<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>esensialisme Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/esensialisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/esensialisme/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Aug 2026 15:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>esensialisme Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/esensialisme/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2026 16:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[esensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Greg McKeown]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8820</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless. Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-effortless/">Setelah membaca buku <em>Effortless</em></a> yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku <strong>Greg McKeown </strong>lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni<strong> <em>Esensialisme</em></strong>. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku <em>Effortless</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku <em>Effortless.</em> Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-start-with-why/">buku <em>Start with Why</em></a>. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-banner.jpg 1280w " alt="Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Esensialisme</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>Esensialisme</em></li>



<li>Penulis: Greg McKeown</li>



<li>Penerbit: Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Ke-7</li>



<li>Tanggal Terbit: Desember 2025</li>



<li>Tebal: 354 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020656151</li>



<li>Harga: Rp108.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Esensialisme?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan <em>tagline </em>&#8220;Pentingkan yang Penting Saja&#8221;, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat orang yang suka <em>ruwet </em>dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian <em>cover </em>ini terdapat semacam ilustrasi garis <em>ruwet </em>dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan &#8220;ini&#8221; di tengah-tengahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan buku <em>Effortless</em>, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian I: Intisari</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Esensialis</strong></li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih</li>



<li><strong>MELIHAT DAN MENCERMATI</strong>: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal</li>



<li><strong>TRADE-OFF</strong>: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, ini adalah bagian &#8220;pembukaan&#8221; untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian <em>trade-off</em> atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian II: Eksplorasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>MEMBEBASKAN DIRI</strong>: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia</li>



<li><strong>MENCERMATI</strong>: Melihat Mana yang Sungguh Penting</li>



<li><strong>BERMAIN</strong>: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda</li>



<li><strong>TIDUR</strong>: Melindungi Aset</li>



<li><strong>MEMILIH</strong>: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni &#8220;bermain&#8221; dan &#8220;tidur&#8221;. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian III: Eliminasi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>KLARIFIKASI</strong>: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan</li>



<li><strong>BERANI</strong>: Kedahsyatan Jawaban &#8220;Tidak&#8221; yang Anggun</li>



<li><strong>MELEPAS KOMITMEN</strong>: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi</li>



<li><strong>MENYUNTING</strong>: Seni yang Tidak Kelihatan</li>



<li><strong>BATAS</strong>: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan </li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian IV: Eksekusi</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>PENYANGGA</strong>: Keunggulan yang Tidak Wajar</li>



<li><strong>MENGURANGI</strong>: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan</li>



<li><strong>KEMAJUAN</strong>: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil</li>



<li><strong>ALIRAN (FLOW)</strong>: Hebatnya Sebuah Rutin</li>



<li><strong>FOKUS</strong>: Apa yang Penting Sekarang?</li>



<li><strong>JADILAH</strong>: Hidup Seorang Esensialis</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Esensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena buku <em>Effortless</em>, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup &#8220;umum&#8221; dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa <em>dragging </em>dan cukup repetitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku <em>Start with Why</em>, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap <em>overthinking </em>seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, ada satu <em>quote </em>dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni<strong> &#8220;No more yes, it&#8217;s either HELL YEAH or no!&#8221;</strong> yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah <em><strong>sink-cost bias</strong></em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, <em>sink-cost bias </em>adalah kondisi di mana kita sudah merasa &#8220;berinvestasi&#8221; banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa <em>overwhelmed </em>dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Skor: <mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">6/10</mark></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca <em>Esensialisme </em>karya Greg McKeown</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/">[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/nonfiksi/review-setelah-membaca-esensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
