<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Emha Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/emha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/emha/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:41:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Emha Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/emha/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:42:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Emha]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Rifan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=89</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran saya. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan dan Emha Ainun Najib, yang saya lupa judulnya. Kedua tulisan yang sebenarnya berbeda makna -yang satu membahas perlunya untuk tidak merasa, satunya membahas menjadi manusia dulu sebelum menjadi muslim- akan tetapi saya melihat ada korelasi diantara kedua tulisan ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran saya. Pemikiran ini saya dapatkan setelah membaca tulisan Ahmad Rifa&#8217;i Rifan dan Emha Ainun Najib, yang saya lupa judulnya.</p>
<p>Kedua tulisan yang sebenarnya berbeda makna -yang satu membahas perlunya untuk tidak merasa, satunya membahas menjadi manusia dulu sebelum menjadi muslim- akan tetapi saya melihat ada korelasi diantara kedua tulisan ini.</p>
<p>Manusia, otomatis termasuk saya, seringkali cepat merasa. Misalnya, belajar bahasa Inggris di Pare beberapa bulan membuat saya merasa lebih jago berbahasa Inggris.</p>
<p>Nyatanya, ketika ditelepon mahasiswa Manchester Metropolitan University, jawaban saya masih gelagapan enggak karuan (terbaca sombong, padahal sebenarnya mendapat telepon dari luar negeri itu ada caranya, dan tidak susah). Artinya, kita itu seringkali terlalu tinggi dalam menilai diri sendiri.</p>
<p>Seharusnya, semakin kita belajar, maka semakin kita tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Seperti kata Aristoteles, kebijakan sejati adalah mengetahui kalau kita tidak tahu apa-apa.</p>
<p>Dalam konteks berbuat baik, terutama kepada sesama, cukuplah kita berbuat baik saja, tanpa perlu merasa berbuat baik. Sekali kita merasa, maka hilanglah esensi berbuat baik itu. Darimana dasarnya? Setidaknya, keikhlasan sudah sirna dari perbuatan tersebut. Orang baik tidak akan merasa dirinya baik.</p>
<p>Contoh lain, misal dalam hal ibadah. Jika kita menganggap ibadah kita sudah bagus, lalu melihat ibadah orang lain yang belum sebagus kita, maka kita cenderung merasa lebih baik dan meremehkan orang tersebut.</p>
<p>Tuhan menilai kita tidak hanya dari ibadah yang kita lakukan untuk menyembah-Nya, perilaku kita pun bisa menjadi pemberat timbangan amalan kita.</p>
<p>Bukankah Nabi diturunkan untuk memperbaiki akhlak? Apa artinya belajar syariat kalau kita masih menyakiti orang lain, masih tidak menghargai orang lain.</p>
<p>Disinilah Cak Nun mengatakan bahwa kita harus menjadi manusia dulu, baru belajar menjadi muslim yang taat.</p>
<p>Kenapa? Karena menjadi muslim tanpa belajar menjadi manusia akan membuat kita menjadi angkuh, membuat kita merasa lebih baik dari orang-orang yang mungkin ibadahnya kurang.</p>
<p>Bukan berarti orang yang selalu memandang sederajat kepada sesama tapi tidak pernah sholat lebih baik daripada orang yang sholatnya rajin tapi tidak pernah memberi makan yatim piatu.</p>
<p>Dua-duanya salah. Jadilah keduanya, belajar menjadi keduanya, manusia dan muslim.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam berbuat, terutama hal baik, tidak perlulah dibumbui dengan sikap merasa. Lakukan dengan tulus, niscaya akan membuat kita menjadi lebih manusia.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/">Belajar Menjadi Manusia: Berbuat Tanpa Merasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menjadi-manusia-berbuat-tanpa-merasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Tidak Besar karena Besarnya?</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tidak-besar-karena-besarnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tidak-besar-karena-besarnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:41:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Emha]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=87</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sehabis membaca buku Emha Ainun Najib yang berjudul Kagum Kepada Orang Indonesia, saya jadi teringat pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu. &#8220;Apakah kita tidak bisa menjadi besar karena luasnya negara kita, karena besarnya negara kita?&#8221; Jika melihat beberapa negara maju, saya merasa bahwa jawaban dari pertanyaan itu adalah iya. Coba tengok Jepang, yang luluh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tidak-besar-karena-besarnya/">Indonesia Tidak Besar karena Besarnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Sehabis membaca buku Emha Ainun Najib yang berjudul Kagum Kepada Orang Indonesia, saya jadi teringat pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Apakah kita tidak bisa menjadi besar karena luasnya negara kita, karena besarnya negara kita?&#8221;</div>
<div></div>
<div>Jika melihat beberapa negara maju, saya merasa bahwa jawaban dari pertanyaan itu adalah iya. Coba tengok Jepang, yang luluh lantak karena perang namun bisa bangkit secepat sinyal, luas negara kepulauannya hanya sekian persen luas kepulauan kita. Korea Selatan? Negara yang merdekanya dua hari sebelum kita merdeka ini hanya kebagian &#8220;usus buntunya&#8221; benua Asia, itupun masih dibagi setengah dengan saudara kembarnya. Lihat negara-negara Eropa, gabungkan mereka semua (kecuali Rusia), maka luasnya sama dengan Indonesia. Toh mereka kaya karena di masa lampau mereka jaya dengan kolonoalisme dan imperialisme mereka, apalagi Inggris Raya yang hingga kini memiliki negara persemakmuran dimana-mana. Tentu dengan luas negara yang kecil, lebih mudah untuk mengelola tanah dan rakyatnya bukan.</div>
<div></div>
<div>Bagaimana dengan Amerika Serikat dan China? Bukankah mereka negara maju juga?</div>
<div></div>
<div>Benar, akan tetapi usia mereka jauh lebih tua dari kita. Amerika merdeka pada abad 16. China malah jauh lebih tua, hanya berganti-ganti kekaisaran dan sistem pemerintahan. Lebih tua tentu membuatmu lebih kaya pengalaman bukan?</div>
<div></div>
<div>Jadi, apakah Indonesia tidak bisa menjadi besar karena ia besar?</div>
<div></div>
<div>Saya rasa, ditambah setelah membaca esai Cak Nun, tidak. Indonesia adalah negara besar yang akan terus berkembang menjadi lebih besar jika kita berpikir bahwa negara dan bangsa kita ini besar. Selama ini kita terlalu sibuk terkagum dengan negara lain dari segala segi, hingga melupakan kekayaan diri sendiri. Selama ini kita terlalu merutuk bangsa sendiri, padahal negara lain pun punya masalahnya sendiri. Selama ini kita terlalu mendewakan mereka dan merakyatjelatakan diri kita sendiri.</div>
<div></div>
<div>Kita adalah bangsa yang bermental instan, apa-apa ingin segera terlaksana. Baru 72 tahun ingin maju seperti Amerika, padahal mereka sudah hampir berusia 5 abad.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Tapi Korea Selatan hanya lebih tua dua hari, kenapa bisa meninggalkan kita sedemikian jauhnya?&#8221;</div>
<div></div>
<div>Karena mereka fokus dengan pengembangan diri mereka, bukan hanya sekedar membicarakan kemajuan bangsa lain.</div>
<div></div>
<div>Karena mereka sadar bahwa memulai sesuatu itu berawal dari diri mereka sendiri, bukan menggantungkan asa pada orang lain.</div>
<div></div>
<div>Karena mereka mau kerja keras, bukan sekedar berpangku tangan.</div>
<div></div>
<div>Karena mereka menghargai proses menuju kemajuan itu, bukan menikmati kemajuan itu sendiri.</div>
<div></div>
<div>Kalau kita ingin negara ini menjadi besar sebagaimana seharusnya, kita harus memulainya dengan merasa kita ini besar. Tanamkan kepercayaan diri bahwa kita ini bangsa yang hebat. Langkahkan kaki ke depan dengan menyertakan &#8220;aku ini Indonesia&#8221;. Tidak perlu sok-sokan menjadi yang paling Pancasila, cukup amalkan silanya dalam kehidupan. Jika kita memulainya dari start paling awal, yakni diri kita sendiri, niscaya luasnya Indonesia akan justru menjadi faktor besarnya Indonesia.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Pare, 16 November 2017</div>
<div>Setelah membaca buku Emha Ainun Najib berjudul Kagum Kepada Orang Indonesia</div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tidak-besar-karena-besarnya/">Indonesia Tidak Besar karena Besarnya?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/indonesia-tidak-besar-karena-besarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
