenapa Aku Belum Ikhlas?</strong> </em>karya A.K. Ada satu bagian yang seolah bisa menjawab kerisauan Penulis, yakni <em>Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</em>.</p>



<p>Apa maksudnya? Artinya, kita sebagai manusia memang harus peduli dengan orang lain, terutama yang ada di sekitar mereka. Kita harus menumbuhkan empati yang tinggi sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin kita harus membantu orang lain yang butuh pertolongan kita.</p>



<p>Hanya saja, ada banyak hal yang harus tidak kita pedulikan ketika sedang peduli dengan orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa respon orang lain. Kita tidak perlu peduli seperti apa balasan dari orang lain. Kita tidak perlu peduli jika orang lain tidak menghargai perbuatan baik yang kita lakukan.</p>



<p>Jangan sampai niat berbuat baik kita mencari tercoreng karena berharap hal-hal seperti itu. Memang terdengar utopis dan susah untuk diterapkan, tapi Penulis yakin hal tersebut bisa dilakukan dengan keyakinan yang kuat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Meluruskan Niat</h2>



<p>Salah satu caranya adalah meluruskan niat. Apa tujuan kita peduli dengan orang lain? Apakah kita berharap pujian dan orang tersebut akan balik peduli dengan kita?</p>



<p>Jika niat kita masih seperti itu, mungkin secara bertahap bisa kita ubah dengan hanya mengharap ridha Tuhan. Penulis yakin hal ini amat berat untuk direalisasikan, tapi setidaknya kita harus berusaha melakukannya.</p>



<p>Dengan hanya berharap ridha Tuhan yang Maha Pengasih, perasaan kita pun akan menjadi lebih ringan karena sudah tidak berharap apa-apa lagi dari manusia. Kita bisa berfokus berbuat baik tanpa takut kecewa atas perbuatan orang lain.</p>



<p>Penulis pun sampai saat ini masih jauh dari tahapan tersebut. Dibutuhkan upaya yang benar-benar tulus dari hati. Akan tetapi, Penulis yakin jika dirinya berhasil meluruskan niat, menjadi orang yang peduli sekaligus tidak peduli akan menjadi hal yang bisa dilakukan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah dirinya merenungi banyak hal seputar keikhlasan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jontyson">Jon Tyson</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/">Menjadi Peduli Sekaligus Tidak Peduli</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-peduli-sekaligus-tidak-peduli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
