<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>etika Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/etika/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/etika/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:45:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>etika Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/etika/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Berkata Kotor di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 16:54:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[kotor]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada. Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena berbeda pendapat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada.</p>
<p>Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena <a href="http://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">berbeda pendapat</a>.</p>
<p>Tentu hal ini membuat penulis berpikir, <em>mengapa semudah itu untuk berkata kotor</em>? Sejauh pemahaman penulis, sama sekali tidak ada manfaat berkata kotor, apalagi diumbar di wilayah publik.</p>
<p>Penulis paham, terkadang memang susah untuk menahan emosi. Akan tetapi, jelas bukan perbuatan yang bijak untuk mengumbar <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">kemarahan di media sosial</a> yang bisa dikonsumsi oleh orang lain, terutama keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p>Coba kita renungkan bersama, adakah hal positif yang didapat dengan berkata kotor di media sosial? Ada? Penulis sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Yang penulis herankan, betapa mudahnya orang-orang untuk mengeluarkan kata kotor bahkan hanya karena hal sepele. Hal-hal remeh yang sebenarnya tidak akan membuat kita mendapatkan apa-apa selain debat kusir tanpa makna.</p>
<p>Selain itu, kata-kata kotor juga sering keluar pada status seseorang dengan tujuan menyindir seseorang yang sudah membuat dirinya gusar. Apa tujuannya? Memberitahu orang lain betapa buruknya orang yang sudah membuat kita kecewa? Bisa jadi.</p>
<p>Jika ada masalah dengan orang lain, ada baiknya jika langsung diselesaikan dengan yang bersangkutan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">sindir-menyindir di media sosial</a>. Kalau memang sedang berkonflik dengan orang lain, selesaikan tanpa perlu menyebar aib orang lain.</p>
<p>Media sosial memang menjadi wadah untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>, akan tetapi bukan berarti kita bisa berbuat seenak hati. Tetap ada norma-norma yang berlaku agar sesama pengguna media sosial bisa merasa nyaman.</p>
<p>Cobalah untuk menahan dan menguasai emosi diri kita. Kebanyakan orang akan menyesal setelah meluapkan emosinya. Setidaknya, mereka akan menyesal ketika hal buruk menimpa setelah emosi keluar, seperti laki-laki yang sedang viral karena merusak motornya tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan termasuk kata-kata kotor yang tak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kata-kata kotor yang berseliweran di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@gagewalkerr">Gage Walker</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2018 09:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[santun]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1605</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua. Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budayanya, kita tentu ingin menjaga dan melestarikan berbagai sikap-sikap luhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Apalagi, di saat degradasi moral banyak terjadi seperti sekarang dan menimpa kita semua.</p>
<p>Salah satu, atau salah tiga, dari sikap yang harus kita junjung adalah <strong>maaf</strong>, <strong>tolong</strong>, dan <strong>terima kasih</strong>. Ketiga hal ini harus benar-benar kita terapkan dalam keseharian atau mereka akan tergerus oleh zaman.</p>
<p><strong>Maaf</strong></p>
<p>Tidak percaya bahwa ketika sikap tersebut bisa hilang? Kita ambil contoh kata <strong>maaf</strong>. Sering sekali penulis melihat banyak postingan yang menyebutkan banyak <em>semenjak ada kata baper, kata maaf seolah hilang</em>.</p>
<p>Jika kita (mungkin tanpa sengaja) menyinggung orang lain dan orang tersebut tersinggung, alih-alih mengatakan maaf kita justru menyuruhnya agar tidak <strong>baper</strong>.</p>
<div id="attachment_1616" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1616" class="size-large wp-image-1616" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/tim-mossholder-298394-unsplash.jpg 1800w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1616" class="wp-caption-text">Photo by Tim Mossholder on Unsplash</p></div>
<p>Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kita telah menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan kita. Seharusnya, kita minta maaf bukan jika berbuat seperti itu, terlepas orang yang sedang kita hadapi memang mudah tersinggung atau tidak.</p>
<p>Selain itu, kata maaf juga bisa digunakan sebagai kata pendahulu sebelum minta tolong. Fungsinya hampir mirip dengan kata <strong>permisi</strong>, untuk meminta ijin agar orang lain berkenan membantu kita.</p>
<p>Akan tetapi, jangankan berkata seperti itu. Mengucapkan kata tolong saja kadang kita terlupa.</p>
<p><strong>Tolong</strong></p>
<p>Ini sering penulis alami sendiri ketika berhadapan dengan generasi-generasi muda yang (jauh) lebih muda dari penulis. Idealnya, sebelum menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuk kita, kata <strong>tolong </strong>harus terucap.</p>
<p>Sayang, kata tersebut urung muncul, terutama ketika percakapan terjadi di <em>chat</em>. Contohnya, ada seseorang yang baru ganti nomer dan meminta kita untuk menyimpan nomernya.</p>
<p>Alih-alih berkata &#8220;mas, tolong save ya&#8221;, mereka justru hanya berkata &#8220;mas save&#8221;. Sebagai orang Jawa, tentu penulis sangat menghormati etika ketika berhadapan dengan yang lebih tua.</p>
<div id="attachment_1617" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1617" class="size-large wp-image-1617" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg" alt="" width="1024" height="735" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-1024x735.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-768x551.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash-356x255.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/dane-deaner-350303-unsplash.jpg 1097w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1617" class="wp-caption-text">Photo by Dane Deaner on Unsplash</p></div>
<p>Berhubung pada kasus ini penulis berada di posisi sebagai orang yang lebih tua, tentu penulis merasa wajib untuk mengingatkan yang muda. Tak perlu dengan emosi karena merasa direndahkan, tegur dengan lembut agar yang menerima pun bisa menangkapnya dengan baik.</p>
<p>Ketika yang lebih tua meminta tolong kepada yang lebih muda, kata tolong juga mesti diucapkan. Jangan mentang-mentang lebih tua lantas bisa seenaknya yang menyuruh lebih muda tanpa sopan santun.</p>
<p>(Peribahasa Jawa <em>kebo nyusu gudhel </em>yang bermakna <strong>yang tua belajar kepada yang muda</strong> benar-benar kerap terjadi di era ini)</p>
<p>Toh dengan memberikan contoh yang baik, adik-adik kita juga akan meneladani sikap kita tersebut. Jangan lupa juga, ada satu kata yang wajib kita ucapkan setelah dibantu orang lain.</p>
<p><strong>Terima Kasih</strong></p>
<p>Kata yang terakhir ini relatif masih sering digunakan oleh semua orang. Di antara kata-kata yang lain, <strong>terima kasih </strong>bisa dibilang masih jauh dari kepunahan.</p>
<div id="attachment_1618" style="width: 1010px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1618" class="size-full wp-image-1618" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg" alt="" width="1000" height="684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash.jpg 1000w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-300x205.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-768x525.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/rawpixel-1048281-unsplash-356x244.jpg 356w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /><p id="caption-attachment-1618" class="wp-caption-text">Photo by rawpixel on Unsplash</p></div>
<p>Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Kita harus tetap melatih penggunaan kata ini ketika menerima uluran tangan orang lain yang sudah bersedia menolong kita.</p>
<p>Selain itu, yang tidak kalah penting adalah merespon ucapan terima kasih. Ada banyak cara untuk membalasnya, dan yang paling populer adalah <strong>sama-sama</strong>. Bisa juga dengan kata sederhana seperti <em>oyi, siap, yuhuu</em>, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Seharusnya kita merasa malu apabila kita telah tersadar bahwa hal-hal sederhana seperti yang telah disebutkan di atas tidak kita laksanakan. Kita harus waspada bahwa etika dapat tergerus oleh waktu.</p>
<p>Penulis membuat tulisan ini bukan karena merasa telah melakukan apa yang ditulis. Penulis hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan orang lain yang membaca tulisan ini.</p>
<p>Semoga kita semua bisa menerapkan ketiga kata tersebut dalam keseharian kita. Negara ini akan menjadi bangsa yang lebih ramah dan santun apabila semua masyarakatnya menjunjung tinggi budayanya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>chat</em> dari seseorang yang meminta tolong tanpa mengucapkan tolong terlebih dahulu.</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/VZILDYoqn_U?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Caleb Woods</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/sorry?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/">Maaf, Tolong, dan Terima Kasih</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/maaf-tolong-dan-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Jempol</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2018 09:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[jempol]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1602</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era di mana manusia lebih banyak berinteraksi di dunia maya seperti sekarang, peran mulut sudah banyak digantikan oleh jempol. Komentar yang biasanya dilakukan dengan bersuara kini bisa dilakukan dalam sunyi melalui ketikan di layar ponsel. Ada yang curhat yang diiringi sumpah serapah, entah apa tujuannya. Mencari perhatian? Bisa jadi. Atau bisa juga menyindir orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/">Menjaga Jempol</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era di mana manusia lebih banyak berinteraksi di dunia maya seperti sekarang, peran mulut sudah banyak digantikan oleh jempol. Komentar yang biasanya dilakukan dengan bersuara kini bisa dilakukan dalam sunyi melalui ketikan di layar ponsel.</p>
<p>Ada yang curhat yang diiringi sumpah serapah, entah apa tujuannya. Mencari perhatian? Bisa jadi. Atau bisa juga <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">menyindir orang yang sedang disumpahinya</a>? Mungkin.</p>
<p>Ada yang mengeluarkan pendapatnya terkait permasalahan bangsa, namun diikuti oleh caci maki. Elokkah sebuah opini harus dibawakan dengan emosional? Bukankah para pendiri bangsa telah mengajarkannya dengan cara santun?</p>
<p>Ada yang pasif tak banyak berkomentar, namun ikut <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">menyebarkan kabar bohong</a> tanpa mengklarifikasikannya terlebih dahulu. Apakah ia melakukannya agar bisa merasakan repotnya membalas <em>chat</em> satu persatu?</p>
<blockquote><p>Apalagi menjelang tahun politik seperti ini. Masyarakat kita seolah semakin tak terkontrol dalam berkomentar maupun beropini. Dalil <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">kebebasan berpendapat</a> disalahartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan.</p></blockquote>
<p>Mungkin hal tersebut dapat terjadi karena kita lupa, Tuhan pun bisa mengetahui apa yang kita ketikkan melalui jempol maupun jari lainnya. Malaikat akan mencatat apapun yang tertuang di internet, termasuk kemarahan dan fitnah.</p>
<p>Mungkin kita lupa bahwa apa yang kita tulis di komputer maupun telepon genggang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Malaikat tidak butuh peralatan canggih untuk menunjukkan jejak-jejak digital yang sudah kita hapus.</p>
<p>Mungkin kita tak sadar bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensinya sendiri. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Apabila kita menanam kebencian, itulah yang kelak akan kita petik, entah kapan.</p>
<blockquote><p>Terkadang penulis membayangkan, bagaimana seandainya kolom komentar ditiadakan. Apakah negeri kita akan lebih damai karenanya? Ataukah sama saja?</p></blockquote>
<p>Bagaimana seandainya jika kita tidak bisa mengeluarkan pendapat di media sosial? Seperti bertahun-tahun yang lalu sebelum ada Facebook, Twitter, Instagram, hingga Whatsapp. Opini hanya muncul di forum atau media cetak.</p>
<p>Apakah kita sudah lebih baik dalam beropini jika dibandingkan ketika rezim orde baru berkuasa? Apakah <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/beropini-setelah-reformasi/">cita-cita reformasi</a> benar-benar seperti kondisi sekarang ini?</p>
<p>Hanya berandai-andai pun percuma jika tidak ada aksi nyata yang dilakukan. Sebagai generasi yang sadar akan besarnya potensi terpecahbelahnya bangsa, kita harus bisa menjaga jempol kita dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan bisa melukai perasaan orang.</p>
<blockquote><p>Lakukanlah dari diri sendiri, dari jempolmu sendiri, mulai sekarang dan seterusnya. Bijaklah dalam menggunakan berbagai kemudahan teknologi, jangan menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tercela.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 30 Oktober 2018, terinspirasi dari banyaknya komentar-komentar yang seharusnya tidak muncul di ruang publik</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/4Vg6ez9jaec?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Katya Austin</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/thumb?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/">Menjaga Jempol</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kedunguan dalam Berdebat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2018 02:26:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kedunguan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam tweet-tweetnya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna: sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam <em>tweet-tweet</em>nya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;"><em>sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh;</em></p>
<p>Sedangkan kedunguan sama dengan kebodohan atau kebebalan. Kebodohan memiliki arti sifat-sifat bodoh atau ketidaktahuan. Jadi, judul di atas ingin menyampaikan tentang sifat-sifat bodoh yang dilakukan orang ketika berdebat.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai kedunguan dalam berdebat, sebut saja menyebut data hoax. Namun pada tulisan kali ini, penulis hanya ingin menekankan satu perbuatan yang menurut penulis paling dungu di antara kedunguan lainnya.</p>
<p>Menyerang personal ketika kalah berdebat.</p>
<p>Hal ini kerap terjadi kepada orang-orang yang sudah tidak memiliki argumentasi dalam konteks perdebatan. Semua perkataannya telah dipatahkan oleh lawan debatnya, sehingga ia memutuskan untuk menyerang secara pribadi, baik fisik maupun psikis.</p>
<p>Biasanya, orang-orang seperti ini adalah tipikal orang yang tidak mau kalah meskipun salah.</p>
<p>Sebagai contoh, karena tidak memahami ucapan lawan bicaranya, ia mengalihkan pembicaraan:</p>
<p><em>&#8220;Masa wajah jelek kayak gitu bisa mimpin.&#8221;</em></p>
<p>Atau</p>
<p><em>&#8220;Pasti dia anak haram, makanya kelakuannya seperti itu.</em>&#8221;</p>
<p>Mungkin jenis-jenis kalimat seperti di atas jarang keluar di televisi. Akan tetapi, coba cek di media sosial. Astaga, benar-benar menyedihkan. Sedemikian dangkal pola pemikiran kita sehingga yang bisa kita lakukan hanya menyerang tanpa bisa mendebat konteks perbincangan.</p>
<p>Idealnya, kita menghargai lawan debat kita dan mengakui apabila argumen kita kalah dengan miliknya. Sayang, kedewasaan berdebat masih menjadi barang yang langka di negara ini. Atau, bahkan di dunia sekalipun?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 April 2018, terinspirasi setelah membaca linimasa twitter milik Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://vancouverdebate.ca/">https://vancouverdebate.ca/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
