<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ILC Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ilc/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ilc/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Feb 2020 16:16:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ILC Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ilc/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Andai Partai Politik Dibiayai Oleh Negara</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/andai-partai-politik-dibiayai-oleh-negara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Feb 2020 16:14:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[anggaran]]></category>
		<category><![CDATA[biaya]]></category>
		<category><![CDATA[ILC]]></category>
		<category><![CDATA[KKN]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[partai]]></category>
		<category><![CDATA[partai politik]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal Ramli]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3512</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis sering melihat Rizal Ramli di acara Indonesia Lawyers Club (ILC). Penulis menyukai gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan to the point, meskipun kesannya sangat mengkritik pemerintahan yang sekarang. Jika Penulis amati, ada satu poin yang sering ia singgung, termasuk ketika ILC edisi ulang tahun TV One minggu kemarin. Poin tersebut adalah mengenai pembiayaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-partai-politik-dibiayai-oleh-negara/">Andai Partai Politik Dibiayai Oleh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam banyak kesempatan, Penulis sering melihat Rizal Ramli di acara <em>Indonesia Lawyers Club </em>(ILC). Penulis menyukai gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan <em>to the point,</em> meskipun kesannya sangat mengkritik pemerintahan yang sekarang.</p>
<p>Jika Penulis amati, ada satu poin yang sering ia singgung, termasuk ketika ILC edisi ulang tahun TV One minggu kemarin. Poin tersebut adalah mengenai pembiayaan partai politik oleh negara.</p>
<h3>Akar Korupsi</h3>
<p>Menurut beliau, salah satu akar dari korupsi di Indonesia adalah <strong>budaya </strong><em><strong>money politic</strong> </em>yang seolah tak ada obatnya. Mau <em>nyaleg </em>atau apapun, pasti butuh keluar duit milyaran rupiah.</p>
<p>Hal ini membuat biaya politik kita sangat tinggi. Ujung-ujungnya, yang terpilih akan memikirkan cara agar uang yang telah dikeluarkan bisa kembali, kalau bisa lebih ya tambah bagus. Ini menjadi lingkaran setan yang tak terputus.</p>
<p>Salah satu cara mengumpulkan dana itu, kata Rizal, ya dengan metode <em>colong</em> anggaran. Estimasi beliau menyebutkan uang negara yang disalahgunakan mencapai 50 triliun setiap tahunnya.</p>
<p>Meskipun tidak disinggung oleh Rizal, Penulis menangkap ada pesan tersirat bahwa partai membutuhkan dana untuk biaya operasional harian.  Tidak mungkin mereka hanya bergantung dari iuran anggota semata.</p>
<p>Hal ini membuat mereka membuka tangan bagi pengusaha-pengusaha untuk menjadi donatur mereka. Timbal baliknya, para pengusaha ini akan mendapatkan berbagai &#8220;kemudahan&#8221; jika partai yang didukung menang. Penulis kira sudah banyak contohnya.</p>
<p>Apalagi, sekarang partai politik juga dilarang memiliki badan usaha sebagai sumber pemasukan dana. Alhasil, KKN pun semakin merajarela dan tak terbendung.</p>
<h3>Dibiayai Oleh Negara</h3>
<p>Di beberapa negara seperti Belanda, partai politik dibiayai oleh negara sehingga para calon bisa fokus menjual ide mereka. Estimasi Rizal menyebutkan kita hanya perlu menganggarkan 6 triliun setiap tahunnya.</p>
<p>Secara teori, ada banyak manfaat lain dengan adanya pembiayaan dari negara ini. Contohnya, pengawasan anggaran atau sistem audit yang lebih mudah, mengurangi gap antara partai besar dan kecil, dan lain sebagainya.</p>
<p>KPK pun mendukung usulan ini, mengingat uang adalah sumber masalah di dunia perpolitikan. Partai politik juga tak perlu pusing mencari dana untuk mengasapi dapurnya.</p>
<p>Dari beberapa sumber yang Penulis baca, partai-partai banyak yang mendukung konsep ini, walaupun ada beberapa partai yang juga meragukannya.</p>
<p>Hanya saja, nampaknya realisasinya masih sangat jauh mengingat akan sulit jika benar-benar hanya mengandalkan APBN semata. Entah bagaimana formula yang paling pas untuk masalah ini.</p>
<p>Apakah dengan pembiayaan partai politik otomatis jumlah KKN akan berkurang? Belum tentu, karena selain tingginya <em>money politic,</em> KKN terjadi karena adanya niat dan kesempatan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis mengakui bahwa dirinya adalah orang yang awam terhadap politik. Walaupun begitu, Penulis memutuskan untuk tidak apatis dan mengikuti perkembangan yang ada.</p>
<p>Caranya adalah dengan membaca berita dan menonton tayangan-tayangan seperti ILC jika topiknya menarik. Menulis artikel ini juga menjadi salah satu sarana kepedulian Penulis terhadap perkembangan dunia politk kita, meskipun dampaknya sangat teramat kecil.</p>
<p>Terkait masalah pembiayaan partai politik oleh negara, tidak banyak komentar yang bisa Penulis berikan. Pasti dibutuhkan banyak kajian dan penelitian sebelum membuat keputusan seperti itu.</p>
<p>Setidaknya, usulan dari Rizal Ramli tersebut bisa dicatat. Siapa tahu, jika diimplementasikan akan membawa dampak positif untuk negara kita tercinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Februari 2020, terinspirasi dari pidato Rizal Ramli di acara <em>Indonesia Lawyers Club</em></p>
<p>Foto: <a href="https://www.starsinsider.com/lifestyle/323499/countries-with-the-highest-and-lowest-levels-of-corruption">Stars Insider</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://news.detik.com/berita/d-4331080/100-setuju-parpol-dibiayai-negara-gerindra-singgung-biaya-imf-wb">Detik 1</a>, <a href="https://news.detik.com/berita/d-4331976/pro-kontra-usulan-parpol-dibiayai-pemerintah">Detik 2</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=9gsxRg3_XRA">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-partai-politik-dibiayai-oleh-negara/">Andai Partai Politik Dibiayai Oleh Negara</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2018 15:05:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bong]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ILC]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=664</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya. Siapa Rocky Gerung? Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya.</p>
<p><strong>Siapa Rocky Gerung?</strong></p>
<p>Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). Penulis mengingatnya karena keberaniannya berbicara lantang terhadap kinerja pemerintah.</p>
<p>Bahkan, netizen pun sampai khawatir bahwa RG akan bernasib sama dengan Hermansyah, ahli IT yang mengungkap fakta bahwa <em>screenshot </em>yang membuat Habib Rizieq Shihab terkena kasus chat mesum adalah rekayasa. Untunglah, sampai hari ini kekhawatiran itu tidak terjadi.</p>
<p>Setelah itu, RG kerap menjadi narasumber, hampir di setiap episode ILC. Tentu penulis menjadi penasaran, sebenarnya siapa beliau sehingga mampu mengeluarkan kosa kata yang berat-berat.</p>
<div id="attachment_668" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-668" class="size-full wp-image-668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-668" class="wp-caption-text">Narasumber ILC (http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/03/pks-dihina-usai-undang-dirinya-rocky-gerung-serendah-inikah-politik-hari-ini)</p></div>
<p>Ternyata, RG adalah (mantan) dosen filsafat di Universitas Indonesia. Artis cantik Dian Sastrowardoyo merupakan murid bimbingannya. Dari berbagai sumber yang penulis baca, RG tidak pernah melamar di UI, justru UI yang meminta RG mengajar, termasuk jenjang Magister dan Doktor. Padahal, RG sendiri hanya lulusan tingkat Sarjana.</p>
<p>Ajaib? Tanya ke UI, begitu kata beliau. Dari beberapa testimoni, mereka menyebutkan RG memang sosok yang cerdas cenderung arogan ketika berdiskusi. Itu memang <em>style-</em>nya.</p>
<p><strong>Dungu dan Bong200</strong></p>
<p>RG hanya aktif di Twitter, dan banyak cuit-cuitannya yang memantik kemarahan orang. Salah satunya ya penggunaan kata dungu yang sering ditujukan kepada orang lain.</p>
<p>Sebenarnya, kata dungu tersebut bukan ditujukan kepada orangnya, melainkan cara berpikir atau bernalar orang tersebut. Hanya saja, mungkin sebagian besar orang menganggap dungu itu sama kasarnya dengan bodoh, dan tidak ada orang yang senang dipanggil bodoh.</p>
<div id="attachment_669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-669" class="size-full wp-image-669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg" alt="" width="800" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-300x177.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-768x452.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-356x210.jpg 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-669" class="wp-caption-text">Contoh Tweet RG (twitter.com)</p></div>
<p>Selain itu, RG juga kerap kali menggunakan istilah bong. Sebenarnya penulis tahu siapa yang dimaksud dan penyebab panggilan tersebut. Hanya saja, rasanya kurang etis untuk dijadikan bahan tulisan. 200? <em>You know lah</em>, sudah banyak yang membahas ini di media sosial. Yang terbaru, kini ada istilah <strong>KALABONG</strong>, persilangan antara kalajengking dan katak. Yang ini jelas termasuk fiktif.</p>
<p>Banyak yang mengkritik kasarnya bahasa yang RG gunakan dalam <em>tweet-tweet </em>yang ia ketik, namun kembali lagi, itulah gayanya. Setidaknya, ia mengakui bahwa itu merupakan <em>tweet</em>-nya dalam salah satu acara stasiun televisi swasta, tidak seperti politikus partai baru yang berkelit-kelit ketika ditanya hal serupa.</p>
<p><strong>Profesor Tanpa Gelar</strong></p>
<p>Netizen yang kontra terhadap RG, sering menyerang label profesor yang sering disematkan kepada RG (biasa dilakukan oleh netizen yang tidak mampu membalas argumen RG). Jujur, penulis sebenarnya tertawa tipis saja ketika mengetahui hal tersebut.</p>
<p>Pertama, RG tidak pernah ingin dipanggil profesor. Penulis ingat sekali ketika di acara ILC yang agak lama, dengan lugas RG berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebenarnya saya bukan prof, bukan tidak bisa tapi tidak butuh</em>.&#8221;</p>
<div id="attachment_667" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-667" class="size-full wp-image-667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg" alt="" width="640" height="372" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-300x174.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-356x207.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-667" class="wp-caption-text">Profesor Tanpa Gelar (http://pepnews.com/2018/04/15/tentang-fiksi-nya-rocky-gerung-dan-perbatasan-kamus/)</p></div>
<p>Terkesan arogan? Iya memang, tapi lagi-lagi, itulah gaya seorang RG. Lantas mengapa ia bisa dipanggil seperti itu? Mungkin karena orang mengagumi kecerdasannya, mengagumi nalar berpikirnya yang (mungkin) mengalahkan profesor sungguhan. Intinya, profesor merupakan sebutan untuk menghormati RG.</p>
<p>Satu yang pasti, penulis merasa bertambah cerdas ketika mendengar RG berbicara maupun membaca <em>tweet</em>-nya yang menggelitik, walaupun tidak memahami seluruhnya apa yang disampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi ketika <em>stalking </em>twitter Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi">https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
