<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menyindir Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/menyindir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/menyindir/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jul 2019 00:13:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>menyindir Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/menyindir/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sindir-Menyindir di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2018 07:50:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[menyindir]]></category>
		<category><![CDATA[sarkasme]]></category>
		<category><![CDATA[sindir]]></category>
		<category><![CDATA[sindir-menyindir]]></category>
		<category><![CDATA[terus terang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1007</guid>

					<description><![CDATA[<p>Status, story, dan bentuk-bentuk ekspresi di media sosial lainnya kerap kali menjadi lahan yang dimanfaatkan untuk menyindir seseorang. Terkadang berupa curhatan, walau seringkali diperhalus dengan menggunakan quote-quote yang bertebaran di dunia maya. Coba kita lihat apa arti dari kata sindir di kamus tercinta kita, KBBI: n celaan; ejekan; pb mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan itu ditujukan kepada orang lain; Sedangkan menyindir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/">Sindir-Menyindir di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Status, <em>story</em>, dan bentuk-bentuk ekspresi di media sosial lainnya kerap kali menjadi lahan yang dimanfaatkan untuk menyindir seseorang. Terkadang berupa curhatan, walau seringkali diperhalus dengan menggunakan <em>quote-quote </em>yang bertebaran di dunia maya.</p>
<p>Coba kita lihat apa arti dari kata <strong>sindir</strong> di kamus tercinta kita, KBBI:</p>
<p style="text-align: center;">n <em>celaan; ejekan; </em>pb<em> mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan itu ditujukan kepada orang lain;</em></p>
<p>Sedangkan <strong>menyindir</strong> memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;">v<em> mengkritik (mencela, mengejek, dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang; </em>pb <em>mengata-ngatai (mencela) seseorang, tetapi perkataan-perkataan itu ditujukan kepada orang lain;</em></p>
<p>Jika dijadikan satu, <strong>sindir-menyindir</strong> berarti:</p>
<p style="text-align: center;">v <em><b class="num">1</b> saling (berganti-ganti) menyindir; <b class="num">2</b> hal menyindir</em></p>
<p>Dengan kata lain, sindiran digunakan ketika kita ingin mengutarakan sesuatu kepada orang lain secara tidak langsung. Sarkasme termasuk salah satu bentuk sindiran. Masalahnya, apa penyebab kita lebih memilih untuk menggunakan sindiran daripada berbicara terus terang?</p>
<div id="attachment_1009" style="width: 794px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1009" class="size-full wp-image-1009" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1.jpg" alt="" width="784" height="431" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1.jpg 784w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-768x422.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/4784_tall1-356x196.jpg 356w" sizes="(max-width: 784px) 100vw, 784px" /><p id="caption-attachment-1009" class="wp-caption-text">Wajah Sarkas (http://news.bitofnews.com/sarcastic-people-are-smarter/)</p></div>
<p>Mungkin, untuk menghindari konflik yang berkepanjangan. Sebagai contoh, kita sedang kesal dengan seseorang. Kita ingin mengumpat kelakukan orang tersebut, dan jelas mengumpat di hadapannya langsung akan menimbulkan pertikaian. Akhirnya, kita memutuskan untuk menyindir di laman media sosial kita, berharap yang disindir tidak merasa.</p>
<p><em>Atau justru berharap supaya yang disindir merasa?</em></p>
<p>Memang ada orang-orang yang membuat sindiran dengan berharap yang disindir merasa bahwa sindiran tersebut ditujukan kepada mereka. Jika yang disindir merasa, ada dua tipe respon yang diberikan:</p>
<ol>
<li><strong>Mengelak</strong>, mengatakan bahwa status tersebut bukan untuk menyindir mereka. Ini merupakan tipe pengecut yang tidak berani jujur.</li>
<li><strong>Mengakuinya</strong>, mungkin ia membuat status agar dapat memulai diskusi (atau pertikaian?) dengan yang bersangkutan.</li>
</ol>
<p>Dalam opini penulis, sindir-menyindir dapat mengakibatkan kesalahpahaman. Membuat status dengan subyek yang ambigu dapat disalahartikan oleh banyak pihak. Bisa saja kan ada orang yang merasa sindiran tersebut ditujukan ke dirinya, meskipun sebenarnya bukan?</p>
<p>Alangkah lebih baik jika <em>grundelan </em>di dalam hati diungkapkan secara terus terang daripada membuat status yang multitafsir. Jika tidak bisa terus terang, maka lebih baik diam. Jika butuh orang lain untuk mendengar keluhanmu, ceritakan permasalahanmu kepada orang-orang terdekat, tidak perlu diumbar ke khalayak umum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 19 Juli 2018, terinspirasi dari sebuah drama di media sosial</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.bustle.com/articles/166098-9-weird-texting-habits-that-can-make-people-want-to-be-around-you-more">https://www.bustle.com/articles/166098-9-weird-texting-habits-that-can-make-people-want-to-be-around-you-more</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/">Sindir-Menyindir di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/sindir-menyindir-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
