<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>korban Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/korban/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/korban/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Jan 2021 10:32:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>korban Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/korban/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cinta Tak Perlu Merasa Berkorban</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2018 07:24:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[berkorban]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sujiwo Tedjo]]></category>
		<category><![CDATA[Talijiwo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=897</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!&#8221; Sepenggal kalimat dari buku Sujiwo Tedjo yang berjudul Talijiwo. Penulis menyukai kalimat tersebut dan berupaya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan. Terdapat dua kata kunci di sini: cinta dan korban. Banyak orang ketika sedang dilanda cinta, ia akan merasa rela untuk berkorban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">Cinta Tak Perlu Merasa Berkorban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!&#8221;</em></p>
<p>Sepenggal kalimat dari buku Sujiwo Tedjo yang berjudul Talijiwo. Penulis menyukai kalimat tersebut dan berupaya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan.</p>
<p>Terdapat dua kata kunci di sini: <strong>cinta</strong> dan <strong>korban</strong>. Banyak orang ketika sedang dilanda cinta, ia akan merasa rela untuk berkorban melakukan apa saja demi yang ia cintai.</p>
<p>Sebagai contoh, penulis rela berkorban tidak makan demi membeli satu box set Agatha Christie yang berharga sekitar 400 ribu. Setelah membeli, ia merasa bangga karena berhasil mengorbankan perutnya demi sesuatu yang ia cintai.</p>
<p>Contoh lainnya, seorang pria rela berkorban hujan-hujanan demi memberikan kejutan untuk pujaan hati. Saat bertengkar, ia ungkit pengorbanannya tersebut di masa lampau.</p>
<p>Nah, ini yang mbah Tedjo anggap salah, karena ketika merasa berkorban, sejatinya cinta tersebut mulai pudar, karena cinta sejati tidak akan membuat pelakunya merasa berkorban.</p>
<p>Ilustrasi dari tulisan ini adalah salah satu episode dari Dragon Ball, di mana Picollo mengorbankan dirinya untuk melindungi Gohan. Apakah setelah mati Picollo mengatakan &#8220;Ingat, aku sudah melindungimu dari kematian.&#8221;? Tidak, ia justru berterimakasih kepada Gohan. Itulah cinta, tak pernah merasa berkorban.</p>
<p>Contoh lain yang lebih nyata? Coba saja lihat orangtua kita. Ibu kita tak pernah mengharapkan timbal balik dalam bentuk apapun sebagai biaya ganti perawatan kita, baik sejak di kandungan hingga beranjak dewasa. Ayah kita tak pernah mengeluh di hadapan kita banyaknya peluh yang beliau keluarkan ketika mencari nafkah.</p>
<p>Itulah cinta sejati, ia memiliki keterikatan yang kuat dengan ketulusan. Paragraf sebelumnya hanya merupakan contoh, yang mungkin tidak semua orang mengalaminya. Tapi penulis yakin, setiap manusia akan menemukan orang yang mencintainya dengan tulus, tanpa pernah merasa telah berkorban.</p>
<p>Ketika dirimu mulai merasa berkorban dalam mencintai seseorang, tengoklah ke dalam diri. Siapa tahu, cinta tersebut telah bermetamorfosis menjadi nafsu belaka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Juni 2018, terinspirasi dari buku Sujiwo Tedjo berjudul Talijiwo.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://youtube.com">youtube.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">Cinta Tak Perlu Merasa Berkorban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Statistik Kematian</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 14:50:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[statistik]]></category>
		<category><![CDATA[tewas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=553</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;1 kematian adalah tragedi. 1000 kematian adalah statistik.&#8221; Penulis lupa ini quote siapa, yang jelas ada orang yang pernah berkata demikian. Hal ini memperlihatkan betapa mirisnya kehidupan manusia. Saat ada satu orang artis meninggal, semua ikut menyampaikan turut berduka cita. Namun saat ada ribuan orang meninggal karena kelaparan, kita diam. Mengapa bisa demikian? Penulis menilai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">Statistik Kematian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;1 kematian adalah tragedi. 1000 kematian adalah statistik.&#8221;</em></p>
<p>Penulis lupa ini quote siapa, yang jelas ada orang yang pernah berkata demikian. Hal ini memperlihatkan betapa mirisnya kehidupan manusia. Saat ada satu orang artis meninggal, semua ikut menyampaikan turut berduka cita. Namun saat ada ribuan orang meninggal karena kelaparan, kita diam.</p>
<p><strong>Mengapa bisa demikian?</strong></p>
<p>Penulis menilai ada dua penyebabnya. Yang pertama, tentang siapa orang tersebut. Jika seorang ilmuwan terkenal yang telah menelurkan banyak karya untuk kemajuan umat manusia, tentu kepergiannya membuat kita merasakan kehilangan.</p>
<p>Beda dengan, misalkan, ada beberapa orang yang tewas terkena rudal Israel. Kita tidak tahu siapa mereka dan apa peranan mereka di dunia. Karena kita tidak mengetahui mereka, empati kita tidak sebesar empati kita kepada meninggalnya orang terkenal.</p>
<p>Yang kedua, peran media dalam memberitakan peristiwa kematian itu sendiri. Berita kematian vokalis band ternama akan terpampang menjadi headline, mengalahkan banyaknya pejuang jihad di timur tengah yang berusaha memperoleh keadilan.</p>
<p>Bukankah media mengikuti pasar, sehingga dapat disimpulkan pembaca atau pemirsa lebih tertarik dengan kematian satu orang terkenal daripada 1000 orang tidak dikenal? Atau, media kah yang membentuk pasar seperti itu, untuk menutupi-nutupi kematian 1000 orang tersebut?</p>
<p><strong>Lantas, apakah yang harus kita lakukan?</strong></p>
<p>Bijak dalam menyikapi berita kematian, siapapun itu. Apabila ada orang terkenal meninggal, tidak perlu sampai berlebihan dalam menyiarkan kabar itu, seperti memasang foto orang tersebut di status media sosial kita.</p>
<p>(Ini kritikan untuk penulis sendiri, setelah memasang foto Stephen Hawking pada Instagram whathefan, walaupun dasar dari postingan tersebut dikarenakan penulis penggemar ilmuwan tersebut <strong>#selainmemanfaatkanmomendemirating</strong>)</p>
<p>Lalu untuk kematian banyak orang yang tidak kita kenal, alangkah baiknya jika kita turut mendoakan mereka, semoga segala amalnya diterima dan diampuni dosa-dosanya. Terlebih lagi korban-korban yang meninggal karena kebiadaban bangsa lain.</p>
<p>Kalau media kurang gencar memberitakannya, kita bisa membantu menyiarkan kabar tersebut. Semoga, dengan mengetahui kabar tersebut, empati kita semakin terasah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 Maret 2018, setelah latihan mewarnai di Photoshop</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.dalmeny.org/history/history-graveyard">http://www.dalmeny.org/history/history-graveyard</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/">Statistik Kematian</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/statistik-kematian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
