<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menolong Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/menolong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/menolong/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jul 2019 16:38:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>menolong Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/menolong/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Komentar Warga Negara Berkembang</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2019 12:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bersih-bersih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2094</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar netizen kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita. Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar <em>netizen</em> kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita.</p>
<p>Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti itu bisa memicu pro kontra di kalangan <em>netizen</em> dan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">menjadi viral</a>.</p>
<h3>Kan Sudah Bayar!</h3>
<p>Tentu yang menarik adalah dari sisi kontranya. Penulis sudah membaca beberapa komentar tersebut, dan cukup membuat penulis tersenyum kecil dengan pola pikir mereka.</p>
<div id="attachment_2095" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2095" class="size-large wp-image-2095" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg" alt="" width="800" height="441" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-768x423.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2095" class="wp-caption-text">Makan di Restoran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@wadeaustinellis">Wade Austin Ellis</a>)</p></div>
<p>Secara garis besar, mereka menolak kampanye tersebut karena merasa dirinya sudah bayar mahal-mahal. Untuk apa mereka mengeluarkan uang jika mereka juga harus membereskan sisa makanan mereka sendiri?</p>
<p>Selain itu, ada juga berasumsi apabila seandainya mereka melakukan apa yang diminta, lantas apa kerja para pelayan? Jadi <em>gabut </em>dong? Ada pula yang langsung menuduh restoran tersebut hanya ingin mengeruk keuntungan lebih besar lagi alias meningkatkan omset.</p>
<p>Terlepas dari berbagai prasangka yang dilontarkan oleh <em>netizen </em>dan tujuan kampanye dari restoran tersebut, hal ini patut menjadi renungan kita bersama.</p>
<blockquote><p><em>Apakah karena sudah membayar, kita tidak boleh membantu orang lain dengan melakukan hal-hal kecil yang tidak membutuhkan waktu lama?</em></p></blockquote>
<h3>Membantu Orang Lain</h3>
<p>Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi penulis berusaha membiasakan diri untuk membersihkan meja makan setelah makan. Di mana pun, mau di restoran ataupun warteg. Ayah penulis yang mengajarkan dan mencontohkan hal ini.</p>
<div id="attachment_2096" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2096" class="size-large wp-image-2096" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2096" class="wp-caption-text">Membantu Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@bimoluki02">Bimo Luki</a>)</p></div>
<p>Menumpuk piring dan gelas yang kosong, mengelap meja dengan tisu, hingga mengembalikan posisi kursi ke tempat semula. Meskipun tidak seberapa, penulis yakin hal tersebut sudah membantu pelayan tempat makan yang penulis singgahi.</p>
<p><em>Tapi kan kita udah bayar mahal-mahal!</em></p>
<p>Kalau pola pikiran kita terlalu duniawi dan berpusat pada uang, pemikiran seperti itu pasti muncul. Mungkin kita lupa ada yang namanya <strong>Pahala </strong>sebagai modal kita hidup di akhirat kelak. Bukankah telah tertulis bahwa setiap perbuatan baik akan diganjar oleh pahala?</p>
<p>Menolong orang lain adalah perbuatan baik bukan? Lagipula, hal tersebut bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, lantas mengapa harus didebat? Jika tetap <em>kekeuh</em>, ya minimal enggak perlu <em>nyinyir </em>di media sosial.</p>
<p><em>Ini kan cuma akal-akalan restoran kapitalis buat menarik keuntungan lebih besar! Mereka mau PHK karyawannya besar-besaran!</em></p>
<p>Penulis akan bertanya balik. Keuntungan apa yang akan didapat oleh mereka? Memangnya pelayan restoran tersebut enggak punya <em>jobdesk </em>bersih-bersih yang lain? Ada bukti mereka akan melakukan PHK ke karyawannya?</p>
<p>Terkadang kita sering terjebak dengan <a href="http://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">teori konspirasi</a> yang belum tentu benar. Daripada terus menerus berprasangka buruk, lebih baik kita niatkan saja tindakan bersih-bersih tersebut untuk membantu orang lain, minimal meringankan kerja para pelayan restoran.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika tetap tidak ingin melaksanakan kampanye tersebut, ya udah, enggak perlu makan di restoran tersebut. Banyak kok restoran mewah yang tidak akan membiarkan pelanggannya membersihkan mejanya sendiri.</p>
<p>Bagi yang ingin melaksanakan budaya bersih-bersih ini, bagus, pertahankan. Tidak perlu merendahkan orang yang menolak melakukannya. Mengingatkan wajib, tapi sewajarnya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2019, terinspirasi dari viralnya komentar <em>netizen </em>tentang kampanye budaya beres-beres salah satu restoran cepat saji.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@tigerrulezzz">Brian Chan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
