<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keikhlasan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/keikhlasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/keikhlasan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jan 2022 01:33:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>keikhlasan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/keikhlasan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yang Penting Jadilah Orang Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2022 01:33:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang baik]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan untuk seseorang. Ternyata, kebaikan tersebut diabaikan olehnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada. Mau berusaha ikhlas seperti apapun, tentu ada perasaan jengkel pada diri Penulis. Apakah memang mengucapkan terima kasih seberat itu? Penulis merasa kebaikan yang dilakukan tidak dihargai sama sekali. Lantas, Penulis membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/">Yang Penting Jadilah Orang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa hari yang lalu, Penulis memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan untuk seseorang. Ternyata, kebaikan tersebut diabaikan olehnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada.</p>



<p>Mau berusaha ikhlas seperti apapun, tentu ada perasaan jengkel pada diri Penulis. Apakah memang mengucapkan terima kasih seberat itu? Penulis merasa kebaikan yang dilakukan tidak dihargai sama sekali.</p>



<p>Lantas, Penulis membaca sebuah buku <em>Menjadi Manusia Menjadi Hamba </em>karya Fahruddin Faiz, yang mungkin lebih terkenal melalui kanal YouTube-nya, Ngaji Filsafat. Ada satu kalimat yang rasanya begitu menampar Penulis:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Yang penting jadilah orang baik, tidak perlu berpikir apakah orang akan melihat Anda baik.</p></blockquote>





<p>Ingin terlihat baik di mata orang lain rasanya manusiawi saja. Siapa juga ingin dicap buruk? Hanya saja, kalau sampai ingin terlihat baik menjadi tujuan utama hingga <a href="https://whathefan.com/politik-negara/perlukah-pencitraan/">melakukan berbagai pencitraan</a> dan melupakan esensi berbuat baik, tentu salah.</p>



<p>Esensinya adalah perbuatan baik yang kita lakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/peduli-dengan-ikhlas-itu-berat/">harus diiringi dengan rasa ikhlas</a>. Jika kita ingin menolong seseorang, ya sudah niatkan saja untuk menolongnya. Bagaimana responnya ke kita bukan urusan kita.</p>



<p>Kalau kita merasa kesal karena responnya, ya sudah jangan ditolong lagi. Namun, itu menunjukkan kurangnya kadar keikhlasan kita dalam menolong. Sebisa mungkin abaikan saja respon orang tersebut dan tetap menolongnya ketika ia membutuhkan kita.</p>



<p>Ketika menyingkirkan sampah di jalan atau menumpuk piring kotor setelah makan di restoran, lakukan karena ingin berbuat baik saja. Jangan melakukan kebaikan-kebaikan tersebut hanya ketika ada orang lain yang melihat agar kita dicap baik.</p>



<p>Di era media sosial seperti sekarang, ada saja yang memamerkan kebaikan yang mereka lakukan. Ada yang berargumen bahwa itu dilakukan untuk memotivasi orang lain agar berbuat hal yang sama. </p>



<p>Misal, menyumbang ke korban bencana alam dengan jumlah fantastis agar orang lain termotivasi untuk menyumbang dengan jumlah besar. Kalau seperti itu ya tidak apa-apa, yang tahu niat aslinya hanya yang bersangkutan.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Yang lebih berbahaya adalah ketika aslinya berbuat jelek, tapi melakukan pencitraan agar terlihat baik. Misal, koruptor, biar terlihat baik ia membuat yayasan dan naik haji. Padahal, uang yang digunakan adalah uang hasil korupsi. Ini harus benar-benar dihindari.</p>



<p>Biasanya para politisi yang butuh suara rakyat melakukan kesalahan ini. Mereka berbuat baik karena dua alasan utama, yakni agar terlihat baik dan mendapatkan suara rakyat, tanpa benar-benar ingin berbuat baik. </p>



<p>Ketika sudah terpilih, biasanya mereka baru menunjukkan topeng asli mereka, melupakan janji manisnya, dan memuaskan libido kekuasaannya. Bahkan, ada yang terus melakukan pencitraan agar terpilih lagi di periode berikutnya, tapi biasanya baru dilakukan menjelang masa jabatannya akan berakhir.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Cukuplah jadi orang baik saja, tanpa perlu berusaha terlihat baik di mata orang lain. Hidup ini singkat dan terbatas, jadi sebisa mungkin kita harus bisa hidup yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>خير الناس أنفعهم للناس</p><p><em>Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat untuk orang lain.</em></p></blockquote>



<p>Penulis menyadari bahwa dirinya terkadang (atau sering?) masih belum bisa ikhlas berbuat baik. Minimal, Penulis masih berharap kebaikannya tersebut dihargai oleh orang lain, walau menghargai kebaikan orang memang sudah seharusnya dilakukan.  Hanya saja dari sisi yang melakukan kebaikan, ya sudah tidak perlu berharap apa-apa. </p>



<p>Sebar manfaat sebanyak mungkin selama masih ada waktu. Berat? Iya. Akan tetapi, kita bisa melatih keikhlasan ini tersebut. Kalau cara Penulis, Penulis akan terus nge-<em>push</em> dirinya sendiri untuk berbuat baik sebanyak mungkin, asal tidak sampai membuat orang lain merasa risih.</p>



<p>Mampu berbuat baik tanpa ingin terlihat baik juga menjadi <a href="https://whathefan.com/renungan/umur-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan/">salah satu ciri kedewasaan</a> seseorang menurut Penulis. Ketika melihat orang-orang yang mampu melakukan hal ini, Penulis begitu mengagumi mereka dan berharap bisa seperti mereka.</p>



<p>Hanya diri kita sendiri yang tahu apakah perbuatan baik yang dilakukan murni karena ingin berbuat baik atau memiliki pamrih agar dilihat oleh orang lain. Maka dari itu, coba tanyakan ke dalam diri, apakah perbuatan baik yang kita lakukan sudah ikhlas?</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 13 Januari 2022, terinspirasi dari cerita yang sudah Penulis bagikan di awal tulisan</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@kelli_mcclintock">Kelli McClintock</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/">Yang Penting Jadilah Orang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/yang-penting-jadilah-orang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2021 05:10:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[keikhlasan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5149</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Hanya memberi, tak harap kembali. Bahkan, ada peribahasanya khusus: &#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Banyak yang mengatakan kalau rasa sayang itu tentang keikhlasan. Menurut Penulis, istilah ini begitu ambigu dan bisa disalahartikan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.</p>



<p>Contoh kasih sayang yang ikhlas itu mudah, seperti kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. <em>Hanya memberi, tak harap kembali</em>. Bahkan, ada peribahasanya khusus:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah&#8221;</p></blockquote>



<p>Nah, bagaimana dengan rasa sayang kepada pasangan. Apakah bisa sepenuhnya ikhlas?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Menyayangi dengan Ikhlas</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5154" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sayang dengan Ikhlas (<a href="https://unsplash.com/@ozgomz">Oziel Gómez</a>)</figcaption></figure>



<p>Menurut KBBI, kata ikhlas memiliki arti <em><strong>bersih hati</strong> </em>atau<em> <strong>tulus hati</strong></em>. Jika diartikan secara bebas, ikhlas memiliki keterkaitan yang erat dengan kerelaan kita melakukan sesuatu tanpa berharap apapun sebagai timbal baliknya.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas artinya kita <strong>menyayangi tanpa berharap yang disayangi melakukan hal yang sama kepada kita</strong>. Kita hanya berusaha menunjukkan perasaan sayang kita tanpa menginginkan apapun.</p>



<p>Pertanyaannya, apakah benar kita bisa seperti itu? Benarkah kita bisa menyayangi pasangan atau siapapun dengan ikhlas?</p>



<p>Pada kenyataannya, sangat jarang ada manusia yang bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas. Di dalam hati kita, pasti ada keinginan agar perasaan kita berbalas, sekecil apapun itu.</p>



<p>Ketika kita menyayangi teman-teman kita, pasti kita juga berharap kalau mereka akan menyayangi kita. Ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita akan berharap ia mau menerima perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tingkat Sayang Tertinggi Itu Keikhlasan, tapi&#8230;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5153" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Tingkat Sayang Tertinggi? (<a href="https://unsplash.com/@estherann">Esther Ann</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau kita bisa menyayangi seseorang dengan ikhlas, berarti tingkat sayangnya sudah berada di level yang berbeda seperti yang sudah dilakukan oleh orangtua kita. Jika Pembaca ada yang seperti itu, Penulis berikan apresiasi yang setinggi-tingginya.</p>



<p>Ada juga yang bilang kalau <strong>tingkat sayang tertinggi itu ketika kita ikut bahagia dengan kebahagiaannya</strong>, walaupun hal tersebut harus <a href="https://whathefan.com/rasa/mengorbankan-kebahagiaan-diri-sendiri/">mengorbankan kebahagiaan diri sendiri</a>.</p>



<p>Akan tetapi, tingkat sayang tertinggi itu akan membuat kita tidak akan merasa berkorban, seperti kata Sujiwo Tejo yang sering Penulis kutip di dalam blog ini.</p>



<p>Penulis setuju jika tingkat tertinggi dari perasaan sayang itu tentang keikhlasan, seperti yang sudah dibuktikan oleh orangtua Penulis. </p>



<p>Hanya saja, terkadang usaha kita untuk ikhlas ini justru menjadi bumerang bagi kita. Ada saja orang-orang yang memanfaatkan usaha kita untuk ikhlas menyayangi demi kepetingannya sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Keikhlasan Dituntut</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5152" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Dituntut Membuktikan Keikhlasan (<a href="https://unsplash.com/@belart84">Artem Beliaikin</a>)</figcaption></figure>



<p>&#8220;<em>Kalau kamu enggak mau nuruti mauku, berarti kamu gak ikhlas sayang sama aku!</em>&#8220;</p>



<p>Pernah mendengarkan kalimat seperti di atas? Menurut Penulis, itulah contoh ketika keikhlasan rasa sayang kita diuji sekaligus dituntut oleh orang lain demi kepentingannya sendiri.</p>



<p>Terkadang, ada orang-orang yang<strong> menuntut kita untuk menunjukkan keikhlasan</strong> kita. Padahal, keikhlasan itu bukan sesuatu yang dapat ditunjukkan kepada orang lain. Yang bisa mengukur hanya diri sendiri dan Tuhan.</p>



<p>Menurut Penulis, orang yang menuntut kita seperti itu patut dipertanyakan karena artinya mereka tidak percaya kalau kita sayang mereka dengan ikhlas. Selain itu, kenapa hanya kita yang dituntut memberikan bukti?</p>



<p>Jika Pembaca pernah menghadapi situasi seperti, coba direnungkan kembali hubungan kalian. Bisa jadi, tanpa disadari selama ini kalian sedang menjalani <a href="https://whathefan.com/karakter/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a><em> </em>di mana satu pihak (atau dua-duanya) kerap menjadi seorang yang sangat penuntut. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Ikhlas Ketika Diperlakukan Buruk, Bisa, kah?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5151" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/sayang-itu-tentang-keikhlasan-tapi-4.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bisa Tetap Ikhlas? (<a href="https://unsplash.com/@julienlphoto">Julien L</a>)</figcaption></figure>



<p>Keikhlasan juga bisa <strong>menjadi &#8220;senjata&#8221; ketika</strong> <strong>kita mendapatkan perlakuan buruk</strong> dari seseorang. Dijahati, dilukai, diselingkuhi, dihina, disakiti oleh orang yang kita sayangi, semua harus bisa kita hadapi dengan ikhlas.</p>



<p>Kalau memang beneran sayang, beneran ikhlas, seharusnya kita bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Petik saja hikmahnya, kan katanya <em>every cloud has a silver lining</em>. </p>



<p>Kalau levelnya sudah seperti nabi mungkin bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Lah, Penulis kan (dan mungkin para Pembaca juga) masih jadi manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.</p>



<p>Mungkin bisa menerima semua perlakukan buruk itu dengan ikhlas, seringnya butuh waktu yang cukup lama. Pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut.</p>



<p>Hanya saja, jangan sampai dibodohi seperti itu. Jangan sampai rasa sayang kita kepada seseorang justru menyiksa kita. Ini bukan tentang keikhlasan, melainkan melindungi diri dari orang yang tidak bisa menghargai perasaan kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sayang itu katanya tentang keikhlasan. Memang ada benarnya, tapi jangan diterjemahkan secara mentah begitu saja. Kita juga punya perasaan yang harus kita jaga.</p>



<p>Menyayangi seseorang dengan ikhlas itu berat, setidaknya Penulis merasa begitu. Ada sisi manusiawi yang masih mengharapkan timbal balik, apalagi kalau kita merasa sudah memberikan begitu banyak.</p>



<p>Untuk sekarang, Penulis masih berada di tahap mencari cara menyayangi yang membuat Penulis dan orang yang disayang sama-sama merasa nyaman, tanpa perlu merasa terpaksa dan dipaksa, sehingga tidak ada yang menuntut untuk membuktikan keikhlasan rasa sayangnya.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 1 Agustus 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@evertonvila">Everton Vila</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/">Sayang Itu Tentang Keikhlasan, Katanya&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/sayang-itu-tentang-keikhlasan-katanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
