<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keyakinan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/keyakinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/keyakinan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Aug 2018 13:43:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>keyakinan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/keyakinan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 13:43:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bisa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[mencoba]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[tidak bisa]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1075</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya. Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kita berkata tidak bisa sebelum mencobanya? Seandainya pernah, tidak masalah, karena itu manusiawi. Yang penting, setelah membaca tulisan ini kita tidak akan berkata tidak bisa sebelum mencobanya.</p>
<p>Dalam beberapa pengalaman penulis, seringkali penulis memutuskan untuk berhenti karena merasa tidak bisa. Contohnya, sewaktu lulus kuliah, penulis tidak melamar beasiswa karena merasa &#8220;tidak akan bisa tembus, saingannya banyak&#8221;.</p>
<p>Untunglah, pola pikir tersebut sudah berubah, sehingga penulis mencoba untuk mengajukan beasiswa ke berbagai negara. Hasilnya? Ya, memang belum ada yang tembus, tapi semangat untuk mendapatkan beasiswa belumlah luntur.</p>
<p>Contoh kecil lainnya, ketika penulis kerja bakti memasang umbul-umbul, terdapat remaja yang berkali-kali mengatakan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan. Pertama, menyimpul benang umbul-umbul agar cukup panjang diikat. Kedua, naik ke atas tangga untuk mengikat umbul-umbul di tempat yang tinggi.</p>
<p>Salah seorang teman penulis sampai kesal dibuatnya hingga berkata &#8220;terus isomu opo? (terus bisamu apa?)&#8221;. Dia pun hanya tersenyum kecut diberi pertanyaan seperti itu.</p>
<p>Kata <strong>tidak bisa</strong> tidak boleh diucapkan sebelum ada <strong>usaha</strong> yang menyertai. Yang penting coba dulu, bisa atau tidak urusan belakang. Jangan pernah kalah sebelum berperang, menyerah sebelum mencoba.</p>
<p>Pada salah satu episode Yakitate! Japan, anime yang menceritakan seputar dunia perotian, diceritakan terdapat satu orang yang berkeyakinan seperti ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Jika kali ini gagal, maka selanjutnya pasti berhasil, jika 1000 kali gagal, maka yang ke 1001 pasti berhasil.&#8221;</em></p>
<p>Kekuatan keyakinan yang luar biasa bukan? Pola pikir seperti itulah yang dimiliki oleh rata-rata orang sukses. Mereka mencoba berbagai cara untuk mengubah <strong>tidak bisa </strong>menjadi <strong>bisa</strong>.</p>
<p>Terkadang memang ada hal yang tidak bisa kita lakukan, contoh kecilnya penulis tidak bisa bersiul hingga sekarang karena faktor genetik. Tidak apa, yang menjadi masalah bukan tidak bisanya, tapi tidak adanya kemauan untuk mencoba.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, jangan sampai kata tidak bisa ke luar sebelum ada usaha untuk mencobanya terlebih dahulu. Semangat!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinpirasi ketika memasang umbul-umbul dalam rangka menyambut dirgahayu Republik Indonesia yang ke 73</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc">https://unsplash.com/photos/ug5t9ibJBbc</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/">Jangan Berhenti karena Tidak Bisa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-berhenti-karena-tidak-bisa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peremehan Tuhan Paling Fatal</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 15:00:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[peremehan]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tejo]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau. Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini bukan murni pemikiran penulis, melainkan milik dalang edan Sujiwo Tejo. Ia mengemukakan hal ini dalam acara Indonesia Lawyers Club beberapa waktu yang lalu. Penulis merasa sepakat dengan pemikiran beliau.</p>
<p>Jadi, apa bentuk peremehan Tuhan paling fatal? Menurut beliau, ketika kita takut besok tidak bisa makan adalah jawabannya. Ketika muncul keraguan terhadap kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk membantu hambanya yang sedang kesusahan, itu sama artinya dengan meremehkan Tuhan.</p>
<p>Dengan catatan, diiringi oleh usaha dan doa. Tidak mungkin kita memiliki keyakinan tersebut, lantas hanya bermalas-malasan menunggu bantuan-Nya datang sendiri. Tidak! Jangan memahami kalimat tersebut mentah-mentah.</p>
<p>Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong kita harus diiringi usaha dan doa yang seimbang. Logikanya, Tuhan itu Maha Baik, apa mungkin membiarkan umat-Nya yang telah berpeluh keringat dan selalu menyebut nama-Nya di setiap doa dibiarkan begitu saja? Tidak mungkin.</p>
<p>Apabila yang kita minta tidak dikabulkan, jangan langsung berburuk sangka kepada-Nya. Bisa saja, Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan keinginan kita, atau bahkan mungkin memberi yang sebenarnya lebih kita butuhkan.</p>
<p>Ingat, Tuhan memberikan apa yang terbaik untuk kita, bukan apa yang kita inginkan. Manusia dengan kemampuannya yang terbatas sangat mungkin salah dalam mengira apa yang dibutuhkan olehnya. Tuhan lah yang mengetahui kebutuhan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, janganlah pernah meremehkan Tuhan dengan takut kebutuhan kita tidak akan terpenuhi setelah kita berusaha dan berdoa kepada-Nya. Kita ini hanya manusia yang hina, jangan berani meremehkan Tuhan yang telah menciptakan kita di dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Maret 2018, setelah mengajar di SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.islamicsom.org/?p=1545">http://www.islamicsom.org/?p=1545</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/">Peremehan Tuhan Paling Fatal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/peremehan-tuhan-paling-fatal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
